lostduskworld

Selepas premiere film mereka, Haechan langsung membawa Mark menuju bandara untuk melakukan perjalanan ke Malang. Mark tak tahu Haechan sudah mempersiapkan barang-barang mereka dalam koper di mobilnya.

Milk, thank you,” ujar Haechan. “Kamu keren banget prepare hadiah sebesar itu. Aku beneran gak tau harus bilang gimana buat ucapin terima kasih dan rasa syukur aku ke kamu. Kamu selalu bisa buat aku semakin jatuh cinta sama kamu, aku kena pelet kamu seumur hidup,” lanjutnya dengan kekehan diakhir.

“Kamu juga lakuin hal yang sama buat aku, selalu bisa bikin aku semakin jatuh cinta sama kamu dengan cara apapun, bahkan sekedar senyum manis kamu buat aku. Kamu suka sama hadiah yang aku siapkan itu udah lebih dari cukup.” Mark jatuhkan kecupan pada punggung tangan Haechan. “By the way, kita mau ke mana? Ini bukan arah ke rumah Papi,” lanjut Mark yang menyadari arah mobil keduanya melaju.

“Ke bandara. Aku mau ajak kamu wisata kenangan kita di bromo. I know itu gak sebesar apa yang kamu siapkan, tapi aku mau kita buat kenangan baru di sana,” tutur Haechan.

“Babe, jangan bicara gitu, ini bukan tentang siapa yang memberi lebih besar. Bromo itu saksi perjuangan aku dapetin kamu dan kepercayaan abangmu buat relain adik kesayangannya sama aku. Sekarang kita akan ke sana lagi dengan kamu yang udah sepenuhnya jadi milikku, bahkan pernikahan kita udah berjalan lima tahun.”

Haechan kembali masuk dalam pelukan suaminya. Dirinya menjadi begitu manja mendapat banyak pujian dan ungkapan cinta dari suaminya hari ini. Batinnya berulang kali mengucap rasa syukur atas hadirnya Mark dalam kehidupannya.


Keduanya sampai di Malang pada larut malam. Dari bandara, keduanya pergi mencari makan malam sebelum beristirahat di hotel. Haechan sungguh tak ingin lepas dari Mark. Dirinya terus menempel pada suaminya itu.

Keduanya hanya sejenak di hotel karena pada dini hari keduanya akan melakukan perjalanan ke bromo untuk menjemput matahari terbit. Di malam yang dingin keduanya paksakan untuk mandi karena merasa lengket dan agar tak perlu mandi lagi untuk besok berangkat ke bromo.

Niat mereka untuk mandi sepertinya mulai tersisihkan. Kedua anak adam itu kini tengah asik bercumbu dengan badan yang terendam dalam bath up. Euforia semakin terasa ketika keduanya bercumbu dengan Haechan yang berada di atas pangkuan Mark.

Mmmhhㅡ” Sebuah lenguhan lepas ketika Mark mulai menjamah bagian suaminya. Haechan seakan mendapat sengatan ketika menerima perlakuan Mark. Ketika saling bertemu pandang, keduanya saling dapati tatapan ingin yang membangkitkan buncahan rasa dalam diri keduanya untuk melakukan lebih dari itu.

Persetan dengan mandi, keduanya kini justru asik dengan kegiatan menghangatkan malam. Mereka nikmati sejenak waktu mereka dengan melakukan tarian indah dalam bath up dengan senandung lenguhan merdu yang bersahutan. Keduanya nikmati kegiatan panas itu hingga hari resmi berganti.


Belum genap satu jam keduanya memejamkan mata, waktu sudah mengharuskan keduanya berangkat. Keduanya sempat berdebat untuk tak jadi menjemput matahari terbit di bromo karena masih dalam letih, namun Haechan tak bisa ditolak. Pada akhirnya Mark membawa Haechan yang nyawanya masih belum sepenuhnya terkumpul itu dalam gendongannya untuk turun menuju jeep yang telah menunggu keduanya.

Dalam perjalanan menuju bromo, keduanya terlelap dengan saling bersandar. Haechan bersandar pada bahu Mark dan Mark menyandar pada kepala Haechan.

Ketika sampai, keduanya dibangunkan oleh sopir. Sebelumnya Mark sudah berpesan untuk membangunkan keduanya pada sopir. Mark rapihkan jaket yang dikenakan Haechan ketika lelaki itu tengah berusaha membuka matanya.

“Babe, bentar lagi mataharinya muncul, ini matahariku malah mau tidur lagi,” tutur Mark seraya sedikit menggoyangkan tubuh Haechan. Sejujurnya dirinya tak tega memaksa Haechan bangun, tetapi lelaki itu akan mengomelinya jika tidak melakukannya dan membuatnya melewatkan matahari terbit.

“Babe, sini pelan-pelan. Aku gendong aja,” titah Mark yang sudah turun dari jeep dan meminta Haechan naik di punggungnya.

“Milk dingin banget,” keluhnya dalam gendongan Mark.

“Ini masih pagi buta. Nanti kalau udah naik mataharinya bakal anget,” terangnya. “Mau beli minuman anget?” tawarnya ketika melihat penjual minuman hangat. Haechan mengangguk dalam gendongan suaminya.

Keduanya menikmati kopi hangat dengan duduk dihadapan tungku api yang tengah digunakan untuk merebus air. Udara pagi di sana begitu menyejukkan walaupun merasa begitu dingin.

Kamera ponsel keduanya berulang kali mengambil gambar ketika matahari mulai mennjukkan kehadirannya. Disaat Haechan fokus mengambil gambar matahari, Mark mengambil kesempatan mencium pipi memerah suaminya itu.

“Milk aku siram kopi panas mau?” ujarnya menatap tajam Mark. “Ini lagi rame main cium-cium aja,” gerutunya.

“Kemaren ciuman sampe disorakin kok gak marah?” goda Mark mengingatkan perihal ciuman keduanya pada acara premiere film Beautiful Time.

“Itu kebawa suasana gara-gara kamu. Gak usah sembarang cium-cium, kita nikmati bromo aja,” ketus Haechan.

Larangan seperti perintah bagi Mark. Lelaki itu justru dengan sengaja meraih dagu suaminya dan menjatuhkan banyak kecupan di wajah Haechan. Selepasnya dirinya dibuat mengaduh karena cubitan Haechan di perutnya.

Setelah puas menikmati matahari terbit, keduanya melanjutkan perjalanan untuk menikmati sisi bromo yang lain. Keduanya lukiskan kenangan baru di bromo dengan suasana yang jauh berbeda dengan sebelumnya.

Dahulu keduanya datang ke bromo diikuti rasa takut akibat pergi tanpa sepengetahuan Hendery, abang Haechan. Terlebih ternyata Hendery tahu dan menyusul keduanya dan memarahi keduanya saat itu juga di bromo. Karenanya, rasa takut keduanya bertambah dengan perasaan sedih, kacau, dan kecewa.

“Babe, karena ini, aku bakal punya kenangan indah dengan bromo. Terima kasih. Terima kasih udah ajak aku untuk tunjukin rasa bahagia dan senyuman indah kita ke bromo,” ujar Mark.

“Kak, terima kasih ya udah berjuang sebesar itu buat bisa sama aku. Banyak banget hal yang kamu lalui buat bisa sama aku. Aku beruntung banget dapetin kamu. Kamu berharga banget buat aku. I love you so, Milk,” balasnya memeluk lengan suaminya.

“Bukan cuma aku, kita berjuang sama-sama. Kita juga sama-sama beruntung. Dalam pernikahan itu bukan salah satu yang beruntung, Babe.”

Bromo, terima kasih telah menjadi saksi singkat perjalanan cinta keduanya. Hari ini keduanya buktikan cintanya tidak hancur pada hari itu, namun justru semakin kuat hingga akhirnya terikat dalam pernikahan.

Hari ini merupakan premiere event film Beautiful Time. Mark dan Haechan sama-sama gugup sedari tadi. Terlebih setelah mengetahui ramainya penonton premiere film mereka, rasanya mereka semakin gugup.

Seluruh penonton datang dengan berpakaian seakan merrka tengah menghadiri acara pernikahan. Selain itu, mereka juga membawa bunga matahari di pangkuan mereka. Semua itu termasuk dalam ide Mark dan Haechan hanya bisa terus mengucap kagum dalam batinnya karena suaminya mempersiapkan kejutan ini sedetail itu.

Selepas keduanya menyapa dan berbincang dengan para penonton, keduanya ikut duduk di bangku penonton untuk menonton film mereka. Haechan sama sekali belum menonton hasil filmnya secara penuh karena dia tidak diizinkan oleh Mark.

Keduanya sungguh menikmati menonton film mereka. Tak jarang senyum cerah keduanya terulas karena terbayang kejadian nyata mereka yang masuk dalam film. Lebih lagi, Haechan dibuat tersentuh dengan film tersebut yang ternyata diambil dari sudut pandang Mark. Dalam beberapa bagian terdapat dubbing Mark yang menjelaskan tentang mereka juga pujian-pujian manis untuk Haechan dengan kalimatnya yang apik dan rapi.

“Milk...” Haechan telah memeluk lengan suaminya dengan air mata yang mulai turun ketika foto dan video keduanya keluar pada akhir film.

Mark mengusap air mata suaminya itu lalu membawanya ke depan dan kembali menjadi tontonan. “This is our dance song at the wedding, let's do it here,” bisiknya mengejutkan Haechan. Penonton riuh mengetahui mereka berbisik dengan posisi yang tak berjarak.

Satu ruangan riuh mengetahui Mark dan Haechan mulai berdansa di depan sana. Keduanya bergerak indah di bawah sorot lampu yang fokus pada mereka. Seluruh pasang mata terbius akan keduanya.

Hyuck, thank you for always being with me. You are a beautiful gift that God gave me. My gratitude will never stop, my love for you will never die even though I have died. I will always look for you, choose you, and be with you in any life. You are my home, Hyuck. I do love you and will love you more, more, and more,” ujar Mark dengan menatap tulus suaminya.

Air mata Haechan semakin membasahi pipinya. Mark menarik tubuhnya membuat keduanya tak berjarak. Dihadapan seluruh penonton, Mark jatuhkan ciuman pada suaminya yang penuh haru. Keduanya salurkan rasa cinta dan teima kasih keduanya melalui ciuman itu.

Haechan meraih kembali bibir basah Mark ketika suaminya itu baru melepaskan ciuman mereka. Keduanya kembali berciuman sekali lagi. Haechan nikmati bibir basah suaminya seakan tak sadar dengan para penonton yang masih setia menonton aksi keduanya.

Babe, we're on stage.” Haechan seketika menyembunyikan diri dalam pelukan suaminya setelah menyadarinya. Mark hanya terkekeh mengetahui tingkah suaminya itu. “It's okay, Babe. I will give you more later, but not on the stage,” tambah Mark lalu menjatuhkan kecupan pada puncak kepala Haechan.

Milk, I love you so so so so muchhh~” ujar Haechan dalam pelukan Mark. “Aku gak tau harus bilang ke kamu apa selain I love you, aku cinta kamu banget soalnya,” lanjutnya.

I know, Babe. For now, let's end the event first.

Selama perjalanan pulang, Renjun dalam keadaan cemas. Mendengar pernyataan Sean dan mengetahui sikap Lucas membuatnya merasa khawatir. Ketika baru memasuki basement, Renjun menemukan Lucas yang memasukkan kardus ke dalam kontainer truk dengan dibantu oleh dua orang lainnya. Dirinya lantas meminta Jungwoo menurunkannya di sana.

“Ge, itu paket apa?” Lucas enggan membuka suaranya dan memberikan secarik kertas pada Renjun lalu kembali melanjutkan kegiatannya memasukkan kardus dalam kontainer.

Semua paket itu berasal dari suami Delilah. Isi paket itu bermacam-macam, mulai dari kebutuhan Sean hingga sejumlah uang dan emas batangan guna memberikan bayaran pada Lucas dan Renjun. Yang dilakukan Lucas saat ini adalah mengembalikan seluruh barang itu pada Edwin.

Renjun tak menyangka bahwa Edwin melakukan hal itu selain berniat memberikan bayaran pada dirinya dan Lucas, lelaki itu juga memohon bantuan mereka untuk meminta Delilah menghentikan proses perceraian mereka. Dirinya dan Lucas tentu tidak memiliki hak melakukan hal itu, terlebih juga mereka jelas tidak mau melakukannya.

“Pak, nanti kalau misal ditolak, turunkan aja di depan rumahnya,” pesan Lucas sembari memberikan sejumlah uang kepada pengantar.

Renjun berikan air mineral yang ada dalam tas jinjingnya pada Lucas. Dirinya mengerti bahwa Lucas pasti tidak terima mendapat perlakuan seperti itu, begitupun dirinya sendiri. Tindakan Edwin seakan tidak menghargai ketulusan mereka pada Sean.

He disrespectful,” celetuknya.

Renjun kalungkan tangannya pada lengan suaminya. Dirinya bawa suaminya beranjak dari basement sebelum mereka berbincang jauh di sana.

“Nanti Gege bicara sama Sean, dia pikir Gege marah sama dia,” peringat Renjun sebelum lift sampai pada lantai unitnya berada.

Ketika memasuki unit mereka, Lucas mendapati Sean yang menatapnya enggan dari sofa ruang tamu mereka. Lucas merutuki dirinya sendiri karena paniknya dia membuat Sean mengira dirinya marah dan membuat anak itu takut.

Lucas mengambil duduk di sebelah Sean. Surai halus putranya itu dirinya rapihkan. Dia bawa putranya itu dalam dekapannya. “Kak, Papo minta maaf ya... Papo tidak marah pada Kakak,” ucapnya.

“Tapi kenapa Papo tidak jawab waktu Kakak panggil?” balas Sean bertanya.

“Papo tidak bermaksud mengabaikan Kakak. Maaf ya Papo tidak jawab panggilan Kakak karena sibuk memeriksa paket,” terangnya seraya memberikan usapan halus pada punggung sang putra. “Papo juga minta maaf karena pesan Papo seperti membentak Kakak tadi. Papo tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk karena paket tidak jelas tadi. Datangnya bahaya bisa darimana saja, Papo tidak ingin terjadi sesuatu pada Kakak juga Doyie yang ada di sini,” tambah Lucas.

“Kakak maafkan tapi izinkan Kakak menginap di rumah Gaby hari Minggu besok,” balasnya.

“Hari Minggu Pipo dan Papo tidak pergi bekerja sama sekali dan Kakak mau menginap di rumah Gaby?” sahut Renjun.

“Papooo~” rengeknya pada Lucas.

“Boleh,” ujar Lucas yang langsung mendapati lirikan dari Renjun. “Sebentar ya, Papo perlu bicara dengan Pipo.” Lucas lepaskan Sean dari dekapannya lalu menyusul Renjun yang beranjak menuju ruangan keduanya.


Baru saja Lucas melangkah masuk, dirinya sudah dapatkan gerutuan Renjun yang tak terima bahwa Sean akan menginap di rumah Gaby. Sejujurnya, Lucas juga tidak sepenuhnya setuju dengan Sean menginap di rumah Gaby karena keduanya mendedikasikan akhir pekan mereka untuk waktu bersama keluarga, namun apadaya dengan rajukan Sean.

“Sayang, satu hari itu aja. Gapapa, ya?” bujuk Lucas.

“Gapapa kalau mau main ke rumah Gaby, tapi apa perlu sampe nginep? Aku gak mau repotin Mark sama Haechan, juga bakal sepi kita di sini berdua,” balasnya.

Lucas dekati suaminya itu dan memeluknya dari belakang, “Kamu gak mau piring cantik di hari Minggu?” bisiknya tepat di telinga Renjun. “Kita celebrate 1st anniversary kita yang ketunda. ,I will give you another best of piring cantik,*” lanjutnya.

Renjun nampak memikirkan penawaran Lucas. Perayaan tahun pertama mereka sudah hampir mereka lupakan dan akan lebih buruk jika tidak merayakannya.

“Oke.” Renjun seketika mendapatkan ciuman pada kedua pipinya atas jawaban singkatnya itu.

Renjun membalik tubuhnya menghadap suaminya. “Ge, gapapa kah kita balikin semuanya tadi? Aku takut dampaknya ke Delilah atau mungkin Sean,” tanyanya kembali membahas paket dari Edwin.

“Iya. Aku tanggung jawab kalau ada apa-apa nantinya. You have me here, jangan takut,” balasnya.

Kedatangan orang tua Lucas mereka sambut hangat. Sean berlari memeluk keduanya yang baru memasuki unit mereka. Renjun dan Lucas pun beranjak membantu keduanya membawa barang bawaannya.

“Kak, kamu dikasih makan apa sih sama Papo Pipomu? Makin gedhe aja tiap Bubun ketemu. Bubun takut gak muat baju yang Bubun bawain buat Kakak, Kakak coba dulu baju dari Bubun,” celetuk Bunda.

“Baju dia udah naik ukuran. Yang dipake dia sekarang itu aja baju aku, Bun,” sahut Renjun.

“Bentar lagi juga Piponya jadi paling kecil di sini.” Lucas langsung melangkah cepat menjauh setelah mengatakannya.

“Persis kamu dulu isengnya,” adu Bunda pada suaminya. Tindakan Lucas tadi mengingatkannya pada saat putra semata wayangnya itu tumbuh kian melampaui dirinya dan suaminya itu meledeknya persis seperti yang dilakukan Lucas.

Sementara Sean asik bersama kedua orang tua Lucas, Lucas dan Renjun tengah sibuk menata masakan ibunda Lucas pada meja makan untuk mereka makan malam. Manik Lucas mendapati Renjun yang memindahkan masakan ke piring saji dengan raut masam itu justru bertindak sembrono di ruang makan dengan menjatuhkan ciuman pada suaminya.

Gila. Secara spontan Renjun mencubit Lucas yang melakukan hal itu. Yang dicubit hanya mengaduh dengan raut tak bersalahnya. Sudah meledek, bukannya mengucap permintaan maaf, malah  mengajaknya bertingkah sembrono di tengah orang tua yang berkunjung ke rumah mereka.


Disaat makan malam, Sean mendominasi dengan mulutnya yang tak henti berbagi cerita. Dirinya juga menceritakan perihal Delilah yang telah memberinya kabar. Banyak hal dia ungkapkan menghidupkan suasana di ruang makan.

“Mama baik sekali ya, Kak?” Sean nampak berpikir mendengar pertanyaan Papa Lucas.

“Mmm... Baik saja. Mama tidak lupa dengan Kakak dan sayang pada Kakak, itu baik,” balasnya. Dirinya perlahan menerima Delilah namun apa yang sudah terjadi masih tersimpan apik dalam memorinya.

“Kak, masakan Bubun enak sekali atau tidak?” sahut Bunda yang sedari tadi tak mendengar pembahasan tentang masakan yang dia buat sepenuh hati.

Sean acungkan kedua jempolnya pada ibunda Lucas dengan mengunyah makanan di mulutnya. “Selalu enak sekali,” ucapnya setelah menelan habis makanan di mulutnya. “Papo, perut Kakak sudah tidak muat,” lanjutnya sembari menaruh alat makannya.

“Kakak pura-pura kenyang supaya sudah selesai makan masakan Bubun yang tidak enak, ya?” sahut Bunda dengan bergaya sedih.

“Tidak, Bubun. Lihat perut Kakak penuh sekali,” balasnya seraya menunjukkan perutnya.

“Bubun bercanda, Kak,” ujar Bunda dengan mengulas senyumnya.

Selepas itu, Sean berpamitan untuk pergi beristirahat terlebih dahulu karena besok harus bersekolah. Dirinya diberi banyak kecupan manis oleh Bubun dan Grandpanya sebelum ke ruangannya.

“Yang, makannya Sean,” pinta Lucas pada Renjun untuk mengambilkan piring Sean dengan makanannya yang masih.

“Perut karetmu ada untungnya juga jadi tandon makanan anaknya yang gak habis,” celetuk Bunda. 

Suasana ruang makan seketika sunyi selepas kepergian Sean. Keempat orang di meja makan sibuk menikmati makanan mereka masing-masing.

“Sean bakal ikut mamanya?” Pertanyaan Bunda menghentikan kegiatan makan semuanya. “Jangan dijawab kalau jawabannya bener,” lanjutnya.

“Enggak, Sean tetep di sini,” balas Lucas.

“Terus kenapa Delilah gugat Edwin? Dia bakal cuma rugi,” tanya Bunda.

“Ada hal yang gak perlu kita tahu, Bun. Itu udah keputusan dia,” terang Lucas.

Kedua orang tua mereka mengangguk. Maksud utama mereka berkunjung selain karena Sean adalah untuk mengetahui perihal yang terjadi dengan keluarga kecil putra semata wayang mereka itu dengan Delilah.

“Disisi apa yang kalian lalui itu gak mudah, Papa bangga dengan kalian. Kalian buktikan tanggung jawab kalian pada Sean, mau berdamai dengan latar belakang Sean, selalu ada buat Sean juga kalian satu sama lain, kalian hebat,” tutur Papa.

“Bunda tahu pasti ada naik dan turunnya kalian menghadapi itu, terlebih kalian menghadapinya di usia pernikahan yang belum genap setahun, kalian hebat,” timpal Bunda.

Lucas dan Renjun saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Hal itu mengundang tanya dari kedua orang tua Lucas, khawatir akan perkataan mereka ada yang menyinggung keduanya. Kedua orang tua Lucas semakin heran ketika keduanya tiba-tiba tertawa bersamaan.

“Serem deh kalian tiba-tiba ketawa sendiri,” celetuk Bunda.

“Kita berdua baru inget anniversary kita udah tiga bulan yang lalu waktu Bunda ngomong tadi,” terang Lucas.

“Malah empat bulan lalu kayaknya, Ge,” timpal Renjun mengingat-ingat tanggal pernikahan mereka.

“Beneran anakmu itu, Bun. Sukanya lupa,” celetuk Papa.

Sepeninggalan Arsen dari ruangan Ligar, Raga menjadi bingung dan canggung berdua dengan Ligar. Papo dari Arsen itu sibuk dengan ponselnya sehingga dia putuskan keluar dari ruangan Ligar daripada merasakan kecanggungan di sana.

Batin Raga masih merutuki dirinya sendiri yang bersedia dipanggil Pipo oleh Arsen. Tentu ada penyesalan dalam dirinya akibat mengucapkan pernyataan spontan yang terlintas dalam pikirannya tadi.

Sebenarnya, Raga melihat Arsen seakan melihat dirinya sendiri. Orangtuanya juga bercerai, tetapi yang dialami Arsen lebih baik. Orangtua Arsen masih berhubungan baik dan mengurusnya, sedangkan dirinya alih-alih mendapatkan salah satunya, dia justru kehilangan keduanya. Orangtuanya tinggal dengan keluarga barunya menyisakan dirinya seorang diri dengan materi, padahal dirinya juga butuh yang namanya kasih sayang.

“Raga, saya perlu bicara dengan kamu,” panggil Ligar membuyarkan segala lamunannya. Dirinya kembali melangkah masuk mengikuti Ligar ke dalam ruangannya.

“Raga, saya minta maaf karena kamu harus terlibat hal ini, saya minta maaf.” Raga mengangguk. “Raga, kalo saya ajak kamu buat coba menuruti permintaan Arsen apa kamu mau?” Mata Raga seketika membulat menatap Ligar.

“Bapak-bapak gila lo. Kitanya nyoba, anak lo mikirnya beneran. Lo bapak-bapak ngerti gak sih maksud hubungan yang dimau anak lo itu?!” protes Raga.

“Saya ngerti itu, Ragaㅡ” “Nah kalo ngerti itu dan ngerti kita gak bisa punya hubungan kayak gitu, gak usah dicoba. Itu bakal makin nyakitin anak lo nanti,” potong Raga.

“Setidaknya kita nanti menolak Arsen dengan kita udah coba turutin permintaannya,” sahut Ligar.

Raga menyibak surainya frustasi. Dirinya kini masuk dalam situasi yang tak pernah dia banyangkan akan terjadi dalam hidupnya.

“Raga, boleh kita coba turuti permintaannya? Saya tanggung jawab kalo emang akhirnya nanti kita gak bisa,” tanyanya lagi.

“Coba buat si bocil?” gumam Raga yang masih terdengar oleh Ligar. “Sebulan kita coba dan kalo emang kita gak bisa dalam waktu itu, itu selesai,” tukasnya seraya menjulurkan tangannya.

“Satu bulan, dengan kamu tinggal di sini,” balas Ligar menjabat tangan Raga.

“O-ke.” Raga cukup terkejut dengan balasan Ligar.


Ligar dan Raga kini tepat berada di depan pintu ruangan Arsen yang tertutup. Keduanya berulang mengetuk pintu ruangan Arsen dan memanggilnya tetapi tak kunjung mendapat balasan.

“Arsen, kamu mau buka pintunya atau Papo minta Pipo pulang beneran?” Raga yang ikut memanggil Arsen tersentak mendengar Ligar mengatakan hal itu.

“Yaudah lah kayaknya kamu bohong mau punya Pipo. Piponya di sini malah kamu tinggal sembunyi,” timpal Raga mengikuti Ligar walaupun rasanya geli menyebut dirinya Pipo.

Tidak lama dari itu terdengar suara kunci dibuka dari dalam. Arsen membuka sedikit pintunya dan menampakkan kepalanya. “Beneran jadi piponya aku?” tanyanya.

Ligar turun menyejajarkan dirinya dengan Arsen, dirinya usap air mata yang membasahi wajah putranya itu. “Kamu boleh panggil Mas Raga Pipo. Keluar sini dong,” tukasnya.

“Mas Raga bakal usahakan jadi Pipomu,” timpal Raga yang juga ikut turun menyejajarkan dirinya dengan Arsen.

“Ini serius?” Keduanya mengangguk. “Aku punya Papo dan Pipo, ini seru banget,” lanjutnya lalu mengucapkan terima kasih pada Ligar dan Raga sembari memberikan kecupan pada pipi mereka.

“Jadi, nanti kita bobok bertiga?” Ligar dan Raga saling pandang sejenak lalu memberikan anggukannya pada Arsen.

Arsen menetap di ruang tamu selepas diberitahu Ligar bahwa Raga akan datang untuk menginap. Dirinya menanti Raga sembari menggambar. Anak itu sungguh tidak sabar menanti kedatangan Raga, terlebih selepas bertukar pesan dengan Lundra.

Ketika mendengar suara motor memasuki halaman rumah, Arsen dengan secepat kilat keluar menuju teras. Anak itu lambaikam tangannya ketika Raga membukan helm yang dikenakannya.

“Berhenti dulu di situ.” Arsen lantas masuk mengambil kertas gambarnya di meja ruang tamu untuk dia tunjukkan pada Raga. “Selamat datang di rumah aku, Pipo,” ucapnya sesuai dengan tulisan dalam kertas gambarnya.

Raga dan Ligar yang berjalan mendekat ke arah mereka dibuat mematung mendengarnya. Raga pandangi lekat gambaran Arsen yang menggambarkan tiga orang laki-laki dengan keterangan Papogar, Arsen, dan Pipo Raga. Dirinya seketika kehilangan kata-kata dalam pikirannya, begitu pun Ligar.

“Ayo masuk, Pipo.” Arsen menarik tangan Raga membawanya masuk. Lelaki itu hanya diam dan langkahnya menurut pada yang lebih kecil. Dirinya masih terdiam mencerna sambutan Arsen.

Ligar ikuti langkah keduanya dan dirinya justru mendapat kejutan. Raga dibawa ke ruangannya alih-alih ruangan Arsen sendiri. Arsen sungguh tidak bisa dia tebak.

“Kenapa diajak ke kamar Papo? Kamar kamu di sebelah, Bro,” bingung Ligar.

“Papo bilang kan Pipo boboknya sama Papo, jadi Pipo aku ajak ke sini,” balasnya.

“Gak begitu, Arsen. Kamu gak bisa seenaknya panggil orang lain Pipo dan minta dia buat di sini sama Papo. Kamu panggil Mas Raga Pipo emangnya Mas Raga bersedia?” tanya Ligar.

Arsen menatap Raga dengan raut cemberut. “Aku mau Pipo,” gerutunya seraya menjatuhkan dirinya duduk pada tepian ranjang Ligar.

Ligar menyejajarkan tubuhnya dengan Arsen. Dirinya pandangi wajah cemberut putra semata wayangnya itu. Jujur, tak ada jawaban apapun yang tersirat dalam pikirannya. Mungkin ada, namun dirinya kesulitan menemukan bahasa yang mudah dimengerti untuk anak-anak.

“Kamu mau Pipo?” Ligar spontan menoleh pada Raga dan Arsen mengangguk yakin mendengar pertanyaan Raga. “Kamu boleh panggil Mas Raga Pipo, tapi gak dengan Mas Raga di sini sama Papomu,” jelas Raga.

“Nanti di sini kita bertiga, ada aku, Papo, dan Pipo,” rajuknya yang masih berlanjut.

“Pilih Mas Raga tidur di kamar kamu atau Mas Raga gak nginep di sini?” tegas Ligar bertanya pada Arsen. Dirinya rasa Arsen perlu ketegasan yang nyata melihat putranya itu terus meminta Pipo.

“Aku kan cuma mau punya Pipo,” ucapnya dengan tangis yang mulai datang lalu bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruangannya.

Hari ini, Lucas dan Renjun kembali berhadapan dengan Delilah setelah dua bulan lamanya. Melihat Delilah hari ini membuat keduanya teringat bagaimana nampak Delilah pada saat awal mereka bertemu. Pandangan yang letih, matanya sayu, juga senyum yang tak sedikitpun terukir di wajahnya.

“Gimana kabar lo?” tanya Renjun selepas menyapa.

“Baik.” Renjun menaikkan kedua alisnya karena dirinya tak melihat itu dari tampak Delilah.

Basa-basi yang dilemparkan Lucas dan Renjun enggan ditanggapi apik oleh Delilah, wanita itu hanya diam mendengarkan. Keduanya menceritakan perihal Sean pun tak ada sahutan darinya bahkan tak mengundang perubahan raut wajahnya, dirinya tetap tenang dengan raut datarnya.

Delilah meneguk minumannya. “Saya minta maaf tidak memberikan kabar sedikitpun pada kalian maupun Sean selama kurang lebih dua bulan ini,” ujarnya setelah meneguk sebagian minumannya.

“Saya memutuskan tetap berpisah dengan suami saya dan selama ini saya mengurus hal itu dan lainnya yang bersangkutan. Juga, dalam waktu yang saya sendiri tidak bisa tentukan, saya belum bisa bertemu Sean terlebih dahulu, tetapi saya berjanji pada diri saya sendiri itu tidak akan berlangsung lama,” ujarnya.

“Perpisahan kamu berkaitan dengan tidak bisanya kamu bertemu dengan Sean? Bahkan sekedar membalas pesannya?” sahut Lucas bertanya dengan bahasa yang lebih akrab.

“Mungkin ada kaitannya, tetapi dari saya sendiri bukan itu alasannya. Saya tidak bermaksud mengabaikannya juga meninggalkannya lagi. Saya saat ini mengambil waktu untuk menyembuhkan diri saya sendiri terlebih dahulu sebelum kembali bertemu dengan Sean karena luka bertemu luka hanya bisa memperparah,” balasnya menjelaskan.

“Kalau lo mau menyembuhkan diri, kenapa lo pilih tetep berpisah?” sahut Renjun yang bingung mendengar penjelasan Delilah. “Sorry gue terlalu jauh nanyanya. Lo gak perlu jawab pertanyaan itu,” tukas Renjun mengetahui Delilah yang hanya diam.

“Saya mengerti maksud kamu.” Delilah mengetapkan bibirnya dengan bawah matanya mulai memerah. “Lo gak perlu jawab itu,” ujar Renjun sekali lagi.

“Keinginan berpisah itu ada dari hari dimana kehadiran Sean ditolak seluruh keluarga, tetapi saat itu saya masih menyangkal dan tetap memiliki harapan mereka bisa menerima. Sekarang sudah cukup egois sayaㅡ”

“Menangis saja, sakit kalau kamu tahan,” tukas Lucas melihat Delilah enggan menurunkan setetes air matanya.

“Sekarang saatnya saya menerima hal yang seharusnya sudah bisa saya terima. Saya tidak bisa memaksakan mereka yang tidak bisa saya genggam, termasuk Sean.”

Lucas tertunduk dengan kedua tangannya yang menyatu menopang dahinya. Dirinya lakukan itu untuk menutupi tangisnya yang turun, lain dengan Renjun yang tak peduli dengan air matanya yang membasahi wajahnya. Renjun justru heran dengan Delilah yang mampu menahan tangisnya dan menjelaskan dengan suara tenang walaupun sangat nampak dia sedang mengusahakan tangisnya tidak turun.

“Delilah, kamu boleh tidak bertemu Sean selama kamu dalam masa penyembuhan, tetapi saya mohon dengan penuh untuk kamu tetap membalas pesannya. Setidaknya kalian tidak kembali jauh. Walaupun Sean memilih bersama kami, itu tidak berarti Sean tidak suka dengan kehadiran kamu. Sean ingin tahu kabar kamu,” ujar Lucas setelah berhasil menghentikan tangisnya.

“Kenapa kalian tetap bersedia dengan keberadaan saya di sekitar Sean?” tanyanya.

“Kamu ibu kandungnya. Sekarang ini kami sudah mengerti bagaimana kamu, keberadaan kamu bukan hal yang buruk bagi Sean. Kamu juga berusaha menerima kami sebagai orang tua Sean, kami pun juga melakukan yang sama sebaliknya,” terang Lucas.

“Maaf saya belum bisa berterima kasih secara utuh kepada kalian. Saya percaya kalian akan berikan semua yang terbaik untuk Sean. Saya percaya kalian bisa menutupi banyaknya kurang saya untuk Sean. Terima kasih. Terima kasih sudah menjadi rumah bagi Sean,” tutur Delilah.

“Kami pun juga berterima kasih sama lo yang mau berusaha tetap menjadi Mama buat Sean dan mau berdamai dengan diri sendiri. Sean berusaha terima lo, kami pun juga mengusahakan itu. Kami juga minta maaf atas segala sikap yang buat lo sakit hati atau apapun itu,” sahut Renjun.

“Delilah, boleh saya berharap kita bisa berteman untuk kedepannya?” Mereka berusaha berdamai atas semuanya juga untuk Sean, karenanya Lucas berharap dirinya, Renjun, dan Delilah bisa menjadi teman untuk bersama-sama menjadi orang tua Sean.

“Boleh saja, kenapa harus dipertanyakan?” Lucas mengangguk. “Terima kasih,” balasnya.

Delilah sejenak meninggalkan Lucas dan Renjun karena ada panggilan masuk untuknya. Sementara itu, Lucas dan Renjun saling melempar senyum kelegaan karena pertemuan ini  memberikan banyak jawaban bagi mereka. Keterbukaan Delilah juga menjadi salah satu hal yang memberikan rasa lega bagi mereka.

“Sebelumnya terima kasih dan saya minta maaf tidak bisa lebih lama di sini karena saya perlu mengurus sesuatu,” pamitnya karena panggilan dari pengacaranya. Proses perceraiannya dengan Edwin masih belum mendapat ketok palu hakim.

“Tidak masalah, terima kasih sudah menyempatkan waktu bertemu dengan kami,” tukas Lucas.

Renjun menahan tangan Delilah ketika wanita itu bangkit dari duduknya. “Kalau lo butuh bantuan apapun itu, lo bisa minta ke kami, bahkan sekedar ruang bercerita,” tukanya yang mendapat anggukan Delilah.

“Terima kasih.”

Haechan yang baru kembali dari acara radionya dihebohkan dengan Mark dan Gaby yang tengah berdebat di ruang tengah. Suami dan putrinya itu tengah berdebat perihal barang apa saja yang akan mereka bawa untuk tinggal sementara di rumah lokasi syuting. Dirinya memang meminta Mark untuk mengajak Gaby mempersiapkan barangnya yang akan dibawa supaya mempermudah dan mempercepat dirinya mengemas barangnya saat pulang nanti, tetapi tidak dia ekspektasikan bahwa keduanya akan berdebat seperti ini.

Babe, look at her! Dia mau bawa itu go-kart, sepatu roda, segala perintilan berenang, terus itu tiga boneka gede mau dia bawa juga, kita bukan mau pindah rumah astaga,” adu Mark pada Haechan. “Gaby, hear me out. Kamu bawa mainan seperlunya saja dan peralatan berenangnya cukup baju renang, kacamata, dan satu pelampung, unicorn dan nanas besar itu tidak perlu dibawa. Kamu pilih-pilih lagi mana yang harus dibawa, kita tidak lama tinggal di sana,” lanjut Mark kembali menjelaskan pada Gaby.

Dad, i have a plan with Sean. Aku perlu semuanya untuk bermain, kita akan bersenang-senang,” jelasnya pada Mark.

“Iya, tapi tidak semuanya dibawa, cantik. Di sana dekat taman bermain juga, kamu tidak perlu membawa mainan sebanyak ini. Koper kamu sudah kamu penuhi dengan mainan sedangkan kamu juga perlu membawa baju,” terang Mark membujuk Gaby agar mengurangi bawaannya.

Ditengah perdebatan keduanya, Haechan dengan cepat menghubungi Renjun untuk memastikan pernyataan Gaby. Rencana bermain anak-anak terkadang tidak bisa diganggu gugat dan hanya membuat rugi berdebat.

“Gaby, dengarkan Piponya Sean berbicara.” Haechan menekan pengeras suara pada ponselnya agar bisa didengar jelas oleh Gaby. “Ren, Sean bawa apa aja buat tinggal di sana?” tanya Haechan.

Baju-baju, mainan, sama buku sekolahya sih,” sahut Renjun di seberang.

“Berapa koper itu dia bawa?”

Satu koper gede doang kalo itu, cuma ketambahan bawa go-kart sama sepatu roda buat dia main di sana. Heboh sih bawa gituan cuma ya biar anaknya seneng, enjoy juga di sana, daripada ada acara ngambek di sana ya bawain aja.” Penjelasan Renjun seketika menghadirkan senyuman kemenangan Gaby.

“Emang beneran janjian ini dua anak,” gumam Haechan.

“Dengar, Sean bawa itu tetapi dia cukup satu koper. Kamu perlu pilih lagi mainan di koper kamu, tidak semua itu kamu bawa. Dikurangi mainannya biar bajunya bisa masuk,” omel Mark.

Gaby, jangan bawa banyak mainan, nanti minta beli baru saja sama Daddy atau Papi,“  sahut Renjun dari seberang.

“Itu ide bagus,” sahut Gaby bersemangat.

“Gak usah ngomporin anak gue, lo. Gue komporin Sean juga besok biar lo tekor sama Kak Lucas,” ucap Haechan pada Renjun seraya menjauh dari Mark dan Gaby.


Setelah menghabiskan waktu 3 jam, mereka akhirnya rampung mengemas barang mereka dengan melewati segala perdebatan. Lain dengan Gaby yang langsung ke kamarnya untuk tidur, Mark dan Haechan mengistirahatkan tubuh mereka sejenak di sofa ruang tengah mereka.

“Kak, besok marahin Kak Lucas dong.” Mark menoleh dengan raut bingung. “Sebel banget bikin film kayak dikejar anjing, pasti tiap hari syutingnya sampe malem banget,” lanjutnya membuat mark tersenyum kikuk karena menyadari dirinya mengajukan naskah diwaktu yang mepet.

“Disisi itu kita libur setiap sabtu-minggu,” balas Mark melontarkan keuntungannya.

“Mending kita sabtu-minggu tetep syuting aja kalo emang mepet jadwal rilisnya, daripada lemburan lima hari kerja,” saran Haechan.

Mark sempat terpikirkan saran yang disebutkan Haechan ketika diskusi perihal filmnya dengan Lucas dan team. Akan tetapi, dia mengurungkan diri untuk mengusulkan hal itu karena dirinya mengerti alasan dibalik Lucas menerapkan 5 hari kerja. Jika dirinya usulkan 7 hari kerja, itu memungkinkan terjadinya perdebatan internal Lucas dan Renjun karena Lucas pasti mengusahakan menyetujui permintaannya. Dirinya tidak mau sudah merepotkan masih membuat ribut rumah tangga orang.

Babe, besok aku bakal coba ngobrol sama Lucas buat keefektifan proses syuting kita biar dengan waktu yang mepet ini kita tetep bisa memberikan yang maksimal. It's better than kita marahin Lucas, we need solutions, not problems.” Haechan lantas memeluk suaminya itu dan mengangguk dalam pelukannya.

“Kak, semakin aku lihat how mature you are, i'm falling in love with you more, more, and more,” ujarnya dengan kepala mendongak menatap suaminya itu.

Entah dorongan darimana, Haechan tergerak mempertemukan buah bibirnya dengan Mark. Dirinya sematkan ciuman manis pada suaminya. Sikap Mark yang semakin menumbuhkan rasa cintanya mengundangnya memberikan ciuman tersebut. Yang mendapat perlakuan spontan pun tergerak setelah sejenak terdiam karena keterkejutannya.

Lengan yang semula melingkari pinggang Mark, kini telah beralih pada lehernya. Ciuman yang membuainya itu menghadirkan reflek tubuhnya menarik Haechan di sebelahnya naik dalam pangkuannya. Lenguhan Haechan lepas ditengah peraduan bibir mereka karena Mark yang mulai memberikan sentuhan ditubuhnya. Nafsu yang mulai menyelimuti pun menggerakkan mereka menghangatkan malam yang dingin hingga menjemput pagi.

Sementara Ligar asik dengan kegiatan clubnya, Raga menemani Arsen bermain air. Menemani anak-anak bermain air menjadi ujian kesabaran baginya. Jika saja tidak ada Jemian yang menemaninya bermain dengan anak-anak bisa saja tadi Raga kelepasan memarahi anak-anak itu.

“Arsen, didengarkan itu Mas Raga. Bahaya kalau Arsen mainnya terlalu ke tengah, nanti dibawa air laut,” peringat Jemian pada Arsen. “Lundra juga gitu, didengarkan kalau Pipi kasih tahu,” lanjutnya memperingatkan putranya.

“Cil, kita main pasir aja lah,” ajak Raga mencari jalan aman.

“Ayo main pasir aja,” sahut Jemian ikut mengajak anak-anak.

Raga pada akhirnya mendapat waktu untuk duduk dengan tenang disaat Arsen sibuk bermain pasir. Dalam diamnya tiba-tiba terlintas pikiran tentang bagaimana Arsen mengikuti Ligar touring sebelumnya, melihat saat ini saja lelaki itu masih sibuk dengan kegiatan clubnya dan anaknya bersama dengan dirinya yang menjadi baby sitter mendadak.

“Setiap touring lo pasti jadi baby sitter bocil-bocil ya?” tebak Raga pada Jemian yang mendapat senyuman dari lelaki itu.

“Enggak, kan ada orangtuanya masing-masing. Mungkin saling bantu buat saling ngawasin aja. Kalau Arsen sama Lundra itu emang deket banget dari mereka kecil, kemana-mana maunya bareng, jadi kadang aku jagainnya sepaket,” terang Jemian yang mengerti maksud arah pertanyaan Raga.

“Ngapain lo bantu jagain nih bocil, kasih tuh ke bapaknya. Ngajak-ngajak kagak diurusin anaknya,” sahut Raga.

“Biasanya pasti dijagain sama Mas Ligar, cuma semenjak aku nikah sama Julian, aku yang mau jagain mereka berdua setiap touring biar mainnya gak ditengah obrolan orang dewasa. Dulu mereka pasti main di sekitar orangtuanya, gak pernah dilepas jauh begini,” jelas Jemian. “Tuh kan baru diomongin orangnya udah jalan ke sini,” lanjut Jemian terkekeh melihat Ligar dan Julian yang berjalan ke arah mereka.

Arsen dan Lundra yang melihat Ligar dan Julian berjalan ke arah mereka pun seketika berlari menghampiri. Kedua lelaki itu lantas ditarik Arsen dan Lundra bersemangat. Tawa bahagia mereka tak terhenti karena akan menjalankan rencana mereka.

“Papogar ayo bobok di pasir!” pinta Arsen seraya menarik-narik lengan Ligar.

Ligar mebaringkan dirinya di pasir yang tak jauh dari tempat Raga duduk sesuai arahan Arsen. Raga yang melihatnya justru terfokus dengan badan bertatto Ligar dan itu tak hanya satu atau dua gambar.

“Mas Raga, Ayo! Mas Raga kan mau bantu aku,” ajak Arsen untuk menutupi tubuh Ligar dengan pasir.

“Bro, pelan-pelan dong. Pasirnya masuk hidung Papo ini loh, gawat nanti Papo punya upil batu,” peringat Ligar.

“Enggak, Papogar!” sahutnya dengan tertawa mendengar kalimat terakhir Ligar.

Ligar dan Julian hanya pasrah dengan badan mereka yang menjadi mainan anak-anak. Andai saja Arsen tak ada, Ligar pasti sudah menendang Raga yang mengubur kakinya dengan beberapa kali segaja memukul kakinya itu. Walaupun tubuh Raga itu kecil, Ligar tak lupa bahwa lelaki itu si jago ribut, maka dari itu dia tak terkejut bahwa pukulannya cukup terasa.

“Mas Raga, bantu yang diperut PapoㅡPapo jangan bernapas dulu ini retak!”

“HEY! Papo kok disuruh jangan bernapas? Bisa meninggal dong Bro,” sahut Ligar heran.

“Arsen, kenapa kamu jadiin Mas Raga sahabat kamu?” tanya Lundra yang masih cemburu dengan Arsen yang memiliki sahabat selain dirinya. “Kenapa kamu gak jadiin Mas Raga kayak Pipi? Nanti kita jadi sama deh,” lanjutnya tanpa menunggu jawaban Arsen.

Arsen melirik Ligar dan Raga bergantian. “Sahabat ya Bro, sahabat.” Arsen mendengus mendengar ucapan Ligar.

“Sahabat nomor satunya Arsen itu tetep kamu, Mas Raga kan masih baru,” sahut Raga menjelaskan pada Lundra.

“Bener nih, kamu lebay banget gak bolehin aku sahabatan sama Mas Raga,” timpal Arsen.

“Udah nemu kosakata lebay aja kamu, Bro,” celetuk Ligar.

“Panjul sering ngomong itu.” Sontak pandangan Ligar dan Jemian tertuju pada Jemian.

Pikiran Ligar langsung tertuju pada Raga ketika mendengar putranya membolos sekolah. Dirinya diam pada Raga selama ini karena enggan berurusan kembali dengan si ketua geng motor itu. Akan tetapi sepertinya yang dia lakukan justru membuat Raga terus gencar hingga mengajak putranya membolos.

Ligar meninggalkan pekerjaannya seketika untuk pergi ke sekolah Arsen. Putra semata wayangnya yang dia ketahui berangkat sekolah diwaktu mepet saja khawatir, namun kali ini Arsen berani membolos. Banyak pertanyaan keluar dari pikirannya untuk Arsen juga dirinya sendiri sebagai orangtuanya.

Ketika berjalan mendekati ruang kesiswaan, Ligar mendapati Arsen dari arah berlawanan yang tengah berjalan berdampingan bersama seseorang. Dugaannya tepat ketika mendapati seseorang itu adalah Raga. Ligar tak melangkah mengampiri mereka, dirinya biarkan mereka melangkah dengan bingung mengetahui dirinya di sana.

Tangan Ligar langsung menarik Arsen ketika anak itu telah dihadapannya, dirinya bawa Arsen masuk ke ruang kesiswaan. Raga yang dipegang oleh Arsen pun mau tidak mau ikut masuk ke dalam ruangan itu.

“Selamat siang, Bapakㅡ” Sapaan guru kesiswaan itu terhenti ketika mengetahui di belakang Ligar terdapat Arsen juga Raga.  “Silahkan duduk,” ujarnya meminta ketiganya mengambil duduk pada sofa ruangannya.

“Sebelumnya, saya berterima kasih kepada Bapak sudah bersedia memenuhi panggilan dari kami. Maksud kami memanggil bapak ke sini karena putra Bapak, Barra Arsenio, kemarin kedapatan pergi membolos bersama temannya. Sesuai pernyataan Arsen, dia kemarin membolos karena ajakan temannya, dan Kakak di sebelah Arsen yang mengantar mereka kembali,” terangnya pada Ligar. “Tetapi Arsen, kenapa kamu hari ini bersama Kakak itu lagi?” lanjutnya bertanya pada Arsen.

Arsen terdiam. Pandangannya tak berani mengahadap Ligar karena dia tahu Paponya itu tengah marah. Dirinya duduk menghimpit Raga sekaligus menggenggam erat tangan Raga. Dirinya tidak mampu berhadapan dengan Ligar yang dalam amarah. Ligar bukan seorang yang mudah marah, namun marahnya itu menakutkan bagi Arsen.

“Ditanya itu dijawab,” tukas Ligar datar namun tegas.

Raga di sebelah Arsen merasa deja vu dengan saat di mana Ligar mengintrogasi dirinya dengan ujaran semacam itu namun lebih tegas dari itu.

“Maaf Papogar,” lirihnya meminta maaf.

“Miss tanya kamu, dijawab pertanyaannya,” balas Ligar.

“Hari ini... aku bolos lagi, Miss...” tukasnya perlahan dengan nada rendah.

Melihat Ligar yang menatap Arsen dengan amarah dan kecewa itu terkejut. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa Ligar bisa marah kepada putranya sendiri karena selama yang dia tahu, Ligar selalu tertuju pada orang yang memungkinkan membuat anaknya melakukan kesalahan atau hal yang menyimpang.

“Arsen membolos sendirian?” tanya sang guru yang mendapat anggukan Arsen.

“Kenapa membolos?” tanya Ligar. “Papo serius bertanya dan pertanyaan itu perlu dijawab,” lanjutnya mempertegas dirinya meminta jawaban Arsen.

“Yang satu kali itu aku diajak Jesse buat buy lego at toys center dan waktu aku jalan pulang ke sekolah, Mas Raga sama temen-temennya naik motor semua dateng ke aku sama Jesse. Terus Mas Raga bilangin aku kalo bolos itu gak boleh terus dianter sama Mas Raga ke sekolah lagi. Terus karena aku jadi ketemu Mas Raga, hari ini aku bolos lagi biar ketemu sama Mas Raga lagi,” jelasnya yang sontak membuat Raga mengalihkan pusat pandangan karena kali ini pandangan Ligar beralih pada Raga.

“Arsen, membolos sekolah itu bukan tindakan yang baik. Arsen berpamitan kepada orang tua kalau pergi ke sekolah untuk belajar, kan?” Arsen mengangguk. “Nah, kalau begitu dengan Arsen membolos sekolah itu sama dengan Arsen ingkar kepada orang tua. Dengan membolos, Arsen juga membuat khawatir Miss, Sir, dan orang tua Arsen. Miss ingin tanya pada Arsen, apa Arsen tidak nyaman di sekolah?” Arsen menggeleng.

“Aku cuma mau ke toys center kemarin sama Jesse dan hari ini mau ketemu Mas Raga. Mas Raga itu sahabat aku, Miss,” terangnya lagi.

“Apa Arsen akan membolos lagi setelah ini?” tanya guru itu lagi.

“Mungkin aja. Aku mau ketemu sahabat aku, Miss,” balasnya.

Raga di sebelah Arsen sudah geram sekali dengan Arsen. Dirinya hanya bisa pasrah dengan keadaan karena anak-anak itu diluar kontrolnya, mereka selalu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.

“Arsen bisa menemui sahabat Arsen diluar jam sekolah. Ada banyak waktu untuk bertemu sahabat Arsen. Coba Arsen tanya sahabat Arsen apa dia mau bertemu Arsen yang membolos sekolah?” Seluruh pandangan kini tertuju pada Raga.

“Mas Raga gak mau kamu suka bolos, kamu ketemu Mas Raga kemarin dan hari ini itu kebetulan aja karena Mas Raga masuk kuliah siang. Mas Raga itu juga kuliah, belajar kayak kamu,” tutur Raga.

“Kalo Mas Raga selesai sekolah kita bisa main? Mas Raga bakal ketemu aku?” Raga melirik Ligar yang memandangi keduanya dengan raut datar yang masih setia terpampang.

“Boleh, tapi harus dengan izin Papomu. Anak yang baik itu gak suka buat orangtuanya khawatir, kamu jangan bolos-bolos lagi,” balas Raga berusaha sebaik mungkin mengeluarkan jawabannya.

“Arsen akan membolos lagi setelah ini?” tanya guru itu lagi. “Arsen?” panggilnya karena tak kunjung mendapat jawaban.

“Gak lagi, Miss,” ujarnya lirih.

“Katakan itu pada orang tua Arsen, berjanji untuk tidak membolos lagi,“pinta guru itu.

Arsen menatap Ligar dengan ragu. Entah dorongan darimana, Raga mengusap punggung tangan Arsen yang setia menggenggam sebelah tangannya.

“Papogar, aku gak akan bolos lagi dan akan jadi anak yang baik,” ujarnya dengan wajah memerah yang siap memecah tangisnya.

“Kalo udah berjanji itu artinya gak untuk diingkari, ya?” Arsen mengangguk ragu lalu tangisnya pecah karena ditarik dalam pelukan Ligar.


Pada bangku taman bermain sekolah, Ligar membawa Arsen yang masih menangis dalam gendongannya itu untuk duduk. Raga masih terus ikut bersama mereka karena Arsen enggan melepas genggamannya. Nampaknya sebelah tangannya itu akan kebas hari ini.

Ligar mengusap air mata putranya yang membasahi pipi menggembung putranya. Raga perhatikan Ligar yang nampak begitu sayang pada putranya, bahkan saat keluar dari ruang kesiswaan itu Ligar banyak mengucapkan maaf kepada Arsen karena sempat membuatnya dalam ketakutan, juga lelaki itu dengan baik menenangkan anaknya tanpa memintanya berhenti menangis, tidak seperti yang biasa orang tua Raga lakukan dahulu.

“Maaf ya, Papo tadi khawatir dan awalnya marah karena kamu bolos. Sekarang juga masih ada sih marahnya,” tukas Ligar dengan nada bercanda pada kalimat terakhirnya.

“Kamu tadi udah janji untuk gak bolos lagi berarti siap menepati kan?” Arsen menatap Ligar dengan cemberut. “Kenapa? Kamu udah janji dan kamu boleh ketemu Mas Raga kalo Papo bolehkan.” Ekspresi Arsen seketika berubah mendengar hal itu.

“Papo serius?” tanyanya heboh.

“Kalau Papo bolehkan ya...” tegasnya membuat Arsen kembali mengulum senyumnya. “Sekarang kamu kembali ke kelas kamu,” lanjut Ligar.

“Tapi bolehin aku ketemu sama Mas Raga duluuu~” rajuknya.

“Ini kan ketemu. Kembali ke kelas dulu sana, katanya kamu mau jadi anak yang baik,” balas Ligar membuat Arsen merasa sedikit kesal.

Arsen turun dari pangkuan Ligar dengan mendengus. Anak itu lantas memeluk Raga di sebelah Ligar Sejenak sebelum kembali ke kelasnya. Raga dengan ragu membalas pelukan Arsen dan memberikan usapan hangat pada punggung anak itu. Setelahnya Arsen berjalan menuju kelasnya yang berada di gedung seberang taman bermain. Ligar dan Raga sama-sama memperhatikan Arsen hingga anak itu masuk dalam kelasnya dan melambaikan tangan pada mereka.


Sudah Raga duga bahwa Ligar pasti akan berbicara dengannya hari ini. Benar saja ketika dia berjalan menuju motornya, Ligar menghentikan dirinya dan mengajaknya berteduh pada pinggirian taman kecil dekat parkiran sekolah Arsen.

“Raga, kamu pasti menyimak semua pembicaraan tadi. Saya marah dan merasa gak suka dengan kamu yang mencuri perhatian Arsen akhir-akhir ini bahkan Arsen sampai mau bolos sekolah buat ketemu kamu. Saya juga lega saat tahu kalo kamu gak membenarkan Arsen bolos dan anter dia kembali ke sekolah. Saya juga minta maaf udah menduga kamu dengan hal yang gak kamu lakuin ke Arsen. Maaf kalo saya perlu waktu buat mencerna semua itu,” jelas Ligar panjang.

“Gue ngerti kok lo sayang banget sama anak lo dan gak mau anak lo kenapa-napa. Gue nakal gini juga mikir, bocah kayak anak lo tuh bukan sepadan gue, gue ngerti batesan gue sama anak-anak,” jelas Raga panjang membela dirinya.

“Iya, saya minta maaf udah menduga kamu,” ucap Ligar sekali lagi.

“Gak usah minta maaf mulu lo,” balas Raga tanpa menatap Ligar.

Ligar menyadari bahwa putranya itu memiliki rasa nyaman bersama Raga, maka dari itu Arsen menganggapnya sebagai sahabat dan suka sekali bermain dengan Raga. Dirinya juga sempat memeriksa cctv rumahnya untuk mengetahui yang Raga lakukan dengan Arsen hari itu. Raga mulutnya saja ogah-ogahan, tetapi lelaki itu terus menuruti kemauan putranya bermain ini dan itu. Dirinya juga menyadari bahwa raut wajah Raga memang cenderung judes dan nada bicaranya ketus, tetapi bentuk wajahnya itu ramah anak menurutnya, tidak nampak bahwa lelaki itu seorang ketua geng motor.

“Raga, apa kamu keberatan dengan Arsen yang anggap kamu sahabat dan sering hubungin kamu?” tanya Ligar.

“Awalnya iya, lama-lama ya biasa aja sih,” balas Raga jujur.

“Kalo Arsen minta sering ketemu kamu? Kamu bakal keberatan?” tanya Ligar lagi.

“Kayak lo ngebolehin aja tanya gitu. Ya gue gapapa sih asal gue lagi gak sibuk,” balas Raga dengan sedikit sindiran.

“Saya tanya kamu buat mempertimbangkan permintaan Arsen yang maunya ketemu kamu,” sahut Ligar.