Kunjungan
Sambutan hangat diberikan orangtua Haben kepada Raven dan rekannya yang datang berkunjung. Gejolak rasa gugup dalam diri Raven sejenak surut sebelum Haben datang menyapa.
Terakhir kali Raven datang ke rumah ini adalah satu tahun lalu dan kini dia kembali datang ke sini sebagai orang asing. Tidak banyak yang berubah dari rumah ini, pun orangtua Haben yang masih bersikap sama dengannya seperti sebelumnya.
Melihat ruangan Haben, Raven tahu bahwa ruangan ini baru saja dibersihkan secara mendadak. Dengan melihat penataan barangnya saja Raven mengetahui hal itu. Dia membuyarkan pikirannya itu dan memfokuskan diri bekerja tanpa memperhatikan barang-barang yang berada di ruangan Haben secara detail.
Haben menyuarakan konsep ruangan yang diinginkannya dengan konsep industrial dan sebagian sisi ruangannya digunakan sebagai area game. Mendengar Haben menjelaskan hal itu, memori kenangan masa keduanya masih bersama justru terputar kembali dalam pikiran Raven. Dia berusaha menepis pikiran itu segera.
“Sisi barat nanti untuk area game, kalau di timur kurang pas. Pola geraknya orang sehabis mandi itu ganti baju, jadi almari tetap di sisi timur atau selatan berdekatan dengan kamar mandi. Kalau mau kurangin barang, rak di selatan bisa digusur. Penempatan barang di rak itu di rubah ke area bawah ranjang, jadi dibuat laci di bawah ranjang,” tukas Raven.
“Gue gak mau ganti ranjang, bakal melebihi budget gue kalau beli baru,” balas Haben.
“Tanpa beli ranjang baru bisa, rak yang di sini bisa kita remake untuk laci di bawah ranjang. Kayunya masih bagus, gak masalah kalau di reuse.” Haben mengangguk paham dan setuju karena budget yang dia miliki untuk merombak ruangannya tidaklah besar.
Mereka membahas lebih lanjut tentang konsep dan penataan ruang serta rencana pernak-pernik yang akan ditambahkan. Raven juga menggambar kasar sketsa bentuk ruangannya nanti untuk menjelaskan bayangan yang ada dalam pikiran.
Setelah semuanya pasti, Raven dan rekannya berpamitan kembali. Namun alih-alih dipersilahkan, orangtua Haben justru meminta mereka untuk makan terlebih dahulu.
“Lama banget loh Ven kamu nggak ke sini. Ternyata kamu sibuk kerja udahan. Doain ya Ven, semoga Haben cepet lulus. Kasian papanya yang bayar UKT, anaknya kayak gak ada semangat nyelesaiin kuliah,” tukas ibunda Haben.
Raven dan Haben tidak tahu harus bereaksi apa mendengar ucapan wanita itu. Raven hanya menunjukkan senyuman canggung dan Haben hanya diam saja.