lostduskworld

Sementara Renjun beristirahat bersiap untuk siaran radio, pukul 7 malam Lucas sudah berada di panti. Panti terlihat sepi pada jam seperti ini, tidak ada anak-anak yang bermain diluar. Pada jam ini ternyata anak-anak baru selesai makan malam dan hendak bersiap untuk tidur.

Ibu panti meminta Lucas duduk di sofa terlebih dahulu sementara dia memanggilkan Sean. Lucas tidak bisa ikut menjemput ke ruangan Sean. Sebetulnya Lucas dan Renjun sempat berpikir untuk membuat perayaan kecil bersama anak-anak sebelum menjemput Sean, namun ibu panti menolak usulan mereka karena perayaan itu bisa menimbulkan rasa iri anak-anak lain, ucapan perpisahan dari Sean saja sudah cukup.

“Papo!” panggil Sean mengundang senyuman lebar Lucas.

Sean berjalan masuk ke dalam pelukan Lucas yang merentangkan tangannya. Lucas memberikan kecupan di puncak kepala Sean beberapa kali. Anak itu begitu bersemangat ketika Lucas datang menjemput, namun senyumnya mengecil ketika tak melihat adanya Renjun.

“Maaf, Pipo tidak bisa ikut jemput Kakak. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga, tidak apa-apa 'kan?” ujar Lucas memahami senyuman Sean yang mengecil.

“Tidak bohong?”

“Untuk apa bohong. Kita telepon Pipo mau tidak? Kita kasih dia semangat supaya kerjanya cepat selesai, mau?” Lucas membuka ponselnya bersiap menelepon Renjun.

“Mau!”

“Kakak jangan pakai muka sedih kalau mau telepon Pipo, nanti jadi ikut sedih Pipo. Senyum dulu dong, Kak,” pinta Lucas.

Sean menunjukkan senyumnya dan Lucas segera menelepon Renjun sebelum dia memulai siarannya.

Kakak!” suara Renjun bersemangat diseberang.

“Pipo! Pipo sedang bekerja? Kenapa sampai malam sekali?” tanya Sean.

Iya, sudah jadwalnya sampai malam. Maaf, Pipo tidak bisa jemput Kakak. Kakak sudah makan malam?

“Sudah, perutku sudah kenyang. Kakak makan banyak tadi. Pipo sudah makan malam?” Renjun menggelengkan kepalanya. “Tidak boleh seperti itu, nanti Pipo bisa sakit seperti Papo kalau banyak bekerja dan lupa makan,” lanjut Sean menasehati Renjun.

Nanti Pipo akan makan, janji. Ngomong-ngomong, sudah dulu ya Kak bicaranya. Pipo sudah harus bekerja lagi,” pamit Renjun.

“Pipo harus segera selesai sebelum semakin malam. Papo, ayo beri semangat untuk Pipo.” Sean mengarahkan ponsel Lucas agar keduanya terlihat dalam layar. “Semangat Pipo!” ujar keduanya pada Renjun.

Setelah panggilan dengan Renjun berakhir, Lucas berpamitan dengan Ibu panti untuk membawa Sean pulang. Banyak hal Ibu panti sampaikan pada Lucas. Sebelum-sebelumnya Ibu panti sudah pernah menyampaikan, namun dia menegaskan kembali.

“Saya memberikan Sean pada kalian berarti saya percaya pada kalian untuk menjaga Sean dengan baik, bahkan lebih baik daripada saya menjaga Sean. Tolong dijaga baik-baik, ya?” ujar Ibu panti.

“Pasti akan kami jaga dengan baik,” balas Lucas.

“Sean juga harus jadi anak yang baik, ya?” Sean menganggukkan kepalanya. “Peluk Bunda dulu boleh?” Sean berjalan ke arah Ibu panti dan memeluknya.

Keduanya beranjak pergi setelah berpamitan dengan Ibu panti. Sean tentu menangis ketika berpisah, begitupun Lucas yang pada dasarnya mudah terbawa suasana.


Lucas memberhentikan mobilnya sejenak di sebuah restoran untuk memesan makan malam untuknya dan Renjun. Tadi Sean memarahinya di mobil karena sama saja dengan Renjun yang melupakan makan malamnya. Lucas tidak sempat untuk itu, karena setelah pulang dari kantor, dia langsung meluncur ke panti tanpa ingat akan makan malam.

“Kakak juga mau?” tawar Lucas.

“Tidak, sudah penuh,” balas Sean.

Setelah pesanan mereka selesai, mereka segera meluncur ke tempat siaran Renjun untuk menjemputnya.

“Kakak tidak apa-apa menunggu? Atau kita pulang saja dulu, Kakak sudah mengantuk. Nanti biar Papo yang menjemput Pipo, bagaimana?” Lucas tidak tega melihat Sean yang memaksa matanya untuk tetap terbuka demi menunggu Renjun sedangkan dia sudah mengantuk.

“Tidak, Kakak mau menunggu Pipo,” tolak Sean.

“Yakin?” Sean mengangguk semangat. “Kalau Kakak mengantuk, tidur saja tidak apa-apa,” tambah Lucas.

“Tapi janji bangunkan Kakak kalau Pipo sudah selesai.” Sean mengajukan kelingkingnya untuk membuat janji dengan Lucas.

“Nanti dibangunkan.” Lucas menyatukan kelingkingnya dengan Sean berjanji.

Siaran Renjun berlangsung selama 90 menit, sekitar pukul setengah sepuluh lewat, dia telah keluar dari Gedung. Lucas yang mengetahui Renjun telah selesai pun perlahan membangunkan Sean karena dia sudah berjanji membangunkannya walaupun tidak tega, dia harus menepatinya atau dia bisa marah keesokan harinya.

“Kakak, pelan-pelan bangunnya. Pipo sudah selesai. Susah ya buka matanya?” Lucas terkekeh pelan melihat Sean yang menggeliat dan berdeham tanpa membuka matanya, dia sedang berusaha membuat matanya terbuka.

Renjun terlonjak ketika membuka pintu mobil dan mendapati Sean yang tertidur di sana. Matanya menatap Lucas penuh tanya karena membawa Sean menjemputnya.

“Anaknya ngotot ikut jemput kamu. Minta dibangunin tapi kayaknya matanya udah lengket banget,” ujar Lucas.

“Tidak,” ujar Sean begitu lirih, dia masih setengah sadar.

“Kakak tidur saja, terima kasih sudah ikut menjemput Pipo.” Renjun mengelus kepala Sean lalu menutup pintu mobil dan dia masuk ke jok belakang.

Renjun mengambil bantal di mobil Lucas dan meletakkannya diantara kepala Sean yang menyandar kaca mobil.

“Gege beli makan?” tanya Renjun yang melihat kantong berisi makanan di jok belakang.

“Iya, kamu kan belom makan,” balas Lucas yang mengemudi.

“Gege udah makan emang?” Lucas menggelengkan kepalanya. “Pantes banyak ini makanannya. Tapi nggak baik katanya makan jam segini,” lanjut Renjun.

“Udah janji loh buat makan malam sama Sean, jangan diingkarin,” balas Lucas.

“Iya, nanti makan.”

CW // Dark joke

Halaman rumah Lingga telah rapi dengan sebagian barang untuk berkemah nanti, tinggal menunggu teman-temannya datang. Wira, Papi Lingga, begitu antusias atas acara Lingga. Sebetulnya daripada Lingga, Wira lah yang lebih mengurusi persiapan acara itu dibantu Mas Galih dan yang lainnya. Bahkan Wira merelakan terlambat ke kantor demi menyambut teman-teman Lingga.

“Mas Galih, tolong di depan ya. Nanti temannya Mas Lingga yang dateng langsung diarahkan ke sini aja. Yang bawa kendaraan nanti dimasukno garasi sekalian. Kamu bawa golf cart buat bawa mereka ke sini,” tukas Wira.

Lingga hanya memperhatikan Wira yang sibuk sendiri. Jarang sekali dia melihat Wira dengan pakaian santainya turun tangan sibuk mempersiapkan acara anaknya. Pemandangan seperti ini lama tidak dia dapatkan, entah sudah berapa tahun.

Senyum Wira terpancar melihat tiga golf cart yang membawa teman-teman Lingga berjalan menuju halaman. Mereka satu persatu menjabat tangan Wira setelah turun dari golf cart.

“Loh ini yang biasa futsal sama Mas Lingga kan ya?” tanya Wira yang mendapat anggukan dari Maheswara, Handaru, Jagat, dan Sagara. “Di situ keliatan kan ada bagian lapangan golf yang dibongkar. Itu nanti bakal jadi lapangan futsal, kalian kalau main ke sini aja daripada sewa tempat,” tambahnya.

“Yang ini Papi tahu, Raksa. Yang lain siapa?” Satu persatu dari mereka mengenalkan diri pada Wira.

Lingga diam karena tiba-tiba dia merasa curiga dengan Wira. Dia tidak pernah memberitahu siapa yang bermain futsal dengannya, namun lelaki itu tahu.

“Mas Galih, tolong foto saya sama anak-anak,” pinta Wira.

“Ngapain foto segala?” sahut Lingga.

“Papi harus mengabadikan ini, jarang loh kamu bawa temen ke rumah sebanyak ini bahkan sampe nginep. Biar kenang-kenangannya nggak cuma dalam pikiran aja,” jelasnya.

Semua berbaris untuk foto bersama menuruti permintaan Wira. “Mas Galih, satu lagi foto saya sama Raksa dan Mas Lingga. Pakai handphone saya aja, mau saya kirim ke papanya Raksa,” ujar Wira setelahnya dan memberikan ponselnya.

Raksa merasa canggung foto bertiga dan untuk apa berfoto untuk dikirimkan ke papanya, dia merasa foto itu tidak berguna. Sedangkan Lingga hanya pasrah mengikuti apa yang diminta Wira.

“Mas, nanti bilang loh kalau ada apa-apa. Mas Galih stay di rumah, nanti kalau butuh mendadak minta bantu Mas Galih,” lanjut Wira pada Lingga.

“Iya,” balas Lingga.

“Kalian have fun ya di sini. Nanti kalau butuh apapun, bilang Mas Lingga. Saya tinggal dulu ya,” pamit Wira.

Setelah kepergian Wira, seluruh pandangan tertuju pada Lingga dan Raksa mentap curiga pada keduanya.

“Fotoin Mahes sama Heksa dong, mau gue kirim ke mamanya Heksa,” celetuk Yaksa menyindir kejadian sebelumnya.

“Apa lo liatin gue? Mau banget lo foto sama gue? Gak usah ngarep. Sawan ntar mama gue liat muka lo,” ujar Heksa ketus pada Mahes.

“Pede lo gue ngarep,” sahut Mahes.

“Mami lo nggak di rumah, Ga? Gue pikir bakal ketemu.” tanya Raksa tak memedulikan keributan Mahes dan Heksa.

“Nggak. Jangan sampe ketemu,” balas Lingga.

“Beneran serem kayaknya mami lo,” ujar Raksa.

“Iya, serem. Udah tak kasat mata soalnya, kalo lo sampe ketemu patut dipertanyakan sih antara lo bisa lihat atau loㅡamit-amit deh jangan dulu lah lo.”

Raksa terdiam sejenak mendengar balasan Lingga. Lelaki itu mengucapkan dengan wajah cengengesan, berbanding terbalik dengan arti ucapannya.

Sorry, gue gak seharusnya nanya. Duh, mulut gue.” Raksa menampar mulutnya sendiri.

“Gapapa, ngapain lo minta maaf. Lo dari kemaren masih kepikiran aja sama omongan mereka yang bilang serem. Ngapain coba lo pikir banget,” balas Lingga.

“Ya lo bayangin aja main ke rumah temen tapi ortunya galak. Yang ada bukan main, tapi tertekan,” terang Raksa.

“Asik amat ngobrol berdua, bantu bangun tenda anjing,” tukas Handaru. “Lo juga Hes sama Heksa, gue timpuk stick tenda berantem gak kelar-kelar,” tambah Handaru.

“Anjing, gue lupa bawa bantal,” celetuk Nares.

“Ada bantal di rumah ini, lo ambil aja dari sana gapapa,” sahut Lingga menunjukkan Nares untuk mengambil bantak di rumah yang sebelumnya dipakai mbak di rumah Lingga.

Sabtu petang, Haben dan Raven menepati janji mereka untuk car camp. Daripada pantai, mereka memilih di area campgrounds. Banyak hal keduanya perbincangkan dalam perjalanan menuju campgrounds. Mulai dari mengingat kelengkapan barang mereka, hal apa yang perlu dibeli sebelum sampai, pekerjaan mereka, dan bahkan sampai hal-hal tidak jelas di jalan mereka bincangkan.

Mereka memilih area yang tidak terlalu dekat dengan banyak orang karena niat mereka mencari ketenangan. Setelah mendapatkan tempat, keduanya segera mendirikan tenda. Raven baru tahu bahwa tenda untuk car camp itu ada. Haben yang mendirikan tenda dan Raven yang menata tempat mereka tidur.

I think I've seen this film before And I didn't like the ending I'm not your problem anymore So who am I offending now? You were my crown Now I'm in exile, seein' you out I think I've seen this film before So I'm leavin' out the side door

Exile – Taylor Swift

Raven melantunkan lagu tersebut sembari menata. Entah sengaja melantukan lagu itu atau tidak, lantunan lagu itu membuat Haben terhenti sejenak mencerna lirik yang baru dilantunkan Raven.

“Be,” panggilan Raven memecah lamunan Haben.

“Kenapa?” balas Haben gelagapan.

“Gantiin pompa bentar,” ujar Raven yang letih memompa bed.

“Sini, kamu istirahat aja.” Haben menggantikan Raven memompa.

Raven memilih duduk sembari minum melepas dahaga. Berada di alam seperti ini sungguh menenangkan, sekeliling terlihat segar, begitupun udaranya. Dia tidak mengira kalau Haben mengingat bahwa dia menginginkan hal ini.

“Be, mau makan nggak?” tawar Raven. Dia mencari kegiatan agar tidak diam saja dengan memasak.

“Mau lah,” balasnya.

Toast mau?” tawar Raven lagi.

Anything from you,” balas Haben.

Haben memandangi Raven yang tengah membuat toast dari samping. Memorinya tentang mereka sebelumnya terlintas dalam pikiran Haben. Dahulu, Haben suka sekali mengganggu Raven memasak, entah sekedar menggodanya atau menggelendoti Raven, terkadang dia juga membantu daripada menganggu.

“Be, gue lupa!” teriak Raven menoleh ke arah Haben.

“Apa?” tanya Haben yang langsung turun dari bed karena panik.

“Telurnya gue dadar, lo nggak terlalu suka ini,” ujar Raven setelahnya.

“Kirain apa. Gapapa, udah kamu bikin pasti aku makan. Didadar atau enggak itu tetep telur, rasanya sama.” Haben mengambil satu toast buatan Raven.

Sorry, gue baru inget,” maaf Raven.

“Ini bukan kesalahan dan kamu nggak perlu minta maaf. Aku juga nggak minta kamu buat bikin sunny side up, itu bukan kesalahan.” Haben mengelus surai Raven.


Mega mendung telah hilang digantikan langit yang gelap. Raven dan Haben tengah duduk dengan api unggun di depan mereka.

“Ven, mau aku peluk nggak?” celetuk Haben di tengah keheningan mereka.

“Lo beneran mau modus ya?” Raven merubah posisinya menatap Haben. “Ngaku lo ngerencanain aneh-aneh kan? Gue tidur di kursi kemudi nanti,” lanjutnya.

“Kan aku udah bilang mau modus. Aneh-aneh yang kamu maksud itu apa? Pikiranmu yang aneh-aneh,” balas Haben.

Raven mengiyakan balasan Haben dalam hati. Dia sudah mengatakan hal itu sebelumnya, pemikirannya saja yang yang terlalu negatif pada Haben.

“Aku nggak akan berhenti sampai kamu menutup harapan buat aku, Ven. Selama itu, permintaanku buat kamu kembali bakal terus berlaku,” tambah Haben.

“Kalau gue nggak pernah menutup harapan tapi nggak mau balik sama lo? Lo nggak capek nunggu terus?” Haben tersenyum tipis atas pertanyaan itu.

“Mungkin aku kecewa sama kamu. Dan mungkin nanti aku bisa capek karena terus kamu abaikan. Harapanku sampai hari ini masih tinggi,” jawab Haben.

Bagi Raven yang mengecawakan dari Haben adalah bagaimana cara dia melepaskannya, itu tidak pernah ada dalam bayangannya. Sadar atau tidak, dia melewati masa pendewasaan diri bersama Haben. Karena Haben mengecewakannya seperti itu, Raven menjadi sering memandang Haben negatif walau nyatanya tidak begitu. Terbukti beberapa dugaannya tentang Haben itu tidak benar, tentang memiliki hubungan dengan orang lain salah satunya. Haben tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan orang lain setelah melepaskan Raven. Raven menyita tempat besar dalam pikiran dan hatinya, bahkan sampai hari ini.

“Kalau kita kembali, aku juga nggak mau akhir yang sama. Itu kesalahanku yang nggak mau aku ulang lagi,” tambah Haben lagi.

“Gue perlu waktu buat jawab permintaan lo, tapi jangan ditunggu. Kalau lo mau lepas gue sebelum ada jawaban dari gue, silahkan,” balas Raven.

“Jangan kamu ambil beban, aku nggak nuntuk kamu harus kembali. Aku persiapin diri untuk sama kamu lagi dan melepas kamu kalau kamu nolak,” ujar Haben.

Rasa ragu Raven masih ada. Dia takut akan akhir yang sama ketika kembali bersama Haben, namun yang belum selesai harus diselesaikan bukan?

Raven enggan memejamkan matanya, dia sibuk memandang Haben yang tengah terlelap menghadapnya. Badannya tergerak maju mendekati Haben, tangannya menarik selimut untuk menghangatkan mereka, dan setelahnya Raven memeluk tubuh Haben dan menyusul lelaki itu untuk lelap dalam tidurnya.

Malam ini diramaikan dengan perayaan kelulusan Haben. Hanya dihadiri oleh Raven, Jenggala, dan Yungga yang akan datang bergabung juga.

Kata Haben, kelulusannya adalah berkat dari Raven, namun yang disebut menolak hal itu. Kelulusan Haben bagi Raven adalah karena dirinya sendiri, dia hanya berpartisipasi sedikit untuk membantu.

Raven memuji kerja keras Haben mengerjakan skripsinya hingga akhirnya lulus. Baru-baru ini, Raven mengetahui alasan Haben terlambat menyelesaikan skripsinya, dan itu bukan hanya karena dia. Yang ada dipikiran Haben saat itu tumpang-tindih begitu banyak. Dari berbagai sisi meminta otaknya untuk berpikir keras yang menjadikannya emosional dan mengalami perubahan kognisi. Hal itu membuat dirinya tidak terkontrol. Bisa dikatakan saat itu Haben mengalami stress.

“Ngapain sih?” tanya Raven pada Haben yang secara tiba-tiba memeluk dirinya.

“Boleh ya? Bentar aja,” balasnya.

Raven tak bergeming membiarkan Haben memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipundaknya. Pelukan itu yang selama ini dia rindukan, pelukan yang hangat dan nyaman dari Haben.

“Abe...”

Raven hendak memutar tubuhnya menghadap Haben namun berhasil ditahan Haben sehingga Raven tetap pada posisinya. Pundak Raven merasakan basah yang dia yakini adalah air mata seseorang yang tengah memeluknya saat ini.

Ven, I'm sorry for the past. Itu semuaㅡ”

“Lo bisa stop bahas itu? Stop bahas masa itu yang udah jadi kenangan, itu cuma akan mendramatisir situasi, Be. You know I'm fine. Sekarang gue sama lo, I'm here for you. Lihat ke depan, Abe.” Raven memutar tubuhnya menghadap Haben. “Apa yang mau lo denger dari gue?” lanjutnya.

I still feel guilty for you.

Change it.” Manik Haben menatap Raven yang tengah menatapnya. “I'd rather you feel love me than feel guilty for me,” lanjut Raven.

Senyap menerpa keduanya yang saling melempar pandang. Keduanya disaksikan oleh Jenggala dan Yungga yang telah sampai di sana. Kedua anak itu tidak begitu jelas mendengar pembicaraan Raven dan Haben karena keduanya berada menjauh dari mereka, memberikan ruang privasi mereka.

“Kamu bercanda?”

“Gue serius.”


Perayaan kelulusan Haben dihabiskan dengan makan dan bermain game. Raven, Jenggala, dan Yungga menjajah kamar Haben. Haben membiarkan Jenggala dan Yungga menguasai PS miliknya karena dia memilih merakit lego dengan Raven. Dia mengoleksi lego, namun banyak yang belum dia rakit.

Kedua tangan Haben kini hanya menggantung diam karena dia tengah terfokus dengan Raven. Maniknya memperhatikan raut Raven yang semakin lama semakin turun kesabarannya. Haben menunggu saat Raven meledak karena habis kesabarannya.

Bersamaan dengan Raven yang meledak karena sudah habis kesabarannya, Haben menertawakan Raven. Rengekan keluar dari Raven karena susah sekali merakitnya dan ketika ada bagian yang salah, terkadang sulit melepaskannya, itu membuatnya semakin kesal.

“Be, lepasin ini,” ujar Raven dengan nada pasrah meminta Haben membantunya melepaskan bagian yang salah.

“Gak sabaran sih ngerakitnya,” balas Haben sembari melepaskan bagian lego yang salah.

“Lo rakit sendiri aja deh, udah males gue.” Raven melemparkan dirinya ke kasur Haben.

“Aku juga males.” Haben menyusul Raven dan memeluk tubuh Raven yang tengkurap di sana.

“Gue lempar stick ya lo berdua aneh-aneh,” ancam Yungga. “Lo yang ada jual mahalnya kek, Ven. Dialusin dikit udah nempel aja,” lanjutnya.

“Kalo Ravennya gampang, udah balikan dari dulu kali mereka. Sekarang sih nempel-nempel doang balikan kagak,” sahut Jenggala.

Yungga dan Jenggala tertawa dengan perbincangan mereka, sedangkan yang diperbincangkan hanya diam tak menanggapi.

Sudah hampir 30 menit Lingga menunggu dengan perasaan aneh yang campur aduk karena Papa Raksa memanggilnya tiba-tiba. Raksa pun juga tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh sang Papa. Keduanya bermain game untuk menngurangi kegugupan mereka.

“Asik banget mainnya sampe kedengeran suaranya dari luar,” celetuk Cakra, Papa Raksa yang baru saja datang.

Lingga dan Raksa seketika menyudahi permainan mereka dan duduk sigap. Tawa ringan Cakra muncul melihat tingkah mereka.

“Saya baru tahu kalau kamu anaknya Mas Wira, Ga. Nggak ngira juga sebelumnya yang saya telepon itu Mas Wira, waktu itu nggak tanya-tanya nama dan nama kontaknya nggak ada nama dia.”

Senyum tipis Lingga berikan. Dia sedikit malu mengingat nama kontak papinya yang diketahui orang. Pasalnya itu terlihat aneh bagi beberapa orang.

“Kenapa kamu pilih masuk SMK, Ga?” tanya Cakra.

“Papi yang minta tapi ya dijalanin aja selama mumpuni,” balasnya.

“Kamu nggak sayang apa dari SD di lab school terus malah ke SMK?” Raksa mengkerutkan dahinya heran dengan Cakra yang tahu hal itu.

Lingga menggelengkan kepalanya, “Saya tahu nanti bakal ambil jurusan arsitektur dan di SMK ada jurusan gambar bangunan, kalau bisa dimulai lebih awal kenapa enggak. Waktu kuliah nanti udah tahu dasarnya, tinggal lanjutin aja,” terang Lingga.

Jujur, Raksa tidak berekspektasi Lingga berkata seperti itu seolah dia benar-benar menginginkan masuk dalam arsitektur. Yang Raksa tahu, Lingga tidak benar-benar niat di SMK dan menginginkan berada di bangku SMA. Tugas jurusan saja meminta orang lain mengerjakannya.

“Dari SMK bukannya sulit nanti ke perguruan tinggi? Pelajaran umum cuma dasarnya kan yang diajarkan?” tanya Cakra lagi.

“Ada yang namanya bimbingan belajar, itu bisa jadi alternatif. Banyak bimbingan belajar dengan pemateri yang bagus dan mereka membantu murid untuk masuk ke perguruan tinggi,” balas Lingga.

“Jadi dua kali belajar ya,” ujar Cakra.

“Iya, dua kali belajar. Outputnya nanti pinter jurusan dan pengetahuan umum.”

Raksa mengakui Lingga pandai berbicara. Dia mungkin sudah kelu untuk membalas sang Papa yang menatap mengintrogasi.

Wanda, mama Raksa yang baru datang ikut bergabung dengan mereka. Dia menunjukkan berkas pada Raksa yang sudah dia tebak apa isinya dengan melihat map bertuliskan nama sebuah SMA.

Meleset. Tebakan Raksa meleset dan sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada didalamnya. Benar, surat pengunduran diri sebagai calon siswa SMA. Orangtua Raksa sebelumnya sudah membeli bangku di SMA dan mengurus surat pengunduran dari SMK.

“Serius ini?” Raksa memastikan.

“Serius, Asa. Kok nggak seneng gitu mukanya? Katanya mau di SMK aja,” balas Wanda.

Lingga yang berada di sebelah Raksa ikut terkejut mengetahui hal itu. Keinginan Raksa telah didukung orangtuanya.

“Aku nggak sekolah dong ini? Kan udah mengundurkan diri dari SMK,” bingung Raksa.

“Surat pengunduran diri kamu masih ada tuh di kamar Mama, belum dikirim ke sekolah,” ujar Wanda. “Lihat Lingga, Mama rasa pilihan kamu buat masuk SMK itu nggak salah. Kamu juga punya bakat di sana. Janji buat belajar yang rajin ya, Sa?” tambahnya.

“Asa, beruntung kamu di SMK ketemunya sama Lingga. Papa nggak bisa bayangin kalau kamu temenan sama berandalnya atau kena rundungan mereka. Lingga, kamu juga yang rajin belajarnya di sekolah, dikurangi mainnya sampai larut kayak sebelumnya. Nggak baik, Mas Wira itu khawatir loh,” sahut Cakra.

Akhirnya Raksa mendapatkan persetujuan masuk di SMK. Bualan-bualan Lingga membuahkan hasil meyakinkan orangtuanya. Dia berterima kasih banyak pada Lingga.

Manik Lingga kini tak lepas dari Raksa yang berguling kesana-kemari di ranjangnya dengan tertawa bahagia. Senyumnya tersungging melihat kebahagiaan Raksa.

“Seneng banget lo,” celetuk Lingga lalu memakan buah stroberi.

“Gue nunggu ini dari lama dan akhirnya mereka sah nerima keputusan gue di SMK. Omongan lo bagus banget jawab pertanyaan Papa tadi, udah kayak bocah niat,” balas Raksa.

“Gue niat.”

“Niat darimana? Kerjain tugas lo kalo niat,” balas Raksa. “Tapi nanti gue gak dapet duit kalo lo niat,” lanjutnya.

“Nah itu tau. Tapi gue beneran niat sih mulai satu jam yang lalu,” balas Lingga.

“Bentar lagi juga udah nggak niat lagi lo. Gue bantu protes Papi lo gimana? Biar lo bisa di SMA kayak yang lo mau.” Raksa memposisikan dirinya duduk ditepian ranjang menghadap Lingga yang duduk di kursi belajarnya.

“Gaya lo. Yakinin ortu lo aja gak bisa malah mau bantu gue. Gue niat beneran di SMK mulai satu jam yang lalu,” balas Lingga.

“Kocak lo.” “Bagi buahnya, enak banget lo abisin.”

Alih-alih mendapat storberi, Raksa hanya dilempari bintik hitam stroberi oleh Lingga. Raksa sudah menatap Lingga kesal.

“Pinter tapi buah aja gak ngerti, ini biji.” Raksa menunjukkan bintik hitam stroberi yang tadi dilempar Lingga dengan jarak yang dekat dari mata Lingga. “Ngapain lo ketawa? Lucu?”

“Ya itu buahnya, lo minta buah kan?” balas Lingga dengan tertawa.

“Buta mata lo? Ini biji,” protes Raksa.

“Stroberi itu buah semu. Yang biasa dimakan, merah-merahnya ini tuh mahkota bunga yang ngembang, buahnya ya bintiknya itu. Dibuka ya buku biologinya,” balas Lingga dengan menepuk-nepuk kepala Raksa pelan.

“SMK gak ada bio, gak punya buku gue.” Raksa menyahut stroberi dengan tangannya lalu melahapnya.

Sebuah rumah pohon merupakan art studio milik Raven. Tempat dimana dia begitu suka menghabiskan waktu menyalurkan emosinya melalui lukisannya. Dia sudah cukup jarang ke sini, dan hari ini dia datang kembali. Keputusan dia mengajak Haben berbincang di situ karena jauh dari keramaian, sehingga jika mungkin dia kelepasan atas amarahnya tidak akan mengganggu sekitar.

Raven justru begitu gugup ketika langkah kaki seseorang menaiki tangga terdengar. Dia mempersiapkan dirinya untuk mendengar penjelasan Haben dan mengingatkan dirinya sendiri untuk hanya mendengarkan penjelasan Haben.

“Selamat malam, Ven. Lama ya?” Raven memberikan dehaman sebagai balasan.

“Gimana kerjaㅡ”

Explain,” potong Raven cepat.

Haben menghela napasnya mendengar sahutan Raven. Manik Raven sama sekali tak mengarah padanya.

“Gue minta maaf karena mengakhiri hubungan dengan cara yang gak bisa dibilang baik. Gue waktu itu berada diposisi ngerasa bener-bener gak pantes buat lo sampai pada akhirnya gue putusin lo dengan alasan skripsi karena gue gak tau mau mutusin lo kayak gimana karena hubungan kita baik-baik aja.” Tawa Raven terdengar disela-sela pembicaraan Haben.

“Lo mau bilang gue brengsek, bajingan, gue setuju. Gue sebodoh itu. Bahkan gue lebih bajingan karena sekarang gue mau kita balik lagi kayak dulu. Tempat lo masih sama, Ven. Bahkan perasaan gue buat lo masih sama, nothing has changed, kecuali kita yang jadi berjarak. Sedihnya, gue yang ngebuat jarak itu ada,” tambah Haben.

Haben menuturkan segalanya dan tak henti menyalahkan dirinya. Dialah yang memulai hubungan asing ini. Semua berawal dari ketakutannya atas dirinya sendiri yang merasa kurang untuk Raven.

“Lo nggak ngejelasin apapun, lo cuma ulangin omongan lo,” tukas Raven memecah keheningan yang sempat terjadi.

“Gueㅡ”

As i said before, semuanya udah jelas, Haben. Setuju, kalimat lo sibuk skripsi itu cuma alasan, cuz the fact is you're not interested to me anymore. Singkatnya lo udah nggak ada rasa sama gue,” potong Raven cepat.

Gagal. Raven gagal menahan dirinya untuk diam saja dan hanya mendengarkan. Batinnya memberontak ingin meluapkan apa yang ingin dia lontarkan pada Haben. Gejolak itu berhasil merobohkan tamengnya dan membuat Raven lepas.

“Kalau emang bener maksud lo kita 'break' sementara, kenapa yang lo lakuin seakan semuanya udah selesai? Lo blokir nomor gue, selalu hindarin gue, ngobrol atau kalau gak sengaja ketemu aja nggak nyapa. Bahkan, you was close with someone. Gue sempet kira 'break' antara kita cuma sementara, tapi yang lo lakuin itu udah cukup nyimpulin kalau kita udah selesai,” tambah Raven.

“Lo bilang ngerasa gak pantes buat gue bahkan kata lo kita putus karena itu dan sekarang lo dengan entengnya berharap kita balik? Lo tiba-tiba merasa pantes? Kocak lo brengsek.” Raven masih melanjutkan kalimatnya.

Diam. Haben terdiam mendengar ucapan Raven baru saja. Dia tidak berbohong perihal perasaannya pada Raven yang sama, namun atas segala sikap bodohnya, itu membuat Raven tak percaya.

Rasa tidak pantas dalam diri Haben muncul ketika melihat teman-teman Raven yang sering menemani itu lebih baik dari dirinya. Raven yang berprestasi, banyak pengalaman organisasi, mempunyai banyak relasi, dan banyak hal dari diri Raven yang berada diatas Haben itu menjadi titik Haben merasa benar-benar tidak pantas.

Sorry, i ruined everything,” ujar Haben.

“Kenapa lo ngerasa gak pantes saat itu?” tanya Raven dengan nada rendah.

“Gue jauh dibawah lo dari segala aspek. Gak mungkin gue minta lo setara sama gue,” balas Haben.

“Sekarang kita setara?” tanya Raven lagi.

No, you're still higher.” Raven tertawa mendengarnya.

“Kenapa lo tiba-tiba pengen balik sama gue? Kata lo kita gak setara?” Haben menunduk diam tanpa jawaban.

“Gue gak tau segala aspek yang lo maksud itu apa, tapi yang jelas alasan lo aneh buat gue. Hubungan kita bukan yang cuma satu-dua tahun, dari SMA kita pacaran dan putus cuma karena skripsi. Kalo lo merasa gak pantes, kenapa lo dari awal mau sama gue? Lo ngerasa gak pantes tiba-tiba itu gak mungkin, itu pasti ada dari awal.”

“Bener, itu ada dari awal. Gue pikir itu cuma kecemasan gue diawal, nyatanya sampai saat itu malah semakin tinggi. Gue juga seringkali mikir kenapa lo mau sama gue, apa lo gank malu punya pacar kayak gue, dan banyak lagi,” ujar Haben dengan manik yang tak berani menatap Raven.

“Banyak kalau alasannya dijabarin, you was my best sebelum gue tau lo mutusin gue karena ego lo. Kalau gue malu punya lo, daridulu juga gue gak akan terima lo. Pikiran-pikiran lo itu sebenernya bisa dibicarain dan lo memutuskan diam dan ambil keputusan sendiri,” balas Raven.

“Iya, gue seharusnya gak kepikiran buat balik sama lo. Itu cuma nunjukin gue beneran brengsek dan bajingan gak tau malu,” tukas Haben.

“Ben, lihat gue kalo ngomong.” Haben menegakkan duduknya dan menatap Raven didepannya.

“Maaf, terlalu banyak omongan gue hari ini yang nyakitin lo kayaknya.” Haben menggelengkan kepalanya. “Gak salah lo kepikiran mau balik sama gue, tapi lo harus pikirin bener-bener tentang itu. Kita bisa mulai lagi dari awal, tapi gue gak berharap akhir yang sama,” tambah Raven.

Haben terkejut mendengar ucapan Raven baru saja. Dia mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Raven. Batinnya bertanya nyata atau tidaknya ucapan anak itu.

Di ruangan Haben, tidak ada sama sekali perbincangan hangat antara keduanya. Hanya sesekali Raven mengarahkan dimana meletakkan pernak-pernik dan Haben yang berusaha mendapat atensi Raven namun hasilnya nihil. Raven harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini karena dia tidak mau jika besok masih bertemu dan berurusan dengan Haben.

“Lah kok ilang?” teriak Haben membuat Raven mengalihkan pandangannya kepada Haben.

“Apa?” sahut Raven bertanya.

“Gue inget banget di meja ini ada foto kita, kenapa gak ada?” Wajah Haben sungguh menunjukkan kepanikan seolah itu sangat penting baginya.

Raven tidak habis pikir dengan Haben yang sebegitu paniknya dengan foto yang hilang. Yang menghilangkan foto tersebut tidak lain adalah Raven, dia secara sengaja melepas foto itu.

“Saya hanya membantu membereskan, itu sudah seharusnya hilang. Mungkin anda lupa membereskan itu, jadi saya bantu membuangnya,” jelas Raven santai.

Raut Haben tidak menunjukkan baik-baik saja dengan balasan Raven. Foto yang dia jaga dengan ringannya dibuang oleh Raven seolah itu tak ada artinya.

“Punya hak apa lo ngebuang itu? Seharusnya lo tanya gue dulu, jangan seenaknya buang barang orang.” Haben tak bisa menahan emosinya yang meninggi ketika berbicara.

Fine, lo ngebuang itu. Then you should be responsible, Raven,” lanjut Haben dengan menunjuk tegas Raven.

“Saya meminta maaf perihal membuang tanpa bertanya. Tapi saya ada dalam foto itu dan saya tidak mau anda menyimpannya. Saya tetap memiliki hak untuk membuang foto itu,” balas Raven dengan argumen tak mau kalah.

“Gue juga ada disitu, lo gak bisa seenaknya kayak gitu,” protes Haben.

“Buat apa lo nyimpen itu kalau kita udah selesai? Kenapa lo semarah itu kalau fotonya ilang? Kenapa? Gue tanya, kenapa?” Raven sudah cukup menahan dirinya dan kali ini dia melepaskannya.

“Selesai? Kita belom selesai, Raven. We just take a break.

Raven tersenyum miris mendengar ucapan Haben baru saja. Haben saat ini begitu brengsek dimatanya.

At first, I thought we were just taking a break. But actually we're not just taking a break, we actually broke up. Kita selesai, Haben,” balas Raven.

“Enggak, pikiran lo salah.”

“Salah? Break yang lo maksud itu putus alias selesai, Haben. Kalaupun we're just taking a break, that 'break', ujungnya juga sama, selesai. Itu cuma nunda putus aja.”

Okay, let me explainㅡ”

“Besok silahkan ke kantor buat finalisasi. Pekerjaan kita selesai, terima kasih.” Tanpa mau mendengar apa yang ingin dikatakan Haben, Raven memilih menyudahi pembicaraan mereka.

Rumah Haben hari ini sepi, hanya terdapat pekerja harian di rumah Haben yang tadi menyambut kehadiran Raven dan rekannya. Mereka mengosongkan terlebih dahulu ruangan Haben dan memindahkannya ke ruangan kosong disebelahnya sesuai petunjuk dari Haben.

Beruntung hari ini Raven dapat membawa lebih banyak anggota daripada biasanya. Dia mengetahui pekerja yang longgar segera mengangkutnya. Selain agar pekerja tetap memiliki pekerjaannya, Raven juga ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dengan Haben.

Raven sempat tertegun melihat meja di ruangan Haben yang hendak dia pindahkan ke ruangan sebelah. Foto stiker yang dia dan Haben ambil saat masih berkencan tertempel apik pada meja tersebut dengan goresan tinta dari Haben yang membuat bentuk hati diatas kepala Raven. Hal itu memunculkan pertanyaan di kepala Raven.

Hari ini Raven dan sebagian pekerja mengecat ulang ruangan dan sebagian merombak rak menjadi laci ranjang. Mereka mengerjakan hingga pukul lima sore, namun Haben belum kunjung datang. Raven pada akhirnya meminta pekerja untuk pulang terlebih dahulu dan dia menunggu Haben untuk penandatanganan surat perjanjian kerja serta laporan pekerjaan hari ini.


Sekitar pukul setengah tujuh, Haben pulang dan menemukan Raven yang terduduk di sofa rumahnya dengan mata terpejam. Raven beberapa kali menghubunginya tadi, namun dia sibuk dengan bimbingannya dan tidak bisa menjawab panggilan Raven.

Jemari Haben menyibakkan rambut Raven yang menutupi sebagian wajahnya. Matanya lamat-lamat memperhatikan lelaki yang tengah tertidur itu. Pergerakan tubuh Raven membuat Haben menegakkan duduk dan mengubah rautnya.

Sorry, lo nunggu gue lama,” tukas Haben ketika Raven telah kembali dengan kesadarannya.

“Saya yang perlu meminta maaf karena tertidur di sini,” balas Raven mengherankan Haben. “Ini surat perjanjian kerjanya, dan pekerjaan hari ini sudah sampai 65%, besok bisa dipastikan selesai,” tambah Raven.

Haben tak memberi balasan dan membaca surat perjanjian kerja dan membubuhkan tanda tangannya di sana. Raven memberikan satu surat perjanjian kerja pada Haben yang dia cetak dua rangkap.

“Habis ini lo ke mana?” tanya Haben.

“Tentu saja pulang.” Raven seakan tak mengindahkan permintaan Haben sebelumnya yang meminta dirinya berbicara santai.

“Gue ikut.” Mata Raven menatap heran dan penuh tanya pada Haben. “Kamar gue gak bisa dipake, boleh kan gue nginep di tempat lo hari ini?” terang Haben.

“Apa anda tidak tahu malu meminta hal itu?” balas Raven dengan pertanyaan baru. “Banyak ruang di rumah anda, tidak perlu mengungsi ke rumah orang lain. Terlebih lagi ke rumah orang yang baru kamu kenal.” Haben tersentak dengan kalimat terakhir Raven.

“Kita gak seasing itu, Raven. Perlu gue ucapin lebih kenceng biar lo denger?” Raven tertawa remeh mendengarnya.

Bagi Raven, Haben sungguh lucu mengatakan hal itu padanya. Haben seakan lupa apa yang dia lakukan sebelumnya.

“Saya dengar, tidak perlu diulang. Anda tetaplah beristirahat di rumah. Kalau sungguh tidak ada tempat di rumah, menginap saja di tempat lain asalkan bukan tempat saya. Terima kasih atas waktunya hari ini, selamat malam,” balas Raven sekaligus berpamitan.

Haben seakan tak ada kuasa untuk menahan Raven meninggalkan rumahnya. Dia hanya memperhatikan punggung kecil itu perlahan hilang dari pandangannya.

“Raven, apa sejelek itu cara kita berpisah?” monolog Haben ketika Raven tak lagi dalam pandangannya.

Sambutan hangat diberikan orangtua Haben kepada Raven dan rekannya yang datang berkunjung. Gejolak rasa gugup dalam diri Raven sejenak surut sebelum Haben datang menyapa.

Terakhir kali Raven datang ke rumah ini adalah satu tahun lalu dan kini dia kembali datang ke sini sebagai orang asing. Tidak banyak yang berubah dari rumah ini, pun orangtua Haben yang masih bersikap sama dengannya seperti sebelumnya.

Melihat ruangan Haben, Raven tahu bahwa ruangan ini baru saja dibersihkan secara mendadak. Dengan melihat penataan barangnya saja Raven mengetahui hal itu. Dia membuyarkan pikirannya itu dan memfokuskan diri bekerja tanpa memperhatikan barang-barang yang berada di ruangan Haben secara detail.

Haben menyuarakan konsep ruangan yang diinginkannya dengan konsep industrial dan sebagian sisi ruangannya digunakan sebagai area game. Mendengar Haben menjelaskan hal itu, memori kenangan masa keduanya masih bersama justru terputar kembali dalam pikiran Raven. Dia berusaha menepis pikiran itu segera.

“Sisi barat nanti untuk area game, kalau di timur kurang pas. Pola geraknya orang sehabis mandi itu ganti baju, jadi almari tetap di sisi timur atau selatan berdekatan dengan kamar mandi. Kalau mau kurangin barang, rak di selatan bisa digusur. Penempatan barang di rak itu di rubah ke area bawah ranjang, jadi dibuat laci di bawah ranjang,” tukas Raven.

“Gue gak mau ganti ranjang, bakal melebihi budget gue kalau beli baru,” balas Haben.

“Tanpa beli ranjang baru bisa, rak yang di sini bisa kita remake untuk laci di bawah ranjang. Kayunya masih bagus, gak masalah kalau di reuse.” Haben mengangguk paham dan setuju karena budget yang dia miliki untuk merombak ruangannya tidaklah besar.

Mereka membahas lebih lanjut tentang konsep dan penataan ruang serta rencana pernak-pernik yang akan ditambahkan. Raven juga menggambar kasar sketsa bentuk ruangannya nanti untuk menjelaskan bayangan yang ada dalam pikiran.

Setelah semuanya pasti, Raven dan rekannya berpamitan kembali. Namun alih-alih dipersilahkan, orangtua Haben justru meminta mereka untuk makan terlebih dahulu.

“Lama banget loh Ven kamu nggak ke sini. Ternyata kamu sibuk kerja udahan. Doain ya Ven, semoga Haben cepet lulus. Kasian papanya yang bayar UKT, anaknya kayak gak ada semangat nyelesaiin kuliah,” tukas ibunda Haben.

Raven dan Haben tidak tahu harus bereaksi apa mendengar ucapan wanita itu. Raven hanya menunjukkan senyuman canggung dan Haben hanya diam saja.

Suara pintu apartment berbunyi menandakan pulangnya Renjun. Lucas seketika bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar dengan penuh harap Sean ikut bersama mereka.

“Sean nggak ikut, yang?” tanya Lucas sembari celingukan mencari Sean.

Surprise!” teriak Sean muncul dibalik pintu.

Senyuman Lucas merekah ketika Sean muncul di sana. Dia merentangkan tangannya membiarkan Sean datang masuk dalam pelukannya. Dengan posisi masih merangkul Sean, Lucas membawa anak itu masuk.

“Kangen banget deh sama kamu,” ujar Lucas sembari memeluk kembali Sean.

“Jangan sampai sakit makanya, nanti bisa main lagi,” ujar Sean dalam pelukan Lucas.

“Dengerin tuh, jangan sampe sakit. Nyuruh aku jaga badan sampe reschedule, malah yang nyuruh gak karuan.” Yang dimaksud Renjun hanya senyum tidak jelas.

“Kalian ngapain aja hari ini?” tanya Lucas.

“Main bola, kak Renjun mulai jago main bola. Tadi aku kalah dua kali lawan kakak. Kita juga gambar mural tadi. Gambar kak Renjun bagus banget, kak Lu kalau ke panti harus liat gambarnya, ada di tembok belakang. Paling serunya waktu Bunda ijinin kak Renjun buat ajak aku jenguk kak Lu. Kita tadi beli makanan banyak, aku bantu pilih tadi,” cerita Sean panjang.

“Kamu seneng main ke sini?” Sean mengangguk semangat. “Aku juga lebih seneng kalau kamu ke sini,” balas Lucas dengan kembali memeluk anak itu erat.

Renjun menyiapkan makanan yang dia beli bersama Sean tadi lalu mengajak kedua orang yang sibuk berpelukan itu berpindah ke ruang makan.

Mata Lucas dan Renjun seakan terbius oleh Sean. Keduanya terus memperhatikan bagaimana anak itu makan. Sean terlihat begitu bahagia ditengah keduanya.

Sean melihat Lucas tak kunjung makan pun berinisiatif menyuapi lelaki itu makan. Renjun melihatnya merasa cemburu karena dia tak mendapatkannya.

“Ada yang pengen disuapin juga. Lihat mukanya bete banget,” bisik Lucas pada Sean.

Lucas dan Sean tertawa kecil, membuat Renjun menatap keduanya bergantian.

“Ini buat kak Renjun.” Sean mengambil satu sendok makannya untuk diberikan pada Renjun.

Senyuman pun muncul dari wajah Renjun. Dia menerima suapan Sean dengan senang hati.


Ketiganya menghabiskan banyak waktu bersama hari ini. Makan bersama, bermain game, menonton film, dan bermain dengan peliharaan Lucas dan Renjun. Mereka tanpa sadar bersenang-senang hingga matahari telah berpulang dari beberapa jam lalu.

“Hari ini tidur di sini, ya?” tanya Renjun pada Sean.

“Boleh?” balas Sean dengan pertanyaan.

“Boleh,” jawab Renjun dengan menganggukkan kepala yakin. “Kakak udah ijin kok, kamu seharian di sini sama kita,” tambah Renjun membuat Sean merekahkan senyumnya.

Malam ini keduanya tidur dengan Sean berada diantara mereka. Awalnya Sean merasa canggung dan meminta tidur sendiri saja, namun keduanya meyakinkan bahwa tidak apa-apa dia ikut bersama mereka.

“Hari ini seneng nggak main di sini?” tanya Lucas.

“Senang, hari ini paling menyenangkan,” balasnya.

“Kamu suka di sini?” tanya Renjun yang mendapat anggukan bersemangat dari Sean.

“Kalau setelah ini kamu di sini sama kita, mau?” tanya Renjun lagi.

“Kakak mau bawa aku?” Lucas dan Renjun seketika saling bertatapan mendengar pertanyaan Sean.

“Kalau iya, kamu mau di sini sama kita?” ujar Lucas bertanya.

Sean diam tak menjawab pertanyaan Lucas. Namun tak lama dari itu, genangan air menutupi matanya dan hidungnya memerah. Dia mendongakkan kepalanya beberapa kali mengusahakan air matanya tidak turun.

“Gapapa, biarin air matanya turun,” ujar Renjun sembari tangannya mengusap puncak kepala anak itu.

“Dari dulu tidak ada yang mau bawa aku. Setiap ada yang datang ke panti, aku selalu ingin ikut mereka. Kalian tidak bohong kan ini?” ujar Sean dengan nada menahan tangisnya.

“Tidak bohong,” balas Lucas penuh yakin.

“Sungguh ingin aku?” tanyanya.

“Iya, kamu. Kamu mau di sini?” Lucas mengucapkannya dengan air mata yang ikut turun.

Sean tiba-tiba menampar pipinya dengan keras. Lucas dan Renjun jelas terkejut dengan tindakan anak itu.

“Jangan ditampar pipinya, sakit itu.” Renjun mengusap bagian pipi yang baru saja ditampar oleh anak itu.

“Ini bukan mimpi ya?” tanya Sean.

“Bukan, sakit kan pipinya kamu tampar sendiri,” balas Renjun.

“Aku suka di sini, aku senang kalau ternyata kakak yang bawa aku. Kalian baik, sayang sama aku dan teman-teman,” ujarnya dengan nada merendah di akhir. “Apa Bunda bilang boleh?” tambahnya bertanya.

Kini ganti Lucas dan Renjun yang terdiam. Keduanya sedang mencerna kata demi kata yang Sean lontarkan. Yang awalnya hanya Lucas yang menitiskan air mata, kini Renjun pun ikut menitiskan air matanya. Keduanya antara senang dan tidak menyangka.

“Boleh, kita sudah ijin dari lama, dia setuju,” jelas Lucas.

Mata Sean berbinar mendengar hal itu. Lucas dan Renjun berusaha mengendalikan air matanya agar tak mengacau.

“Kalau Bunda sudah setuju, aku tidak menolak. Aku juga suka dengan kalian, aku senang di sini,” ujar Sean.

Renjun seketika menciumi anak itu setelah mendengar ucapannya. Bahagianya membuncah hingga air mata bahagianya terus turun. Ucapan persetujuan Sean lebih membahagiakan daripada saat keduanya mendapat persetujuan adopsi.

“Terima kasih,” ujar Sean lagi.

“Kita yang berterima kasih karena kamu sudah setuju,” ujar Lucas mencium punggung tangan Sean.

“Sean, boleh kita minta sesuatu?” Sean menatap Lucas penuh tanya. “Jangan panggil kita kakak lagi, boleh?” Sean terlihat berpikir.

“Panggil apa?” tanyanya.

“Aku punya panggilan lucu, lebih bagus dari kakak. Panggil kak Lu papo dan kak Ren pipo, gimana?” Sean tertawa mendengar panggilan itu.

“Panggilannya aneh, ya?” tanya Renjun.

“Itu lucu,” balasnya. “Kalian juga tidak boleh panggil Sean, panggil aku kakak,” tambah Sean.

“Adek aja deh,” balas Lucas.

“Aku tidak menolak panggilan papo dan pipo. Aku sudah besar, aku itu kakak,” protesnya.

“Oke, kakak,” ujar Renjun.

Sean mendelik ke arah Lucas yang belum memberikan jawaban.

“Iya, kakak. Serem banget diliatin gitu,” ujar Lucas.

Malam itu ketiganya tidur dengan penuh rasa bahagia dan hangat.