Menjadi Akhir
Pada saat mengunjungi proyeknya tadi, Ligar tak sengaja melihat segerombolan anak motor melewati jalanan di samping proyeknya. Maniknya menatap gerombolan itu dari lantai dua dengan mulutnnya menuturkan heran pada mereka. Matanya membulat seketika saat menangkap anak berseragam dengan ransel yang tak asing baginya. Dirinya seketika berlari turun dari lantai dua mengejar gerombolan tersebut.
Gerombolan itu berhenti di sebuah rumah yang tak lain adalah markas mereka. Debaran jantung Ligar sudah tak karuan panik karena anak yang dilihatnya adalah putranya, Arsen. Paniknya semakin menjadi saat mengetahui bahwa ini bukan markas geng motor Raga dan itu berarti Raga tak bersama putranya.
Amarahnya meluap ketika berhadapan dengan mereka. Sebaik mungkin Ligar menahan dirinya tak melemparkan pukulan pada mereka karena ada Arsen di sana. Dirinya lantas membawa Arsen pergi keluar dari sana sebelum dirinya semakin tidak bisa dikontrol. Ligar tak peduli dengan reaksi mereka akan kedatangannya dengan amarah yang meledak.
Amarah Ligar mendidih kembali, namun kali ini bukan dengan gerombolan itu melainkan Raga. Lelaki itu datang menghadapnya dengan beberapa lebam yang nampak di wajahnya. Ligar dapat menebak darimana lebam yang lelaki itu dapatkan, persetan dengan itu, dia memerlukan penjelasan Raga tentang putranya yang bersama gerombolan geng motor.
“Kalau kamu gak bisa jemput anak saya itu bilang, bukan malah jemput anak saya dengan geng motor seperti itu. Anak saya jangan kamu samakan dengan orang seusia kamu, Raga! Dia anak-anak,” luapnya yang tak merubah ekspresi datar Raga.
“Beruntung saja saya tahu tepat waktu. Kalau saya gak tahu saat itu juga, entah apa yang akan terjadi sama anak saya, gak mau saya bayangkan itu,” lanjutnya.
Ligar perhatikan lamat-lamat lelaki dihadapannya. Raga terus diam alih-alih menyahut pernyataannya.
“Gimana bisa anak saya dijemput oleh mereka bahkan dibawa ke markasnya? Tolong dijawab, saya perlu tahu,” tanya Ligar.
“Gue telat jemput anak lo,” terangnya singkat.
“Dijawab dengan lengkap. Saya gak punya urusan bahkan gak kenal dengan mereka, tapi saya yakin kamu kenal dengan mereka, benar?” sahut Ligar yang geram dengan balasan Raga yang sekedarnya.
“Mereka lawan gue. Temen gue sempet post foto anak lo, mereka tau itu dan anggap itu beneran. Sorry anak lo jadi umpan buat gue dateng ke markas mereka,” terangnya lebih panjang.
Raga hanya mengalihkan pandangnya ketika mata Ligar menatapnya tajam. Bukan tak berani membalas, tetapi tidak pantas karena Ligar bukan lawannya.
“Mulai besok, kamu gak perlu lagi antar-jemput anak saya. Kita selesai,” tukas Ligar dengan nada tegasnya.
“Gak, gue bilangnya sebulan,” protes Raga tak terima karema janjinya dikacaukan.
“Kamu pikir saya masih tega setelah dua kali melihat anak saya gak aman? Kamu dan saya sama-sama bersalah pada Arsen, semua ini perlu disudahi, Raga. Saya gak mau lebih banyak hal yang terjadi pada Arsen akibat saya dan kamu,” jelasnya.
Ligar merasa bersalah dan penuh sesal setelah kejadian hari ini. Dia salah melempar candaan pada Raga untuk mengantar-jemput putranya yang berujung disetujui lelaki itu. Dia juga salah percaya bahwa Raga sudah dewasa dan mengerti tempat untuk melakukan segala sesuatu. Dirinya yang selalu berusaha menjaga Arsen sebaik mungkin selama ini nyatanya dirinya sendiri justru membuat putra semata wayangnya dalam bahaya.
“Gue gak suka ingkar janji,” ujarnya yakin.
“Saya anggap kamu sudah menepati janji kamu. Mulai besok urusan kita selesai,” sahut Ligar.
Saat Raga beranjak dari duduknya karena berpikir pembicaraan mereka telah selesai, Ligar justru menahan dirinya memintanya duduk kembali di sana. “Kamu gak saya perkenankan pulang sebelum luka kamu saya obati,” tukas Ligar lalu beranjak dari duduknya mengambil aid kit.
Raga pasrah dengan Ligar yang mengobati lukanya karena rugi mendebat pria itu saat ini. Dirinya secara tidak sadar tersenyum saat menyadari betapa miripnya bentuk wajah Ligar dan Arsen. Hazelnya sedari tadi fokus memperhatikan Ligar. Raga seketika mengulum senyumnya saat menyadari apa yang dia lakukan dan langsung mengalihkan fokusnya.