The Last Wish Card
cw // kissing
Dalam ruangan Lingga terdapat dua insan yang tengah berharap cemas dengan hasil seleksi. Lingga yang terlihat lebih yakin, masih menyimpan sedikit kecemasan karena dia tahu bahwa NCIT masuk dalam perguruan tinggi favorit dan memiliki banyak peminat walaupun dari instansi swasta. Sedangkan Raksa begitu nampak cemasnya, berulang kali mempertanyakan pada Lingga perihal dirinya bisa menembus seleksi NCIT atau tidak.
“Aku gak mau nyoba ujian tulisnya NCIT,” keluh Raksa.
“Kamu pasti diterima, yakin deh,” tutur Lingga yang juga merasa begitu gugup ketika mendekati saat pengumuman.
Keduanya merapal doa pada menit-menit terakhir sebelum hasil seleksi dapat mereka lihat. Setelahnya keduanya mulai masuk ke akun mereka untuk bersiap melihat hasilnya. Jemari Raksa gemetar ketika mengetikkan data untuk masuk ke dalam akunnya dikarenakan gugup.
“Ini ke bagian pengumuman kan?” tanya Lingga dibalas dehaman Raksa.
“Langsung muncul hasilnya?” Raksa memperhatikan layar milik Lingga untuk mencari tahu sebelum membuka miliknya.
“Thirty seconds left,” ujar Lingga membaca waktu mundur yang tertera di sana.
“Takut banget deh Mas Lingga.” Raksa cekatan menekan bagian pengumuman lalu menutup layarnya dengan buku milik Lingga yang terdapat di meja. “Pegang deh kayak mau keluar dari badanku.” Raksa meraih tangan Lingga dan meletakkan telapak Lingga di dadanya untuk merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Manik keduanya terfokus pada layar milik Lingga, menanti detik itu habis dan menunjukkan hasilnya. Dapat Raksa rasakan Lingga juga tengah dalam gugupnya karena tangan dinginnya menggenggamnya.
“Mas Lingga...” “Aku lihat, Asaa...”
Hasil seleksi Lingga menunjukkan bahwa dirinya diterima. Setelah sukses mencerna apa yang dia lihat, Lingga spontan memeluk Raksa di sebelahnya. Rasa senang dan leganya tak terkira melihat hal itu.
“Selamat, Mas Lingga,” ucap Raksa dalam pelukan Lingga.
“Thank you. Kamu juga bakal sama hasilnya, ayo diliat,” balas Lingga. “Mau aku intipin dulu?” tawar Lingga.
Dengan Raksa yang masih menyembunyikan diri dalam pelukannya, Lingga perlahan menyingkirkan buku miliknya yang menutupi layar Raksa. Lingga melempar reaksi terkejut membuat gugup dan takut Raksa berada dalam puncaknya.
“Ayo sekarang kamu liat, nggak serem, Asaa,” bujuk Lingga.
Raksa melepaskan dirinya dari pelukan Lingga dengan kedua telapaknya menutup wajahnya. Lingga mengusak surai Raksa karena gemas dengan tingkah anak itu.
Mulut Raksa menghitung mundur sebelum membuka telapaknya. Maniknya menatap dan membaca saksama hasil yang muncul pada layar. Dirinya mengerjap beberapa kali memastikan apa yang tertera di layar.
“Mas Lingga... Aku di terima?” Raksa menoleh Lingga memastikannya dengan raut yang siap menangis.
“Iya, di terima,” balas Lingga lalu memeluk kekasihnya yang menangis.
Lingga ucapkan banyak selamat pada kekasihnya itu. Raksa semakin menangis karena berada dalam pelukan Lingga. Beban Raksa rasanya terangkat begitu saja selepas melihat hasilnya. Dirinya juga merasakan bahagia yang tak terkira seperti Lingga.
“Asaa, aku punya sesuatu buat kamu.” Keduanya merenggangkan pelukan untuk bertemu pandang. “Kamu tunggu sebentar ya...” ujar Lingga lalu meninggalkan ruangannya sejenak untuk mengambil sesuatu.
Raksa menunggu Lingga dengan menerka-nerka sesuatu apa yang akan diberikan Lingga padanya. Tidak lama dirinya menunggu, suara langkah kaki terdengar dari luar. Raksa lantas memutar kursinya untuk mengetahui sesuatu apa yang dimaksud Lingga.
Dengan langkah pasti, Lingga masuk ke ruangannya dengan kue di tangannya. Dia alunkan lagu ulang tahun untuk Raksa membuat yang dikejutkan tercengang. Jujur saja, Raksa sama sekali tak ingat bahwa hari ini merupakan ulang tahunnya karena pikirannya dicuri untuk hasil seleksi yang akan datang tadi.
“Happy birthday, Asaa... Ayo make a wish dan tiup lilin,” tutur Lingga.
Raksa menyatukan telapaknya dan merapal keinginannya dalam hati. Dirinya tiup lilin yang menyala dengan harap keinginannya akan terkabul suatu saat nanti.
“Aku beneran gak inget loh kalo hari ini,” ungkap Raksa pada Lingga. “Makasih banyak ya Mas Lingga...” Dirinya berikan pelukan lagi untuk Lingga.
“Asaa mau hadiah apa dari aku?” tanya Lingga sembari menaruh kue di meja.
“Terserah kamu yang kasih dong,” balas Raksa. “Kamu doain aku aja pun gapapa. Aku keterima di NCIT udah cukup jadi kado ulang tahunku,” lanjutnya.
“Kadonya liburan mau nggak? Destinasinya kamu yang tentuin. Kita perlu refresh pikiran habis pusing sama banyak ujian,” tawar Lingga.
“Oke, liburan. Di kota atau boleh ke luar?” tanyanya.
“Ke luar negeri pun boleh kalo kamu mau,” balas Lingga.
“Nanti aku pikirin,” sahutnya.
“Asaa... Aku masih punya satu wish card terakhir, kamu inget?” Tahun sudah berlalu, namun Lingga masih mengingatnya. “Boleh aku pake sekarang?” tanyanya.
“Ya boleh, kenapa izin segala sih,” balas Raksa dengan tawa.
“Karena hari ini kamu udah cukup umur, Asaaku udah 19 tahun, can i get a kiss from you?” tutur Lingga berhati-hati.
Permintaan Lingga itu sama sekali tak diduga Raksa. Ujarannya membuat dirinya bersemu merah tanpa disadari. Mendengar permintaan itu membuat perutnya serasa digelitik banyak kupu-kupu.
“Ya...” balasnya canggung dan malu, demi Tuhan.
Degupan jantungnya persis seperti dia menunggu hasil seleksi tadi, namun radanya berbeda. Semakin banyak kupu-kupu menggelitik perutnya ketika Lingga mendekatkan dirinya padanya.
Raksa menutup matanya ketika benda kenyal menyentuh bibir merah mudanya. Tangannya mengalung pada leher Lingga ketika kecupannya berubah menjadi lumatan. Bibirnya yang disesap, jantungnya yang merasa kacau.
Mengikuti instingnya, Raksa membalas ciuman Lingga. Tengkuknya diraih Lingga ketika dirinya memberikan balasannya, memperdalam ciuman mereka.
Ketika tautan mereka terlepas, Raksa mejatuhkan pandangannya karena malu. Lingga berikan kecupan terakhir di bibir basah Raksa sebagai penutup.
“Thank you, Asaa... I do love you,” ujar Lingga yang kembali mengundang semu merah di wajah Raksa.
“I love you more, Mas Lingga...” balasnya salah tingkah.
Lingga sungguh berterima kasih banyak pada Raksa. Karena kekasihnya itu mengajarinya banyak hal, juga membantu dirinya membuktikan kemampuannya dalam gambar. Gambar dan Raksa memiliki pengaruh banyak untuk hidupnya.
ㅡEND.