How They Meet Again
Pagi Jidan sudah buruk dengan ban motornya yang bocor. Dengan terpaksa dia harus berangkat ke sekolah bersama sang Ayah. Dalam perjalanan, dia teringat tugas rumahnya belum selesai sehingga dirinya dengan cepat menghubungi temannya meminta bantuan jawaban dan mengerjakannya di dalam mobil.
“Abang tuh ya kalau belajar semalem tuh diselesaikan dulu, bukan baru mengerjakan sebagian ditinggal main game. Dijewer kamu, Bang, kalau sampai Papa tahu itu,” celetuk sang Ayah.
“Ayah gak usah kasih tau Papa lah,” balasnya.
Jidan memasuki halaman sekolahnya dengan penuh harap tidak ada kesialan lagi baginya. Ketika dirinya memasuki kelasnya, teman-temannya sudah ramai. Biasanya juga ramai, tetapi yang diramaikan hari ini adalah satu topik yang sama.
Satu kelasnya membicarakan murid baru yang akan bergabung dengan kelas mereka. Yang mereka dengar, murid baru itu merupakan pindahan dari salah satu sekolah internasional terbaik.
Ketika guru datang bersama murid baru tersebut, seluruh atensi murid dalam kelas Jidan tertuju pada murid baru tersebut. Sedangkan murid baru itu nampak terkejut karena teman satu kelasnya itu cukup banyak.
“Halo! Nama Iㅡnamaku, Cleo. Nice to see you, guys! Hope we can get to know each other,” sapa si murid baru.
Jidan tiba-tiba dèja vu mendengar perkenalan murid baru itu. Cleo, nama yang tidak asing dalam pikirannya. Pandangannya terus mengikuti Cleo yang berjalan menuju bangkunya, dimana kebetulan berada di seberang bangku Jidan.
“God, you creepy as fuck,” celetuk Cleo yang menyadari pandangan Jidan. Yang disindir pun lantas membuyarkan lamunannya. “Wait, we were meet at kidzone right?” Cleo yang mengingat sesuatu berusaha memastikan.
“Ah... Kamu Cleo itu, pantesan aku gak asing sama kamu,” ingat Jidan.
“Yaaa it's mee, Jidan. I never thought kita ketemu lagi di sini,” balas Cleo bersemangat karena ada seorang yang telah dia kenal di sekolah barunya.
“Jidan, Cleo! Jangan berbincang sendiri,” peringat guru mereka.
“I'm talking with Jidan, I gak bicara sendiri,” balas Cleo.
“Cleo...” Jidan memberi sinyal pada Cleo untuk tidak membalas guru mereka.
Jidan menemani Cleo berkeliling sekolah dan makan di kantin. Cleo nampak bingung dengan kantin mereka. Banyak menu yang asing untuknya.
“Jidan, what sauce they use for salad?” Jidan nampak bingung karena tidak ada salad di kantin mereka, namun setelah Cleo menujuk yang dia maksud, Jidan baru mengerti.
“Itu pecel, bukan salad. Isinya sayur yang dikukus dikasih saus kacang,” jelas Jidan.
“Sounds nice. I think I bisa makan itu buat brunch,” balas Cleo lalu mengajak Jidan untuk membelinya.
“Jidan, can I buy this without rice?“
“Bisa, bilang aja ke Ibu yang jual,” jelas Jidan.
Cleo beruntung sekali ditemani Jidan. Anak itu membantunya memesankan makanannya karena penjualnya kebingungan dengan bahasanya yang bercampur. Jidan bahkan meminjamkan uangnya untuk Cleo, ini pertama kali bagi Cleo meminjam uang orang lain. Semua itu terjadi karena dirinya yang tidak tahu bahwa kantin di sini tidak bisa membayar menggunakan kartu ataupun e-money, harus dengan cash.
“Jidan, send me nomor rekening atau e-money you biar I tf you,” tukas Cleo.
“Enggak perlu kamu ganti. Ini aku yang traktir,” tolak Jidan.
“Ini your welcoming food?” Jidan mengangguk.
“Thank you, Jidan. I will traktir you later ya,” balas Cleo.
“Boleh,” balas Jidan dengan tawa. “Kamu kenapa pindah ke sini, Cleo? Sekolah kamu sebelumnya kan bagus banget,” tanya Jidan yang heran.
Cleo spontan tertawa yang membuatnya tersedak. Jidan reflek membantu Cleo membukakan botol minuman Cleo.
“Iseng aja. I want to try school gratis begini. Sekolah ini juga nice banget, ini public school favorit bahkan masuk top 50,” jelas Cleo.
“Iseng aja?” Cleo mengangguk.
“Btw, I besok jadi chairmate you bisa gak? Cuma you yang paling I kenal di sini,” pinta Cleo.
“Kamu dateng aja 20 menit sebelum bel, kamu bisa tempati bangku sebelahku,” balas Jidan.
“Hell, thats mean literally setengah tujuh. You know, I bangun jam 6 today aja susah banget. Why masuknya pagi banget, sih,” gerutu Cleo.
“Di sekolah lama masuk jam berapa emang?”
“Around jam 9.” Jidan terkejut mendengarnya.
Obrolan awal pertemuan mereka setelah bertahun-tahun lamanya penuh keterkejutan satu sama lain. Keduanya berasal dari lingkungan dan kebiasaan yang berbeda, sehingga memunculkan banyak perbedaan.
Cleo masih ditemani Jidan saat menunggu jemputannya. Paponya sudah memberitahu dirinya akan sedikit terlambat menjemput karena harus menjemput Piponya di galeri.
“Jidan, tau gak sih, tadi I kira you bakal nangis kayak dulu waktu dipukul penggaris your chairmate” celetuk Cleo dengan tertawa karena mengingat Jidan saat itu.
“Jangan dibahas dong, itu kan masih kecil. Kita tadi cuma bercanda saling pukul gitu. Kalau dia emang niat mukul diluar dari bercanda bakalnya aku pukul lebih parah karena kata kamu harus berani dan dilawan,” balas Jidan yang malu mengingat hari itu.
“Ya, you should do, bukan diam terus nangis,” balas Cleo yang jelas meledeknya.
Cleo terus menggoda Jidan perihal hari itu hingga Papo dan Piponya telah sampaj menjemput dirinya. Cleo senang sekali bersekolah hari ini, dia mendapat banyak pengalaman baru sekaligus kembalinya teman satu harinya saat kecil.