lostduskworld

Hari ini begitu menyenangkan bagi Cleo karena dia berhasil menerbangkan layang-layang miliknya sendiri. Cleo bahkan berhasil menyambit layang-layang milik Jidan hari ini, entah Jidan yang sengaja mengalah atau memang Cleo mampu.

Ketika keduanya kembali ke rumah Jidan, mereka disambut dengan es kelapa muda yang disiapkan oleh Papa Jidan. Dahaga mereka seketika hilang setelah meminumnya.

“Jidan, how about I nginep di rumah you tonight?” celetuk Cleo spontan mengejutkan Jidan.

“Yaㅡgapapa, tapi emangnya kamu boleh?” balas Jidan dengan bingung. Tidak masalah baginya Cleo menginap di rumahnya, temannya menginap di rumahnya itu bukan hal baru bagi Jidan dan keluarga.

Wait.

Cleo nampak menulis pesan di ponselnya, dirinya meminta izin kepada orangtuanya untuk menginap di rumah Jidan. Sesuai dugannya, mereka tidak memperbolehkan Cleo menginap.

Tonight, I can't. But next time, they promise me bakal bolehin nginep di rumah you,” tukas Cleo dengan nada kecewanya.

Also, mereka gak bolehin I sering main ke rumah you. Katanya sesekali I ajak you ke rumah I,” tambahnya.

“Ya gapapa kalau kamu mau. Kenapa gitu mukamu?” heran Jidan.

I gak mau bawa you ke rumah I,” balas Cleo.

Jidan hanya terdiam mengangguk. Dia sadar bahwa Cleo bukan kelasnya. Keluarganya berada di kelas menengah, berbeda dengan Cleo yang di atas. Dia mewajarkan Cleo tidak ingin mengajak dirinya ke rumahnya, pasti Cleo ada rasa malu membawa dirinya ke sana, bukan?

“Kamu gak bimbel, Cleo?” tanya Jidan mengubah arah pembicaraan mereka.

“Kan I bilang malem, Jidan,” sahut Cleo. “I bother you ya kelamaan di sini?” tambah Cleo setelah diam sejenak.

“Ehㅡenggak, Cleo. Aku cuma tanya aja, takutnya kamu lupa karena keasikan main kita,” elak Jidan.

You gapapa bilang aja if I bother you.

“Serius enggak, Cleo,” tegas Jidan.

I pulang aja deh sekarang.” Cleo lantas menghubungi supirnya setelah ini. Dirinya juga teringat perkataan orangtuanya bahwa tak enak terlalu lama atau sering di rumah Jidan.

“Cleo, serius loh gapapa. Aku bukan nyuruh kamu pulang dengan tanya itu,” terang Jidan yang jadi merasa bersalah pada Cleo.

I know, Jidan. I cuma mau pulang aja ini, serius. I juga belum prepare buat bimbel nanti. Panggil Papa you, I mau pamit,” balas Cleo.

Hari ini begitu menyenangkan bagi Cleo karena dia berhasil menebangkan layang-layang miliknya sendiri. Cleo bahkan berhasil menyambit layang-layang milik Jidan hari ini, entah Jidan yang sengaja mengalah atau memang Cleo mampu.

Ketika keduanya kembali ke rumah Jidan, mereka disambut dengan es kelapa muda yang disiapkan oleh Papa Jidan. Dahaga mereka seketika hilang setelah meminumnya.

“Jidan, how about I nginep di rumah you tonight?” celetuk Cleo spontan mengejutkan Jidan.

“Yaㅡgapapa, tapi emangnya kamu boleh?” balas Jidan dengan bingung. Tidak masalah baginya Cleo menginap di rumahnya, temannya menginap di rumahnya itu bukan hal baru bagi Jidan dan keluarga.

Wait.

Cleo nampak menulis pesan di ponselnya, dirinya meminta izin kepada orangtuanya untuk menginap di rumah Jidan. Sesuai dugannya, mereka tidak memperbolehkan Cleo menginap.

Tonight, I can't. But next time, they promise me bakal bolehin nginep di rumah you,” tukas Cleo dengan nada kecewanya.

Also, mereka gak bolehin I sering main ke rumah you. Katanya sesekali I ajak you ke rumah I,” tambahnya.

“Ya gapapa kalau kamu mau. Kenapa gitu mukamu?” heran Jidan.

I gak mau bawa you ke rumah I,” balas Cleo.

Jidan hanya terdiam mengangguk. Dia sadar bahwa Cleo bukan kelasnya. Keluarganya berada di kelas menengah, berbeda dengan Cleo yang di atas. Dia mewajarkan Cleo tidak ingin mengajak dirinya ke rumahnya, pasti Cleo ada rasa malu membawa dirinya ke sana, bukan?

“Kamu gak bimbel, Cleo?” tanya Jidan mengubah arah pembicaraan mereka.

“Kan I bilang malem, Jidan,” sahut Cleo. “I bother you ya kelamaan di sini?” tambah Cleo setelah diam sejenak.

“Ehㅡenggak, Cleo. Aku cuma tanya aja, takutnya kamu lupa karena keasikan main kita,” elak Jidan.

You gapapa bilang aja if I bother you.

“Serius enggak, Cleo,” tegas Jidan.

I pulang aja deh sekarang.” Cleo lantas menghubungi supirnya setelah ini. Dirinya juga teringat perkataan orangtuanya bahwa tak enak terlalu lama atau sering di rumah Jidan.

“Cleo, serius loh gapapa. Aku bukan nyuruh kamu pulang dengan tanya itu,” terang Jidan yang jadi merasa bersalah pada Cleo.

I know, Jidan. I cuma mau pulang aja ini, serius. I juga belum prepare buat bimbel nanti. Panggil Papa you, I mau pamit,” balas Cleo.

Hari ini begitu menyenangkan bagi Cleo karena dia berhasil menebarkan layang-layang miliknya sendiri. Cleo bahkan berhasil menyambit layang-layang milik Jidan hari ini, entah Jidan yang sengaja mengalah atau memang Cleo mampu.

Ketika keduanya kembali ke rumah Jidan, mereka disambut dengan es kelapa muda yang disiapkan oleh Papa Jidan. Dahaga mereka seketika hilang setelah meminumnya.

“Jidan, how about I nginep di rumah you tonight?” celetuk Cleo spontan mengejutkan Jidan.

“Yaㅡgapapa, tapi emangnya kamu boleh?” balas Jidan dengan bingung. Tidak masalah baginya Cleo menginap di rumahnya, temannya menginap di rumahnya itu bukan hal baru bagi Jidan dan keluarga.

Wait.

Cleo nampak menulis pesan di ponselnya, dirinya meminta izin kepada orangtuanya untuk menginap di rumah Jidan. Sesuai dugannya, mereka tidak memperbolehkan Cleo menginap.

Tonight, I can't. But next time, they promise me bakal bolehin nginep di rumah you,” tukas Cleo dengan nada kecewanya.

Also, mereka gak bolehin I sering main ke rumah you. Katanya sesekali I ajak you ke rumah I,” tambahnya.

“Ya gapapa kalau kamu mau. Kenapa gitu mukamu?” heran Jidan.

I gak mau bawa you ke rumah I,” balas Cleo.

Jidan hanya terdiam mengangguk. Dia sadar bahwa Cleo bukan kelasnya. Keluarganya berada di kelas menengah, berbeda dengan Cleo yang di atas. Dia mewajarkan Cleo tidak ingin mengajak dirinya ke rumahnya, pasti Cleo ada rasa malu membawa dirinya ke sana, bukan?

“Kamu gak bimbel, Cleo?” tanya Jidan mengubah arah pembicaraan mereka.

“Kan I bilang malem, Jidan,” sahut Cleo. “I bother you ya kelamaan di sini?” tambah Cleo setelah diam sejenak.

“Ehㅡenggak, Cleo. Aku cuma tanya aja, takutnya kamu lupa karena keasikan main kita,” elak Jidan.

You gapapa bilang aja if I bother you.

“Serius enggak, Cleo,” tegas Jidan.

I pulang aja deh sekarang.” Cleo lantas menghubungi supirnya setelah ini. Dirinya juga teringat perkataan orangtuanya bahwa tak enak terlalu lama atau sering di rumah Jidan.

“Cleo, serius loh gapapa. Aku bukan nyuruh kamu pulang dengan tanya itu,” terang Jidan yang jadi merasa bersalah pada Cleo.

I know, Jidan. I cuma mau pulang aja ini, serius. I juga belum prepare buat bimbel nanti. Panggil Papa you, I mau pamit,” balas Cleo.

Sepulang sekolah, Cleo bersama supirnya mengitari perumahan mencari rumah Jidan. Bodohnya, Cleo tidak membaca dengan benar pesan Jidan, sehingga membuat dirinya salah memasuki perumahan. Beruntung saja dia tidak mengetuk pintu rumah orang yang memiliki nomor yang sama dengan nomor rumah Jidan di sana.

Kesalahannya itu tidak sepenuhnya dia sesali karena dia jadi sempat membeli sesuatu untuk menjenguk Jidan. Jika saja tidak salah alamat, dia akan datang menjenguk dengan tangan kosong.

Sesampainya di rumah Jidan, orang tua Jidan juga Jidan sendiri terkejut dengan Cleo yang membawa satu karton buah untuk Jidan. Cleo tadi membeli apa saja buah yang disarankan supirnya tanpa memilih diantaranya. Dia tidak mengerti Jidan bisa memakan semua buah atau tidak, sehingga Cleo memilih untuk membeli semua macamnya.

“Aku cuma demam aja, Cleo. Kamu kayak mau jualan buah ke sini,” celetuk Jidan melihat isi karton Cleo.

“Habisnya I don't know you sukanya buah apa,” balas Cleo.

“Kan bisa satu jenis satu biji aja, Cleo.”

“Udah lah, hitung-hitung ini buat you makan everyday. Om should know kalau Jidan at school itu sukanya jajan yang aneh-aneh padahal sudah i reccomended dia buat makan salad saus kacang,” adu Cleo pada orang tua Jidan.

“Salad saus kacang itu pecel.” Kedua orang tua Jidan tertawa setelah mendengar penjelasan Jidan.

“Memangnya apa aja yang dibeli Jidan di kantin?” tanya Papa Jidan.

It's like a meatball but chewy, kerupuk yang tidak matang, telur yang digoreng with much oil itu apa Jidan?” tutur Cleo yang jelas membingungkan orang tua Jidan.

“Itu telur gulung namanya,” jelas Jidan.

“Ya semacam itu and masih banyak yang lain-lain, i don't know the name.”

Jidan menjelaskan pada orangtuanya nama-nama dari istilah yang disebutkan Cleo. Jidan adalah jagonya bahasa Cleo. Jika sekolah memiliki mata pelajaran bahasa Cleo, dia akan mendapat nilai tertinggi.

God, dia your Adek yang waktu itu?” tanya Cleo melihat anak laki-laki yang muncul dari dalam. “Oh my God, dia setinggi I, you kelas berapa sih?” heran Cleo.

“Namanya Lando, dia baru masuk SMP tahun ini,” jelas Ayah Jidan. “Adek, kenalan dulu sama temennya Abang,” pinta Ayah.

“Halo, Lando! Nama I Cleo,” sapa Cleo. “Honestly, I itu bisa taller than you, Lando. Papo I itu tinggi, but unfortunately tinggi I itu ngikut Pipo I,” tutur Cleo yang mencurhkan kisahnya.

Lando hanya mengangguk-angguk saja karena bingung dengan penuturan Cleo. Dia mengerti bahasa Inggris dasar, namun mendadak lupa ingatan mendengar bahasa Inggris yang diucapkan dengan bercampur bahasa Indonesia.

“Ayah, Adek mau main layangan di lapangan, ya? Adek ditunggu Dio itu,” izin Lando.

“Sebelum gelap udah pulang ya.” Lando segera pergi setelah mendapat izin.

Disisi itu, Cleo sedang bertanya pada Jidan tentang bermain layang-layang itu seperti apa. Jidan sendiri tidak mengerti dengan ekspresi Cleo yang nampak kagum dengan cerita Jidan perihal adu layang-layang. Asiknya mereka berbincang sampai tak sadar orang tua Jidan sudah meninggalkan ruang tamu, menyisakan keduanya.

Next time kalau you udah sembuh kita main itu ya, Jidan,” pinta Cleo. “Jidan, you kenapa bisa keren banget sih sekarang?” tambah Cleo menyeletuk.

Jidan menatap Cleo bingung dengan sedikit rasa senang karena dipuji keren, “Emangnya dulu enggak?” tanya Jidan.

No, you dulu itu such a crybaby,” balas Cleo. “But it's fine, Jidan. semua orang punya perubahannya masing-masing,” tambahnya.

“Tapi kok kamu enggak sih, Cle? Pipi kamu masih gembul, kamu masih lucu, kamu masih banyak omong, suara kamu yang tinggi masih ngagetin telingaku, kamu cuma nambah lebih gede aja badannya, semuanya masih sama.” Jidan lepas begitu saja menuturkan perihal Cleo.

You lagi ngejek I?” Cleo melirik Jidan sinis.

“Enggak, Cleo. Kamu juga tetep jadi anak yang baik dan berani. Kamu masih sama kayak yang aku temui dulu,” terang Jidan.

Wait, I angkat call dari Pipo dulu,” izin Cleo.

Jidan mengamati Cleo yang tengah berbincang dengan Piponya itu. Dia tak begitu fokus dengan pembicaraan mereka, fokusnya berada pada Cleo yang tengah kesal dan muka kesalnya justru dianggap Jidan lucu. Jidan bahkan tak menyadari senyumnya tersungging semenjak tadi.

Oh my God, Jidan. I should go right now. Tutor I ngadu ke Pipo kalo I belom sampe di bimbel sekarang,” tutur Cleo dengan panik mengemasi tasnya.

Sorry ya, Jidan. I gak bisa jenguk you lama-lama. Take a rest well biar cepet sembuh and I ada temennya lagi at school,” tambah Cleo.

“Iya, gapapa. Lagian mau jenguk lama-lama juga ngapain, mau sekalian nginep apa kamu?” Jidan berkata dengan iringan tawanya.

Sounds good, I sleepover di rumah you, but next time aja ya, Jidan. Where's your Ayah and Papa? I perlu pamit.” Jidan lantas beranjak memanggil orangtuanya.

Cleo lantas berdiri dari posisinya yang duduk membenarkan sepatunya karena orang tua Jidan sudah muncul. Dirinya menjabat tangan keduanya untuk berpamitan.

“Kapan-kapan main ke sini lagi, ya, Cleo...” tutur Papa Jidan.

“Pasti,” balas Cleo semangat.

“Cleo semangat belajarnya ya,” timpal Ayah Jidan.

“Iya.” Cleo berlalu masuk ke mobilnya setelahnya.

Selepas kepergian Cleo, Jidan menjadi bulan-bulanan orang tuanya yang tadi mendengar pembicaraannya dengan Cleo.

Sepulang sekolah, Cleo bersama supirnya mengitari perumahan mencari rumah Jidan. Bodohnya, Cleo tidak membaca dengan benar pesan Jidan, sehingga membuat dirinya salah memasuki perumahan. Beruntung saja dia tidak mengetuk pintu rumah orang yang memiliki nomor yang sama dengan nomor rumah Jidan di sana.

Kesalahannya itu tidak sepenuhnya dia sesali karena dia jadi sempat membeli sesuatu untuk menjenguk Jidan. Jika saja tidak salah alamat, dia akan datang menjenguk dengan tangan kosong.

Sesampainya di rumah Jidan, orang tua Jidan juga Jidan sendiri terkejut dengan Cleo yang membawa satu karton buah untuk Jidan. Cleo tadi membeli apa saja buah yang disarankan supirnya tanpa memilih diantaranya. Dia tidak mengerti Jidan bisa memakan semua buah atau tidak, sehingga Cleo memilih untuk membeli semua macamnya.

“Aku cuma demam aja, Cleo. Kamu kayak mau jualan buah ke sini,” celetuk Jidan melihat isi karton Cleo.

“Habisnya I don't know you sukanya buah apa,” balas Cleo.

“Kan bisa satu jenis satu biji aja, Cleo.”

“Udah lah, hitung-hitung ini buat you makan everyday. Om should know kalau Jidan at school itu sukanya jajan yang aneh-aneh padahal sudah i reccomended dia buat makan salad saus kacang,” adu Cleo pada orang tua Jidan.

“Salad saus kacang itu pecel.” Kedua orang tua Jidan tertawa setelah mendengar penjelasan Jidan.

“Memangnya apa aja yang dibeli Jidan di kantin?” tanya Papa Jidan.

It's like a meatball but chewy, kerupuk yang tidak matang, telur yang digoreng with much oil itu apa Jidan?” tutur Cleo yang jelas membingungkan orang tua Jidan.

“Itu telur gulung namanya,” jelas Jidan.

“Ya semacam itu and masih banyak yang lain-lain, i don't know the name.”

Jidan menjelaskan pada orangtuanya nama-nama dari istilah yang disebutkan Cleo. Jidan adalah jagonya bahasa Cleo. Jika sekolah memiliki mata pelajaran bahasa Cleo, dia akan mendapat nilai tertinggi.

God, dia your Adek yang waktu itu?” tanya Cleo melihat anak laki-laki yang muncul dari dalam. “Oh my God, dia setinggi I, you kelas berapa sih?” heran Cleo.

“Namanya Lando, dia baru masuk SMP tahun ini,” jelas Ayah Jidan. “Adek, kenalan dulu sama temennya Abang,” pinta Ayah.

“Halo, Lando! Nama I Cleo,” sapa Cleo. “Honestly, I itu bisa taller than you, Lando. Papo I itu tinggi, but unfortunately tinggi I itu ngikut Pipo I,” tutur Cleo yang mencurhkan kisahnya.

Lando hanya mengangguk-angguk saja karena bingung dengan penuturan Cleo. Dia mengerti bahasa Inggris dasar, namun mendadak lupa ingatan mendengar bahasa Inggris yang diucapkan dengan bercampur bahasa Indonesia.

“Ayah, Adek mau main layangan di lapangan, ya? Adek ditunggu Dio itu,” izin Lando.

“Sebelum gelap udah pulang ya.” Lando segera pergi setelah mendapat izin.

Disisi itu, Cleo sedang bertanya pada Jidan tentang bermain layang-layang itu seperti apa. Jidan sendiri tidak mengerti dengan ekspresi Cleo yang nampak kagum dengan cerita Jidan perihal adu layang-layang. Asiknya mereka berbincang sampai tak sadar orang tua Jidan sudah meninggalkan ruang tamu, menyisakan keduanya.

Next time kalau you udah sembuh kita main itu ya, Jidan,” pinta Cleo. “Jidan, you kenapa bisa keren banget sih sekarang?” tambah Cleo menyeletuk.

Jidan menatap Cleo bingung dengan sedikit rasa senang karena dipuji keren, “Emangnya dulu enggak?” tanya Jidan.

No, you dulu itu such a crybaby,” balas Cleo. “But it's fine, Jidan. semua orang punya perubahannya masing-masing,” tambahnya.

“Tapi kok kamu enggak sih, Cle? Pipi kamu masih gembul, kamu masih lucu, kamu masih banyak omong, suara kamu yang tinggi masih ngagetin telingaku, kamu cuma nambah lebih gede aja badannya, semuanya masih sama.” Jidan lepas begitu saja menuturkan perihal Cleo.

You lagi ngejek I?” Cleo melirik Jidan sinis.

“Enggak, Cleo. Kamu juga tetep jadi anak yang baik dan berani. Kamu masih sama kayak yang aku temui dulu,” terang Jidan.

Wait, I angkat call dari Pipo dulu,” izin Cleo.

Jidan mengamati Cleo yang tengah berbincang dengan Piponya itu. Dia tak begitu fokus dengan pembicaraan mereka, fokusnya berada pada Cleo yang tengah kesal dan muka kesalnya justru dianggap Jidan lucu. Jidan bahkan tak menyadari senyumnya tersungging semenjak tadi.

Oh my God, Jidan. I should go right now. Tutor I ngadu ke Pipo kalo I belom sampe di bimbel sekarang,” tutur Cleo dengan panik mengemasi tasnya.

Sorryya, Jidan. I gak bisa jenguk you lama-lama. Take a rest well biar cepet sembuh and I ada temennya lagi at school,” tambah Cleo.

“Iya, gapapa. Lagian mau jenguk lama-lama juga ngapain, mau sekalian nginep apa kamu?” Jidan berkata dengan iringan tawanya.

Sounds good, I sleepover di rumah you, but next time aja ya, Jidan. Where's your Ayah and Papa? I perlu pamit.” Jidan lantas beranjak memanggil orangtuanya.

Cleo lantas berdiri dari posisinya yang duduk membenarkan sepatunya karena orang tua Jidan sudah muncul. Dirinya menjabat tangan keduanya untuk berpamitan.

“Kapan-kapan main ke sini lagi, ya, Cleo...” tutur Papa Jidan.

“Pasti,” balas Cleo semangat.

“Cleo semangat belajarnya ya,” timpal Ayah Jidan.

“Iya.”

Selepas kepergian Cleo, Jidan menjadi bulan-bulanan orang tuanya yang tadi mendengar pembicaraannya dengan Cleo.

Pagi Jidan sudah buruk dengan ban motornya yang bocor. Dengan terpaksa dia harus berangkat ke sekolah bersama sang Ayah. Dalam perjalanan, dia teringat tugas rumahnya belum selesai sehingga dirinya dengan cepat menghubungi temannya meminta bantuan jawaban dan mengerjakannya di dalam mobil.

“Abang tuh ya kalau belajar semalem tuh diselesaikan dulu, bukan baru mengerjakan sebagian ditinggal main game. Dijewer kamu, Bang, kalau sampai Papa tahu itu,” celetuk sang Ayah.

“Ayah gak usah kasih tau Papa lah,” balasnya.

Jidan memasuki halaman sekolahnya dengan penuh harap tidak ada kesialan lagi baginya. Ketika dirinya memasuki kelasnya, teman-temannya sudah ramai. Biasanya juga ramai, tetapi yang diramaikan hari ini adalah satu topik yang sama.

Satu kelasnya membicarakan murid baru yang akan bergabung dengan kelas mereka. Yang mereka dengar, murid baru itu merupakan pindahan dari salah satu sekolah internasional terbaik.

Ketika guru datang bersama murid baru tersebut, seluruh atensi murid dalam kelas Jidan tertuju pada murid baru tersebut. Sedangkan murid baru itu nampak terkejut karena teman satu kelasnya itu cukup banyak.

“Halo! Nama Iㅡnamaku, Cleo. Nice to see you, guys! Hope we can get to know each other,” sapa si murid baru.

Jidan tiba-tiba dèja vu mendengar perkenalan murid baru itu. Cleo, nama yang tidak asing dalam pikirannya. Pandangannya terus mengikuti Cleo yang berjalan menuju bangkunya, dimana kebetulan berada di seberang bangku Jidan.

God, you creepy as fuck,” celetuk Cleo yang menyadari pandangan Jidan. Yang disindir pun lantas membuyarkan lamunannya. “Wait, we were meet at kidzone right?” Cleo yang mengingat sesuatu berusaha memastikan.

“Ah... Kamu Cleo itu, pantesan aku gak asing sama kamu,” ingat Jidan.

Yaaa it's mee, Jidan. I never thought kita ketemu lagi di sini,” balas Cleo bersemangat karena ada seorang yang telah dia kenal di sekolah barunya.

“Jidan, Cleo! Jangan berbincang sendiri,” peringat guru mereka.

I'm talking with Jidan, I gak bicara sendiri,” balas Cleo.

“Cleo...” Jidan memberi sinyal pada Cleo untuk tidak membalas guru mereka.


Jidan menemani Cleo berkeliling sekolah dan makan di kantin. Cleo nampak bingung dengan kantin mereka. Banyak menu yang asing untuknya.

Jidan, what sauce they use for salad?” Jidan nampak bingung karena tidak ada salad di kantin mereka, namun setelah Cleo menujuk yang dia maksud, Jidan baru mengerti.

“Itu pecel, bukan salad. Isinya sayur yang dikukus dikasih saus kacang,” jelas Jidan.

Sounds nice. I think I bisa makan itu buat brunch,” balas Cleo lalu mengajak Jidan untuk membelinya.

Jidan, can I buy this without rice?

“Bisa, bilang aja ke Ibu yang jual,” jelas Jidan.

Cleo beruntung sekali ditemani Jidan. Anak itu membantunya memesankan makanannya karena penjualnya kebingungan dengan bahasanya yang bercampur. Jidan bahkan meminjamkan uangnya untuk Cleo, ini pertama kali bagi Cleo meminjam uang orang lain. Semua itu terjadi karena dirinya yang tidak tahu bahwa kantin di sini tidak bisa membayar menggunakan kartu ataupun e-money, harus dengan cash.

Jidan, send me nomor rekening atau e-money you biar I tf you,” tukas Cleo.

“Enggak perlu kamu ganti. Ini aku yang traktir,” tolak Jidan.

“Ini your welcoming food?” Jidan mengangguk.

Thank you, Jidan. I will traktir you later ya,” balas Cleo.

“Boleh,” balas Jidan dengan tawa. “Kamu kenapa pindah ke sini, Cleo? Sekolah kamu sebelumnya kan bagus banget,” tanya Jidan yang heran.

Cleo spontan tertawa yang membuatnya tersedak. Jidan reflek membantu Cleo membukakan botol minuman Cleo.

“Iseng aja. I want to try school gratis begini. Sekolah ini juga nice banget, ini public school favorit bahkan masuk top 50,” jelas Cleo.

“Iseng aja?” Cleo mengangguk.

Btw, I besok jadi chairmate you bisa gak? Cuma you yang paling I kenal di sini,” pinta Cleo.

“Kamu dateng aja 20 menit sebelum bel, kamu bisa tempati bangku sebelahku,” balas Jidan.

Hell, thats mean literally setengah tujuh. You know, I bangun jam 6 today aja susah banget. Why masuknya pagi banget, sih,” gerutu Cleo.

“Di sekolah lama masuk jam berapa emang?”

Around jam 9.” Jidan terkejut mendengarnya.

Obrolan awal pertemuan mereka setelah bertahun-tahun lamanya penuh keterkejutan satu sama lain. Keduanya berasal dari lingkungan dan kebiasaan yang berbeda, sehingga memunculkan banyak perbedaan.


Cleo masih ditemani Jidan saat menunggu jemputannya. Paponya sudah memberitahu dirinya akan sedikit terlambat menjemput karena harus menjemput Piponya di galeri.

“Jidan, tau gak sih, tadi I kira you bakal nangis kayak dulu waktu dipukul penggaris your chairmate” celetuk Cleo dengan tertawa karena mengingat Jidan saat itu.

“Jangan dibahas dong, itu kan masih kecil. Kita tadi cuma bercanda saling pukul gitu. Kalau dia emang niat mukul diluar dari bercanda bakalnya aku pukul lebih parah karena kata kamu harus berani dan dilawan,” balas Jidan yang malu mengingat hari itu.

Ya, you should do, bukan diam terus nangis,” balas Cleo yang jelas meledeknya.

Cleo terus menggoda Jidan perihal hari itu hingga Papo dan Piponya telah sampaj menjemput dirinya. Cleo senang sekali bersekolah hari ini, dia mendapat banyak pengalaman baru sekaligus kembalinya teman satu harinya saat kecil.

Pagi Jidan sudah buruk dengan ban motornya yang bocor. Dengan terpaksa dia harus berangkat ke sekolah bersama sang Ayah. Dalam perjalanan, dia teringat tugas rumahnya belum selesai sehingga dirinya dengan cepat menghubungi temannya meminta bantuan jawaban dan mengerjakannya di dalam mobil.

“Abang tuh ya kalau belajar semalem tuh diselesaikan dulu, bukan baru mengerjakan sebagian ditinggal main game. Dijewer kamu, Bang, kalau sampai Papa tahu itu,” celetuk sang Ayah.

“Ayah gak usah kasih tau Papa lah,” balasnya.

Jidan memasuki halaman sekolahnya dengan penuh harap tidak ada kesialan lagi baginya. Ketika dirinya memasuki kelasnya, teman-temannya sudah ramai. Biasanya juga ramai, tetapi yang diramaikan hari ini adalah satu topik yang sama.

Satu kelasnya membicarakan murid baru yang akan bergabung dengan kelas mereka. Yang mereka dengar, murid baru itu merupakan pindahan dari salah satu sekolah internasional terbaik.

Ketika guru datang bersama murid baru tersebut, seluruh atensi murid dalam kelas Jidan tertuju pada murid baru tersebut. Sedangkan murid baru itu nampak terkejut karena teman satu kelasnya itu cukup banyak.

“Halo! Nama Iㅡnamaku, Cleo. Nice to see you, guys! Hope we can get to know each other,” sapa si murid baru.

Jidan tiba-tiba dèja vu mendengar perkenalan murid baru itu. Cleo, nama yang tidak asing dalam pikirannya. Pandangannya terus mengikuti Cleo yang berjalan menuju bangkunya, dimana kebetulan berada di seberang bangku Jidan.

God, you creepy as fuck,” celetuk Cleo yang menyadari pandangan Jidan. Yang disindir pun lantas membuyarkan lamunannya. “Wait, we were meet at kidzone right?” Cleo yang mengingat sesuatu berusaha memastikan.

“Ah... Kamu Cleo itu, pantesan aku gak asing sama kamu,” ingat Jidan.

Yaaa it's mee, Jidan. I never thought kita ketemu lagi di sini,” balas Cleo bersemangat karena ada seorang yang telah dia kenal di sekolah barunya.

“Jidan, Cleo! Jangan berbincang sendiri,” peringat guru mereka.

I'm talking with Jidan, I gak bicara sendiri,” balas Cleo.

“Cleo...” Jidan memberi sinyal pada Cleo untuk tidak membalas guru mereka.


Jidan menemani Cleo berkeliling sekolah dan makan di kantin. Cleo nampak bingung dengan kantin mereka. Banyak menu yang asing untuknya.

Jidan, what sauce they use for salad?” Jidan nampak bingung karena tidak ada salad di kantin mereka, namun setelah Cleo menujuk yang dia maksud, Jidan baru mengerti.

“Itu pecel, bukan salad. Isinya sayur yang dikukus dikasih saus kacang,” jelas Jidan.

Sounds nice. I think I bisa makan itu buat brunch,” balas Cleo lalu mengajak Jidan untuk membelinya.

Jidan, can I buy this without rice?

“Bisa, bilang aja ke Ibu yang jual,” jelas Jidan.

Cleo beruntung sekali ditemani Jidan. Anak itu membantunya memesankan makanannya karena penjualnya kebingungan dengan bahasanya yang bercampur. Jidan bahkan meminjamkan uangnya untuk Cleo, ini pertama kali bagi Cleo meminjam uang orang lain. Semua itu terjadi karena dirinya yang tidak tahu bahwa kantin di sini tidak bisa membayar menggunakan kartu ataupun e-money, harus dengan cash.

Jidan, send me nomor rekening atau e-money you biar I tf you,” tukas Cleo.

“Enggak perlu kamu ganti. Ini aku yang traktir,” tolak Jidan.

“Ini your welcoming food?” Jidan mengangguk.

Thank you, Jidan. I will traktir you later ya,” balas Cleo.

“Boleh,” balas Jidan dengan tawa. “Kamu kenapa pindah ke sini, Cleo? Sekolah kamu sebelumnya kan bagus banget,” tanya Jidan yang heran.

Cleo spontan tertawa yang membuatnya tersedak. Jidan reflek membantu Cleo membukakan botol minuman Cleo.

“Iseng aja. I want to try school gratis begini. Sekolah ini juga nice banget, ini public school favorit bahkan masuk top 50,” jelas Cleo.

“Iseng aja?” Cleo mengangguk.

Btw, I besok jadi chairmate you bisa gak? Cuma you yang paling I kenal di sini,” pinta Cleo.

“Kamu dateng aja 20 menit sebelum bel, kamu bisa tempati bangku sebelahku,” balas Jidan.

Hell, thats mean literally setengah tujuh. You know, I bangun jam 6 today aja susah banget. Why masuknya pagi banget, sih,” gerutu Cleo.

“Di sekolah lama masuk jam berapa emang?”

Around jam 9.” Jidan terkejut mendengarnya.

Obrolan awal pertemuan mereka setelah bertahun-tahun lamanya penuh keterkejutan satu sama lain. Keduanya berasal dari lingkungan dan kebiasaan yang berbeda, sehingga memunculkan banyak perbedaan.


Cleo masih ditemani Jidan saat menunggu jemputannya. Paponya sudah memberitahu dirinya akan sedikit terlambat menjemput karena harus menjemput Piponya di galeri.

“Jidan, tau gak sih, tadi Ikira you bakal nangis kayak dulu waktu dipukul penggaris your chairmate” celetuk Cleo dengan tertawa karena mengingat Jidan saat itu.

“Jangan dibahas dong, itu kan masih kecil. Kita tadi cuma bercanda saling pukul gitu. Kalau dia emang niat mukul diluar dari bercanda bakalnya aku pukul lebih parah karena kata kamu harus berani dan dilawan,” balas Jidan yang malu mengingat hari itu.

Ya, you should do, bukan diam terus nangis,” balas Cleo yang jelas meledeknya.

Cleo terus menggoda Jidan perihal hari itu hingga Papo dan Piponya telah sampaj menjemput dirinya. Cleo senang sekali bersekolah hari ini, dia mendapat banyak pengalaman baru sekaligus kembalinya teman satu harinya saat kecil.

Pagi Jidan sudah buruk dengan ban motornya yang bocor. Dengan terpaksa dia harus berangkat ke sekolah bersama sang Ayah. Dalam perjalanan, dia teringat tugas rumahnya belum selesai sehingga dirinya dengan cepat menghubungi temannya meminta bantuan jawaban dan mengerjakannya di dalam mobil.

“Abang tuh ya kalau belajar semalem tuh diselesaikan dulu, bukan baru mengerjakan sebagian ditinggal main game. Dijewer kamu, Bang, kalau sampai Papa tahu itu,” celetuk sang Ayah.

“Ayah gak usah kasih tau Papa lah,” balasnya.

Jidan memasuki halaman sekolahnya dengan penuh harap tidak ada kesialan lagi baginya. Ketika dirinya memasuki kelasnya, teman-temannya sudah ramai. Biasanya juga ramai, tetapi yang diramaikan hari ini adalah satu topik yang sama.

Satu kelasnya membicarakan murid baru yang akan bergabung dengan kelas mereka. Yang mereka dengar, murid baru itu merupakan pindahan dari salah satu sekolah internasional terbaik.

Ketika guru datang bersama murid baru tersebut, seluruh atensi murid dalam kelas Jidan tertuju pada murid baru tersebut. Sedangkan murid baru itu nampak terkejut karena teman satu kelasnya itu cukup banyak.

“Halo! Nama Iㅡnamaku, Cleo. Nice to see you, guys! Hope we can get know each other,” sapa si murid baru.

Jidan tiba-tiba dèja vu mendengar perkenalan murid baru itu. Cleo, nama yang tidak asing dalam pikirannya. Pandangannya terus mengikuti Cleo yang berjalan menuju bangkunya, dimana kebetulan berada di seberang bangku Jidan.

God, you creepy as fuck,” celetuk Cleo yang menyadari pandangan Jidan. Yang disindir pun lantas membuyarkan lamunannya. “Wait, we were meet at kidzone right?” Cleo yang mengingat sesuatu berusaha memastikan.

“Ah... Kamu Cleo itu, pantesan aku gak asing sama kamu,” ingat Jidan.

Yaaa it's mee, Jidan. I never thought kita ketemu lagi di sini,” balas Cleo bersemangat karena ada seorang yang telah dia kenal di sekolah barunya.

“Jidan, Cleo! Jangan berbincang sendiri,” peringat guru mereka.

I'm talking with Jidan, I gak bicara sendiri,” balas Cleo.

“Cleo...” Jidan memberi sinyal pada Cleo untuk tidak membalas guru mereka.


Jidan menemani Cleo berkeliling sekolah dan makan di kantin. Cleo nampak bingung dengan kantin mereka. Banyak menu yang asing untuknya.

Jidan, what sauce they use for salad?” Jidan nampak bingung karena tidak ada salad di kantin mereka, namun setelah Cleo menujuk yang dia maksud, Jidan baru mengerti.

“Itu pecel, bukan salad. Isinya sayur yang dikukus dikasih saus kacang,” jelas Jidan.

Sounds nice. I think I bisa makan itu buat brunch,” balas Cleo lalu mengajak Jidan untuk membelinya.

Jidan, can I buy this without rice?

“Bisa, bilang aja ke Ibu yang jual,” jelas Jidan.

Cleo beruntung sekali ditemani Jidan. Anak itu membantunya memesankan makanannya karena penjualnya kebingungan dengan bahasanya yang bercampur. Jidan bahkan meminjamkan uangnya untuk Cleo, ini pertama kali bagi Cleo meminjam uang orang lain. Semua itu terjadi karena dirinya yang tidak tahu bahwa kantin di sini tidak bisa membayar menggunakan kartu ataupun e-money, harus dengan cash.

Jidan, send me nomor rekening atau e-money you biar I tf you,” tukas Cleo.

“Enggak perlu kamu ganti. Ini aku yang traktir,” tolak Jidan.

“Ini your welcoming food?” Jidan mengangguk.

Thank you, Jidan. I will traktir you later ya,” balas Cleo.

“Boleh,” balas Jidan dengan tawa. “Kamu kenapa pindah ke sini, Cleo? Sekolah kamu sebelumnya kan bagus banget,” tanya Jidan yang heran.

Cleo spontan tertawa yang membuatnya tersedak. Jidan reflek membantu Cleo membukakan botol minuman Cleo.

“Iseng aja. I want to try school gratis begini. Sekolah ini juga nice banget, ini public school favorit bahkan masuk top 50,” jelas Cleo.

“Iseng aja?” Cleo mengangguk.

Btw, I besok jadi chairmate you bisa gak? Cuma you yang paling I kenal di sini,” pinta Cleo.

“Kamu dateng aja 20 menit sebelum bel, kamu bisa tempati bangku sebelahku,” balas Jidan.

Hell, thats mean literally setengah tujuh. You know, I bangun jam 6 today aja susah banget. Why masuknya pagi banget, sih,” gerutu Cleo.

“Di sekolah lama masuk jam berapa emang?”

Around jam 9.” Jidan terkejut mendengarnya.

Obrolan awal pertemuan mereka setelah bertahun-tahun lamanya penuh keterkejutan satu sama lain. Keduanya berasal dari lingkungan dan kebiasaan yang berbeda, sehingga memunculkan banyak perbedaan.


Cleo masih ditemani Jidan saat menunggu jemputannya. Paponya sudah memberitahu dirinya akan sedikit terlambat menjemput karena harus menjemput Piponya di galeri.

“Jidan, tau gak sih, tadi Ikira you bakal nangis kayak dulu waktu dipukul penggaris your chairmate” celetuk Cleo dengan tertawa karena mengingat Jidan saat itu.

“Jangan dibahas dong, itu kan masih kecil. Kita tadi cuma bercanda saling pukul gitu. Kalau dia emang niat mukul diluar dari bercanda bakalnya aku pukul lebih parah karena kata kamu harus berani dan dilawan,” balas Jidan yang malu mengingat hari itu.

Ya, you should do, bukan diam terus nangis,” balas Cleo yang jelas meledeknya.

Cleo terus menggoda Jidan perihal hari itu hingga Papo dan Piponya telah sampaj menjemput dirinya. Cleo senang sekali bersekolah hari ini, dia mendapat banyak pengalaman baru sekaligus kembalinya teman satu harinya saat kecil.

Akhir pekan adalah hari yang sangat dinanti oleh anak-anak, salah satunya Jidan. Setiap akhir pekan, orangtuanya akan mengajaknya jalan-jalan. Hari ini mereka mengajak Jidan untuk bermain di salah satu indoor playground yang cukup terkenal. Jidan terhitung jarang mendatangi tempat itu, karenanya dia cukup bersemangat ketika diajak pergi ke sana.

“Papa, aku bisa bermain semuanya?” tanya Jidan.

“Tentu, Abang bisa.” Jidan tersenyum girang mendengarnya. “Ayah, temani Abang ya... Papa sama Adek di sini,” tambah sang Papa berpesan pada suaminya.

Jidan mengeksplorasi segala yang ada dalam playground. Ayahnya selalu siap menjawab segala pertanyaan perihal keingintahuan Jidan. Putra sulungnya itu selalu ingin tahu tentang segala hal. Daripada memainkan permainan, Jidan cenderung banyak bertanya pada ayahnya.

“Abang, Ayah berikan mainan karet Adek sebentar, boleh? Abang bermain di sini dulu,” izinnya setelah mendapatkan panggilan suara dari suaminya karena mainan karet bungsunya berada dalam tas yang dia bawa.

“Boleh, Ayah. Abang main perosotan ya, Ayah,” ujarnya dan berlalu menuju perosotan yang dia inginkan.

Jidan begitu bersemangat hingga berlarian menuju perosotan. Dia harus sejenak menunggu karena ada anak lain yang tengah menggunakannya. Jidan lantas segera menaiki tangga ketika anak itu telah selesai.

“Minggir.” Seorang anak mendorong dirinya yang tengah menaiki tangga dan membuatnya terjatuh pada bola-bola.

Hey! You should say sorry to him! You push him!” Seorang anak dengan pipi bulat yang memiliki kulit seputih susu itu menarik anak yang tadi mendorong Jidan untuk meminta maaf pada Jidan yang masih terduduk di tempat dia tersungkur. “Say sorry!” Suara melengkingnya itu menyentak telinga Jidan.

Sorry, anak cengeng,” ujar anak itu dan berlalu pergi.

Hey!” teriak anak berpipi bulat itu tak terima anak itu meminta maaf seperti itu.

“Aku gak apa-apa. Terima kasih, ya,” ujar Jidan dengan bulir air matanya yang turun.

Jidan lantas berdiri dan berlari kembali pada orangtuanya setelah mengucapkan hal itu pada anak berpipi bulat. Dia menangis kencang dalam pelukan Ayahnya. Jidan mengadu pada sang ayah tentang yang terjadi padanya baru saja.

Hey, you should not cry. You should, berani, lawan dia. You want ice cream?” Anak berpipi bulat itu kembali menghampiri Jidan dengan membawakannya eskrim.

Jidan melepaskan dirinya dari pelukan sang ayah dan menoleh pada anak berpipi bulat itu. Maniknya menatap eskrim di tangan anak itu, itu terlihat menggiurkan baginya.

Take it,” ujarnya memberikan salah satu eskrimnya pada Jidan.

“Terima kasih.” Jidan meraih eskrim itu.

“Namaku Cleo,” ujarnya memperkenalkan diri.

“Terima kasih, Cleo. Namaku Jidan,” balas Jidan memperkenalkan diri.

Keduanya berbincang banyak, lebih tepatnya Cleo memprotes Jidan yang tidak melawan anak itu ketika didorong. Jidan lebih banyak mendengarkan dengan sesekali menutup telinganya karena suara Cleo yang meninggi.

“Cleo, Papo dan Pipo cari-cari daritadi,” panggil seseorang yang merupakan orang tua Cleo. “You have new friend ya?

He is Jidan and this cutie is his Adek,” jelas Cleo pada orangtuanya.

“Hello, Jidan,” sapa kedua orang tua Cleo pada Jidan, juga keduanya menundukkan kepala menyapa orang tua Jidan.

But sorry, kita harus ke rumah Grandpa sekarang. Let's say goodbye to Jidan,” ujar Papo Cleo.

Jidan, we should meet again next time. You main ke sini lagi aja, I sering datang ke sini,” pamitnya pada Jidan. “Kalau you diganggu lagi, marahin aja anaknya and said you temennya Cleo,” nasihatnya pada Jidan.

“Apa mereka gak akan ganggu aku lagi?”

I don't know. Tapi kalau mereka masih ganggu, you bisa titip pesan ke orang di sana buat I. Nanti I bakal minta Papo tidak bolehkan anak itu di sini,” balasnya.

“Memang bisa seperti itu?” bingung Jidan.

“Bisa, satu mall ini punya Papo I,” ujarnya percaya diri.

Hey, be kind,” peringat Paponya.

C'mon Cleo. You can't stop talking.” Piponya meraih tangan Cleo untuk bangkit dari duduknya. Jika tidak segera dihentikan, Cleo akan terus mengobrol.

Okay, see you, Jidan!” Cleo beranjak pergi setelah berpamitan bersama kedua orangtuanya.

Sejujurnya Jidan senang sekali bertemu Cleo walaupun harus berteman dengan suara melengkingnya. Dia suka dengan Cleo, anak itu menyenangkan dan pemberani, menarik anak yang mendorongnya jatuh saja bisa sedangkan dirinya takut. Dirinya ingin suatu saat akan bertemu Cleo kembali dengan dirinya yang lebih pemberani.

“Ga, matiin dulu rokok lo,” ujar Raksa.

Lingga menoleh ke arah Raksa yang duduk dengan kepala mendongak dan terlihat darah keluar dari hidung Raksa. Dia seketika mematikan rokoknya dan reflek menegakkan tubuh Raksa dengan sedikit mencondongkannya ke depan.

Calm, jangan didongakin. Napas lewat mulut dulu,” ujar Lingga sembari jemarinya menekan cuping hidung Raksa dan sebelah telapak tangannya menengadah agar darah yang turun tidak jatuh ke pakaian Raksa.

Ketika darah sudah berhenti keluar, Lingga mengambil tisu di ruang jurnalistik untuk membersihkan darah yang tersisa di hidung Raksa juga telapaknya.

Thank you, cuci tangan lo habis ini,” ujar Raksa.

“Lo gak tahan asap rokok ya?” tebak Lingga membuat Raksa terdiam. Lingga menebak hal itu dari mengingat Raksa yang beberapa kali dia ketahui mimisan. “Iya apa enggak?” tanya Lingga yang menuntut jawaban.

“Iya.”

“Kenapa gak bilang? Lo bukan satu dua kali kayak gini. Nyakitin diri sendiri tau jatohnya,” omel Lingga.

“Gue? Lo juga nyakitin diri lo sendiri keseringan ngerokok. Kenapa sering banget sih, Ga?” balas Raksa yang suses menelak Lingga.

“Gak tau, it calms me down maybe,” jawab Lingga yang tak menatap Raksa.

“Jangan kebanyakan,” tukas Raksa. “Lo gak berangkat prakerin?” tanya Raksa.

“Masih setengah tujuh. Lo pagi banget minta anternya, temen-temen lo juga belom pada keliatan,” jawab Lingga.

“Lo aja gak liat, tuh mereka pada di gazebo. Gak mau ke sini karena ada lo,” tukas Raksa sambil menunjuk gazebo yang sedikit jauh didepannya.

“Gue gak ngapa-ngapain juga,” sahut Lingga. Raksa hanya mengendikkan bahunya lalu pergi menyusul teman-temannya untuk briefing pagi.

Lingga yang ditinggal Raksa memutuskan bermain game untuk menghilangkan bosannya, dia juga masih malas untuk pergi prakerin. Tiba-tiba saja segerombolan anak lewat didepannya, mencuri fokusnya dari game yang dimainkan. Mereka ada teman satu kelasnya yang kebetulan lewat dan melihatnya melempar sindiran padanya.

“Orang kaya tuh royal, kalo sama temennya,” celetuk Hazel membangunkan tawa satu gerombolannya.

Dari semalam Lingga dibuat bingung oleh teman satu kelasnya, ini adalah kali pertamanya menghadapi anak-anak seperti itu. Hanya karena dia tidak membiayai kaos kelas mereka, semalam mereka membahas Lingga dari ujung ke ujung yang entah benar atau tidak. Melihat pesan mereka membuat Lingga tidak habis pikir.

Setelah mengetahui sindiran mereka tak dibalas sepatah kata pun oleh Lingga, mereka pergi menjauh dari Lingga. Jemari Lingga menggulir ruang obrolan kelasnya mencari nomor rekening milik Ezra yang digunakan untuk mengumpulkan uang kaos mereka. Sejumlah uang dia kirimkan ke rekening Ezra untuk menyudahi rasa ketidakadilan yang mereka pikirkan karena tak dia biayai.

Dalam hal tambahan untuk sekolahnya, Lingga hampir tidak pernah meminta uang tambahan dari papinya. Uang yang dikirimkan papinya setiap bulan itu sudah lebih dari cukup.

“Asa, gue balik dulu ya mau prakerin,” pamit Lingga menghampiri Raksa.

“Hati-hati, makasih tadi dianterin,” balas Raksa.

“Siap,” tukasnya mengusak surai Raksa lalu berlalu pergi melupakan banyak pasang mata yang melihat aksinya tersebut.

Raksa dipenuhi suitan dan ejekan dari teman-temannya setelah kepergian Lingga. Bagi Raksa, Lingga benar-benar gila melakukan hal seperti itu dihadapan banyak orang.

“Diem lo semua,” tukas Raksa menghentikan suitan teman-temannya.