lostduskworld

Liburan mereka di pantai berjalan dengan nyaman, orang-orang memahami pesan yang kemarin Lucas sampaikan. Mereka juga tak lagi meminta Sean merundukkan kepalanya ketika ada kamera mengarah padanya. Orang-orang yang mengambil gambar mereka tentu masih ada, tetapi tidak berlaku mengacau seperti di danau sebelumnya.

Ketika mereka bertanya pada Sean apakah boleh mereka mempublikasi fotonya pada media sosial mereka dan membuat publik tahu bagaimana dirinya, mereka mendapat jawaban yang lucu dari anak itu. Anak itu berkata bahwa jika dia dikenal banyak orang, itu akan memudahkan spiderman mengetahui dirinya.

Mereka benar-benar puas berlibur di pantai, terlebih Sean yang terkabulkan bermain jet ski. Lucas dan Renjun merasa weekend kali ini adalah pertama kalinya mereka nikmati tanpa memikirkan pekerjaan.

“Pipo, itu sakit?” tanya Sean pada Renjun yang kakinya baru terbentur ketika turun dari perahu.

“Tidak apa-apa, Kak,” balas Renjun.

“Kenapa, yang?” tanya Lucas yang turun paling akhir.

“Kebentur aja, gapapa,” jawab Renjun.

Mereka mengambil barang-barang mereka dan berganti pakaian sejenak lalu kembali ke mobil untuk pergi mencari makan. Tangan Renjun tidak lepas berpegangan pada Lucas untuk menyeimbangkan jalannya. Benturan pada kakinya tadi cukup keras dan nyerinya cukup terasa.

“Yang, naik aja sini. Kasian nanti makin nyeri kakimu.” Lucas meminta Renjun naik ke punggungnya untuk dia gendong.

“Gini aja masa sampe digendong, gak usah. Udah deket ke mobil juga,” tolak Renjun.

“Beneran?” Renjun mengangguk yakin.

Ketika sampai di mobil mereka, Lucas membantu Renjun untuk masuk ke dalam mobil. “Kakak di depan bersama Papo, ya. Pipo biar bisa meluruskan kakinya di belakang,” tukas Lucas pada Sean.

“Pipo tidak apa-apa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa, papomu saja yang berlebihan,” balas Renjun.

Mereka berlanjut pergi mencari lesehan untuk makan. Mencari hal itu bukan hal yang sulit bagi Lucas yang menyukai wisata kuliner.

Duduk makan bersama dengan menikmati sore memiliki kepuasan tersendiri bagi mereka. Ditambah alunan musik klasik yang terputar membuat suasana semakin nyaman dan tenang.

“Kak, Pipo sudah bantu Kakak memilih sekolah baru loh,” celetuk Lucas.

“Benar Pipo? Di mana? Kakak bingung memilih, semuanya bagus,” tanya Sean pada Renjun.

“Di sekolah Papo dulu, Horizon Education. Di situ bagus sekali club sepak bolanya, Kakak suka sepak bola, bukan?” balas Renjun.

“Suka. Kakak bisa ikut club sepak bola?” tanyanya.

“Tentu. Kakak tahu pesepak bola terkenal Sungchan?” Sean mengangguk. “Dia lulus dari sana dan setiap satu atau dua kali dalam satu bulan, dia akan hadir bermain sepak bola bersama anggota club,” tambah Renjun.

“Kakak sering menontonnya bertanding, dia keren sekali. Kakak akan bertemu dia jika bersekolah di sana.” Renjun dan Lucas tersenyum hangat melihat antusias Sean. “Kakak kapan bersekolah di sana?” tanyanya.

“Papo dan Pipo harus mengurusnya dahulu supaya Kakak bisa pindah. Akan diusahakan minggu depan Kakak sudah berada di sekolah itu,” terang Lucas.

“Lama sekali, Papo,” ujar Sean dengan nada kecewa.

“Bersabar dulu, Kak. Ada aturan yang harus diikuti, jadi tidak bisa langsung begitu saja. Oh iya, Kak, ini rahasia kita yah kalau Kakak berpindah sekolah,” tukas Renjun.

Sean tampak heran kenapa itu menjadi sebuah rahasia. Renjun mengatakan hal itu bukan semata-mata karena jika Sean membocorkan maka media akan tahu, bukan itu yang ditakutkan, namun ketakutan jika ibu kandung Sean mengetahuinya.

“Betul, ini rahasia kita. Kakak simpan dengan baik seperti kita merahasiakan liburan ini untuk Pipo,” tambah Lucas.

“Tentu, akan Kakak simpan dengan baik. Kalau teman Kakak tahu sekolah baru Kakak sangat bagus, mereka akan merasa iri, jadi akan Kakak simpan sebagai rahasia,” jawab Sean.

Good job!” Lucas melakukan high-five dengan Sean.


Sesampainya di vila, mereka semua terburu-buru membereskan barang mereka. Selain mereka harus segera check-out, mereka juga mengejar waktu untuk kembali ke kota karena besok mereka harus bekerja dan Sean sekolah. Akan tetapi dengan kepanikan itu, Renjun tidak bisa membantu banyak. Walaupun nyerinya sudah mulai berkurang karena diberi salep, Lucas tidak membiarkan dia melakukan banyak hal, Sean pun juga sama melarangnya.

Setelah satu jam akhirnya mereka keluar dari vila dan berpulang ke kota. Baru 15 menit perjalanan, Sean sudah tertidur. Renjun di belakang hanya tiduran dengan menonton film sambil sesekali mengajak Lucas berbicara.

Sepanjang perjalanan, Renjun bertanya-tanya ke mana dia akan dibawa pergi. Dua lelaki yang bersamanya begitu bersemangat dalam perjalanan.

“Kalian berdua seperti menculik Pipo, ayo kasih tahu kita akan ke mana?” protes Renjun yang tak kunjung diberitahu.

“Ini kejutan untuk Pipo, kita pergi berlibur di tempat yang indah sekali,” balas Sean.

“Beri Pipo petunjuk, Pipo akan menebaknya,” pinta Renjun.

“Tempatnya indah sekali, hijau, kita bisa bermain air. Itu saja, tidak boleh terlalu banyak,” ujar Sean memberikan petunjuk.

“Kamu lihat aja jalannya, dulu kita pernah ke sini. Kalau kamu inget jalannya sih kamu pasti tau kita mau ke mana,” sahut Lucas.

Renjun berusaha mengingat-ingat jalanan manakah ini. Dia tidak terlalu hapal dengan jalanan, kemana-mana saja dia seringkali menggunakan maps. Walaupun menggunakan maps, Lucas mengakuin Renjun bahwa dia itu pandai membaca maps.

“Kamu lihat palang di situ, kalau lurus kita ke pantai. Tapi kita gak akan ke pantainya, kita ke danau yang gak jauh dari sini,” tambah Lucas.

“Ah iya, waktu itu aku yang nyetir. Kita juga masih trial waktu itu,” balas Renjun mengingat kenangan keduanya

Mereka memakan waktu 30 menit dari persimpangan arah pantai dan danau hingga akhirnya sampai di danau. Walaupun ini termasuk weekend pengunnjungnya tidak membludak seperti yang dibayangkan Lucas saat perjalanan. Lokasinya ramai, namun masih lega. Dari informasi yang Lucas dapatkan, puncak ramainya itu setiap hari minggu, mungkin karena sebagian orang masih dalam aturan 6 hari kerja sehingga baru pada hari minggu mereka berlibur.

“Ini, surprise dari Kakak buat kamu. Dia yang rencanain liburan kita. Jadi, hari ini Kakak jadi pemandu Papo dan Pipo?” tukas Lucas.

“Iya, Kakak sudah membaca di internet, ada banyak hal menarik di sini. Kita akan bersenang-senang, tidak ada bekerja dan tugas sekolah,” terang Sean. “Pipo suka berlibur di sini? Papo sangat pintar memberikan saran tempat berlibur,” tambah Sean.

“Tentu. Terima kasih, Kakak,” balas Renjun lalu mencium kening Sean.

Let's go kita turun,” ujar Lucas mengajak mereka segera turun.

Baru beberapa langkah mereka berjalan, banyak pasang mata menatap mereka dan memanggil Renjun kencang. Ketiganya hanya membalas senyuman saja dan tidak berinteraksi terlalu jauh karena di sini tujuan mereka adalah berlibur. Renjun juga sedikit menurunkan topi yang dikenakan Sean agar tidak mudah mereka mengambil gambar Sean walaupun jelas ada celah.

“Ayo kita naik perahu. Pemandangannya cantik sekali, Pipo pasti sangat suka,” ajak Sean.

Selama menunggu perahu mereka datang, Lucas terus berdiri di belakang Renjun dan Sean menutupi kedua orang itu dari kamera pengunjung dan melindungi dari desakan pengunjung.

“Perahu kita yang mana?” tanya Sean.

“Pak, perahu kita yang mana ya?” tanya Renjun pada petugas.

“Itu lagi jalan ke sini, nomor 148,” balasnya.

“Yang itu, Kak. Nomor 148.” Renjun menunjuk perahu mereka.

Mereka segera menaiki perahu mereka ketika telah sampai di depan mereka. Semuanya juga telah memakai pelampung untuk keamanan. Sean begitu bersemangat menjelaskan kemana saja perahu ini akan berjalan. Ingatannya begitu bagus, dari menonton video saja dia bisa mengingat detailnya.

“Pipo, kenapa tadi banyak sekali yang memanggil Pipo?” tanya Sean yang heran.

“Karena mereka tahu Pipo,” jawab Renjun dan Sean terlihat belum memahami. “Mereka sering menonton Pipo di televisi. Mereka tahu Pipo dari televisi,” jelas Renjun.

“Pipo seorang artis?” Renjun mengangguk. “Tapi Kakak tidak pernah melihat Pipo di televisi. Kenapa mereka semua tahu Pipo?” lanjut Sean yang membuat Lucas dan Renjun, bahkan pengemudi dan guide yang menemani mereka ikut tertawa.

“Gak terkenal kamu, yang,” ledek Lucas sembari tertawa. Renjun sudah melirik Lucas sebal.

“Kakak di televisi menonton acara anak-anak 'kan?” Sean mengangguk. “Nah, Pipo tidak pernah mengisi acara anak-anak. Pipo bermain peran, drama dan film, Kakak tahu?”

“Ah film, Kakak tahu, itu aktor namanya, benar?” Renjun mengangguk semangat. “Kalau begitu Pipo mengenal pemain spiderman? Dia keren sekali,” tambah Sean bertanya.

“Sayang sekali Pipo belum berkenalan. Kakak suka menonton film aksi?” Sean mengangguk. “Pipo pernah bermain film aksi. Pipo juga tidak kalah keren dengan pemain spiderman.

Lucas tidak bisa menahan tawanya mendengarkan pembicaraan Renjun dan Sean.

“Sungguh? Pipo juga bertarung?” Sean memastikan Renjun.

“Mulutnya yang bertarung, Pipo jadi bagian mengomel,” sahut Lucas dengan gelak tawanya.

“Enak aja, aku masih ikut berantem kalo Gege lupa!” protes Renjun.

“Papo sudah menonton film Pipo? Apa itu seru sekali?” tanya Sean pada Lucas.

“Bukan hanya menonton, Papo yang membuat film itu. Papo yang terlalu banyak membuat adegan mengomel untuk Pipo. Tapi Pipo masih ikut bertarung, Kakak tidak akan kecewa menontonnya,” sahut Renjun membela diri.

“Pekerjaan Papo adalah membuat film?” tanya Sean.

“Tepat sekali,” sahut Lucas.

“Papo benar membuat banyak adegan mengomel untuk Pipo. Pipo tahu caranya mengomel,” balas Sean yang mengundang senyum kemenangan Lucas.

Selama perjalanan mereka, Lucas merekamnya dengan kamera yang dia bawa. Dia ingin kenangan itu tidak hanya terekam oleh mata namun juga kamera yang nantinya dapat mereka tonton ulang lagi.

Ketika perahu mereka sudah dekat dengan drop area, mereka melihat kerumunan orang-orang di sana dengan kamera ataupun ponsel yang bersiap mengambil gambar mereka. Lucas membenarkan topi yang dipakai Sean badannya sedikit bergeser untuk menutup anak itu.

“Kakak, nanti sewaktu turun Papo gendong ya. Nanti Kakak naik ke punggung Papo, ok?” pinta Lucas pada Sean.

“Untuk melewati mereka?” tanya Sean.

“Benar, supaya kita tidak terjebak diantara mereka. Setuju ya?”

“Tidak masalah,” jawab Sean.

Ketika mereka turun dari perahu, tangan Renjun sigap menuntun kepala Sean untuk menunduk. “Kakak, topinya jangan sampai lepas,” bisik Renjun pada Sean yang naik ke punggung Lucas.

Sebelah tangan Lucas menyangga Sean dipunggungnya dan sebelah lagi merangkul Renjun. Dia memastikan keduanya dalam dekapannya. Kabar mereka sedang di danau menyebar cepat sehingga saat ini terdapat lonjakan pengunjung di danau. Sekarang ini benar-benar lebih ramai daripada saat dia datang tadi.

Mereka langsung memutuskan kembali ke mobil melihat kekacauan itu. Jika mereka berhenti-berhenti lagi di sana itu pasti tidak akan membuat mereka nyaman menikmati liburan. Dengan bantuan beberapa juru parkir, mereka berhasil keluar dari area danau dengan aman.

“Kakak, maaf ya semuanya jadi kacau,” ujar Renjun pada Sean yang cemberut di belakang.

“Kenapa mereka seperti itu? Kita tidak bisa berlibur jika mereka seperti itu. Mereka yang mengacau, Pipo tidak perlu meminta maaf,” balas Sean dengan nada kesalnya.

“Rencana kita tidak begitu bagus kali ini, Kak. Kita harus merencanakan yang lebih baik untuk minggu depan,” sahut Lucas.

“Ajak Pipo untuk membuat rencana, liburannya kan untuk kita bertiga,” protes Renjun.

“Tapi Kakak sedikit sedih. Kakak tidak jadi bermain jet ski, padahal Papo sudah siap menemani Kakak,” keluh Sean.

“Kita bisa bermain jet ski di pantai besok. Papo akan atur rencana supaya kita bisa liburan dengan nyaman. Kita pergi ke penginapan dulu ya sekarang, kita istirahat,” jawab Lucas.


Baru beberapa menit mereka sampai di penginapan mereka, keributan antara Renjun dan Sean sudah mengisi vila yang mereka tempati. Renjun yang kukuh meminta Sean berada satu kamar dengannya dan Sean kukuh ingin mendapat kamar pribadi.

“Papo, kakak ingin kamar sendiri. Kakak tidak seperti Pipo yang tidur masih memeluk Papo. Kakak berani tidur sendiri,” protes Sean.

“Waktu liburan saja mengalah tidur bersama Papo dan Pipo. Kamarnya sedikit jauh, nanti kalau malam Kakak ada apa-apa Papo dan Pipo tidak bisa cepat tahu,” balas Lucas yang setuju dengan Renjun.

“Usia Kakak itu sepuluh, bukan anak kecil dan tidak penakut.” Sean masih kukuh dengan pendiriannya.

“Yaudah deh kalau maunya Kakak gitu. Ge, nanti kita kunci kamar kita biar Kakak tidak bisa masuk,” balas Renjun.

“Boleh, Kakak tidak akan datang juga ke kamar Papo dan Pipo,” ujar Sean percaya diri.

Meja ruang tengah Raksa sudah penuh dengan jajanan. Melihat meja yang penuh itu, Lingga masih sempat menawarkan makanan apa lagi yang diinginkan Raksa, bahkan lelaki itu menunjukkan kontak di ponselnya yang menyimpan banyak nomor pedagang. Raksa hanya terheran melihat hal itu, biasanya lelaki mengoleksi nomor perempuan, tapi Lingga justru mengoleksi nomor pedagang makanan ataupun minuman.

“Gue biasanya kalo kenyang tuh ngantuk, nanti lo kerjain sendiri ya,” celetuk Raksa yang menyisihkan sebagian makanan untuk menempatkam laptop.

“Lo minum kopi gue aja, gak usah chizu.” Lingga dengan cepat menukar minumannya dengan milik Raksa.

“Gue gak ngopi!” Raksa mengambil minumannya kembali dari Lingga.

Mereka 50% mengerjakan tugas Mbak Ghina dan 50% makan. Entah mereka akan berapa lama menuntaskannya hari ini. Memang tidak berencana menuntaskan sepenuhnya, namun target mereka hari ini adalah lebih dari separuh tugas terselesaikan.

Sudah satu jam mereka bersama dan merencanakan denah saja belum selesai. Masih meributkan satu dan lain hal tentang ruang apa saja yang akan dimuat dan juga penempatannya.

“Ga, kita cuma bikin rumah tipe 45, jangan lo tambah ruang-ruang gak jelas. Ruang inti aja yang harus ada di setiap rumah, baru kalo emang masih ada sisa boleh lah ditambah ruang lain-lain,” protes Raksa pada Lingga.

“Kenapa lo gambar tangga?! Kita cuma bikin satu lantai aja. Mbak Ghina belom ajarin kita sampe ke konstruksi tangga, lo gak usah ngajak gue uji nyali bikin tangga!” Raksa langsung mencoret gambar tangga yang baru digambar di kertas oleh Lingga.

“Bisa nggak sih lo bikin denah yang gak susah-susah amat, ngapain ada void segala?!” Raksa menghela napasnya sejenak. “Kita masih harus mikirin tampaknya habis ini, ini pertama kita desain gak usah yang aneh-aneh dulu deh, basic aja dulu please,” lanjut Raksa.

“Ya bagus dong kita bikin desain yang kayak gini daripada basic, we will get compliment dari Mbak Ghina,” balas Lingga.

Tanpa menjawab, Raksa mengalungkan tangan kirinya ke leher Lingga berlaga mencekamnya. “Dapet compliment sih dapet, stressnya juga dapet. Bisa jadi tugas Mbak Ghina selanjutnya bikin potongan dari rumah ini, pusing gue kalo denahnya aja begini,” tukas Raksa setelahnya.

“Nanti lo yang gambar tampak, denahnya sama gue.” Raksa menarik kertas coretan dari tangan Lingga.

“Kan biar eye catching gitu, Rak,” celetuk Lingga.

“Udah lo diem aja,” tukas Raksa.

Lingga menjadi bosan karena tidak ada pekerjaan. Sedari tadi dia hanya memperhatikan Raksa yang sibuk mengerjakan denah. Lingga tiba-tiba tertarik memainkan rambut Raksa. Tidak ada respon penolakan dari Raksa membuat Lingga terus melanjutkannya dan menguncir sedikit rambut Raksa dengan karet dari jajan yang mereka beli tadi.

“GA!” Teriakan Raksa itu menghentikan aksi Lingga. Raksa menoleh ke arah Lingga melihat anak itu dengan ekspresi terkejutnya dan mengangkat kedua tangannya. “Lo ngerti diem gak sih?!” tanyanya dengan nada keras.

Tangan Lingga justru mengelus-elus kepala Raksa. Mata Raksa menatap tajam tangan Lingga meminta tangan itu turun dari kepalanya.

Hypothalamus lo lagi hiperaktif kayaknya Rak, hormon stres lo lagi kerja rodi ini, kasian. Ini biar lo agak tenang, gak marah-marah mulu,” ujar Lingga dengan tangannya yang masih setia di kepala Raksa.

“Lo diem aja gue tenang,” ketus Raksa.

Raksa sudah kesal dari Lingga memintanya mengerjakan tugas di hari minggu dan melihat pekerjaan mereka yang tak kunjung selesai, diisi penuh perdebatan, itu membuat kesalnya kembali memuncak.

“Tangan lo bisa turun gak?” tanya Raksa ketus.

“Nggak, ini biar lo merasa tenang. Udah lo gambar aja itu, gue cuma gini. Mulut gue diem,” balas Lingga yang mendapat dengusan dari Raksa.

Setelah menjemput Renjun, mereka pergi ke groceries dan kini Renjun tengah memasak makan malam untuk mereka sesuai janjinya. Sean memilih menonton kartun sembari menunggu Renjun selesai memasak. Sedangkan Lucas memilih menonton Renjun yang tengah memasak menanti makanannya siap.

How can you always look pretty?” gumam Lucas bertanya entah pada siapa.

Lucas tiba-tiba mendekat pada Renjun dan mengecup pipi lelakinya itu sekilas. “Mau cicip dong yang,” ujar Lucas setelahnya. Renjun menyuapkan masakannya sedikit pada Lucas.

“Udah pas belom?” tanya Renjun.

“Udah, enak kok,” balas Lucas.

Setelahnya, Renjun meminta Lucas membantunya menata piring di meja makan dan memanggil Sean untuk makan malam.

“Pake candle segala,” celetuk Renjun ketika mengetahui Lucas menata meja makan begitu cantik dengan lilin di sana.

“Biar berasa dinner di resto five star,” balas Lucas yang tengah mematik api untuk lilin.

Renjun mengecup pipi Lucas yang tengah membungkuk karena mematikkan api membalas kecupan yang lelaki itu berikan tadi. “Sweet banget sih ganteng,” ujar Renjun setelahnya dengan kekehannya.

“Yang sebelah juga dong, masa cuma pipi kanan yang dapet,” protes Lucas.

“Kamu kasih satu ya tadi,” balas Renjun.

“Kasih juga dong yang kiri, nanti aku tambah deh,” pinta Lucas.

Walaupun Renjun berdecih, namun lelaki itu tetap memberikan kecupannya pada Lucas. Lucas pun menepati perkataannya dengan mengecupi wajah manis lelakinya.

“Kakak, udahan yuk kartunnya. Kita makan dulu, kak,” ujar Renjun menghampiri Sean yang masih setia di depan televisi. “Yuk makan dulu sebelum dingin, nanti lagi nontonnya,” lanjut Renjun.

“Boleh di sini saja Kakak makan?” balas Sean bertanya.

“Makan seharusnya ya di ruang makan. Makan di sana ya, Kak. Udah ditunggu Papo di sana,” jelas Renjun.

“Kalau tidak bisa, tunggu sebentar. Kartunnya belum selesai,” balas Sean.

“Papo, Kakak gak mau makan di ruang makan,” lapor Renjun pada Lucas.

“Kak, ayo dong makan dulu,” ujar Lucas sembari berjalan menghampiri Sean dan Renjun.

Sean tak bergeming, dia masih tak mau lepas dengan kartunnya. Bukan masalah tidak boleh menonton kartun, namun karena setelah ini merupakan jam tidur Sean, mereka tidak mau Sean tidur dengan keadaan melewatkan makan malam.

“Kak, besok kita ada misi rahasia buat Pipo. Kalau Pipo kesal, besok sulit membujuk Pipo pergi. Kartunnya masih bisa ditonton ulang loh, Kak. Makan malam dulu ya, Kak?” bujuk Lucas berbisik pada Sean.

“Sungguh bisa?” Lucas menganggukkan kepalanya. “Pipo, ayo kita makan,” ujar Sean sembari mematikan televisi.

“Gege bilang apa?” tanya Renjun yang heran pada Lucas.

“Rahasia,” balas Lucas dengan raut tengilnya lalu pergi menyusul Sean.

Renjun sedikit kesal melihat Lucas dan Sean saling melempar tawa tanpa dia tahu apa yang membuat mereka tertawa. Dia berencana mengintrogasi Lucas nanti tentang rahasia itu.

“Pipo.” Sean mengacungkan jempolnya memberitahu Renjun bahwa masakannya enak.

“Telan dulu, baru bicara.” Renjun memperingatkan Sean.

“Ini enak. Terima kasih sudah membuatnya, Pipo,” tukas Sean setelah menelan makanannya.

“Buatan Pipo pasti enak,” balas Renjun percaya diri. “Oh iya, Kak. Papo sudah beritahu Kakak tentang sekolah baru?” tambah Renjun bertanya.

“Sudah, dua-duanya bagus. Kakak bingung memilih,” jawab Sean.

“Kakak suka belajar di rumah atau di sekolah?” Renjun berusaha menawarkan homeschooling kepada Sean.

“Di sekolah. Membosankan di rumah, tidak ada teman,” jawab Sean.

Tangan Renjun digenggam Lucas ketika dia ingin melanjutkan menawarkan Sean untuk homeschooling. Manik Renjun melirik Lucas yang menahannya dengan tajam.

“Papo ada dua pilihan untuk Kakak. Pertama belajar penuh di sekolah, kedua belajar sebagian di rumah dan sekolah. Kakak lebih suka mana?” tanya Lucas.

Sean tampak berpikir tentang penawaran Lucas. Anak itu jelas bingung untuk memutuskan pilihannya.

“Bagaimana belajar sebagian di rumah dan sekolah?” tanya Sean.

“Misalnya 3 hari Kakak belajar di rumah, lalu 2 hari Kakak belajar di sekolah. Jadi tidak sepenuhnya di sekolah, Kak,” jelas Renjun.

“Teman-teman juga ke rumah?” tanya Sean.

“Tidak, hanya Kakak dan guru,” jawab Renjun.

“Tidak seru kalau begitu. Kalau bersama teman Kakak mau, itu pasti seru,” tukas Sean.

“Kakak coba pikir lagi kalㅡ” genggaman Lucas pada tangan Renjun semakin erat. Keduanya beradu pandang sejenak dan Lucas memberikan gelengan kepalanya agar Renjun lepas kendali menyondongkan satu pilihan.

“Kalau Kakak belajar di rumah, Papo dan Pipo bersama Kakak?” tanya Sean lagi.

Renjun benar-benar terdiam setelah mendengarkan pertanyaan Sean baru saja. Dia sebelumnya sempat menghubungi Yangyang untuk meminta pendapat lelaki itu jika dia memasukkan Sean homeschooling. Jawaban Yangyang tidak berbeda dari Lucas, dia tidak setuju atas itu.

Renjun dan Lucas memiliki kesibukan mereka masing-masing. Tidak ada yang merelakan pekerjaan mereka, hanya mengurangi porsi saja sehingga dapat memiliki waktu senggang untuk bersama keluarga setiap harinya. Hal itu menjadi alasan Lucas memilih bahwa Sean tetap berada di sekolah formal, anak itu tidak akan menunggu keduanya pulang dengan bosan. Membawa Sean untuk bekerja terus-terusan juga bukan hal yang baik dari sisi mereka sebagai orangtua maupun Sean sendiri.

Sedangkan Renjun memilih homeschooling karena fleksibel mengingat mereka yang mungkin akan sering bepergian ke luar kota maupun negeri. Dengan homeschooling ketika mereka bepergian jauh, Sean tetap bisa ikut tanpa izin yang ribet.

“Pipo dan Papo harus bekerja di waktu itu, kemungkinan tidak bisa menemani Kakak belajar di rumah,” terang Renjun.

“Kakak memilih pilihan pertama kalau begitu. Belajar sendiri itu tidak asik,” balas Sean.

“Oke, Kakak habiskan makanannya sekarang lalu gosok gigi, cuci tangan dan kaki sebelum tidur,” ujar Renjun pada Sean.


Lucas mencuci semua piring dan peralatan dapur setelah semuanya selesai. Sedangkan Renjun masih tetap di tempat dia makan tadi. Pikiran dan hatinya masih mencoba menerima Sean untuk berada di sekolah formal.

“Yang, mau sampe kapan di situ?” Lucas mematikan lampu lalu menghampiri Renjun.

Tanpa menjawab pertanyaan Lucas, Renjun beranjak dan pergi ke kamar. Renjun pergi membersihkan wajahnya sebelum tidur dan Lucas menunggunya dengan membalas pesan-pesan masuk di ponselnya.

“Ge, kamu beneran gak mau masukin Sean homeschooling?” tanya Renjun.

“Kamu denger sendiri jawaban anaknya gimana tadi. Gapapa ya Sean masuk sekolah formal aja?” Lucas menaruh ponselnya di nakas dan fokus berbincang dengan Renjun.

He will be okay?” tanya Renjun.

Sure,” balas Lucas meyakinkan. “Karena Sean bingung mau pilih sekolah mana, i think he's fine in both, so i let you to pick the school,” tambah Lucas.

I will think about it,” balas Renjun lalu menempatkan dirinya berbaring di sebelah Lucas.

Dalam mobil Lucas dipenuhi keheningan. Keduanya yang berbeda pemdapat itu tak saling membuka suaranya. Renjun menginginkan Sean mendapat yang terbaik, begitun Lucas, namun Lucas tetap mempertimbangkan apa kemauan Sean dan itu berlawanan dari yang Renjun inginkan saat ini.

“Sayang, kita bicara sama Sean ya?” tukas Lucas bertanya ketika mobil mereka sampai di depan sekolah Sean.

“Ge, kita harus kasih yang terbaik buat Sean,” balas Renjun.

“Bener, kita harus kasih yang terbaik. Maka itu kita perlu bicara sama Sean, gimana pun nantinya dia yang jalanin sekolahnya, bukan kita. Buat kita mungkin itu yang terbaik, tapi nggak tau bagi anaknya gimana,” jelas Lucas pada Renjun.

Setelahnya tak ada lagi perbincangan antara keduanya. Renjun enggan membuka suaranya lagi dan memilih menatap luar menunggu Sean.

Sean berlari ketika mendapati mobil Lucas yang telah berada di depan sekolahnya. Ketika membuka pintu depan, dia mendapati Renjun duduk di sana yang membuatnya beralih ke bangku belakang. Sean begitu senang karena pertama kalinya Lucas dan Renjun menjemputnya bersama seperti ini.

Jam pulang sekolah yang depan-belakang dengan jam pulang kerja itu membuat jalanan macet, terlebih jalan utama. Lucas ingin lewat jalan pintas, namun mobilnya yang besar menjadi kendala dan bisa jadi menimbulkan kemacetan baru di jalan pintas.

“Kakak suka sekolah di sana?” tanya Lucas membuka obrolan ditengah kemacetan yang membuat Renjun menatapnya kesal.

“Suka saja,” jawab Sean.

“Kalau Papo menawarkan Kakak sekolah baru, Kakak mau?” tanya Lucas lagi yang lebih menjurus dengan obrolan intinya.

“Tidak lagi di sekolah kakak itu?” Sean menyondongkan badannya ke depan menengok Lucas lebih dekat.

Sean terlihat terdiam sejenak setelah mendapat anggukan Lucas. Sedangkan Renjun sudah buang muka sedari tadi karena Lucas masih kukuh dengan keinginannya tetap berbicara dengan Sean.

“Kakak mau.” Renjun menoleh ke arah Sean seketika. Dia memastikan ucapan itu benar keluar dari mulut Sean. “Kakak tidak mau melihat Mama lagi,” tambah Sean.

Manik Lucas dan Renjun bertemu pandang setelah mendengar ucapan Sean baru saja. Keduanya jelas terkejut mendengar penuturan Sean.

“Kakak tidak mau melihat siapa?” tanya Renjun memastikan.

“Mama,” ujar Sean yang menunduk.

Renjun menepuk pundak Lucas menyadarkan lamunan lelaki itu bahwa kendaraan dibelakangnya telah menyeru dirinya untuk segera maju. Keduanya sama-sama terkejut pasalnya tidak ada informasi bahwa keluarga Sean masih ada dan berkontak dengan Sean.

“Kakak sering bertemu Mama?” tanya Renjun dengan nada ragu.

“Melihat saja. Mama juga hanya melihatku. Dia datang tidak untuk bertemu Kakak,” jawab Sean.

Mobil mereka kembali hening setelahnya hingga akhirnya sampai di panti asuhan. Tangan Sean tiba-tiba mencengkeram lengan Lucas dengan wajah penuh takut.

“Hei, Kak. Kenapa?” Lucas menglus kepala Sean dan bertanya.

“Tidak. Jangan beritahu Bunda aku melihat Mama. Jangan berikan aku pada Mama. Aku tidak mau Mama.” Sean berkata dengan diiringi tangisnya yang turun.

Renjun memundurkan bangkunya untuk mempermudah dirinya meraih Sean. Tangannya dengan halus menepuk-nepuk pundak Sean, menenangkan tangisan anak itu.

“Kak, dengar. Kita ke sini bukan untuk memberitahu Bunda. Kakak tetap bersama Papo dan Pipo. Hari ini ada yang harus kita urus di sini supaya bisa sepenuhnya Kakak bersama Papo dan Pipo, bukan untuk melepaskan Kakak,” jelas Renjun.

“Dihapus dulu air matanya. Nanti kalau lihat Kakak sedih, Bunda pasti bilang tidak boleh buat Kakak bersama Papo dan Pipo. Kakak mau bersama kita, kan?” Kini Lucas yang bersuara.

Sean menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dengan gerakan cepat menghapus air mata di wajahnya. Guratan senyum muncul dari Lucas dan Renjun.

“Kakak mau besama Papo dan Pipo. Kakak tidak menangis,” ujar Sean.

Secara bersamaan, Lucas dan Renjun mencium pipi Sean, membuat anak itu tersenyum geli. Setelahnya mereka turun dari mobil untuk pergi menemui ibu panti.

Ibu panti menyambut kedatangan mereka dengan senang. Ketika Ibu panti meminta Sean pergi bermain dengan yang lain, anak itu justru menggelengkan kepala tidak mau dan memeluk lengan Lucas disampingnya.

“Bu, boleh kita bicara sebentar?” tanya Renjun yang disetujui oleh Ibu panti. Keduanya berbincang menjauh dari Lucas dan Sean.

“Kenapa mereka tidak bicara di sini?” tanya Sean.

“Karena mereka membicarakan rahasia yang tidak boleh kita tau. Kakak bisa memberi tahu Papo rahasia Kakak, kita tidak akan beritahu Pipo nanti,” balas Lucas.

“Jadi hanya akan ada Kakak dan Papo yang tahu?” Lucas mengangguk. “Ini seru sekali,” lanjut Sean.

“Beritahu Papo rahasia Kakak,” pinta Lucas.

“Ini rahasia kita untuk memberi kejutan Pipo,” tukas Sean.

Sean memberitahu rencana rahasianya kepada Lucas. Rencana itu disetujui oleh Lucas dan mereka akan mewujudkannya besok. Pembicaraan mereka langsung terhenti ketika Renjun dan Ibu panti kembali.

Setelah Renjun duduk, Ibu panti mengambil berkas untuk ditanndatangani oleh Lucas dan Renjun. Ibu panti menjelaskan banyak tentang apa saja yang ada dalam berkas tersebut yang tentunya sulit dipahami oleh Sean.

“Sean, baik-baik bersama Papo dan Pipo ya. Lucu sekali panggilannya seperti itu,” tukas Ibu panti kepada Sean.

“Kakak suka bersama Papo dan Pipo. Kakak akan baik-baik,” balas Sean.

Setelahnya mereka berpamitan dengan Ibu panti dan meluncur pergi meninggalkan panti. Mereka pergi mengantar Renjun ke tempatnya syuting.

“Ge, kamu habis ini masih ada kerjaan kan?” Lucas mengangguk. “Kakak gimana?” tanya Renjun.

“Kakak mau ikut Papo tidak?” tanya Lucas.

“Kamu ajak Kakak ke lokasi?” sahut Renjun bertanya.

“Kakak ikut,” balas Sean.

“Iya. Kerjaanku masih nyantai yang, belum filming,” jelas Sean pada Renjun.

“Kakak kalau ikut Papo tidak boleh jauh-jauh dari Papo, mengerti Kak?” pesan Renjun pada Sean yang mendapat seruan paham dari Sean. “Jagain Kakak loh ya, Ge,” lanjut Renjun memperingati Lucas.

“Iya sayangku, pasti dijagain,” balas Lucas.

Tidak berselang lama dari mereka bertukar pesan, Raksa telah sampai di markas menghampiri Lingga yang tengah berkumpul dengan teman-temannya. Setelahnya, keduanya segera meluncur ke rumah Raksa untuk mengejar waktu mengerjakan tugas matematika miliknya.

Ketika sampai di rumah, Raksa tak berharap ditanya oleh orangtuanya. Alasannya jelas karena dia menggunakan nama Lingga hanya sebagai alasan agar bisa keluar di jam malam. Akan tetapi, Raksa tidak seharusnya berharap hal itu dari orangtuanya, mereka selalu ingin tahu tentang Raksa dan sekitarnya.

Pertanyaan pertama yang ditanyakan adalah darimana saja keduanya pergi. Ketika Lingga hendak menjawab, hal itu sudah didahului Raksa. Mendengar jawaban Raksa yang jelas mengarang membuat Lingga mulai paham situasi dan mengikuti alur yang dimainkan Raksa.

“Raksa suka bohong ya ternyata,” celetuk Lingga dengan nada yang dibuat-buat ketika berjalan masuk ke ruangan Raksa. “Ngapain sih lo bohong-bohong segala?” tambah Lingga bertanya.

Sorry banget gue pake nama lo buat alasan. Tapi serius deh, gue gak aneh-aneh. Gue cuma pergi sama temen-temen gue aja,” balas Raksa. “Emang lo gak pernah bohong gitu ke Papi lo?” tambahnya.

“Ngapain coba pake bohong, bahaya lo suka bohong. Awas bikin celaka waktu lo main kalo lo bohong izinnya,” balas Lingga menakuti Raksa.

“Ya lo gak usah doain gue celaka,” dengus Raksa.

“Kalo keluarnya sama temen-temen lo kenapa gak bilang nama mereka? Kayaknya temen lo lebih bener kelakuannya daripada gue. Lo ngerti kan maksud gue? Kenapa lo malah pake nama gue yang kemungkinan bisa bawa lo dalam kesesatan dunia?” Tawa Lingga menguar setelahnya.

“Karena orangtua gue ngijininnya kalo gue keluar sama lo. Kalo sama mereka, paling jam 8 udah di spam telepon gue sama mereka. Tau deh, aneh emang,” tukas Raksa sembari memberikan buku matematika miliknya.

Lingga membuka buku catatan tugas milik Raksa dan melihat sebagian besar nilainya tak sampai angka 8, paling tinggi sepertinya mendapat nilai kkm sekolah mereka, alias 7,6. Membaca jawaban tugas Raksa itu mengundang tawa Lingga, jawabannya terlihat sudah frustasi dan pasrah.

“Soal tuh dikerjain, bukan ditulis lagi, Rak,” tukas Lingga sembari tertawa.

“Dih ketawa lo. Ya lo pikir aja itu yang diketahui persamaan kuadratnya x sama y, pertanyaannya berapa nilai a ditambah b, mana gue tau a sama b nilainya berapa,” balas Raksa dengan nada menyulut. “Tugas gue cuma lima nomer, per nomer cabang tiga, sama ada tuh satu cabangnya empat. Gue mau muntah duluan lihat soalnya doang. Gue percaya lo pasti bisa, Ga. Semangat! Gue dukung lo dengan doa.” Raksa menepuk pundak Lingga.

Raksa yang hendak pergi ke ranjangnya untuk mengistirahatkan dirinya justru ditahan oleh Lingga. Jujur saja, Raksa tidak ingin bermalam dengan matematika terlebih dipusingkan mencari nilai dari sebuah huruf.

“Ga, gue bayar lo nemenin lo basket ya besok. Please gue males banget liat mtk,” tolak Raksa sekaligus mengingatkan Lingga.

“Lo besok ulangan kalo lo lupa,” balas Lingga mengingatkan Raksa.

“Besok gue sebangku sama temen gue yang pinter. Tenang, dia murah contekan,” sahut Raksa.

“Yaudah habis ini gue bilang ke mama atau papa lo kalo lo selama ini bohong ke mereka kalㅡ”

“Kita belajar apa hari ini, Mas Lingga?” Raksa menarik kursi game miliknya dan menempatkan diri di sebelah Lingga.

Raksa menatap Lingga dengan mata berbinar dan senyumannya yang dibuat-buat, namun berbeda dengan Lingga yang terbius sepersekian detik karena itu. Bukan hanya karena tatapan dan senyuman dari Raksa, namun juga panggilan 'Mas Lingga' yang baru saja dilontarkan Raksa untuknya. Papinya memang sering menggunakan panggilan itu, bahkan orang-orang dirumahnya juga memanggilnya dengan sebutan itu, namun entah kenapa jika Raksa yang melontarkannya rasanya menjadi berbeda.

Satu jam lebih Lingga mengajari Raksa dan dia entah berapa kali dibuat tidak fokus oleh Raksa yang begitu dekat dengan dirinya. Beberapa menit lalu Raksa tertidur dengan kepalanya bertumpu pada buku di meja. Lingga mencuri kesempatan mengambil gambar Raksa sebelum dia menjahili anak itu dengan mengagetkannya.

“ANJING!!” Raksa reflek teriak dan menendang kursi yang diduduki Lingga setelah dikagetkan oleh anak itu.

“Lo balik sana deh, Ga. Anjing emang lo ngagetin gue,” kesal Raksa.

Raksa membereskan barang Lingga di meja miliknya dan memberikan kepada sang pemilik lalu meminta anak itu pulang.

“Giliran udah kelar aja lo ngusir gue,” celetuk Lingga ketika Raksa mendorongnya keluar.

“Besok gue temenin lo basket, sekarang lo balik. Gue mau tidur,” sahut Raksa.

“Selamat tidur, Asa,” ujar Lingga sebelum pergi.

Larut malam, Lucas dan Renjun masih belum pergi ke alam mimpi mereka. Sean telah tertidur dari beberapa jam yang lalu sehingga keduanya kini bersantai dengan waktu mereka berdua. Keduanya saling mengobati rasa lelah, memberikan afeksi satu sama lain. Renjun memeluk Lucas yang terlentang disebelahnya, menaruh kepalanya di atas dada lelakinya adalah posisi nyaman Renjun.

Jemari Lucas bermain surai Renjun yang menaruh kepalanya didadanya. Keduanya dalam tenang hampir satu jam, hanya saling menyalurkan afeksi, memberikan rasa tenang dan nyaman satu sama lain.

“Ge, kayaknya kita harus cepet obrolin ke Sean tentang sekolahnya. Sekarang publik udah tau kita adopsi, mereka pasti mau tau siapa anak kita sehingga ada kemungkinan privasi Sean diganggu. Sedia payung sebelum hujan itu perlu ya kan?” tukas Renjun membuka pembicaraan.

Renjun menengok ke arah Lucas karena mendengar tak ada sahutan dari lelaki itu. “Aku kira Gege udah tidur, diem aja,” tukasnya yang mendapat senyuman beserta gelengan kepala Lucas.

“Bukan maksud bilang sekolahnya Sean sekarang gak proper, cuma kalau ada yang lebih proper kenapa gak ditawarkan ke sana aja anaknya. Kita tawarin Sean ke sekolah dengan metode pembelajaran yang lebih bagus sekaligus keamanan siswa dan privasinya yang lebih terjamin,” tambah Renjun.

“Besok kita obrolin sama anaknya, ketunda terus kita mau ngobrolin itu. Tapi balik lagi buat kita netral sewaktu menawarkan. Kita harus jelasin juga kalau publik banyak mau tau tentang dia. Ngontrol orang banyak itu susah, kita bisa jadi gak mampu. Yang kita lakuin ya antisipasi dengan bekalin Sean dengan penjelasan yang cukup dan gimana cara dia atasinnya,” balas Lucas.

“Oh iya, tadi aku dikabarin Ibu kalau berkasnya udah turun dan kita bisa finalisasi. Aku lupa beneran mau bilang tadi sore dikabarin. Besok kamu ada waktu buat ke sana?” tukas Lucas yang baru saja mengingatnya.

“Harus ada waktu sih itu, aku bilang ke Kak Doy besok. Kita perlu ajak Sean kan ya itu?” tanya Renjun.

“Sebaiknya emang dia diajak.”

“Waktu Sean pulang sekolah aja, kita jemput bareng anaknya gimana? Aku obrolin sama Kak Doy buat kosongin jam itu, Gege bisa?” saran Renjun.

“Bisa, aku jemput kamu ya besok.” Renjun menganggukkan kepalanya yang masih berada di atas dada Lucas.

Lucas menyadari Renjun sudah beberapa kali menguap dan dia meminta lelaki itu segera tidur karena besok dia memiliki jadwal radio pagi. Jika Renjun sedang manja seperti ini, dia selalu meminta Lucas untuk menepuk-nepuk pundaknya hingga dia tertidur.


Pagi buta, Lucas terbangun karena suara ketukan pintu ruangannya. Dia kesulitan beranjak karena Renjun masih tidur memeluknya, dia takut lelaki itu terbangun. Ketika dia berusaha melepaskan pelukan Renjun untuk melihat siapa yang mengetuk pintu ruangannya, knop pintu kamarnya bergerak dan tidak lama terlihat kepala muncul dari balik pintu itu dan itu adalah Sean. Lucas melambikan tangannya meminta Sean masuk ke ruangannya.

Lucas bingung kenapa sepagi ini dia sudah bangun, jam masih menunjukkan pukul 3 pagi. Anak itu beranjak naik ke ranjang menempatkan dirinya di sisi Lucas yang lain.

“Pipo sudah berangkat?” tanyanya dengan suara bangun tidurnya.

Tangan Lucas membuka selimutnya menampakkan Renjun yang menjadikan dada Lucas sebagai bantalnya. “Masih tidur,” ujar Lucas. “Kakak bangun pagi sekali,” tambahnya.

“Kakak pikir sudah berangkat. Kakak mau antar Pipo berangkat pagi. Biasanya Pipo berangkat lebih dulu dari Kakak,” balasnya.

“Karena itu Kakak bangun sepagi ini?” Sean mengangguk. “Nanti kita antar Pipo sama-sama. Kakak bisa tidur lagi sebentar di sini, nanti Papo bangunkan. Masih pagi banget ini, Kak.” Sean menggelengkan kepalanya, menolak saran Lucas.

Sean memang menolak untuk tidur lagi, namun dia memposisikan dirinya tidur di sebelah Lucas. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sepagi ini sedangkan matanya sudah segar.

“Papo, boleh menonton TV?” tanyanya pada Lucas.

“Boleh, remotenya di laci sebelah Kakak,” balas Lucas.

Lucas yang semula ingin memejamkan matanya kembali menjadi segar karena dirinya terus menanggapi pertanyaan yang diajukan Sean saat menonton kartun. Keduanya menikmati menonton kartun bersama hingga tertawa lepas dan itu membuat Renjun terbangun dari tidurnya. Sean dan Lucas seketika diam ketika mengetahui mata Renjun telah terbuka. Renjun sendiri terkejut dengan Sean yang sudah berada di ruangannya.

“Jam berapa ini?” tanya Renjun.

“Baru jam empat. Kamu tidur lagi aja gapapa, biar aku sama Kakak nonton diluar,” balas Lucas.

“Gapapa nonton di sini aja. Kakak pagi banget hari ini bangunnya,” heran Renjun.

“Kakak mau antar Pipo hari ini, Papo juga ikut. Pipo selalu berangkat lebih pagi dari Kakak,” sahut Sean.

“Kakak sweet banget sih. Tadi bangun jam berapa?”

“Jam 3 tadi udah ketuk pintu ke sini.” Renjun menatap Sean terkejut mengetahui Sean bangun sepagi itu dengan sendirinya.

“Pagi banget Kak,” ujar Renjun.

“Kakak ke sini dan Pipo masih tidur seperti ini.” Sean memperagakan bagaimana Renjun tidur memeluk Lucas tadi, mengundang tawa renyah dari Lucas dan Renjun.

Dengan rasa panik dan cemas, Renjun menunggu Lucas di pintu darurat gedung. Dia tidak menunggu di lobby karena ada beberapa media di sana. Berita di internet menyebar dengan cepat dan membuat media cepat mengusut berita yang tengah ramai.

Renjun dengan segera masuk ke dalam mobil Lucas ketika lelaki itu sampai. Dirinya lebih tenang bersama Lucas saat ini. Banyak ketakutan Renjun yang berkumpul menjadi satu saat ini.

“Aku diminta konfirmasi ke agensi sama Mr. Dong. Hari ini,” tukas Renjun.

“Aku temenin kamu konfirmasi ke agensi,” balas Lucas.

Mobil mereka berjalan ke pinggiran kota dan menepi di jalan yang tak begitu ramai orang berlalu-lalang. Lucas melihat Renjun yang bingung dan cemas. Berbicara kepada media itu mudah, tapi dampaknya tidak selalu mudah karena pada dasarnya setiap orang memiliki suara masing-masing.

Keduanya terlalu bersemangat atas hadirnya Sean hingga lupa bahwa keduanya itu bekerja di dunia hiburan yang banyak disorot publik. Publik akan merasa bahwa mereka perlu tahu apa yang terjadi pada mereka, rumor akan bersimpang siur jika tidak adanya konfirmasi dari yang bersangkutan, dan apapun bisa menjadi runyam.

“Sayang, nanti aku temenin kamu konfirmasi ke agensi. Kita bilang ke publik kalau kita punya Sean,” ujar Lucas mengelus puncak kepala Renjun.

“Kita cuma konfirmasi aja bahwa bener kita adopsi, gak perlu didetailkan nanti. Kita hindari pers ya, Ge? Konfirmasi keluar dari kita sendiri sama agensi aja, kita gak perlu wawancara langsung karena itu rawan dibumbui,” balas Renjun.

“Iya, cukup dari kita dan agensi.”

“Ge, kita jangan publikasi wajah Sean ya? Kita perlu persetujuan anaknya buat itu. Mau menunjukkan dirinya atau enggak, itu hak privasi Sean,” ujar Renjun yang diangguki setuju oleh Lucas. “Aku deg-degan banget,” tambah Renjun.

Lucas merentangkan tangannya meminta Renjun masuk dalam dekapannya. Tawa Lucas menguar tidak lama dari itu. “Dilepas dulu seatbeltnya, mana bisa peluk aku kalo gitu,” ujar Lucas yang terkekeh namun mendapat dengusan dari Renjun.

Renjun menggeser dirinya ke bangku kemudi dan duduk di paha Lucas mendapatkan posisi yang nyaman memeluk lelakinya. Bagi Renjun, pelukan itu dapat menenangkan, terlebih dari orang yang saat ini dia peluk. Dia mendapat kekehan dan kecupan singkat dari Lucas.

“Kapan mau konfirmasi ke agensi?” tanya Lucas.

“Sekarang. Bisa jadi masalah kalau gak buruan dikonfirmasi,” balas Renjun.

Tidak lama dari balasan Renjun, Lucas melajukan mobilnya dengan Renjun yang masih dalam pangkuannya. Atas tindakannya itu, Lucas mendapat cubitan perut dari Renjun.

“Berhenti dulu gak!” protes Renjun. “Kaget tau, malah ketawa,” tambah Renjun.

“Kamu kan bilang sekarang, yang,” balas Lucas yang masih terkekeh. Dia suka sekali melihat ekspresi kesal Renjun yang dia jahili.

“Ya tapi aku geser dulu ke sebelah. Main gas aja kamu! Bahaya tau nyetir kayak gitu,” omel Renjun.

Renjun beranjak dari pangkuan Lucas dan hendak bergeser ke bangkunya namun Lucas justru membuat Renjun duduk kembali dipangkuannya. Lucas mencium lelaki kecilnya itu, sejenak keduanya larut dalam ciuman yang dalam.

“Kenapa kamu makin gemesin sih,” ujar Lucas lalu mengecup singkat bibir Renjun sebelum lelaki itu kembali ke bangkunya.

Duk!

It's an intoxicating kiss effect bikin keleyengan.” Lagi-lagi Lucas menertawakan Renjun. Lelaki itu kepalanya terbentur atap mobil ketika bergeser ke bangkunya.

“Dangdut banget, but yea i agree that your kiss is intoxicating. Aku suka,” balas Renjun sembari membenarkan duduknya.

Okay, stop it there.” Lucas menutup pembicaraan tentang ciuman mereka.


Keduanya masuk ke kantor agensi melalui jalur khusus untuk menghindari media yang berkerumun di depan. Berita tentang mereka mengadopsi anak itu menduduki tren nomor satu saat ini, banyak sekali orang yang menanti konfirmasi mereka.

Mereka datang disambut oleh Winwin yang biasa Renjun sebut Mr. Dong, Doyoung, dan juga beberapa staf. Beberapa pertanyaan diajukan pada Renjun untuk konfirmasi. Sesuai yang telah dia bicarakan dengan Lucas, dia hanya akan mengonfirmasikan bahwa mereka benar mengadopsi seorang putra.

“Luke, kamu adopsi dari tempat Ibu?” Lucas mengangguk membalas pertanyaan Winwin.

“Aku sama Kak Yuta juga adopsi dari tempat Ibu, satu pasang cewek cowok,” ujar Winwin.

Mendengar kata 'Kak Yuta' yang terucap dari mulut Winwin mengingatkan bahwa dahulu Lucas begitu sebal mendengar nama itu. Yuta yang membuatnya tidak berani maju untuk Winwin dan membuat Lucas tidak pernah mengungkapkan rasa yang dia miliki kepada Winwin sampai rasa itu telah hilang dengan sendirinya.

“Kapan-kapan ajak anak kalian main bareng sama anak-anakku boleh dong?” Winwin bertanya lagi.

“Boleh lah, Ge,” jawab Lucas.

“Aku cari waktu deh nanti aku kabarin ke kalian,” balasnya. “Oh iya, siang ini kalian datengin pers, gimana?” tambah Winwin bertanya.

“Boleh ditiadakan aja nggak pers-nya?” jawab Renjun sedikit ragu bertanya pada Winwin.

“Kenapa minta ditiadakan? Ini buat konfirmasi lebih jelas aja,” balas Winwin.

Lucas menatap Renjun mengerti maksud lelaki itu. Di mobil tadi mereka juga telah memutuskan untuk tidak ada pers yang berbicara langsung dengan media.

“Maaf, Ge. Kita nggak bisa kalau dateng. Konfirmasi agensi udah cukup jelas dan juga nanti kita berdua konfirmasi sendiri lewat akun pribadi kita. Jadi, ditiadakan aja pers-nya,” ujar Lucas membantu Renjun menjelaskan.

“Okay, gapapa kalau maunya gitu,” balas Winwin paham.

“Terima kasih,” ujar Renjun pada Winwin.

Ketika Lucas sampai di apartment, Renjun telah bersiap-siap untuk pergi recording. Lucas sampai hampir pukul 6 petang.

“Kakak, nanti belajar sama Papo ya. Pipo masih ada pekerjaan sebentar,” pamit Renjun.

“Sampai malam sekali?” tanya Sean.

“Tidak akan, Pipo akan berusaha sudah kembali sebelum Kakak tidur. Pipo pergi dulu ya,” tukas Renjun lalu memeluk dan memberi kecupan singkat pada Sean.

“Ge, aku berangkat dulu ya,” tukas Renjun sebelum keluar dari unit mereka.

Lucas memeluk Renjun sejenak dan berciuman singkat sebelum Renjun berangkat. “Hati-hati ya. Nanti kalau udah selesai langsung pulang,” ujar Lucas yang mengantar Renjun sampai keluar dari pintu unit mereka.

“Iya,” balas Renjun berjalan keluar.

Setelah mengantar Renjun, Lucas kembali masuk. Dia belum menyapa Sean sama sekali sedari dia datang karena Renjun yang terburu-buru pergi.

“Kakak, gimana sekolahnya tadi?” Lucas berjalan pada Sean dengan merentangkan tangannya memanggil anak itu untuk hadir dalam pelukannya.

“Sekolah selalu menyenangkan,” balas Sean sembari berlari masuk dalam pelukan Lucas. Lucas merendahkan tubuhnya agar mereka sejajar untuk berpelukan.

“Papo, kata Pipo kamar baru itu punya Kakak. Itu benar?” tanyanya.

“Iya, itu kamar Kakak,” balas Lucas.

“Nanti Kakak tidur di situ boleh?” tanyanya lagi.

“Kakak tidak mau tidur bersama Papo dan Pipo?” Lucas balik bertanya pada Sean.

“Tidak begitu, Papo. Kakak sudah besar, harus berani tidur sendiri, tidak ditemani Papo dan Pipo,” balas Sean.

Lucas tampak menimang-nimang jawabannya. Dia masih ingin merasakan kebersamaan mereka saat tidur. Melihat Sean yang menatapnya memohon, menumbuhkan rasa tidak tega menolak permintaannya.

“Boleh,” tukas Lucas yang memunculkan senyuman lebar di wajah Sean. “Peluk Papo sekali lagi kalau begitu.” Lucas kembali merentangkan tangannya dan menangkap Sean yang masuk dalam pelukannya.

Keduanya beranjak ke Kamar Sean untuk Sean belajar. Kamarnya sudah rapi dengan segala furnitur didalamnya.

“Kakak kerjakan dulu PR nya ya? Papo mandi sebentar,” izin Lucas pada Sean yang mendapat anggukan kepala.

Lucas beranjak pergi dari kamar Sean untuk mandi. Setelah selesai, dia segera kembali ke kamar Sean memaninya belajar.


Sean telah menyelesaikan PR miliknya dari 30 menit lalu. Dia bersama Lucas tengah makan malam berdua karena Renjun belum juga kembali.

“Papo, apa Pipo selalu bekerja sampai malam sekali?” tanya Sean ditengah makan malam mereka.

“Tidak juga, tergantung jadwal acara yang Pipo dapatkan,” terang Lucas.

“Papo tidak pernah mendapatkan jadwal sampai malam sekali?” tanyanya lagi.

“Tentu pernah,” balas Lucas.

“Benar juga, Papo pernah sakit karena terlalu banyak bekerja. Apa bekerja itu setiap hari?” lagi-lagi Sean bertanya.

“Tidak, sama seperti anak sekolah, kita punya hari libur. Sabtu dan Minggu biasanya kita mengambil libur. Kakak juga libur kan di hari itu?”

“Iya! Berarti kita bisa terus bersama saat libur, benar kan Papo?” Suara Sean bersemangat.

“Benar,” balas Lucas.

Keduanya berbincang banyak di meja makan sampai suara pintu apartment terbuka menghentikan perbincangan mereka. Renjun datang menyapa keduanya dan Sean langsung berhambur memeluk Renjun.

“Sudah selesai belajarnya?” tanya Renjun pada Sean.

“Sudah, semua PR sudah selesai dan Kakak sudah makan malam bersama Papo,” jawab Sean.

“Sayang, kamu udah makan malam?” tanya Lucas.

“Udah tadi dibawain Kak Doy,” balasnya.

“Pipo, mulai hari ini Kakak tidur sendiri di kamar Kakak. Kata Papo boleh.” Renjun menatap Lucas penuh tanda tanya.

“Kakak tadi mohon-mohon, udah besar katanya harus berani tidur sendiri,” jelas Lucas.

“Benar kata Papo, Kakak sudah besar,” sahut Sean.

“Ya sudah, silahkan Kakak tidur sendiri. Sebelum tidur jangan lupa sikst gigi dulu, Kakak baru selesai makan soalnya,” tukas Renjun mendapat anggukan kepala Sean.

“Selamat malam Pipo, selamat malam Papo,” ucap Sean sebelum pergi kekamarnya.

“Selamat malam, Kakak,” balas Lucas dan Renjun bersamaan.

Sean yang pergi kekamarnya, begitupun Lucas dan Renjun yang pergi ke kamar mereka. Lucas memeluk Renjun dari belakang ketika berjalan ke kamar mereka.

Lucas duduk di ranjang sembari bermain ponsel menunggu Renjun selesai berganti pakaian. Renjun merebahkan badannya di sebelah Lucas setelah selesai berganti pakaian.

“Ge, kapan film Gege filming?” tanya Renjun.

“Minggu depan, minggu ini masih bonding pemeran. Kamu udah ada jadwal drama baru?” balas Lucas kembali bertanya.

“Bulan depan ada jadwal film. Bulan ini aku longgarin deh biar sering di rumah buat nemenin Sean. Gege bisa sampe malem kalo udah mulai filming,” balas Renjun. “Masih di sini kan filmingnya?” tambah Renjun bertanya.

“Masih,” balas Lucas yang kini telah tidur berhadapan dengan Renjun.

Semenjak menikah, baik Lucas maupun Renjun selalu pulang setelah filming, kecuali jika mendapat filming di luar kota ataupun negeri. Tidak seperti dahulu yang sering menginap di lokasi syuting untuk efisiensi waktu mereka.

“Sayang, kita harus libur waktu weekend. Sean tadi tanya-tanya aku apa kita kerja setiap hari sampe malam dan aku jawab kita punya libur waktu weekend. Anaknya seneng banget dengernya. Sebisa mungkin jadwal weekend kita kosong ya?” ujar Lucas.

“Iya, aku udah bilang Kak Doy kok buat nggak terima tawaran untuk weekend.”

“Kamu mau ambil dua kali lipatnya nggak? Tadi kan belum sempet,” ujar Lucas mengingatkan Renjun.

“Iya lah, Gege udah janji ya,” balas Renjun lalu masuk dekapan Lucas didepannya.

“Kamu makin gemes aja sih, Cil.” Lucas mengecup puncak kepala Renjun dan mendekap lelaki itu dalam pelukannya.

“Udah lama banget kayaknya Gege nggak panggil aku Bocil. Dulu Cil, Cil, terus,” ujar Renjun dalam dekapan Lucas.

Lucas sedikit menarik tubuh Renjun agar bisa mendongak kearahnya. Lucas menarik Renjun untuk berciuman karena saking gemasnya. Ciuman hangat mereka menjadi penghantar tidur keduanya.

Jarak dari camp Raven dan Haben dengan kamar mandi terbilang cukup jauh, memakan waktu 15 menit. Raven menunggu Haben datang dengan bosan. Dia mengalami kesulitan bermain ponselnya karena sinyal yang datang dan pegi, itu membuatnya semakin bosan.

“Halo ganteng.” Haben datang dari arah belakang dan langsung mengelus puncak kepala Raven membuat surai anak itu berantakan.

“Sampe udah dingin makanannya,” ketus Raven sembari memberikan makan siang milik Haben.

“Ven.” Yang bersangkutan hanya berdeham. “Kamu semalem tidur meluk aku ya?” lanjut Haben bertanya.

“Halu lo.” Tawa Haben pecah mendengarnya.

“Kalau aku halu nggak mungkin kerasa sebegitu nyata,” tukas Haben. “Ven, masih sesulit itu ya buat terima aku lagi?” tambah Haben bertanya.

“Makan tuh makanan lo udah dingin,” balas Raven mengalihkan pertanyaan Haben.

“Kamu terus ngehindar waktu aku ajak bicarain itu,” keluh Haben.

“Makan dulu habis itu ngobrol,” ketus Raven.

“Janji ya?” Raven berdeham.

Haben menghabiskan makanan miliknya sebelum kembali berbincang dengan Raven. Raven merasa gugup menunggu Haben makan karena sepertinya hari ini Haben meminta kepastian darinya.

“Kamu dari kemarin nyindir aku ya waktu nyanyi lagu Taylor Swift,” ceplos Haben lalu meneguk minumannya.

“Jauh banget kepikirannya, she's my faves. Buat apa gue nyindir lo kalau lo sendiri udah sadar atas semuanya. Kurang kerjaan banget nyindir lo,” balas Raven.

“Abe, gue mau tau kenapa lo ngerasa nggak pantes buat gue. Kayaknya lo belum pernah jelasin ini clearly atau gue yang lupa?” tambah Raven bertanya.

“Aku lihat banyak orang di sekitar kamu yang lebih dari aku. Aku nggak lebih baik, lebih pinter, dan lebih bisa jagain kamu daripada mereka. Aku terus ngerasa kurang buat kamu. Sering aku usaha untuk lengkapin kurangnya aku, tapi waktu itu aku malah semakin ciut dan merasa nggak pantes buat lanjutin hubungan kita dengan aku yang seperti itu,” terang Haben.

Raven mendengarkan penjelasan Haben dengan saksama. Dari pernyataan Haben dapat Raven simpulkan bahwa Haben meninggalkan dirinya karena dia tidak percaya diri dengan apa yang dia mampu.

“Sekarang udah ngerasa nggak kurang?” tanya Raven.

“Setiap orang punya kurangnya masing-masing, kurangku nggak akan pernah hilang semuanya, pasti tetep ada sisa. Selama kita pisah, aku pikir ulang tentang semua itu. Dengan aku yang merasa banyak kurang buat kamu aja kamu masih mau sama aku, kenapa aku malah memilih rela berpisah sama kamu karena semua kurangku yang nggak pernah kamu keluhin itu? Aku bodoh banget.”

“Abe, kalau kamu terus lihat ke atas itu akan terus ada yang lebih tinggi dari kamu. Kamu bisa jatuh kalau terus lihat ke atas. Lihat ke depan, kamu itu baik, kamu pinter, kamu bisa apapun, dan kamu pantas, itu Abe yang aku tau,” sahut Raven dengan intonasi yang berbeda dari sebelumnya.

Manik Haben menatap seseorang didepannya. Maniknya menatap Raven seakan memastikan bahwa benar laki-laki itu yang baru saja berbicara.

“Abe, nggak ada kenangan kita yang hilang, semua masih tetep sama. Be, kamu berhasil buat mengembalikan apa yang sempat hilang. Kamu mau kita mulai lagi? Bukan memulai dari awal, tapi kita mulai lagi melanjutkan cerita kita.” Haben melambaikan tangannya tepat di depan Raven barangkali lelaki itu sedang tidak sadar saat berbicara.

“Ven...”

“Pertanyaannya dijawab dong, Be.”

“Itu jobdesc aku kenapa kamu ambil sih,” ujar Haben dengan wajah kesalnya.

“Lebay deh tinggal jawab aja.” Raven kembali dengan ketusnya.

Haben memutar kursi Raven untuk menghadap dirinya. “Sebelum aku jawab pertanyaan itu, kamu jawab dulu pertanyaanku sebelumnya yang belum kamu jawab,” ujar Haben setelahnya.

Raven menaikkan kedua alisnya seolah bertanya pertanyaan manakah yang dimaksud oleh Haben. “Kamu semalem tidur meluk aku kan?” Haben mengulangi pertanyaan yang dia ucapkan sebelumnya.

“Ya,” jawab Raven cuek dan menghindarkan pandangannya dari Haben.

“Gemes banget sih kamu. Mana bisa aku tolak kamu buat kita kembali lagi. Pertanyaanmu tadi udah terlalu jelas jawabannya. Kamu serius kan mau kembali?” Haben menatap Raven dengan tanda tanya. “Kalau serius, coba peluk aku sini,” tambah Haben dengan merentangkan tangannya.

Manik Raven menatap Haben sejenak, memperhatikan lelaki yang tengah tersenyum lebar dangan merentangkan tangannya itu. Raven mencondongkan badannya dan masuk dalam pelukan Haben.

“Aku nggak akan buat akhir yang sama buat kita karena kita nggak akan mengulang buku yang sama, tapi kita melanjutkan buku yang sama untuk akhir yang berbeda,” ujar Haben yang tengah memeluk erat Raven.

I love you, Abe. Aku mau akhir kita bersama, bukan berpisah,” ujar Raven dalam pelukan Haben.

“Kita wujudkan sama-sama. I love you more, my lil