Surprise
Sepanjang perjalanan, Renjun bertanya-tanya ke mana dia akan dibawa pergi. Dua lelaki yang bersamanya begitu bersemangat dalam perjalanan.
“Kalian berdua seperti menculik Pipo, ayo kasih tahu kita akan ke mana?” protes Renjun yang tak kunjung diberitahu.
“Ini kejutan untuk Pipo, kita pergi berlibur di tempat yang indah sekali,” balas Sean.
“Beri Pipo petunjuk, Pipo akan menebaknya,” pinta Renjun.
“Tempatnya indah sekali, hijau, kita bisa bermain air. Itu saja, tidak boleh terlalu banyak,” ujar Sean memberikan petunjuk.
“Kamu lihat aja jalannya, dulu kita pernah ke sini. Kalau kamu inget jalannya sih kamu pasti tau kita mau ke mana,” sahut Lucas.
Renjun berusaha mengingat-ingat jalanan manakah ini. Dia tidak terlalu hapal dengan jalanan, kemana-mana saja dia seringkali menggunakan maps. Walaupun menggunakan maps, Lucas mengakuin Renjun bahwa dia itu pandai membaca maps.
“Kamu lihat palang di situ, kalau lurus kita ke pantai. Tapi kita gak akan ke pantainya, kita ke danau yang gak jauh dari sini,” tambah Lucas.
“Ah iya, waktu itu aku yang nyetir. Kita juga masih trial waktu itu,” balas Renjun mengingat kenangan keduanya
Mereka memakan waktu 30 menit dari persimpangan arah pantai dan danau hingga akhirnya sampai di danau. Walaupun ini termasuk weekend pengunnjungnya tidak membludak seperti yang dibayangkan Lucas saat perjalanan. Lokasinya ramai, namun masih lega. Dari informasi yang Lucas dapatkan, puncak ramainya itu setiap hari minggu, mungkin karena sebagian orang masih dalam aturan 6 hari kerja sehingga baru pada hari minggu mereka berlibur.
“Ini, surprise dari Kakak buat kamu. Dia yang rencanain liburan kita. Jadi, hari ini Kakak jadi pemandu Papo dan Pipo?” tukas Lucas.
“Iya, Kakak sudah membaca di internet, ada banyak hal menarik di sini. Kita akan bersenang-senang, tidak ada bekerja dan tugas sekolah,” terang Sean. “Pipo suka berlibur di sini? Papo sangat pintar memberikan saran tempat berlibur,” tambah Sean.
“Tentu. Terima kasih, Kakak,” balas Renjun lalu mencium kening Sean.
“Let's go kita turun,” ujar Lucas mengajak mereka segera turun.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, banyak pasang mata menatap mereka dan memanggil Renjun kencang. Ketiganya hanya membalas senyuman saja dan tidak berinteraksi terlalu jauh karena di sini tujuan mereka adalah berlibur. Renjun juga sedikit menurunkan topi yang dikenakan Sean agar tidak mudah mereka mengambil gambar Sean walaupun jelas ada celah.
“Ayo kita naik perahu. Pemandangannya cantik sekali, Pipo pasti sangat suka,” ajak Sean.
Selama menunggu perahu mereka datang, Lucas terus berdiri di belakang Renjun dan Sean menutupi kedua orang itu dari kamera pengunjung dan melindungi dari desakan pengunjung.
“Perahu kita yang mana?” tanya Sean.
“Pak, perahu kita yang mana ya?” tanya Renjun pada petugas.
“Itu lagi jalan ke sini, nomor 148,” balasnya.
“Yang itu, Kak. Nomor 148.” Renjun menunjuk perahu mereka.
Mereka segera menaiki perahu mereka ketika telah sampai di depan mereka. Semuanya juga telah memakai pelampung untuk keamanan. Sean begitu bersemangat menjelaskan kemana saja perahu ini akan berjalan. Ingatannya begitu bagus, dari menonton video saja dia bisa mengingat detailnya.
“Pipo, kenapa tadi banyak sekali yang memanggil Pipo?” tanya Sean yang heran.
“Karena mereka tahu Pipo,” jawab Renjun dan Sean terlihat belum memahami. “Mereka sering menonton Pipo di televisi. Mereka tahu Pipo dari televisi,” jelas Renjun.
“Pipo seorang artis?” Renjun mengangguk. “Tapi Kakak tidak pernah melihat Pipo di televisi. Kenapa mereka semua tahu Pipo?” lanjut Sean yang membuat Lucas dan Renjun, bahkan pengemudi dan guide yang menemani mereka ikut tertawa.
“Gak terkenal kamu, yang,” ledek Lucas sembari tertawa. Renjun sudah melirik Lucas sebal.
“Kakak di televisi menonton acara anak-anak 'kan?” Sean mengangguk. “Nah, Pipo tidak pernah mengisi acara anak-anak. Pipo bermain peran, drama dan film, Kakak tahu?”
“Ah film, Kakak tahu, itu aktor namanya, benar?” Renjun mengangguk semangat. “Kalau begitu Pipo mengenal pemain spiderman? Dia keren sekali,” tambah Sean bertanya.
“Sayang sekali Pipo belum berkenalan. Kakak suka menonton film aksi?” Sean mengangguk. “Pipo pernah bermain film aksi. Pipo juga tidak kalah keren dengan pemain spiderman.“
Lucas tidak bisa menahan tawanya mendengarkan pembicaraan Renjun dan Sean.
“Sungguh? Pipo juga bertarung?” Sean memastikan Renjun.
“Mulutnya yang bertarung, Pipo jadi bagian mengomel,” sahut Lucas dengan gelak tawanya.
“Enak aja, aku masih ikut berantem kalo Gege lupa!” protes Renjun.
“Papo sudah menonton film Pipo? Apa itu seru sekali?” tanya Sean pada Lucas.
“Bukan hanya menonton, Papo yang membuat film itu. Papo yang terlalu banyak membuat adegan mengomel untuk Pipo. Tapi Pipo masih ikut bertarung, Kakak tidak akan kecewa menontonnya,” sahut Renjun membela diri.
“Pekerjaan Papo adalah membuat film?” tanya Sean.
“Tepat sekali,” sahut Lucas.
“Papo benar membuat banyak adegan mengomel untuk Pipo. Pipo tahu caranya mengomel,” balas Sean yang mengundang senyum kemenangan Lucas.
Selama perjalanan mereka, Lucas merekamnya dengan kamera yang dia bawa. Dia ingin kenangan itu tidak hanya terekam oleh mata namun juga kamera yang nantinya dapat mereka tonton ulang lagi.
Ketika perahu mereka sudah dekat dengan drop area, mereka melihat kerumunan orang-orang di sana dengan kamera ataupun ponsel yang bersiap mengambil gambar mereka. Lucas membenarkan topi yang dipakai Sean badannya sedikit bergeser untuk menutup anak itu.
“Kakak, nanti sewaktu turun Papo gendong ya. Nanti Kakak naik ke punggung Papo, ok?” pinta Lucas pada Sean.
“Untuk melewati mereka?” tanya Sean.
“Benar, supaya kita tidak terjebak diantara mereka. Setuju ya?”
“Tidak masalah,” jawab Sean.
Ketika mereka turun dari perahu, tangan Renjun sigap menuntun kepala Sean untuk menunduk. “Kakak, topinya jangan sampai lepas,” bisik Renjun pada Sean yang naik ke punggung Lucas.
Sebelah tangan Lucas menyangga Sean dipunggungnya dan sebelah lagi merangkul Renjun. Dia memastikan keduanya dalam dekapannya. Kabar mereka sedang di danau menyebar cepat sehingga saat ini terdapat lonjakan pengunjung di danau. Sekarang ini benar-benar lebih ramai daripada saat dia datang tadi.
Mereka langsung memutuskan kembali ke mobil melihat kekacauan itu. Jika mereka berhenti-berhenti lagi di sana itu pasti tidak akan membuat mereka nyaman menikmati liburan. Dengan bantuan beberapa juru parkir, mereka berhasil keluar dari area danau dengan aman.
“Kakak, maaf ya semuanya jadi kacau,” ujar Renjun pada Sean yang cemberut di belakang.
“Kenapa mereka seperti itu? Kita tidak bisa berlibur jika mereka seperti itu. Mereka yang mengacau, Pipo tidak perlu meminta maaf,” balas Sean dengan nada kesalnya.
“Rencana kita tidak begitu bagus kali ini, Kak. Kita harus merencanakan yang lebih baik untuk minggu depan,” sahut Lucas.
“Ajak Pipo untuk membuat rencana, liburannya kan untuk kita bertiga,” protes Renjun.
“Tapi Kakak sedikit sedih. Kakak tidak jadi bermain jet ski, padahal Papo sudah siap menemani Kakak,” keluh Sean.
“Kita bisa bermain jet ski di pantai besok. Papo akan atur rencana supaya kita bisa liburan dengan nyaman. Kita pergi ke penginapan dulu ya sekarang, kita istirahat,” jawab Lucas.
Baru beberapa menit mereka sampai di penginapan mereka, keributan antara Renjun dan Sean sudah mengisi vila yang mereka tempati. Renjun yang kukuh meminta Sean berada satu kamar dengannya dan Sean kukuh ingin mendapat kamar pribadi.
“Papo, kakak ingin kamar sendiri. Kakak tidak seperti Pipo yang tidur masih memeluk Papo. Kakak berani tidur sendiri,” protes Sean.
“Waktu liburan saja mengalah tidur bersama Papo dan Pipo. Kamarnya sedikit jauh, nanti kalau malam Kakak ada apa-apa Papo dan Pipo tidak bisa cepat tahu,” balas Lucas yang setuju dengan Renjun.
“Usia Kakak itu sepuluh, bukan anak kecil dan tidak penakut.” Sean masih kukuh dengan pendiriannya.
“Yaudah deh kalau maunya Kakak gitu. Ge, nanti kita kunci kamar kita biar Kakak tidak bisa masuk,” balas Renjun.
“Boleh, Kakak tidak akan datang juga ke kamar Papo dan Pipo,” ujar Sean percaya diri.