Hypothalamus

Meja ruang tengah Raksa sudah penuh dengan jajanan. Melihat meja yang penuh itu, Lingga masih sempat menawarkan makanan apa lagi yang diinginkan Raksa, bahkan lelaki itu menunjukkan kontak di ponselnya yang menyimpan banyak nomor pedagang. Raksa hanya terheran melihat hal itu, biasanya lelaki mengoleksi nomor perempuan, tapi Lingga justru mengoleksi nomor pedagang makanan ataupun minuman.

“Gue biasanya kalo kenyang tuh ngantuk, nanti lo kerjain sendiri ya,” celetuk Raksa yang menyisihkan sebagian makanan untuk menempatkam laptop.

“Lo minum kopi gue aja, gak usah chizu.” Lingga dengan cepat menukar minumannya dengan milik Raksa.

“Gue gak ngopi!” Raksa mengambil minumannya kembali dari Lingga.

Mereka 50% mengerjakan tugas Mbak Ghina dan 50% makan. Entah mereka akan berapa lama menuntaskannya hari ini. Memang tidak berencana menuntaskan sepenuhnya, namun target mereka hari ini adalah lebih dari separuh tugas terselesaikan.

Sudah satu jam mereka bersama dan merencanakan denah saja belum selesai. Masih meributkan satu dan lain hal tentang ruang apa saja yang akan dimuat dan juga penempatannya.

“Ga, kita cuma bikin rumah tipe 45, jangan lo tambah ruang-ruang gak jelas. Ruang inti aja yang harus ada di setiap rumah, baru kalo emang masih ada sisa boleh lah ditambah ruang lain-lain,” protes Raksa pada Lingga.

“Kenapa lo gambar tangga?! Kita cuma bikin satu lantai aja. Mbak Ghina belom ajarin kita sampe ke konstruksi tangga, lo gak usah ngajak gue uji nyali bikin tangga!” Raksa langsung mencoret gambar tangga yang baru digambar di kertas oleh Lingga.

“Bisa nggak sih lo bikin denah yang gak susah-susah amat, ngapain ada void segala?!” Raksa menghela napasnya sejenak. “Kita masih harus mikirin tampaknya habis ini, ini pertama kita desain gak usah yang aneh-aneh dulu deh, basic aja dulu please,” lanjut Raksa.

“Ya bagus dong kita bikin desain yang kayak gini daripada basic, we will get compliment dari Mbak Ghina,” balas Lingga.

Tanpa menjawab, Raksa mengalungkan tangan kirinya ke leher Lingga berlaga mencekamnya. “Dapet compliment sih dapet, stressnya juga dapet. Bisa jadi tugas Mbak Ghina selanjutnya bikin potongan dari rumah ini, pusing gue kalo denahnya aja begini,” tukas Raksa setelahnya.

“Nanti lo yang gambar tampak, denahnya sama gue.” Raksa menarik kertas coretan dari tangan Lingga.

“Kan biar eye catching gitu, Rak,” celetuk Lingga.

“Udah lo diem aja,” tukas Raksa.

Lingga menjadi bosan karena tidak ada pekerjaan. Sedari tadi dia hanya memperhatikan Raksa yang sibuk mengerjakan denah. Lingga tiba-tiba tertarik memainkan rambut Raksa. Tidak ada respon penolakan dari Raksa membuat Lingga terus melanjutkannya dan menguncir sedikit rambut Raksa dengan karet dari jajan yang mereka beli tadi.

“GA!” Teriakan Raksa itu menghentikan aksi Lingga. Raksa menoleh ke arah Lingga melihat anak itu dengan ekspresi terkejutnya dan mengangkat kedua tangannya. “Lo ngerti diem gak sih?!” tanyanya dengan nada keras.

Tangan Lingga justru mengelus-elus kepala Raksa. Mata Raksa menatap tajam tangan Lingga meminta tangan itu turun dari kepalanya.

Hypothalamus lo lagi hiperaktif kayaknya Rak, hormon stres lo lagi kerja rodi ini, kasian. Ini biar lo agak tenang, gak marah-marah mulu,” ujar Lingga dengan tangannya yang masih setia di kepala Raksa.

“Lo diem aja gue tenang,” ketus Raksa.

Raksa sudah kesal dari Lingga memintanya mengerjakan tugas di hari minggu dan melihat pekerjaan mereka yang tak kunjung selesai, diisi penuh perdebatan, itu membuat kesalnya kembali memuncak.

“Tangan lo bisa turun gak?” tanya Raksa ketus.

“Nggak, ini biar lo merasa tenang. Udah lo gambar aja itu, gue cuma gini. Mulut gue diem,” balas Lingga yang mendapat dengusan dari Raksa.