Di Sekolah
“Ga, matiin dulu rokok lo,” ujar Raksa.
Lingga menoleh ke arah Raksa yang duduk dengan kepala mendongak dan terlihat darah keluar dari hidung Raksa. Dia seketika mematikan rokoknya dan reflek menegakkan tubuh Raksa dengan sedikit mencondongkannya ke depan.
“Calm, jangan didongakin. Napas lewat mulut dulu,” ujar Lingga sembari jemarinya menekan cuping hidung Raksa dan sebelah telapak tangannya menengadah agar darah yang turun tidak jatuh ke pakaian Raksa.
Ketika darah sudah berhenti keluar, Lingga mengambil tisu di ruang jurnalistik untuk membersihkan darah yang tersisa di hidung Raksa juga telapaknya.
“Thank you, cuci tangan lo habis ini,” ujar Raksa.
“Lo gak tahan asap rokok ya?” tebak Lingga membuat Raksa terdiam. Lingga menebak hal itu dari mengingat Raksa yang beberapa kali dia ketahui mimisan. “Iya apa enggak?” tanya Lingga yang menuntut jawaban.
“Iya.”
“Kenapa gak bilang? Lo bukan satu dua kali kayak gini. Nyakitin diri sendiri tau jatohnya,” omel Lingga.
“Gue? Lo juga nyakitin diri lo sendiri keseringan ngerokok. Kenapa sering banget sih, Ga?” balas Raksa yang suses menelak Lingga.
“Gak tau, it calms me down maybe,” jawab Lingga yang tak menatap Raksa.
“Jangan kebanyakan,” tukas Raksa. “Lo gak berangkat prakerin?” tanya Raksa.
“Masih setengah tujuh. Lo pagi banget minta anternya, temen-temen lo juga belom pada keliatan,” jawab Lingga.
“Lo aja gak liat, tuh mereka pada di gazebo. Gak mau ke sini karena ada lo,” tukas Raksa sambil menunjuk gazebo yang sedikit jauh didepannya.
“Gue gak ngapa-ngapain juga,” sahut Lingga. Raksa hanya mengendikkan bahunya lalu pergi menyusul teman-temannya untuk briefing pagi.
Lingga yang ditinggal Raksa memutuskan bermain game untuk menghilangkan bosannya, dia juga masih malas untuk pergi prakerin. Tiba-tiba saja segerombolan anak lewat didepannya, mencuri fokusnya dari game yang dimainkan. Mereka ada teman satu kelasnya yang kebetulan lewat dan melihatnya melempar sindiran padanya.
“Orang kaya tuh royal, kalo sama temennya,” celetuk Hazel membangunkan tawa satu gerombolannya.
Dari semalam Lingga dibuat bingung oleh teman satu kelasnya, ini adalah kali pertamanya menghadapi anak-anak seperti itu. Hanya karena dia tidak membiayai kaos kelas mereka, semalam mereka membahas Lingga dari ujung ke ujung yang entah benar atau tidak. Melihat pesan mereka membuat Lingga tidak habis pikir.
Setelah mengetahui sindiran mereka tak dibalas sepatah kata pun oleh Lingga, mereka pergi menjauh dari Lingga. Jemari Lingga menggulir ruang obrolan kelasnya mencari nomor rekening milik Ezra yang digunakan untuk mengumpulkan uang kaos mereka. Sejumlah uang dia kirimkan ke rekening Ezra untuk menyudahi rasa ketidakadilan yang mereka pikirkan karena tak dia biayai.
Dalam hal tambahan untuk sekolahnya, Lingga hampir tidak pernah meminta uang tambahan dari papinya. Uang yang dikirimkan papinya setiap bulan itu sudah lebih dari cukup.
“Asa, gue balik dulu ya mau prakerin,” pamit Lingga menghampiri Raksa.
“Hati-hati, makasih tadi dianterin,” balas Raksa.
“Siap,” tukasnya mengusak surai Raksa lalu berlalu pergi melupakan banyak pasang mata yang melihat aksinya tersebut.
Raksa dipenuhi suitan dan ejekan dari teman-temannya setelah kepergian Lingga. Bagi Raksa, Lingga benar-benar gila melakukan hal seperti itu dihadapan banyak orang.
“Diem lo semua,” tukas Raksa menghentikan suitan teman-temannya.