Dua Kali Lipat
Ketika Lucas sampai di apartment, Renjun telah bersiap-siap untuk pergi recording. Lucas sampai hampir pukul 6 petang.
“Kakak, nanti belajar sama Papo ya. Pipo masih ada pekerjaan sebentar,” pamit Renjun.
“Sampai malam sekali?” tanya Sean.
“Tidak akan, Pipo akan berusaha sudah kembali sebelum Kakak tidur. Pipo pergi dulu ya,” tukas Renjun lalu memeluk dan memberi kecupan singkat pada Sean.
“Ge, aku berangkat dulu ya,” tukas Renjun sebelum keluar dari unit mereka.
Lucas memeluk Renjun sejenak dan berciuman singkat sebelum Renjun berangkat. “Hati-hati ya. Nanti kalau udah selesai langsung pulang,” ujar Lucas yang mengantar Renjun sampai keluar dari pintu unit mereka.
“Iya,” balas Renjun berjalan keluar.
Setelah mengantar Renjun, Lucas kembali masuk. Dia belum menyapa Sean sama sekali sedari dia datang karena Renjun yang terburu-buru pergi.
“Kakak, gimana sekolahnya tadi?” Lucas berjalan pada Sean dengan merentangkan tangannya memanggil anak itu untuk hadir dalam pelukannya.
“Sekolah selalu menyenangkan,” balas Sean sembari berlari masuk dalam pelukan Lucas. Lucas merendahkan tubuhnya agar mereka sejajar untuk berpelukan.
“Papo, kata Pipo kamar baru itu punya Kakak. Itu benar?” tanyanya.
“Iya, itu kamar Kakak,” balas Lucas.
“Nanti Kakak tidur di situ boleh?” tanyanya lagi.
“Kakak tidak mau tidur bersama Papo dan Pipo?” Lucas balik bertanya pada Sean.
“Tidak begitu, Papo. Kakak sudah besar, harus berani tidur sendiri, tidak ditemani Papo dan Pipo,” balas Sean.
Lucas tampak menimang-nimang jawabannya. Dia masih ingin merasakan kebersamaan mereka saat tidur. Melihat Sean yang menatapnya memohon, menumbuhkan rasa tidak tega menolak permintaannya.
“Boleh,” tukas Lucas yang memunculkan senyuman lebar di wajah Sean. “Peluk Papo sekali lagi kalau begitu.” Lucas kembali merentangkan tangannya dan menangkap Sean yang masuk dalam pelukannya.
Keduanya beranjak ke Kamar Sean untuk Sean belajar. Kamarnya sudah rapi dengan segala furnitur didalamnya.
“Kakak kerjakan dulu PR nya ya? Papo mandi sebentar,” izin Lucas pada Sean yang mendapat anggukan kepala.
Lucas beranjak pergi dari kamar Sean untuk mandi. Setelah selesai, dia segera kembali ke kamar Sean memaninya belajar.
Sean telah menyelesaikan PR miliknya dari 30 menit lalu. Dia bersama Lucas tengah makan malam berdua karena Renjun belum juga kembali.
“Papo, apa Pipo selalu bekerja sampai malam sekali?” tanya Sean ditengah makan malam mereka.
“Tidak juga, tergantung jadwal acara yang Pipo dapatkan,” terang Lucas.
“Papo tidak pernah mendapatkan jadwal sampai malam sekali?” tanyanya lagi.
“Tentu pernah,” balas Lucas.
“Benar juga, Papo pernah sakit karena terlalu banyak bekerja. Apa bekerja itu setiap hari?” lagi-lagi Sean bertanya.
“Tidak, sama seperti anak sekolah, kita punya hari libur. Sabtu dan Minggu biasanya kita mengambil libur. Kakak juga libur kan di hari itu?”
“Iya! Berarti kita bisa terus bersama saat libur, benar kan Papo?” Suara Sean bersemangat.
“Benar,” balas Lucas.
Keduanya berbincang banyak di meja makan sampai suara pintu apartment terbuka menghentikan perbincangan mereka. Renjun datang menyapa keduanya dan Sean langsung berhambur memeluk Renjun.
“Sudah selesai belajarnya?” tanya Renjun pada Sean.
“Sudah, semua PR sudah selesai dan Kakak sudah makan malam bersama Papo,” jawab Sean.
“Sayang, kamu udah makan malam?” tanya Lucas.
“Udah tadi dibawain Kak Doy,” balasnya.
“Pipo, mulai hari ini Kakak tidur sendiri di kamar Kakak. Kata Papo boleh.” Renjun menatap Lucas penuh tanda tanya.
“Kakak tadi mohon-mohon, udah besar katanya harus berani tidur sendiri,” jelas Lucas.
“Benar kata Papo, Kakak sudah besar,” sahut Sean.
“Ya sudah, silahkan Kakak tidur sendiri. Sebelum tidur jangan lupa sikst gigi dulu, Kakak baru selesai makan soalnya,” tukas Renjun mendapat anggukan kepala Sean.
“Selamat malam Pipo, selamat malam Papo,” ucap Sean sebelum pergi kekamarnya.
“Selamat malam, Kakak,” balas Lucas dan Renjun bersamaan.
Sean yang pergi kekamarnya, begitupun Lucas dan Renjun yang pergi ke kamar mereka. Lucas memeluk Renjun dari belakang ketika berjalan ke kamar mereka.
Lucas duduk di ranjang sembari bermain ponsel menunggu Renjun selesai berganti pakaian. Renjun merebahkan badannya di sebelah Lucas setelah selesai berganti pakaian.
“Ge, kapan film Gege filming?” tanya Renjun.
“Minggu depan, minggu ini masih bonding pemeran. Kamu udah ada jadwal drama baru?” balas Lucas kembali bertanya.
“Bulan depan ada jadwal film. Bulan ini aku longgarin deh biar sering di rumah buat nemenin Sean. Gege bisa sampe malem kalo udah mulai filming,” balas Renjun. “Masih di sini kan filmingnya?” tambah Renjun bertanya.
“Masih,” balas Lucas yang kini telah tidur berhadapan dengan Renjun.
Semenjak menikah, baik Lucas maupun Renjun selalu pulang setelah filming, kecuali jika mendapat filming di luar kota ataupun negeri. Tidak seperti dahulu yang sering menginap di lokasi syuting untuk efisiensi waktu mereka.
“Sayang, kita harus libur waktu weekend. Sean tadi tanya-tanya aku apa kita kerja setiap hari sampe malam dan aku jawab kita punya libur waktu weekend. Anaknya seneng banget dengernya. Sebisa mungkin jadwal weekend kita kosong ya?” ujar Lucas.
“Iya, aku udah bilang Kak Doy kok buat nggak terima tawaran untuk weekend.”
“Kamu mau ambil dua kali lipatnya nggak? Tadi kan belum sempet,” ujar Lucas mengingatkan Renjun.
“Iya lah, Gege udah janji ya,” balas Renjun lalu masuk dekapan Lucas didepannya.
“Kamu makin gemes aja sih, Cil.” Lucas mengecup puncak kepala Renjun dan mendekap lelaki itu dalam pelukannya.
“Udah lama banget kayaknya Gege nggak panggil aku Bocil. Dulu Cil, Cil, terus,” ujar Renjun dalam dekapan Lucas.
Lucas sedikit menarik tubuh Renjun agar bisa mendongak kearahnya. Lucas menarik Renjun untuk berciuman karena saking gemasnya. Ciuman hangat mereka menjadi penghantar tidur keduanya.