Sean dan Rahasia
Dalam mobil Lucas dipenuhi keheningan. Keduanya yang berbeda pemdapat itu tak saling membuka suaranya. Renjun menginginkan Sean mendapat yang terbaik, begitun Lucas, namun Lucas tetap mempertimbangkan apa kemauan Sean dan itu berlawanan dari yang Renjun inginkan saat ini.
“Sayang, kita bicara sama Sean ya?” tukas Lucas bertanya ketika mobil mereka sampai di depan sekolah Sean.
“Ge, kita harus kasih yang terbaik buat Sean,” balas Renjun.
“Bener, kita harus kasih yang terbaik. Maka itu kita perlu bicara sama Sean, gimana pun nantinya dia yang jalanin sekolahnya, bukan kita. Buat kita mungkin itu yang terbaik, tapi nggak tau bagi anaknya gimana,” jelas Lucas pada Renjun.
Setelahnya tak ada lagi perbincangan antara keduanya. Renjun enggan membuka suaranya lagi dan memilih menatap luar menunggu Sean.
Sean berlari ketika mendapati mobil Lucas yang telah berada di depan sekolahnya. Ketika membuka pintu depan, dia mendapati Renjun duduk di sana yang membuatnya beralih ke bangku belakang. Sean begitu senang karena pertama kalinya Lucas dan Renjun menjemputnya bersama seperti ini.
Jam pulang sekolah yang depan-belakang dengan jam pulang kerja itu membuat jalanan macet, terlebih jalan utama. Lucas ingin lewat jalan pintas, namun mobilnya yang besar menjadi kendala dan bisa jadi menimbulkan kemacetan baru di jalan pintas.
“Kakak suka sekolah di sana?” tanya Lucas membuka obrolan ditengah kemacetan yang membuat Renjun menatapnya kesal.
“Suka saja,” jawab Sean.
“Kalau Papo menawarkan Kakak sekolah baru, Kakak mau?” tanya Lucas lagi yang lebih menjurus dengan obrolan intinya.
“Tidak lagi di sekolah kakak itu?” Sean menyondongkan badannya ke depan menengok Lucas lebih dekat.
Sean terlihat terdiam sejenak setelah mendapat anggukan Lucas. Sedangkan Renjun sudah buang muka sedari tadi karena Lucas masih kukuh dengan keinginannya tetap berbicara dengan Sean.
“Kakak mau.” Renjun menoleh ke arah Sean seketika. Dia memastikan ucapan itu benar keluar dari mulut Sean. “Kakak tidak mau melihat Mama lagi,” tambah Sean.
Manik Lucas dan Renjun bertemu pandang setelah mendengar ucapan Sean baru saja. Keduanya jelas terkejut mendengar penuturan Sean.
“Kakak tidak mau melihat siapa?” tanya Renjun memastikan.
“Mama,” ujar Sean yang menunduk.
Renjun menepuk pundak Lucas menyadarkan lamunan lelaki itu bahwa kendaraan dibelakangnya telah menyeru dirinya untuk segera maju. Keduanya sama-sama terkejut pasalnya tidak ada informasi bahwa keluarga Sean masih ada dan berkontak dengan Sean.
“Kakak sering bertemu Mama?” tanya Renjun dengan nada ragu.
“Melihat saja. Mama juga hanya melihatku. Dia datang tidak untuk bertemu Kakak,” jawab Sean.
Mobil mereka kembali hening setelahnya hingga akhirnya sampai di panti asuhan. Tangan Sean tiba-tiba mencengkeram lengan Lucas dengan wajah penuh takut.
“Hei, Kak. Kenapa?” Lucas menglus kepala Sean dan bertanya.
“Tidak. Jangan beritahu Bunda aku melihat Mama. Jangan berikan aku pada Mama. Aku tidak mau Mama.” Sean berkata dengan diiringi tangisnya yang turun.
Renjun memundurkan bangkunya untuk mempermudah dirinya meraih Sean. Tangannya dengan halus menepuk-nepuk pundak Sean, menenangkan tangisan anak itu.
“Kak, dengar. Kita ke sini bukan untuk memberitahu Bunda. Kakak tetap bersama Papo dan Pipo. Hari ini ada yang harus kita urus di sini supaya bisa sepenuhnya Kakak bersama Papo dan Pipo, bukan untuk melepaskan Kakak,” jelas Renjun.
“Dihapus dulu air matanya. Nanti kalau lihat Kakak sedih, Bunda pasti bilang tidak boleh buat Kakak bersama Papo dan Pipo. Kakak mau bersama kita, kan?” Kini Lucas yang bersuara.
Sean menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dengan gerakan cepat menghapus air mata di wajahnya. Guratan senyum muncul dari Lucas dan Renjun.
“Kakak mau besama Papo dan Pipo. Kakak tidak menangis,” ujar Sean.
Secara bersamaan, Lucas dan Renjun mencium pipi Sean, membuat anak itu tersenyum geli. Setelahnya mereka turun dari mobil untuk pergi menemui ibu panti.
Ibu panti menyambut kedatangan mereka dengan senang. Ketika Ibu panti meminta Sean pergi bermain dengan yang lain, anak itu justru menggelengkan kepala tidak mau dan memeluk lengan Lucas disampingnya.
“Bu, boleh kita bicara sebentar?” tanya Renjun yang disetujui oleh Ibu panti. Keduanya berbincang menjauh dari Lucas dan Sean.
“Kenapa mereka tidak bicara di sini?” tanya Sean.
“Karena mereka membicarakan rahasia yang tidak boleh kita tau. Kakak bisa memberi tahu Papo rahasia Kakak, kita tidak akan beritahu Pipo nanti,” balas Lucas.
“Jadi hanya akan ada Kakak dan Papo yang tahu?” Lucas mengangguk. “Ini seru sekali,” lanjut Sean.
“Beritahu Papo rahasia Kakak,” pinta Lucas.
“Ini rahasia kita untuk memberi kejutan Pipo,” tukas Sean.
Sean memberitahu rencana rahasianya kepada Lucas. Rencana itu disetujui oleh Lucas dan mereka akan mewujudkannya besok. Pembicaraan mereka langsung terhenti ketika Renjun dan Ibu panti kembali.
Setelah Renjun duduk, Ibu panti mengambil berkas untuk ditanndatangani oleh Lucas dan Renjun. Ibu panti menjelaskan banyak tentang apa saja yang ada dalam berkas tersebut yang tentunya sulit dipahami oleh Sean.
“Sean, baik-baik bersama Papo dan Pipo ya. Lucu sekali panggilannya seperti itu,” tukas Ibu panti kepada Sean.
“Kakak suka bersama Papo dan Pipo. Kakak akan baik-baik,” balas Sean.
Setelahnya mereka berpamitan dengan Ibu panti dan meluncur pergi meninggalkan panti. Mereka pergi mengantar Renjun ke tempatnya syuting.
“Ge, kamu habis ini masih ada kerjaan kan?” Lucas mengangguk. “Kakak gimana?” tanya Renjun.
“Kakak mau ikut Papo tidak?” tanya Lucas.
“Kamu ajak Kakak ke lokasi?” sahut Renjun bertanya.
“Kakak ikut,” balas Sean.
“Iya. Kerjaanku masih nyantai yang, belum filming,” jelas Sean pada Renjun.
“Kakak kalau ikut Papo tidak boleh jauh-jauh dari Papo, mengerti Kak?” pesan Renjun pada Sean yang mendapat seruan paham dari Sean. “Jagain Kakak loh ya, Ge,” lanjut Renjun memperingati Lucas.
“Iya sayangku, pasti dijagain,” balas Lucas.