lostduskworld

Pada saat mengunjungi proyeknya tadi, Ligar tak sengaja melihat segerombolan anak motor melewati jalanan di samping proyeknya. Maniknya menatap gerombolan itu dari lantai dua dengan mulutnnya menuturkan heran pada mereka. Matanya membulat seketika saat menangkap anak berseragam dengan ransel yang tak asing baginya. Dirinya seketika berlari turun dari lantai dua mengejar gerombolan tersebut.

Gerombolan itu berhenti di sebuah rumah yang tak lain adalah markas mereka. Debaran jantung Ligar sudah tak karuan panik karena anak yang dilihatnya adalah putranya, Arsen. Paniknya semakin menjadi saat mengetahui bahwa ini bukan markas geng motor Raga dan itu berarti Raga tak bersama putranya.

Amarahnya meluap ketika berhadapan dengan mereka. Sebaik mungkin Ligar menahan dirinya tak melemparkan pukulan pada mereka karena ada Arsen di sana. Dirinya lantas membawa Arsen pergi keluar dari sana sebelum dirinya semakin tidak bisa dikontrol. Ligar tak peduli dengan reaksi mereka akan kedatangannya dengan amarah yang meledak.

Amarah Ligar mendidih kembali, namun kali ini bukan dengan gerombolan itu melainkan Raga. Lelaki itu datang menghadapnya dengan beberapa lebam yang nampak di wajahnya. Ligar dapat menebak darimana lebam yang lelaki itu dapatkan, persetan dengan itu, dia memerlukan penjelasan Raga tentang putranya yang bersama gerombolan geng motor.

“Kalau kamu gak bisa jemput anak saya itu bilang, bukan malah jemput anak saya dengan geng motor seperti itu. Anak saya jangan kamu samakan dengan orang seusia kamu, Raga! Dia anak-anak,” luapnya yang tak merubah ekspresi datar Raga.

“Beruntung saja saya tahu tepat waktu. Kalau saya gak tahu saat itu juga, entah apa yang akan terjadi sama anak saya, gak mau saya bayangkan itu,” lanjutnya.

Ligar perhatikan lamat-lamat lelaki dihadapannya. Raga terus diam alih-alih menyahut pernyataannya.

“Gimana bisa anak saya dijemput oleh mereka bahkan dibawa ke markasnya? Tolong dijawab, saya perlu tahu,” tanya Ligar.

“Gue telat jemput anak lo,” terangnya singkat.

“Dijawab dengan lengkap. Saya gak punya urusan bahkan gak kenal dengan mereka, tapi saya yakin kamu kenal dengan mereka, benar?” sahut Ligar yang geram dengan balasan Raga yang sekedarnya.

“Mereka lawan gue. Temen gue sempet post foto anak lo, mereka tau itu dan anggap itu beneran. Sorry anak lo jadi umpan buat gue dateng ke markas mereka,” terangnya lebih panjang.

Raga hanya mengalihkan pandangnya ketika mata Ligar menatapnya tajam. Bukan tak berani membalas, tetapi tidak pantas karena Ligar bukan lawannya.

“Mulai besok, kamu gak perlu lagi antar-jemput anak saya. Kita selesai,” tukas Ligar dengan nada tegasnya.

“Gak, gue bilangnya sebulan,” protes Raga tak terima karema janjinya dikacaukan.

“Kamu pikir saya masih tega setelah dua kali melihat anak saya gak aman? Kamu dan saya sama-sama bersalah pada Arsen, semua ini perlu disudahi, Raga. Saya gak mau lebih banyak hal yang terjadi pada Arsen akibat saya dan kamu,” jelasnya.

Ligar merasa bersalah dan penuh sesal setelah kejadian hari ini. Dia salah melempar candaan pada Raga untuk mengantar-jemput putranya yang berujung disetujui lelaki itu. Dia juga salah percaya bahwa Raga sudah dewasa dan mengerti tempat untuk melakukan segala sesuatu. Dirinya yang selalu berusaha menjaga Arsen sebaik mungkin selama ini nyatanya dirinya sendiri justru membuat putra semata wayangnya dalam bahaya.

“Gue gak suka ingkar janji,” ujarnya yakin.

“Saya anggap kamu sudah menepati janji kamu. Mulai besok urusan kita selesai,” sahut Ligar.

Saat Raga beranjak dari duduknya karena berpikir pembicaraan mereka telah selesai, Ligar justru menahan dirinya memintanya duduk kembali di sana. “Kamu gak saya perkenankan pulang sebelum luka kamu saya obati,” tukas Ligar lalu beranjak dari duduknya mengambil aid kit.

Raga pasrah dengan Ligar yang mengobati lukanya karena rugi mendebat pria itu saat ini. Dirinya secara tidak sadar tersenyum saat menyadari betapa miripnya bentuk wajah Ligar dan Arsen. Hazelnya sedari tadi fokus memperhatikan Ligar. Raga seketika mengulum senyumnya saat menyadari apa yang dia lakukan dan langsung mengalihkan fokusnya.

cw // mention of violence

Mengetahui pesannya tak dibalas oleh Raga, Ligar memutuskan melacak lokasi Raga dan segera meluncur untuk menjemput putranya. Dirinya tak habis pikir dengan Raga yang membawa putranya menemani dirinya balapan. Arsen mengerti tentang club motor, tapi dia tidak mengerti adanya sisi gelap sebuah club motor. Selama ini yang Arsen tahu adalah club motor Ligar yang seringkali riding dan melakukan kegiatan amal, tidak dengan club motor seperti milik Raga.

Disisi Ligar yang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk menjemput Arsen, Haris, teman Raga yang mengunggah foto Arsen, kini tengah dilanda panik. Akunnya menjadi ramai akibat cuitannya itu. Dirinya baru mengetahui fakta bahwa Arsen merupakan putra dari seorang ketua club motor bernama 'The Sangar' yang cukup terkenal.

Kedatangan Ligar mencuri atensi seluruh anak di sana. Dirinya turun dari motornya dan berjalan menghampiri lawan Raga. Raga terheran kenapa Ligar justru menghampiri lawannya itu.

“Kamu turun, saya yang akan lawan Raga. Berapa taruhan kalian?” ujar Ligar pada lawan Raga.

“10 juta,” balasnya.

“Saya beri kalian 25 juta kalau saya menang.” Ligar menjulurkan tangannya meminta kesepakatan dan tangannya dijabat oleh lawan Raga.

Raga tersenyum miring melihat apa yang dilakukan Ligar, “Yakin lo bapak-bapak mau lawan gue?” ejeknya.

Tanpa membalas ejekan Raga, Ligar meminta mereka segera memulai balapannya. Dirinya sudah siap di atas motor milik lawan Raga. Dilihatnya Arsen yang menyemangatinya tanpa mengerti maksud semua ini.

Raga langsung melaju kencang ketika dimulai. Ligar tampak lebih pelan di belakang Raga. Di pertengahan jalan, Ligar menyejajarkan posisinya dengan Raga untuk menyampaikan sesuatu.

“Kamu harus menuruti permintaan saya kalo kamu kalah!” ucapnya berteriak melawan berisiknya suara motor.

Diluar dugaan Raga, selepas memberitahukan hal itu, Ligar melaju kencang menyalip dirinya. Dirinya menambah kecepatannya mengejar Ligar yang melaju kencang. Makian yang keluar dari mulutnya semakin tak terkendali ketika dia hampir bisa menyalip Ligar, namun lelaki itu justru melesat cepat sampai ke garis finish ketika menyadari dirinya hendak menyalip.

Seluruhnya tercengang dengan Ligar yang mereka ketahui adalah bapak-bapak itu berhasil mengalahkan Raga. Arsen mengetahui kemenangan Paponya itu lantas berlari menghampiri lelaki itu dengan bersorak dan tepukan tangan.

“Papo keren banget,” ujarnya dengan mengacungkan dua jempolnya.

Saat itu juga, Ligar langsung memenuhi janjinya kepada lawan Raga dengan mentransfer sejumlah uang yang telah dia sebutkan tadi. Mereka bersorak menang karena berhasil mengalahkan Raga dan mendapat hasil pertandingan tiga kali lipat dari kesepakatan awal, karena mereka juga masih mendapatkan uang kesepakatan awal mereka.

“Ikut saya ke rumah, kita perlu bicara,” tukas Ligar dingin pada Raga. “Arsen, ayo pulang sama Papo,” ajaknya pada putranya.


Pada awalnya Raga berpikir bahwa ketadangan Ligar tadi karena panggilan Arsen, namun dugaannya itu salah. Ligar memang datang karena Arsen, tetapi tidak atas panggilan Arsen, melainkan cuitan salah satu temannya. Dirinya menunda melayangkan tonjokan pada Haris untuk berhadapan dengan Ligar terlebih dahulu.

“Arsen, kamu pergi dulu ke kamar dan istirahat,” pinta Ligar pada Arsen yang mengikutinya duduk.

Ligar perhatikan Arsen sampai tak lagi dalam pandangannya dan merasa anak itu sudah sampai di kamarnya untuk berbicara dengan Raga. “Kasih tahu saya maksud kamu bawa Arsen nonton balapan kamu? Gila kamu ajak anak saya ke sana,” ucapnya lepas setelah kepergian Arsen.

“Saya udah bilang ke kamu kalo gak bisa temenin Arsen, anter ke proyek saya, bukan kamu bawa nonton acara balapan kamu. Kamu tau gak kalo balapan kamu itu sama sekali gak pantas ditunjukin ke anak-anak? Kamu tau gak kalo balapan liar itu salah? Kamu tau gak kalo hal itu bisa jadi contoh buruk buat Arsen?” Ligar melempar segala amarah dalam dirinya pada Raga.

Raga hanya diam alih-alih menjawab. Dia mengerti hal itu sama sekali tidak baik, tapi itu kesenangan dia menikmati masa remajanya. Dirinya juga sadar bahwa Arsen tak seharusnya mengetahui hal itu, dia wajarkan kemarahan Ligar padanya.

“Papo jangan marah marah ke Mas Raga.” Kedua pria di sofa ruang tamu itu sontak mencari pemilik suara yang ternyata muncul dari balik tembok sekat. “Tadi Mas Raga mau perginya nunggu Papogar pulang, tapi aku mau ikut Mas Raga. Marah marah ke aku aja, Pap,” lanjutnya.

“Papo tadi bilang buat kamu pergi ke kamar. Ini urusan Papo dengan Mas Raga, kamu pergi istirahat ke kamar,” tegas Ligar.

Arsen jujur dengan perkataannya, faktanya memang Arsen yang meminta ikut Raga. Tadi dia sempat bertanya pada Raga yang sibuk membalas pesan daripada membantunya merakit lego. Raga memberitahunya bahwa dia akan pergi bermotor bersama temannya dan Arsen tertarik mendengar kalimat pergi bermotor. Dia membujuk Raga agar mau mengajaknya karena dia pikir itu adalah riding sebagaimana biasa dia lakukan dengan club motor Ligar.

“Benar Arsen yang meminta?” Raga berdeham. “Kenapa kamu turuti? Kamu sadar kan geng motor kamu itu bisa memberikan pengaruh buruk untuk Arsen?” lanjutnya bertanya.

“Udah gue tolak, dia tetep ngotot,” jelasnya seraya mengingat kejadian dimana Arsen memintanya hingga memohon-mohon. Dirinya tidak bisa dihadapkan dengan anak kecil yang merajuk seperti itu.

“Kalo kamu habis ini balik ke sana, mereka pukulin kamu kayak hari itu?” Ligar seketika teringat kejadian pertama kali mereka bertemu. “Ya.” Balasan singkat itu membuat keheningan antara keduanya.

“Kamu gak perlu balik ke sana, saya yang kasih gantinya pukulan mereka buat kamu,” tukas Ligar memecah keheningan. “Saya gak ganti dengan pukulan, tapi kamu stop balapan liar,” tambahnya.

“Mending lo pukulin gue aja, kelar. Suka bener lo bikin ribet,” sahut Raga.

“Seenggaknya sampai kamu penuhi janji kamu buat antar-jemput Arsen selama sebulan, setelahnya balik ke kamu sendiri kalo mau balik balapan lagi,” terang Ligar.

Raga memberikan anggukannya. Dia yang menyanggupi untuk mengantar-jemput Arsen, maka dari itu dirinya juga akan bertanggung jawab atas hal ini. Raga bukan tipikal orang yang mengingkari ucapannya. Dirinya ketua yang membuat peraturan saja tetap meminta dipukuli ketika kalah.

Dengan segala kepanikannya, Ligar mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntungnya jalanan kota sedang tak begitu padat, membuatnya bisa dengan cepat melaju. Walaupun begitu, dirinya masih berulang kali merutuki dirinya yang membawa mobil alih-alih motornya. Dirinya sudah cukup panik oleh Arsen yang mengabari dirinya tengah mengikuti orang asing.

Mobil dia lajukan pelan ketika memasuki gang. Hazelnya dengan teliti memeriksa segala sisi mencari keberadaan putranya. Ketika menemukan sebuah lapangan kecil, dirinya lantas menepikan mobilnya di belakang sebuah motor besar yang ambruk. Hazelnya menangkap putranya yang melambaikan kedua tangannya yang berada di tepi lapangan menemani seseorang yang ambruk bersandar pada dinding.

Ligar berikan pelukan erat dengan cukup kecupan di kening dan pipi putra semata wayangnya. Lantas dirinya memeriksa seluruh tubuh Arsen memastikan keadaannya baik-baik saja. Putranya tak terluka sedikit pun.

Pandangan Ligar beralih menatap lelaki yang terkulai di sana. Alih-alih menanyakan segala pertanyaan yang ada dalam pikirannya, dirinya memilih membawa lelaki itu masuk ke dalam mobilnya dan melarikannya ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan. Lelaki itu sebenarnya menolak, tetapi dirinya tidak berdaya karena keadaannya yang sudah lemas dengan banyak lebam dan darah yang keluar di beberapa bagian wajah dan tubuhnya.

“Tadi tuh masnya dorong motor kayak zombie, Pap. Terus aku ikutin. Aku kan mau lihat itu zombie asli apa bukan. Papo lihat deh tadi aku rekam, mau aku kirim ke Papo kalo ini zombie beneran, tapi bukan. Soalnya waktu dia liat aku ikutin dia gak mau gigit aku. Dengerin aku, Pap. Tadi masnya bilang ke aku gini, 'ngapain lo bocil' dan mukanya kayak setan berdarah-darah gitu tapi kasian. Sekarang udah keliatan agak ganteng,” cerita Arsen dengan bersemangat dan begitu ekspresif menjelaskan rentetan kejadiannya.

Mendengar cerita Arsen, Ligar berusaha merespon sebaik mungkin walaupun dirinya tengah tidak habis pikir bahwa segala kepanikannya tadi hanya karena Arsen yang ingin memastikan keberadaan zombie. Arsen akhir-akhir ini suka menonton film zombie, karenanya dia memiliki keingintahuan akan keberadaannya itu nyata atau tidak.

Disaat Arsen fokus dengan permainannya, Ligar mengambil kesempatan itu untuk berbincang dengan lelaki yang terduduk di ranjang klinik memperhatikan keduanya sedari tadi. Ligar pandangi lelaki itu dari ujung kepala hingga kaki, menebak seperti apakah lelaki didepannya ini.

“Kamu anak motor?” Pertanyaannya hanya dibalas dehaman malas. “Gayanya jagoan kok berantem aja ambruk. Kamu gak ngelawan?” tanyanya lagi menebak.

“Balikin gue,” ujarnya singkat tanpa menjawab pertanyaan Ligar.

“Pertanyaan saya dijawab dulu ya, dek,” balas Ligar dengan nada candanya.

“Lo udah ngerti jawabannya pake ribet nanya,” balasnya ketus.

“Kenapa sampe digebukin? Keluar geng motor? Kalah balapan? Tawuran?” Ligar hanya mendapatkan diam dan raut malas lelaki itu. “Dijawab!” tegas Ligar yang geram.

“Kepo banget lo. Bawa gue balik,” sahutnya lebih ketus dari sebelumnya.

“Kamu pilih kasih tahu saya atau saya lapor polisi?” Ligar lemparkan penawaran itu.

Sejujurnya dari awal kedatangan lelaki itu, perawat sudah mengajukan diri untuk menghubungi pihak berwajib melihat keadaannya. Akan tetapi Ligar menahannya.

“Gue kalah balapan dan ini yang gue dapet,” terangnya singkat.

“Tanpa ngelawan?” Lelaki itu memberikan anggukannya.

“Ketua geng motornya sinting sih ini,” gumam Ligar yang terdengar jelas di telinga lelaki itu.

“Lo ngatain gue?” Ligar menatapnya penuh tanya. “Gue ketuanya.” Ligar seketika kembali menatap lelaki itu dari ujung ke ujung setelah mendengarnya.

Perawakannya sama sekali tak menunjukkan dirinya sebagai pemimpin sebuah geng. Tubuhnya kecil dan ramping, lebih seperti sebaya Arsen di mata Ligar.

“Anterin gue balik. Lo yang bawa gue ke sini,” pintanya sekali lagi.

Sebelum menyetujui permintaannya, Ligar menyodorkan ponsel miliknya untuk meminta nomor lelaki itu. Dia perlukan itu untuk menghubungi lelaki itu perihal motornya yang dia reparasikan. Entah kenapa dirinya begitu peduli pada lelaki asing itu. Sepertinya karena keduanya sama-sama anak motor. Bedanya, club motor milik Ligar anggotanya bapak-bapak dan menggunakan motor retro klasik.

“Nomer kamu beneran, jangan ngasal,” celetuk Ligar yang mengetahui gelagat lelaki itu. “Nama kamu siapa?” tanyanya untuk membubuhkan namanya.

“Raga,” balasnya.

Hazel Renjun terfokus pada interaksi ibu dan anak di seberang sana. Dia menepi memberikan ruang bagi mereka berbincang leluasa. Sejauh apapun dirinya menepi, dirinya tetap ada dalam pandangan Sean. Anak itu akan meninggalkan Delilah begitu saja jika dirinya tak ada dalam pandangannya.

Delilah pertanyakan hal-hal kecil kepada Sean perihal hari ini. Senyumannya terulas mengetahui Sean lebih banyak berbagi dengannya hari ini. Dari jauh nampaknya mereka mulai dekat, namun kenyataannya tembok diantara mereka itu masih ada.

“Kakak masih ingat kalau Mama pernah beritahu Kakak punya adik perempuan?” Sean memberikan anggukannya. “Mama sudah pernah beritahu namanya belum, ya? Namanya Elena. Kakak mau melihat fotonya?” Sean hanya diam mendengarkan, memperhatikan Delilah yang tengah menggulir isi galerinya mencari foto sang adik.

Ketika Delilah menunjukkan foto Elena pada Sean dan menceritakan tentang putrinya itu, manik Sean justru terfokus pada Delilah. Anak itu pandangi Delilah yang rapi bercerita tentang Elena dengan senyum yang tetap terpancar. Telinganya mendengarkan dengan baik segala cerita panjang Delilah tentang Elena.

“Menurut Kakak, Elena bagaimana?” pertanyaan Delilah membuat Sean gelagapan. Dirinya tak sedikitpun menaruh atensi pada foto sang Elena sedari tadi.

“Tidak tahu,” balasnya yang mengubah senyum Delilah.

“Kalau Kakak ada kesempatan bertemu Elena, Kakak mau?” Delilah kembali bertanya.

Sean tak bergeming. Dirinya nampak berpikir atas pertanyaan Delilah. Semuanya yang dia dengar tiba-tiba itu jelas membuatnya bingung dan tak tahu harus bereaksi seperti apa. Pikirannya sulit mencerna fakta yang bermunculan. Dia perlu banyak penjelasan, tetapi tidak tahu bagaimana caranya bertanya. Dirinya ingin mengerti situasi, tetapi pikiran dan mentalnya belum cukup mampu.

“Kakak perlu tanya Papo dan Pipo,” balasnya setelah diamnya yang cukup lama.

Delilah harusnya sudah mulai terbiasa dengan Sean yang bergantung dengan Papo dan Piponya. Akan tetapi dia sulit terbiasa dengan itu, Sean adalah putra yang dilahirkannya. Tentu ada rasa sakit hati baginya mengetahui Sean lebih bergantung pada orang lain daripada dirinya. Terlebih kali ini ketika dirinya memberikan ajakan untuk Sean bertemu saudari kandungnya, anak itu tetap bergantung pada izin Papo dan Piponya.


Malam ini, Sean memilih tidur bersama Papo dan Piponya. Terhitung hampir dua jam Sean membaringkan dirinya di ranjang bersama piponya, namun dia tak kunjung dalam lelapnya. Renjun sudah berulang kali menguap, namun berusaha menahan kantuknya untuk menemani Sean.

Ketika Lucas kembali saat hari sudah berganti, Sean belum juga dalam lelapnya. Hal itu menjadi kejutan bagi Lucas yang baru saja kembali. Dirinya lantas menyegerakan membersihkan diri untuk bersiap tidur.

“Kakak belum mengantuk jam segini?” tanya Lucas sembari memposisikan dirinya di samping Sean.

“Aku sampe udah sempet tidur sebentar tapi anaknya masih melek pas aku bangun,” terang Renjun pada Lucas.

“Kakak sedang memikirkan sesuatu?” tanya Lucas pada Sean.

Delilah dan Elena, adik perempuannya, masih mencuri pikiran Sean. Ada rasa sedih dan sakit hati dalam dirinya. Ikatan darahnya dengan Delilah seakan menunjukkan keberadaannya ketika rasa cemburunya hadir pada Elena. Adik perempuannya yang hanya diceritakan melalui lisan, tak dia ketahui bagaimana rupanya, itu saja sudah berdampak baginya.

“Mama bisa selalu bersama adik perempuan, tetapi kenapa dengan Kakak tidak bisa?” Pertanyaan wajar itu keluar dari mulut Sean. Akan tetapi Sean salah melontarkan pertanyaan itu pada Lucas dan Renjun, karena keduanya tidak mengetahui jawabannya.

“Kenapa Mama tinggalkan Kakak dengan Bunda di panti? Kakak bukan anak yang baik?” tambahnya bertanya.

Lucas dan Renjun masih dalam diam. Keduanya masih memikirkan dan merangkai kata dalam pikirannya untuk menjelaskan pada Sean dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak semakin menyakiti hatinya. Pertanyaan itu sudah singgah lama dalam pikiran Sean, hanya saja anak itu baru bisa menyuarakannya hari ini.

“Tidak, Kakak anak yang baik. Walaupun Kakak tidak selalu bersama Mama, tetapi Mama selalu sayang dengan Kakak. Kakak bisa lihat sekarang Mama sering menemui Kakak.” Entah pernyataannya itu fakta atau bukan, yang Lucas mau hanya menenangkan Sean lepas dari gundahnya. “Apa Kakak ingin selalu bersama Mama seperti adik perempuan?” tambah Lucas bertanya dengan hati-hati.

“Tidak tahu, Kakak hanya bertanya tadi,” balasnya.

“Iya, sekarang Kakak tidur, ya? Atau masih ingin bertanya lagi?” Sean memberikan gelengan kepalanya.

Renjun berikan sapuan halus pada puncak kepala Sean dengan harap bisa mengantar anak itu pada lelapnya. Sepasang suami itu perhatikan putra mereka hingga dalam lelapnya sebelum akhirnya mereka ikut sang putra dalam lelap.

Hazel Renjun terfokus pada interaksi ibu dan anak di seberang sana. Dia menepi memberikan ruang bagi mereka berbincang leluasa. Sejauh apapun dirinya menepi, dirinya tetap ada dalam pandangan Sean. Anak itu akan meninggalkan Delilah begitu saja jika dirinya tak ada dalam pandangannya.

Delilah pertanyakan hal-hal kecil kepada Sean perihal hari ini. Senyumannya terulas mengetahui Sean lebih banyak berbagi dengannya hari ini. Dari jauh nampaknya mereka mulai dekat, namun kenyataannya tembok diantara mereka itu masih ada.

“Kakak masih ingat kalau Mama pernah beritahu Kakak punya adik perempuan?” Sean memberikan anggukannya. “Mama sudah pernah beritahu namanya belum, ya? Namanya Elena. Kakak mau melihat fotonya?” Sean hanya diam mendengarkan, memperhatikan Delilah yang tengah menggulir isi galerinya mencari foto sang adik.

Ketika Delilah menunjukkan foto Elena pada Sean dan menceritakan tentang putrinya itu, manik Sean justru terfokus pada Delilah. Anak itu pandangi Delilah yang rapi bercerita tentang Elena dengan senyum yang tetap terpancar. Telinganya mendengarkan dengan baik segala cerita panjang Delilah tentang Elena.

“Menurut Kakak, Elena bagaimana?” pertanyaan Delilah membuat Sean gelagapan. Dirinya tak sedikitpun menaruh atensi pada foto sang Elena sedari tadi.

“Tidak tahu,” balasnya yang mengubah senyum Delilah.

“Kalau Kakak ada kesempatan bertemu Elena, Kakak mau?” Delilah kembali bertanya.

Sean tak bergeming. Dirinya nampak berpikir atas pertanyaan Delilah. Semuanya yang dia dengar tiba-tiba itu jelas membuatnya bingung dan tak tahu harus bereaksi seperti apa. Pikirannya sulit mencerna fakta yang bermunculan. Dia perlu banyak penjelasan, tetapi tidak tahu bagaimana caranya bertanya. Dirinya ingin mengerti situasi, tetapi pikiran dan mentalnya belum cukup mampu.

“Kakak perlu tanya Papo dan Pipo,” balasnya setelah diamnya yang cukup lama.

Delilah harusnya sudah mulai terbiasa dengan Sean yang bergantung dengan Papo dan Piponya. Akan tetapi dia sulit terbiasa dengan itu, Sean adalah putra yang dilahirkannya. Mengetahui Sean lebih bergantung pada orang lain daripada dirinya tentu rasa sakit hati itu ada. Terlebih kali ini ketika dirinya memberikan ajakan untuk Sean bertemu saudari kandungnya, anak itu tetap bergantung pada izin Papo dan Piponya.


Malam ini, Sean memilih tidur bersama Papo dan Piponya. Terhitung hampir dua jam Sean membaringkan dirinya di ranjang bersama piponya, namun dia tak kunjung dalam lelapnya. Renjun sudah berulang kali menguap, namun berusaha menahan kantuknya untuk menemani Sean.

Ketika Lucas kembali saat hari sudah berganti, Sean belum juga dalam lelapnya. Hal itu menjadi kejutan bagi Lucas yang baru saja kembali. Dirinya lantas menyegerakan membersihkan diri untuk bersiap tidur.

“Kakak belum mengantuk jam segini?” tanya Lucas sembari memposisikan dirinya di samping Sean.

“Aku sampe udah sempet tidur sebentar tapi anaknya masih melek pas aku bangun,” terang Renjun pada Lucas.

“Kakak sedang memikirkan sesuatu?” tanya Lucas pada Sean.

Delilah dan Elena, adik perempuannya, masih mencuri pikiran Sean. Ada rasa sedih dan sakit hati dalam dirinya. Ikatan darahnya dengan Delilah seakan menunjukkan keberadaannya ketika rasa cemburunya hadir pada Elena. Adik perempuannya yang hanya diceritakan melalui lisan, tak dia ketahui bagaimana rupanya, itu saja sudah berdampak baginya.

“Mama bisa selalu bersama adik perempuan, tetapi kenapa dengan Kakak tidak bisa?” Pertanyaan wajar itu keluar dari mulut Sean. Akan tetapi Sean salah melontarkan pertanyaan itu pada Lucas dan Renjun, karena keduanya tidak mengetahui jawabannya.

“Kenapa Mama tinggalkan Kakak dengan Bunda di panti? Kakak bukan anak yang baik?” tambahnya bertanya.

Lucas dan Renjun masih dalam diam. Keduanya masih memikirkan dan merangkai kata dalam pikirannya untuk menjelaskan pada Sean dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak semakin menyakiti hatinya. Pertanyaan itu sudah singgah lama dalam pikiran Sean, hanya saja anak itu baru bisa menyuarakannya hari ini.

“Tidak, Kakak anak yang baik. Walaupun Kakak tidak selalu bersama Mama, tetapi Mama selalu sayang dengan Kakak. Kakak bisa lihat sekarang Mama sering menemui Kakak.” Entah pernyataannya itu fakta atau bukan, yang Lucas mau hanya menenangkan Sean lepas dari gundahnya. “Apa Kakak ingin selalu bersama Mama seperti adik perempuan?” tambah Lucas bertanya dengan hati-hati.

“Tidak tahu, Kakak hanya bertanya tadi,” balasnya.

“Iya, sekarang Kakak tidur, ya? Atau masih ingin bertanya lagi?” Sean memberikan gelengan kepalanya.

Renjun berikan sapuan halus pada puncak kepala Sean dengan harap bisa mengantar anak itu pada lelapnya. Sepasang suami itu perhatikan putra mereka hingga dalam lelapnya sebelum akhirnya mereka ikut sang putra dalam lelap.

Sebetulnya, Rafel tidak pernah ikut mengantar barang seperti hari ini. Akan tetapi karena sang penerima adalah Levian, orang yang mencuri perhatiannya akhir-akhir ini, dirinya menjadi ikut andil dalam pengantaran barang.

Satu hal yang Rafel sesali saat ini adalah kelupaannya untuk menggunakan sunblock sebelum pergi. Matahari diluar terik sekali. Dia tidak berpikir bahwa sinar matahari pagi akan semenyengat ini.

Oalah iki mau melu ngeterno soale onok anake Ko Artha tah?” tebak salah satu pekerjanya yang cukup akrab dengannya. (Oalah ini tadi mau ikut ngantar karena ada anaknya Ko Artha kan?)

Kerjao sana loh, Gus. Aku mau liat kerjamu sama yang laine iku bener opo ogak. Bantuen iku arek-arekmu turunno semen,” balas Rafel mengelak. (Kerja sana loh, Gus. Aku mau lihat kerjamu sama yang lain itu bener atau enggak. Bantu itu anak-anakmu turunin semen)

Daripada berlama-lama menanggapi Agus, pekerjanya, Rafel memilih segera menghampiri Levian. Dirinya menjabat beberapa rekan dan klien Levian juga. Sejujurnya, saat menjabat tangan Levian, Rafel rasanya ingin meninggalkan tangannya dalam genggamannya. Telapak kecilnya itu tenggelam dalam jabatan Levian.

Sek ta, aku kayak gak asing sama mukamu,” celetuk klien Levian menunjuk Rafel.

“Dia anaknya Ko Pram, yang punya bangun graha,” terang Levian.

“Prambudi Wiyono?” Rafel mengangguk. “Loh Pram iku biyen plek banget sama aku, setel temen wes. Kamu lanjutin usahane Papamu ta?” tambahnya. (Loh Pram itu dulu deket banget sama aku, gandeng banget deh. Kamu lanjutin usahanya Papamu ya?)

“Oalah. Iya, lanjutin usahanya Papi,” balas Rafel.

Good luck wes buat kamu, bakal ngalahin punyae Papimu wes. Tak tinggal angkat telepon dulu ya,” balasnya sebelum menepi dari mereka.

Rafel berikan nota kepada Levian selepas klien yang ternyata teman dekat Papinya dahulu itu menepi. Dirinya sungguh tak ingin menyia-nyiakan hari ini, maka itu dia terus pandangi Levian yang tengah membaca nota. Tanpa dirinya sadari, tindakannya itu diketahui oleh asisten Levian.

“Sini loh, Fel. Panas di situ,” panggil Levian memintanya berpindah ke sebelahnya yang tak terkena terik matahari.

“Oh, iya, Ko,” balasnya gelagapan. “Loh Ko, ini yang mau dibangun sebelah mana seh?” bingung Rafel karena didepannya telah berdiri bangunan bernomor F4.

“Ini taman sebelah kanannya mau dibangun buat studio. Itu mereka lagi gali buat pondasinya,” terang Levian.

Puanjang juga ya ko kebelakange. Gak kurang ta semen segitu nanti?” tanya Rafel.

“Pasti kurang, tapi kan bahannya gak langsung dibeli keseluruhan sesuai butuhnya bangunan sampe jadi, beli sebutuhnya dulu. Kalo butuh lagi kan tinggal kontak kamu, Fel,” balas Levian. “Hen, kamu cek barangnya,” pinta Levian pada Hendra dengan memberikan nota yang diberikan Rafel tadi.

Selepas kepergian Hendra yang menyisakan Rafel dan Levian membuat Rafel terpacu untuk memanfaatkan kesempatan itu. Dirinya bertanya banyak kepada Levian perihal bangunan yang dijelaskan dengan sabar oleh lelaki itu. Rafel tak sadar dirinya bertanya sebanyak itu karena pembicaraan mereka mengalir begitu saja.

“Lengkap semua,” lapor Hendra dengan mengembalikan notanya pada Levian.

“Ini tanda tangan surat jalannya dulu, Ko.” Rafel memberikan kertas kepada Levian.

“Hen, bawa bolpoin gak?” tanya Levian yang tak mengantongi bolpoin sama sekali.

“Ini, aku ada, Ko.” Rafel berikan bolpoinnya untuk dipakai Levian membubuhkan tanda tangan.

Setelahnya, Levian memberikan kembali surat jalan yang diberikan Rafel. “Ini, Ko.” Rafel berikan satu dari dua lembar surat jalan kepada Levian. “Aku duluan ya, Ko. Mau ke B3 dulu,” pamit Rafel.

“Oh iya, thank you ya, Fel,” ucapnya pada Rafel.

“Iya, thank you juga, Ko,” balasnya lalu pergi dengan perasaan senang karena bertemu Levian, walaupun rasanya dia masih ingin berlama-lama dengan Levian.

cw // kissing

Dalam ruangan Lingga terdapat dua insan yang tengah berharap cemas dengan hasil seleksi. Lingga yang terlihat lebih yakin, masih menyimpan sedikit kecemasan karena dia tahu bahwa NCIT masuk dalam perguruan tinggi favorit dan memiliki banyak peminat walaupun dari instansi swasta. Sedangkan Raksa begitu nampak cemasnya, berulang kali mempertanyakan pada Lingga perihal dirinya bisa menembus seleksi NCIT atau tidak.

“Aku gak mau nyoba ujian tulisnya NCIT,” keluh Raksa.

“Kamu pasti diterima, yakin deh,” tutur Lingga yang juga merasa begitu gugup ketika mendekati saat pengumuman.

Keduanya merapal doa pada menit-menit terakhir sebelum hasil seleksi dapat mereka lihat. Setelahnya keduanya mulai masuk ke akun mereka untuk bersiap melihat hasilnya. Jemari Raksa gemetar ketika mengetikkan data untuk masuk ke dalam akunnya dikarenakan gugup.

“Ini ke bagian pengumuman kan?” tanya Lingga dibalas dehaman Raksa.

“Langsung muncul hasilnya?” Raksa memperhatikan layar milik Lingga untuk mencari tahu sebelum membuka miliknya.

Thirty seconds left,” ujar Lingga membaca waktu mundur yang tertera di sana.

“Takut banget deh Mas Lingga.” Raksa cekatan menekan bagian pengumuman lalu menutup layarnya dengan buku milik Lingga yang terdapat di meja. “Pegang deh kayak mau keluar dari badanku.” Raksa meraih tangan Lingga dan meletakkan telapak Lingga di dadanya untuk merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.

Manik keduanya terfokus pada layar milik Lingga, menanti detik itu habis dan menunjukkan hasilnya. Dapat Raksa rasakan Lingga juga tengah dalam gugupnya karena tangan dinginnya menggenggamnya.

“Mas Lingga...” “Aku lihat, Asaa...”

Hasil seleksi Lingga menunjukkan bahwa dirinya diterima. Setelah sukses mencerna apa yang dia lihat, Lingga spontan memeluk Raksa di sebelahnya. Rasa senang dan leganya tak terkira melihat hal itu.

“Selamat, Mas Lingga,” ucap Raksa dalam pelukan Lingga.

Thank you. Kamu juga bakal sama hasilnya, ayo diliat,” balas Lingga. “Mau aku intipin dulu?” tawar Lingga.

Dengan Raksa yang masih menyembunyikan diri dalam pelukannya, Lingga perlahan menyingkirkan buku miliknya yang menutupi layar Raksa. Lingga melempar reaksi terkejut membuat gugup dan takut Raksa berada dalam puncaknya.

“Ayo sekarang kamu liat, nggak serem, Asaa,” bujuk Lingga.

Raksa melepaskan dirinya dari pelukan Lingga dengan kedua telapaknya menutup wajahnya. Lingga mengusak surai Raksa karena gemas dengan tingkah anak itu.

Mulut Raksa menghitung mundur sebelum membuka telapaknya. Maniknya menatap dan membaca saksama hasil yang muncul pada layar. Dirinya mengerjap beberapa kali memastikan apa yang tertera di layar.

“Mas Lingga... Aku di terima?” Raksa menoleh Lingga memastikannya dengan raut yang siap menangis.

“Iya, di terima,” balas Lingga lalu memeluk kekasihnya yang menangis.

Lingga ucapkan banyak selamat pada kekasihnya itu. Raksa semakin menangis karena berada dalam pelukan Lingga. Beban Raksa rasanya terangkat begitu saja selepas melihat hasilnya. Dirinya juga merasakan bahagia yang tak terkira seperti Lingga.

“Asaa, aku punya sesuatu buat kamu.” Keduanya merenggangkan pelukan untuk bertemu pandang. “Kamu tunggu sebentar ya...” ujar Lingga lalu meninggalkan ruangannya sejenak untuk mengambil sesuatu.

Raksa menunggu Lingga dengan menerka-nerka sesuatu apa yang akan diberikan Lingga padanya. Tidak lama dirinya menunggu, suara langkah kaki terdengar dari luar. Raksa lantas memutar kursinya untuk mengetahui sesuatu apa yang dimaksud Lingga.

Dengan langkah pasti, Lingga masuk ke ruangannya dengan kue di tangannya. Dia alunkan lagu ulang tahun untuk Raksa membuat yang dikejutkan tercengang. Jujur saja, Raksa sama sekali tak ingat bahwa hari ini merupakan ulang tahunnya karena pikirannya dicuri untuk hasil seleksi yang akan datang tadi.

Happy birthday, Asaa... Ayo make a wish dan tiup lilin,” tutur Lingga.

Raksa menyatukan telapaknya dan merapal keinginannya dalam hati. Dirinya tiup lilin yang menyala dengan harap keinginannya akan terkabul suatu saat nanti.

“Aku beneran gak inget loh kalo hari ini,” ungkap Raksa pada Lingga. “Makasih banyak ya Mas Lingga...” Dirinya berikan pelukan lagi untuk Lingga.

“Asaa mau hadiah apa dari aku?” tanya Lingga sembari menaruh kue di meja.

“Terserah kamu yang kasih dong,” balas Raksa. “Kamu doain aku aja pun gapapa. Aku keterima di NCIT udah cukup jadi kado ulang tahunku,” lanjutnya.

“Kadonya liburan mau nggak? Destinasinya kamu yang tentuin. Kita perlu refresh pikiran habis pusing sama banyak ujian,” tawar Lingga.

“Oke, liburan. Di kota atau boleh ke luar?” tanyanya.

“Ke luar negeri pun boleh kalo kamu mau,” balas Lingga.

“Nanti aku pikirin,” sahutnya.

“Asaa... Aku masih punya satu wish card terakhir, kamu inget?” Tahun sudah berlalu, namun Lingga masih mengingatnya. “Boleh aku pake sekarang?” tanyanya.

“Ya boleh, kenapa izin segala sih,” balas Raksa dengan tawa.

“Karena hari ini kamu udah cukup umur, Asaaku udah 19 tahun, can i get a kiss from you?” tutur Lingga berhati-hati.

Permintaan Lingga itu sama sekali tak diduga Raksa. Ujarannya membuat dirinya bersemu merah tanpa disadari. Mendengar permintaan itu membuat perutnya serasa digelitik banyak kupu-kupu.

“Ya...” balasnya canggung dan malu, demi Tuhan.

Degupan jantungnya persis seperti dia menunggu hasil seleksi tadi, namun radanya berbeda. Semakin banyak kupu-kupu menggelitik perutnya ketika Lingga mendekatkan dirinya padanya.

Raksa menutup matanya ketika benda kenyal menyentuh bibir merah mudanya. Tangannya mengalung pada leher Lingga ketika kecupannya berubah menjadi lumatan. Bibirnya yang disesap, jantungnya yang merasa kacau.

Mengikuti instingnya, Raksa membalas ciuman Lingga. Tengkuknya diraih Lingga ketika dirinya memberikan balasannya, memperdalam ciuman mereka.

Ketika tautan mereka terlepas, Raksa mejatuhkan pandangannya karena malu. Lingga berikan kecupan terakhir di bibir basah Raksa sebagai penutup.

Thank you, Asaa... I do love you,” ujar Lingga yang kembali mengundang semu merah di wajah Raksa.

I love you more, Mas Lingga...” balasnya salah tingkah.

Lingga sungguh berterima kasih banyak pada Raksa. Karena kekasihnya itu mengajarinya banyak hal, juga membantu dirinya membuktikan kemampuannya dalam gambar. Gambar dan Raksa memiliki pengaruh banyak untuk hidupnya.

ㅡEND.

Jidan mempergunakan izinnya pergi ke toilet untuk menghampiri Cleo di kantin. Dia tahu bahwa pernyataan Cleo padanya itu dilebih-lebihkan, namun dari penuturan Cleo nampak keterkejutannya dengan hukuman di sekolah ini, karenanya dia memiliki rasa khawatir pada Cleo.

Jidan cukup dikejutkan dengan Cleo yang berbaring di bangku panjang kantin dengan kakinya yang dipijit oleh tukang kebun yang kemungkinan membantunya tadi. Langkah Jidan bergegas menghampiri Cleo untuk melihat keadaannya.

“Cleo, kenapa muka kamu merah banget?” tanya Jidan panik. Cleo sontak bangun dari tidurnya mendengar suara Jidan.

“Ini cuma karena I gak tahan panas, I'm a bit sensitive,” tukasnya. “Why you here, Jidan?” tambahnya.

“Ya nyamperin kamu. Kaki kamu sakit banget sampe dipijitin?” tanya Jidan lagi.

Si sinyo ini tadi teh ya lemes pisan abis lulumpatan keliling lapangan, mukana meni beureum pisan siga cepot. Abis lulumpatan manggil bapak tulung-tulung kitu minta dibawa kadieu ngesot-ngesot siga dugong, teu tega bapak ningalina Aa. Ini teh bapak pijitin sukuna biar enakeun kitu,” sahut tukang kebun.

Ah kitu, nuhun ya bapak. Sok dilanjutkeun we kerjana, biar abi yang urus ini,” balas Jidan.

Cleo diam seribu bahasa karena tak mengerti yang mereka bicarakan, tapi dia mengerti mereka tengah membicarakannya. Dirinya mengerti sebutan sinyo itu merujuk padanya.

Baru saja Jidan mengambil duduk di bangku yang sama dengan Cleo, anak itu lantas memutar tubuhnya dan kembali berbaring menjadikan paha Jidan sebagai sandarannya.

“Lemes banget lari 5 putaran doang,” ledek Jidan.

Actually i can. But one week i skipped exercise, that's why i feel weak,” terang Cleo.

“Rajin olahraga kamu?” Cleo sontak membuka matanya dan menatap Jidan tajam.

You underestimate me? I usually pergi gym and i joined basket club for your information.

“Iya, tapi pipimu masih gembul.” Cleo mengkerutkan dahinya heran.

Not related, Jidan. Emang kenapa kalo pipiku gembul?” protes Cleo.

“Gapapa, suka aja, lucu.” Jidan seketika mengalihkan pandangannya setelah menyadari yang dia ucapkan.

What you said, Jidan?” tanya Cleo memastikan.

“Aku ke kelas dulu, udah kelamaan izinnya. Cepetan balik ke kelas juga kamu,” ujar Jidan menghindari Cleo.

Tiga puluh menit perjalanan hanya Jidan dan Cleo gunakan untuk memperdebatkan kemana mereka pergi. Keputusan akhir mereka jatuh pada mall di mana mereka pertama kali bertemu, tetapi tidak untuk bermain di playground kali ini.

“Cleo, liat game buat PS dulu mau gak?” tawar Jidan yang tengah tergoda pada store tersebut.

You main PS juga? I have recommendation for you, Jidan.

Cleo tiba-tiba semakin bersemangat. Dirinya menarik Jidan dan membawanya masuk dalam store tersebut. Cleo bicara tanpa henti membawa Jidan kesana-kemari menunjukkan banyak game yang telah dia mainkan.

Jidan tak berani memotong dan menghentikan Cleo. Anak itu menjelaskan padanya dengan raut senang dan heboh. Jidan pergunakan rasa tak beraninya itu untuk memandangi rupa bersemangat Cleo yang memancarkan aura bahagia. Dirinya suka dengan sisi Cleo yang seperti ini. Hal itu tanpa sadar memberikan setruman padanya untuk mengulas senyumnya.

You mau yang mana, Jidan? I bought you all of this aja deh,” tanyanya yang dia jawab sendiri.

“Ehh, nggak perlu, Cleo,” tahan Jidan.

Why? Gak ada yang you suka? Ini I yang ajak you ke sini, so I will pay you everything today,” balas Cleo.

“Nggak gitu dong, Cleo. Game kan buat aku sendiri, lagipula di rumahku adanya PS4, ini yang kamu rekomendasiin for PS5,” tolak Jidan. Tentu dirinya merasa tak enak atas penuturan Cleo yang ingin membayarkan apapun hari ini.

“Kenapa you gak bilang dari awal PS4, but some of this ada kok yang for PS4. You gak usah nolak, I will pay you everything today itu gak bisa ditolak,” balas Cleo menentang tolakan Jidan.

Cleo kalau masalah game tidak perlu diragukan. Di rumahnya dirinya memiliki ruangan khusus untuk itu. Dia bisa menghabiskan waktu yang lama di sana jika sudah bersama Paponya dan hanya Piponya yang bisa menghentikan sesi bermain mereka.

“Cleo, dua aja,” pinta Jidan.

“Ini semua bagus, Jidan.”

“Pilih dua atau kamu gak usah bayarin aku apapun hari ini.” Jidan melemparkan penawaran karena Cleo membawa setumpuk game.

Cleo pada akhirnya menaruhnya dan mengambil dua dari itu, “Tiga deh ya, Jidan?” pintanya membujuk Jidan.

“Iya, udah itu aja,” balas Jidan lalu mengembalikan yang lain ketempatnya.


Keduanya melepas letih di salah satu restoran Jepang. Itu adalah pilihan Cleo yang sudah begitu kelaparan, sedangkan Jidan hanya mengikuti saja.

Jidan lagi-lagi harus menghentikan Cleo yang memilih tanpa berpikir matang. Dirinya memilih cukup banyak menu tanpa menyadari porsi makan dirinya dan Jidan.

“Pesan itu secukupnya aja, nyisain makanan itu gak baik,” terang Jidan.

“Semua itu enak loh, Jidan,” balas Cleo yang masih sedikit tak terima.

“Iya, kan lain waktu bisa ke sini lagi, Cleo.” Jidan hanya mendengar dehaman Cleo karena fokus anak itu beralih pada ponselnya.

Manik Cleo berbinar ketika makanan disajikan. Dia sudah cukup menahan laparnya. Jidan spontan menutup mulut Cleo yang menganga menatap makanannya, “Awas nanti lalatnya masuk, Cle,” ujar Jidan dengan senyumnya yang tak tertahan.

Jidan begah rasanya karena Cleo menyuapi dirinya cukup banyak. Dia diminta Cleo mencoba keseluruhannya. Memang benar sudah mengurangi pesanannya, namun yang dipesannya tetap banyak.

“Jidan, sorry ya I gak bisa ajak you ke rumah I,” celetuk Cleo tiba-tiba.

“Kenapa kamu minta maaf segala sih, santai aja Cleo. Itu bukan keharusan juga,” balas Jidan.

“Mau aja, kan temen pasti mau main ke rumah each other. Also, rumah I itu gak seseru rumah you,” tukas Cleo.

“Kamu lagi merendah ya, Cleo? Rumah kamu pasti lebih seru lah dari rumahku,” sahut Jidan.

“Banyak orang bilang juga gitu sih,” balasnya dengan senyum penuh arti.

Tiga puluh menit perjalanan hanya Jidan dan Cleo gunakan untuk memperdebatkan kemana mereka pergi. Keputusan akhir mereka jatuh pada mall di mana mereka pertama kali bertemu, tetapi tidak untuk bermain di playground kali ini.

“Cleo, liat game buat PS dulu mau gak?” tawar Jidan yang tengah tergoda pada store tersebut.

You main PS juga? I have recommendation for you, Jidan.

Cleo tiba-tiba semakin bersemangat. Dirinya menarik Jidan dan membawanya masuk dalam store tersebut. Cleo bicara tanpa henti membawa Jidan kesana-kemari menunjukkan banyak game yang telah dia mainkan.

Jidan tak berani memotong dan menghentikan Cleo. Anak itu menjelaskan padanya dengan raut senang dan heboh. Jidan pergunakan rasa tak beraninya itu untuk memandangi rupa bersemangat Cleo yang memancarkan aura bahagia. Dirinya suka dengan sisi Cleo yang seperti ini. Hal itu tanpa sadar memberikan setruman padanya untuk mengulas senyumnya.

You mau yang mana, Jidan? I bought you all of this aja deh,” tanyanya yang dia jawab sendiri.

“Ehh, nggak perlu, Cleo,” tahan Jidan.

Why? Gak ada yang you suka? Ini I yang ajak you ke sini, so I will pay you everything today,” balas Cleo.

“Nggak gitu dong, Cleo. Game kan buat aku sendiri, lagipula di rumahku adanya PS4, ini yang kamu rekomendasiin for PS5,” tolak Jidan. Tentu dirinya merasa tak enak atas penuturan Cleo yang ingin membayarkan apapun hari ini.

“Kenapa you gak bilang dari awal PS4, but some of this ada kok yang for PS4. You gak usah nolak, I will pay you everything today itu gak bisa ditolak,” balas Cleo menentang tolakan Jidan.

Cleo kalau masalah game tidak perlu diragukan. Di rumahnya dirinya memiliki ruangan khusus untuk itu. Dia bisa menghabiskan waktu yang lama di sana jika sudah bersama Paponya dan hanya Piponya yang bisa menghentikan sesi bermain mereka.

“Cleo, dua aja,” pinta Jidan.

“Ini semua bagus, Jidan.”

“Pilih dua atau kamu gak usah bayarin aku apapun hari ini.” Jidan melemparkan penawaran karena Cleo membawa setumpuk game.

Cleo pada akhirnya menaruhnya dan mengambil dua dari itu, “Tiga deh ya, Jidan?” pintanya membujuk Jidan.

“Iya, udah itu aja,” balas Jidan lalu mengembalikan yang lain ketempatnya.


Keduanya melepas letih di salah satu restoran Jepang. Itu adalah pilihan Cleo yang sudah begitu kelaparan, sedangkan Jidan hanya mengikuti saja.

Jidan lagi-lagi harus menghentikan Cleo yang memilih tanpa berpikir matang. Dirinya memilih cukup banyak menu tanpa menyadari porsi makan dirinya dan Jidan.

“Pesan itu secukupnya aja, nyisain makanan itu gak baik,” terang Jidan.

“Semua itu enak loh, Jidan,” balas Cleo yang masih sedikit tak terima.

“Iya, kan lain waktu bisa ke sini lagi, Cleo.” Jidan hanya mendengar dehaman Cleo karena fokus anak itu beralih pada ponselnya.

Manik Cleo berbinar ketika makanan disajikan. Dia sudah cukup menahan laparnya. Jidan spontan menutup mulut Cleo yang menganga menatap makanannya, “Awas nanti lalatnya masuk, Cle,” ujar Jidan dengan senyumnya yang tak tertahan.

Jidan begah rasanya karena Cleo menyuapi dirinya cukup banyak. Dia diminta Cleo mencoba keseluruhannya. Memang benar sudah mengurangi pesanannya, namun yang dipesannya tetap banyak.

“Jidan, sorry ya I gak bisa ajak you ke rumah I,” celetuk Cleo tiba-tiba.

“Kenapa kamu minta maaf segala sih, santai aja Cleo. Itu bukan keharusan juga,” balas Jidan.

“Mau aja, kan temen pasti mau main ke rumah each other.”

“Iya, tapi kalau enggak juga gapapa, Cleo. Kamu gak usah pikir panjang itu,” tukas Jidan.