Lulus

Malam ini diramaikan dengan perayaan kelulusan Haben. Hanya dihadiri oleh Raven, Jenggala, dan Yungga yang akan datang bergabung juga.

Kata Haben, kelulusannya adalah berkat dari Raven, namun yang disebut menolak hal itu. Kelulusan Haben bagi Raven adalah karena dirinya sendiri, dia hanya berpartisipasi sedikit untuk membantu.

Raven memuji kerja keras Haben mengerjakan skripsinya hingga akhirnya lulus. Baru-baru ini, Raven mengetahui alasan Haben terlambat menyelesaikan skripsinya, dan itu bukan hanya karena dia. Yang ada dipikiran Haben saat itu tumpang-tindih begitu banyak. Dari berbagai sisi meminta otaknya untuk berpikir keras yang menjadikannya emosional dan mengalami perubahan kognisi. Hal itu membuat dirinya tidak terkontrol. Bisa dikatakan saat itu Haben mengalami stress.

“Ngapain sih?” tanya Raven pada Haben yang secara tiba-tiba memeluk dirinya.

“Boleh ya? Bentar aja,” balasnya.

Raven tak bergeming membiarkan Haben memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipundaknya. Pelukan itu yang selama ini dia rindukan, pelukan yang hangat dan nyaman dari Haben.

“Abe...”

Raven hendak memutar tubuhnya menghadap Haben namun berhasil ditahan Haben sehingga Raven tetap pada posisinya. Pundak Raven merasakan basah yang dia yakini adalah air mata seseorang yang tengah memeluknya saat ini.

Ven, I'm sorry for the past. Itu semuaㅡ”

“Lo bisa stop bahas itu? Stop bahas masa itu yang udah jadi kenangan, itu cuma akan mendramatisir situasi, Be. You know I'm fine. Sekarang gue sama lo, I'm here for you. Lihat ke depan, Abe.” Raven memutar tubuhnya menghadap Haben. “Apa yang mau lo denger dari gue?” lanjutnya.

I still feel guilty for you.

Change it.” Manik Haben menatap Raven yang tengah menatapnya. “I'd rather you feel love me than feel guilty for me,” lanjut Raven.

Senyap menerpa keduanya yang saling melempar pandang. Keduanya disaksikan oleh Jenggala dan Yungga yang telah sampai di sana. Kedua anak itu tidak begitu jelas mendengar pembicaraan Raven dan Haben karena keduanya berada menjauh dari mereka, memberikan ruang privasi mereka.

“Kamu bercanda?”

“Gue serius.”


Perayaan kelulusan Haben dihabiskan dengan makan dan bermain game. Raven, Jenggala, dan Yungga menjajah kamar Haben. Haben membiarkan Jenggala dan Yungga menguasai PS miliknya karena dia memilih merakit lego dengan Raven. Dia mengoleksi lego, namun banyak yang belum dia rakit.

Kedua tangan Haben kini hanya menggantung diam karena dia tengah terfokus dengan Raven. Maniknya memperhatikan raut Raven yang semakin lama semakin turun kesabarannya. Haben menunggu saat Raven meledak karena habis kesabarannya.

Bersamaan dengan Raven yang meledak karena sudah habis kesabarannya, Haben menertawakan Raven. Rengekan keluar dari Raven karena susah sekali merakitnya dan ketika ada bagian yang salah, terkadang sulit melepaskannya, itu membuatnya semakin kesal.

“Be, lepasin ini,” ujar Raven dengan nada pasrah meminta Haben membantunya melepaskan bagian yang salah.

“Gak sabaran sih ngerakitnya,” balas Haben sembari melepaskan bagian lego yang salah.

“Lo rakit sendiri aja deh, udah males gue.” Raven melemparkan dirinya ke kasur Haben.

“Aku juga males.” Haben menyusul Raven dan memeluk tubuh Raven yang tengkurap di sana.

“Gue lempar stick ya lo berdua aneh-aneh,” ancam Yungga. “Lo yang ada jual mahalnya kek, Ven. Dialusin dikit udah nempel aja,” lanjutnya.

“Kalo Ravennya gampang, udah balikan dari dulu kali mereka. Sekarang sih nempel-nempel doang balikan kagak,” sahut Jenggala.

Yungga dan Jenggala tertawa dengan perbincangan mereka, sedangkan yang diperbincangkan hanya diam tak menanggapi.