Pengganti ke Rumah Cleo

Tiga puluh menit perjalanan hanya Jidan dan Cleo gunakan untuk memperdebatkan kemana mereka pergi. Keputusan akhir mereka jatuh pada mall di mana mereka pertama kali bertemu, tetapi tidak untuk bermain di playground kali ini.

“Cleo, liat game buat PS dulu mau gak?” tawar Jidan yang tengah tergoda pada store tersebut.

You main PS juga? I have recommendation for you, Jidan.

Cleo tiba-tiba semakin bersemangat. Dirinya menarik Jidan dan membawanya masuk dalam store tersebut. Cleo bicara tanpa henti membawa Jidan kesana-kemari menunjukkan banyak game yang telah dia mainkan.

Jidan tak berani memotong dan menghentikan Cleo. Anak itu menjelaskan padanya dengan raut senang dan heboh. Jidan pergunakan rasa tak beraninya itu untuk memandangi rupa bersemangat Cleo yang memancarkan aura bahagia. Dirinya suka dengan sisi Cleo yang seperti ini. Hal itu tanpa sadar memberikan setruman padanya untuk mengulas senyumnya.

You mau yang mana, Jidan? I bought you all of this aja deh,” tanyanya yang dia jawab sendiri.

“Ehh, nggak perlu, Cleo,” tahan Jidan.

Why? Gak ada yang you suka? Ini I yang ajak you ke sini, so I will pay you everything today,” balas Cleo.

“Nggak gitu dong, Cleo. Game kan buat aku sendiri, lagipula di rumahku adanya PS4, ini yang kamu rekomendasiin for PS5,” tolak Jidan. Tentu dirinya merasa tak enak atas penuturan Cleo yang ingin membayarkan apapun hari ini.

“Kenapa you gak bilang dari awal PS4, but some of this ada kok yang for PS4. You gak usah nolak, I will pay you everything today itu gak bisa ditolak,” balas Cleo menentang tolakan Jidan.

Cleo kalau masalah game tidak perlu diragukan. Di rumahnya dirinya memiliki ruangan khusus untuk itu. Dia bisa menghabiskan waktu yang lama di sana jika sudah bersama Paponya dan hanya Piponya yang bisa menghentikan sesi bermain mereka.

“Cleo, dua aja,” pinta Jidan.

“Ini semua bagus, Jidan.”

“Pilih dua atau kamu gak usah bayarin aku apapun hari ini.” Jidan melemparkan penawaran karena Cleo membawa setumpuk game.

Cleo pada akhirnya menaruhnya dan mengambil dua dari itu, “Tiga deh ya, Jidan?” pintanya membujuk Jidan.

“Iya, udah itu aja,” balas Jidan lalu mengembalikan yang lain ketempatnya.


Keduanya melepas letih di salah satu restoran Jepang. Itu adalah pilihan Cleo yang sudah begitu kelaparan, sedangkan Jidan hanya mengikuti saja.

Jidan lagi-lagi harus menghentikan Cleo yang memilih tanpa berpikir matang. Dirinya memilih cukup banyak menu tanpa menyadari porsi makan dirinya dan Jidan.

“Pesan itu secukupnya aja, nyisain makanan itu gak baik,” terang Jidan.

“Semua itu enak loh, Jidan,” balas Cleo yang masih sedikit tak terima.

“Iya, kan lain waktu bisa ke sini lagi, Cleo.” Jidan hanya mendengar dehaman Cleo karena fokus anak itu beralih pada ponselnya.

Manik Cleo berbinar ketika makanan disajikan. Dia sudah cukup menahan laparnya. Jidan spontan menutup mulut Cleo yang menganga menatap makanannya, “Awas nanti lalatnya masuk, Cle,” ujar Jidan dengan senyumnya yang tak tertahan.

Jidan begah rasanya karena Cleo menyuapi dirinya cukup banyak. Dia diminta Cleo mencoba keseluruhannya. Memang benar sudah mengurangi pesanannya, namun yang dipesannya tetap banyak.

“Jidan, sorry ya I gak bisa ajak you ke rumah I,” celetuk Cleo tiba-tiba.

“Kenapa kamu minta maaf segala sih, santai aja Cleo. Itu bukan keharusan juga,” balas Jidan.

“Mau aja, kan temen pasti mau main ke rumah each other. Also, rumah I itu gak seseru rumah you,” tukas Cleo.

“Kamu lagi merendah ya, Cleo? Rumah kamu pasti lebih seru lah dari rumahku,” sahut Jidan.

“Banyak orang bilang juga gitu sih,” balasnya dengan senyum penuh arti.