Menjemput
Sementara Renjun beristirahat bersiap untuk siaran radio, pukul 7 malam Lucas sudah berada di panti. Panti terlihat sepi pada jam seperti ini, tidak ada anak-anak yang bermain diluar. Pada jam ini ternyata anak-anak baru selesai makan malam dan hendak bersiap untuk tidur.
Ibu panti meminta Lucas duduk di sofa terlebih dahulu sementara dia memanggilkan Sean. Lucas tidak bisa ikut menjemput ke ruangan Sean. Sebetulnya Lucas dan Renjun sempat berpikir untuk membuat perayaan kecil bersama anak-anak sebelum menjemput Sean, namun ibu panti menolak usulan mereka karena perayaan itu bisa menimbulkan rasa iri anak-anak lain, ucapan perpisahan dari Sean saja sudah cukup.
“Papo!” panggil Sean mengundang senyuman lebar Lucas.
Sean berjalan masuk ke dalam pelukan Lucas yang merentangkan tangannya. Lucas memberikan kecupan di puncak kepala Sean beberapa kali. Anak itu begitu bersemangat ketika Lucas datang menjemput, namun senyumnya mengecil ketika tak melihat adanya Renjun.
“Maaf, Pipo tidak bisa ikut jemput Kakak. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga, tidak apa-apa 'kan?” ujar Lucas memahami senyuman Sean yang mengecil.
“Tidak bohong?”
“Untuk apa bohong. Kita telepon Pipo mau tidak? Kita kasih dia semangat supaya kerjanya cepat selesai, mau?” Lucas membuka ponselnya bersiap menelepon Renjun.
“Mau!”
“Kakak jangan pakai muka sedih kalau mau telepon Pipo, nanti jadi ikut sedih Pipo. Senyum dulu dong, Kak,” pinta Lucas.
Sean menunjukkan senyumnya dan Lucas segera menelepon Renjun sebelum dia memulai siarannya.
“Kakak!” suara Renjun bersemangat diseberang.
“Pipo! Pipo sedang bekerja? Kenapa sampai malam sekali?” tanya Sean.
“Iya, sudah jadwalnya sampai malam. Maaf, Pipo tidak bisa jemput Kakak. Kakak sudah makan malam?“
“Sudah, perutku sudah kenyang. Kakak makan banyak tadi. Pipo sudah makan malam?” Renjun menggelengkan kepalanya. “Tidak boleh seperti itu, nanti Pipo bisa sakit seperti Papo kalau banyak bekerja dan lupa makan,” lanjut Sean menasehati Renjun.
“Nanti Pipo akan makan, janji. Ngomong-ngomong, sudah dulu ya Kak bicaranya. Pipo sudah harus bekerja lagi,” pamit Renjun.
“Pipo harus segera selesai sebelum semakin malam. Papo, ayo beri semangat untuk Pipo.” Sean mengarahkan ponsel Lucas agar keduanya terlihat dalam layar. “Semangat Pipo!” ujar keduanya pada Renjun.
Setelah panggilan dengan Renjun berakhir, Lucas berpamitan dengan Ibu panti untuk membawa Sean pulang. Banyak hal Ibu panti sampaikan pada Lucas. Sebelum-sebelumnya Ibu panti sudah pernah menyampaikan, namun dia menegaskan kembali.
“Saya memberikan Sean pada kalian berarti saya percaya pada kalian untuk menjaga Sean dengan baik, bahkan lebih baik daripada saya menjaga Sean. Tolong dijaga baik-baik, ya?” ujar Ibu panti.
“Pasti akan kami jaga dengan baik,” balas Lucas.
“Sean juga harus jadi anak yang baik, ya?” Sean menganggukkan kepalanya. “Peluk Bunda dulu boleh?” Sean berjalan ke arah Ibu panti dan memeluknya.
Keduanya beranjak pergi setelah berpamitan dengan Ibu panti. Sean tentu menangis ketika berpisah, begitupun Lucas yang pada dasarnya mudah terbawa suasana.
Lucas memberhentikan mobilnya sejenak di sebuah restoran untuk memesan makan malam untuknya dan Renjun. Tadi Sean memarahinya di mobil karena sama saja dengan Renjun yang melupakan makan malamnya. Lucas tidak sempat untuk itu, karena setelah pulang dari kantor, dia langsung meluncur ke panti tanpa ingat akan makan malam.
“Kakak juga mau?” tawar Lucas.
“Tidak, sudah penuh,” balas Sean.
Setelah pesanan mereka selesai, mereka segera meluncur ke tempat siaran Renjun untuk menjemputnya.
“Kakak tidak apa-apa menunggu? Atau kita pulang saja dulu, Kakak sudah mengantuk. Nanti biar Papo yang menjemput Pipo, bagaimana?” Lucas tidak tega melihat Sean yang memaksa matanya untuk tetap terbuka demi menunggu Renjun sedangkan dia sudah mengantuk.
“Tidak, Kakak mau menunggu Pipo,” tolak Sean.
“Yakin?” Sean mengangguk semangat. “Kalau Kakak mengantuk, tidur saja tidak apa-apa,” tambah Lucas.
“Tapi janji bangunkan Kakak kalau Pipo sudah selesai.” Sean mengajukan kelingkingnya untuk membuat janji dengan Lucas.
“Nanti dibangunkan.” Lucas menyatukan kelingkingnya dengan Sean berjanji.
Siaran Renjun berlangsung selama 90 menit, sekitar pukul setengah sepuluh lewat, dia telah keluar dari Gedung. Lucas yang mengetahui Renjun telah selesai pun perlahan membangunkan Sean karena dia sudah berjanji membangunkannya walaupun tidak tega, dia harus menepatinya atau dia bisa marah keesokan harinya.
“Kakak, pelan-pelan bangunnya. Pipo sudah selesai. Susah ya buka matanya?” Lucas terkekeh pelan melihat Sean yang menggeliat dan berdeham tanpa membuka matanya, dia sedang berusaha membuat matanya terbuka.
Renjun terlonjak ketika membuka pintu mobil dan mendapati Sean yang tertidur di sana. Matanya menatap Lucas penuh tanya karena membawa Sean menjemputnya.
“Anaknya ngotot ikut jemput kamu. Minta dibangunin tapi kayaknya matanya udah lengket banget,” ujar Lucas.
“Tidak,” ujar Sean begitu lirih, dia masih setengah sadar.
“Kakak tidur saja, terima kasih sudah ikut menjemput Pipo.” Renjun mengelus kepala Sean lalu menutup pintu mobil dan dia masuk ke jok belakang.
Renjun mengambil bantal di mobil Lucas dan meletakkannya diantara kepala Sean yang menyandar kaca mobil.
“Gege beli makan?” tanya Renjun yang melihat kantong berisi makanan di jok belakang.
“Iya, kamu kan belom makan,” balas Lucas yang mengemudi.
“Gege udah makan emang?” Lucas menggelengkan kepalanya. “Pantes banyak ini makanannya. Tapi nggak baik katanya makan jam segini,” lanjut Renjun.
“Udah janji loh buat makan malam sama Sean, jangan diingkarin,” balas Lucas.
“Iya, nanti makan.”