Pada Akhirnya, Berbincang
Pikiran Ligar langsung tertuju pada Raga ketika mendengar putranya membolos sekolah. Dirinya diam pada Raga selama ini karena enggan berurusan kembali dengan si ketua geng motor itu. Akan tetapi sepertinya yang dia lakukan justru membuat Raga terus gencar hingga mengajak putranya membolos.
Ligar meninggalkan pekerjaannya seketika untuk pergi ke sekolah Arsen. Putra semata wayangnya yang dia ketahui berangkat sekolah diwaktu mepet saja khawatir, namun kali ini Arsen berani membolos. Banyak pertanyaan keluar dari pikirannya untuk Arsen juga dirinya sendiri sebagai orangtuanya.
Ketika berjalan mendekati ruang kesiswaan, Ligar mendapati Arsen dari arah berlawanan yang tengah berjalan berdampingan bersama seseorang. Dugaannya tepat ketika mendapati seseorang itu adalah Raga. Ligar tak melangkah mengampiri mereka, dirinya biarkan mereka melangkah dengan bingung mengetahui dirinya di sana.
Tangan Ligar langsung menarik Arsen ketika anak itu telah dihadapannya, dirinya bawa Arsen masuk ke ruang kesiswaan. Raga yang dipegang oleh Arsen pun mau tidak mau ikut masuk ke dalam ruangan itu.
“Selamat siang, Bapakㅡ” Sapaan guru kesiswaan itu terhenti ketika mengetahui di belakang Ligar terdapat Arsen juga Raga. “Silahkan duduk,” ujarnya meminta ketiganya mengambil duduk pada sofa ruangannya.
“Sebelumnya, saya berterima kasih kepada Bapak sudah bersedia memenuhi panggilan dari kami. Maksud kami memanggil bapak ke sini karena putra Bapak, Barra Arsenio, kemarin kedapatan pergi membolos bersama temannya. Sesuai pernyataan Arsen, dia kemarin membolos karena ajakan temannya, dan Kakak di sebelah Arsen yang mengantar mereka kembali,” terangnya pada Ligar. “Tetapi Arsen, kenapa kamu hari ini bersama Kakak itu lagi?” lanjutnya bertanya pada Arsen.
Arsen terdiam. Pandangannya tak berani mengahadap Ligar karena dia tahu Paponya itu tengah marah. Dirinya duduk menghimpit Raga sekaligus menggenggam erat tangan Raga. Dirinya tidak mampu berhadapan dengan Ligar yang dalam amarah. Ligar bukan seorang yang mudah marah, namun marahnya itu menakutkan bagi Arsen.
“Ditanya itu dijawab,” tukas Ligar datar namun tegas.
Raga di sebelah Arsen merasa deja vu dengan saat di mana Ligar mengintrogasi dirinya dengan ujaran semacam itu namun lebih tegas dari itu.
“Maaf Papogar,” lirihnya meminta maaf.
“Miss tanya kamu, dijawab pertanyaannya,” balas Ligar.
“Hari ini... aku bolos lagi, Miss...” tukasnya perlahan dengan nada rendah.
Melihat Ligar yang menatap Arsen dengan amarah dan kecewa itu terkejut. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa Ligar bisa marah kepada putranya sendiri karena selama yang dia tahu, Ligar selalu tertuju pada orang yang memungkinkan membuat anaknya melakukan kesalahan atau hal yang menyimpang.
“Arsen membolos sendirian?” tanya sang guru yang mendapat anggukan Arsen.
“Kenapa membolos?” tanya Ligar. “Papo serius bertanya dan pertanyaan itu perlu dijawab,” lanjutnya mempertegas dirinya meminta jawaban Arsen.
“Yang satu kali itu aku diajak Jesse buat buy lego at toys center dan waktu aku jalan pulang ke sekolah, Mas Raga sama temen-temennya naik motor semua dateng ke aku sama Jesse. Terus Mas Raga bilangin aku kalo bolos itu gak boleh terus dianter sama Mas Raga ke sekolah lagi. Terus karena aku jadi ketemu Mas Raga, hari ini aku bolos lagi biar ketemu sama Mas Raga lagi,” jelasnya yang sontak membuat Raga mengalihkan pusat pandangan karena kali ini pandangan Ligar beralih pada Raga.
“Arsen, membolos sekolah itu bukan tindakan yang baik. Arsen berpamitan kepada orang tua kalau pergi ke sekolah untuk belajar, kan?” Arsen mengangguk. “Nah, kalau begitu dengan Arsen membolos sekolah itu sama dengan Arsen ingkar kepada orang tua. Dengan membolos, Arsen juga membuat khawatir Miss, Sir, dan orang tua Arsen. Miss ingin tanya pada Arsen, apa Arsen tidak nyaman di sekolah?” Arsen menggeleng.
“Aku cuma mau ke toys center kemarin sama Jesse dan hari ini mau ketemu Mas Raga. Mas Raga itu sahabat aku, Miss,” terangnya lagi.
“Apa Arsen akan membolos lagi setelah ini?” tanya guru itu lagi.
“Mungkin aja. Aku mau ketemu sahabat aku, Miss,” balasnya.
Raga di sebelah Arsen sudah geram sekali dengan Arsen. Dirinya hanya bisa pasrah dengan keadaan karena anak-anak itu diluar kontrolnya, mereka selalu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
“Arsen bisa menemui sahabat Arsen diluar jam sekolah. Ada banyak waktu untuk bertemu sahabat Arsen. Coba Arsen tanya sahabat Arsen apa dia mau bertemu Arsen yang membolos sekolah?” Seluruh pandangan kini tertuju pada Raga.
“Mas Raga gak mau kamu suka bolos, kamu ketemu Mas Raga kemarin dan hari ini itu kebetulan aja karena Mas Raga masuk kuliah siang. Mas Raga itu juga kuliah, belajar kayak kamu,” tutur Raga.
“Kalo Mas Raga selesai sekolah kita bisa main? Mas Raga bakal ketemu aku?” Raga melirik Ligar yang memandangi keduanya dengan raut datar yang masih setia terpampang.
“Boleh, tapi harus dengan izin Papomu. Anak yang baik itu gak suka buat orangtuanya khawatir, kamu jangan bolos-bolos lagi,” balas Raga berusaha sebaik mungkin mengeluarkan jawabannya.
“Arsen akan membolos lagi setelah ini?” tanya guru itu lagi. “Arsen?” panggilnya karena tak kunjung mendapat jawaban.
“Gak lagi, Miss,” ujarnya lirih.
“Katakan itu pada orang tua Arsen, berjanji untuk tidak membolos lagi,“pinta guru itu.
Arsen menatap Ligar dengan ragu. Entah dorongan darimana, Raga mengusap punggung tangan Arsen yang setia menggenggam sebelah tangannya.
“Papogar, aku gak akan bolos lagi dan akan jadi anak yang baik,” ujarnya dengan wajah memerah yang siap memecah tangisnya.
“Kalo udah berjanji itu artinya gak untuk diingkari, ya?” Arsen mengangguk ragu lalu tangisnya pecah karena ditarik dalam pelukan Ligar.
Pada bangku taman bermain sekolah, Ligar membawa Arsen yang masih menangis dalam gendongannya itu untuk duduk. Raga masih terus ikut bersama mereka karena Arsen enggan melepas genggamannya. Nampaknya sebelah tangannya itu akan kebas hari ini.
Ligar mengusap air mata putranya yang membasahi pipi menggembung putranya. Raga perhatikan Ligar yang nampak begitu sayang pada putranya, bahkan saat keluar dari ruang kesiswaan itu Ligar banyak mengucapkan maaf kepada Arsen karena sempat membuatnya dalam ketakutan, juga lelaki itu dengan baik menenangkan anaknya tanpa memintanya berhenti menangis, tidak seperti yang biasa orang tua Raga lakukan dahulu.
“Maaf ya, Papo tadi khawatir dan awalnya marah karena kamu bolos. Sekarang juga masih ada sih marahnya,” tukas Ligar dengan nada bercanda pada kalimat terakhirnya.
“Kamu tadi udah janji untuk gak bolos lagi berarti siap menepati kan?” Arsen menatap Ligar dengan cemberut. “Kenapa? Kamu udah janji dan kamu boleh ketemu Mas Raga kalo Papo bolehkan.” Ekspresi Arsen seketika berubah mendengar hal itu.
“Papo serius?” tanyanya heboh.
“Kalau Papo bolehkan ya...” tegasnya membuat Arsen kembali mengulum senyumnya. “Sekarang kamu kembali ke kelas kamu,” lanjut Ligar.
“Tapi bolehin aku ketemu sama Mas Raga duluuu~” rajuknya.
“Ini kan ketemu. Kembali ke kelas dulu sana, katanya kamu mau jadi anak yang baik,” balas Ligar membuat Arsen merasa sedikit kesal.
Arsen turun dari pangkuan Ligar dengan mendengus. Anak itu lantas memeluk Raga di sebelah Ligar Sejenak sebelum kembali ke kelasnya. Raga dengan ragu membalas pelukan Arsen dan memberikan usapan hangat pada punggung anak itu. Setelahnya Arsen berjalan menuju kelasnya yang berada di gedung seberang taman bermain. Ligar dan Raga sama-sama memperhatikan Arsen hingga anak itu masuk dalam kelasnya dan melambaikan tangan pada mereka.
Sudah Raga duga bahwa Ligar pasti akan berbicara dengannya hari ini. Benar saja ketika dia berjalan menuju motornya, Ligar menghentikan dirinya dan mengajaknya berteduh pada pinggirian taman kecil dekat parkiran sekolah Arsen.
“Raga, kamu pasti menyimak semua pembicaraan tadi. Saya marah dan merasa gak suka dengan kamu yang mencuri perhatian Arsen akhir-akhir ini bahkan Arsen sampai mau bolos sekolah buat ketemu kamu. Saya juga lega saat tahu kalo kamu gak membenarkan Arsen bolos dan anter dia kembali ke sekolah. Saya juga minta maaf udah menduga kamu dengan hal yang gak kamu lakuin ke Arsen. Maaf kalo saya perlu waktu buat mencerna semua itu,” jelas Ligar panjang.
“Gue ngerti kok lo sayang banget sama anak lo dan gak mau anak lo kenapa-napa. Gue nakal gini juga mikir, bocah kayak anak lo tuh bukan sepadan gue, gue ngerti batesan gue sama anak-anak,” jelas Raga panjang membela dirinya.
“Iya, saya minta maaf udah menduga kamu,” ucap Ligar sekali lagi.
“Gak usah minta maaf mulu lo,” balas Raga tanpa menatap Ligar.
Ligar menyadari bahwa putranya itu memiliki rasa nyaman bersama Raga, maka dari itu Arsen menganggapnya sebagai sahabat dan suka sekali bermain dengan Raga. Dirinya juga sempat memeriksa cctv rumahnya untuk mengetahui yang Raga lakukan dengan Arsen hari itu. Raga mulutnya saja ogah-ogahan, tetapi lelaki itu terus menuruti kemauan putranya bermain ini dan itu. Dirinya juga menyadari bahwa raut wajah Raga memang cenderung judes dan nada bicaranya ketus, tetapi bentuk wajahnya itu ramah anak menurutnya, tidak nampak bahwa lelaki itu seorang ketua geng motor.
“Raga, apa kamu keberatan dengan Arsen yang anggap kamu sahabat dan sering hubungin kamu?” tanya Ligar.
“Awalnya iya, lama-lama ya biasa aja sih,” balas Raga jujur.
“Kalo Arsen minta sering ketemu kamu? Kamu bakal keberatan?” tanya Ligar lagi.
“Kayak lo ngebolehin aja tanya gitu. Ya gue gapapa sih asal gue lagi gak sibuk,” balas Raga dengan sedikit sindiran.
“Saya tanya kamu buat mempertimbangkan permintaan Arsen yang maunya ketemu kamu,” sahut Ligar.