Break

Di ruangan Haben, tidak ada sama sekali perbincangan hangat antara keduanya. Hanya sesekali Raven mengarahkan dimana meletakkan pernak-pernik dan Haben yang berusaha mendapat atensi Raven namun hasilnya nihil. Raven harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini karena dia tidak mau jika besok masih bertemu dan berurusan dengan Haben.

“Lah kok ilang?” teriak Haben membuat Raven mengalihkan pandangannya kepada Haben.

“Apa?” sahut Raven bertanya.

“Gue inget banget di meja ini ada foto kita, kenapa gak ada?” Wajah Haben sungguh menunjukkan kepanikan seolah itu sangat penting baginya.

Raven tidak habis pikir dengan Haben yang sebegitu paniknya dengan foto yang hilang. Yang menghilangkan foto tersebut tidak lain adalah Raven, dia secara sengaja melepas foto itu.

“Saya hanya membantu membereskan, itu sudah seharusnya hilang. Mungkin anda lupa membereskan itu, jadi saya bantu membuangnya,” jelas Raven santai.

Raut Haben tidak menunjukkan baik-baik saja dengan balasan Raven. Foto yang dia jaga dengan ringannya dibuang oleh Raven seolah itu tak ada artinya.

“Punya hak apa lo ngebuang itu? Seharusnya lo tanya gue dulu, jangan seenaknya buang barang orang.” Haben tak bisa menahan emosinya yang meninggi ketika berbicara.

Fine, lo ngebuang itu. Then you should be responsible, Raven,” lanjut Haben dengan menunjuk tegas Raven.

“Saya meminta maaf perihal membuang tanpa bertanya. Tapi saya ada dalam foto itu dan saya tidak mau anda menyimpannya. Saya tetap memiliki hak untuk membuang foto itu,” balas Raven dengan argumen tak mau kalah.

“Gue juga ada disitu, lo gak bisa seenaknya kayak gitu,” protes Haben.

“Buat apa lo nyimpen itu kalau kita udah selesai? Kenapa lo semarah itu kalau fotonya ilang? Kenapa? Gue tanya, kenapa?” Raven sudah cukup menahan dirinya dan kali ini dia melepaskannya.

“Selesai? Kita belom selesai, Raven. We just take a break.

Raven tersenyum miris mendengar ucapan Haben baru saja. Haben saat ini begitu brengsek dimatanya.

At first, I thought we were just taking a break. But actually we're not just taking a break, we actually broke up. Kita selesai, Haben,” balas Raven.

“Enggak, pikiran lo salah.”

“Salah? Break yang lo maksud itu putus alias selesai, Haben. Kalaupun we're just taking a break, that 'break', ujungnya juga sama, selesai. Itu cuma nunda putus aja.”

Okay, let me explainㅡ”

“Besok silahkan ke kantor buat finalisasi. Pekerjaan kita selesai, terima kasih.” Tanpa mau mendengar apa yang ingin dikatakan Haben, Raven memilih menyudahi pembicaraan mereka.