Restart
Sebuah rumah pohon merupakan art studio milik Raven. Tempat dimana dia begitu suka menghabiskan waktu menyalurkan emosinya melalui lukisannya. Dia sudah cukup jarang ke sini, dan hari ini dia datang kembali. Keputusan dia mengajak Haben berbincang di situ karena jauh dari keramaian, sehingga jika mungkin dia kelepasan atas amarahnya tidak akan mengganggu sekitar.
Raven justru begitu gugup ketika langkah kaki seseorang menaiki tangga terdengar. Dia mempersiapkan dirinya untuk mendengar penjelasan Haben dan mengingatkan dirinya sendiri untuk hanya mendengarkan penjelasan Haben.
“Selamat malam, Ven. Lama ya?” Raven memberikan dehaman sebagai balasan.
“Gimana kerjaㅡ”
“Explain,” potong Raven cepat.
Haben menghela napasnya mendengar sahutan Raven. Manik Raven sama sekali tak mengarah padanya.
“Gue minta maaf karena mengakhiri hubungan dengan cara yang gak bisa dibilang baik. Gue waktu itu berada diposisi ngerasa bener-bener gak pantes buat lo sampai pada akhirnya gue putusin lo dengan alasan skripsi karena gue gak tau mau mutusin lo kayak gimana karena hubungan kita baik-baik aja.” Tawa Raven terdengar disela-sela pembicaraan Haben.
“Lo mau bilang gue brengsek, bajingan, gue setuju. Gue sebodoh itu. Bahkan gue lebih bajingan karena sekarang gue mau kita balik lagi kayak dulu. Tempat lo masih sama, Ven. Bahkan perasaan gue buat lo masih sama, nothing has changed, kecuali kita yang jadi berjarak. Sedihnya, gue yang ngebuat jarak itu ada,” tambah Haben.
Haben menuturkan segalanya dan tak henti menyalahkan dirinya. Dialah yang memulai hubungan asing ini. Semua berawal dari ketakutannya atas dirinya sendiri yang merasa kurang untuk Raven.
“Lo nggak ngejelasin apapun, lo cuma ulangin omongan lo,” tukas Raven memecah keheningan yang sempat terjadi.
“Gueㅡ”
“As i said before, semuanya udah jelas, Haben. Setuju, kalimat lo sibuk skripsi itu cuma alasan, cuz the fact is you're not interested to me anymore. Singkatnya lo udah nggak ada rasa sama gue,” potong Raven cepat.
Gagal. Raven gagal menahan dirinya untuk diam saja dan hanya mendengarkan. Batinnya memberontak ingin meluapkan apa yang ingin dia lontarkan pada Haben. Gejolak itu berhasil merobohkan tamengnya dan membuat Raven lepas.
“Kalau emang bener maksud lo kita 'break' sementara, kenapa yang lo lakuin seakan semuanya udah selesai? Lo blokir nomor gue, selalu hindarin gue, ngobrol atau kalau gak sengaja ketemu aja nggak nyapa. Bahkan, you was close with someone. Gue sempet kira 'break' antara kita cuma sementara, tapi yang lo lakuin itu udah cukup nyimpulin kalau kita udah selesai,” tambah Raven.
“Lo bilang ngerasa gak pantes buat gue bahkan kata lo kita putus karena itu dan sekarang lo dengan entengnya berharap kita balik? Lo tiba-tiba merasa pantes? Kocak lo brengsek.” Raven masih melanjutkan kalimatnya.
Diam. Haben terdiam mendengar ucapan Raven baru saja. Dia tidak berbohong perihal perasaannya pada Raven yang sama, namun atas segala sikap bodohnya, itu membuat Raven tak percaya.
Rasa tidak pantas dalam diri Haben muncul ketika melihat teman-teman Raven yang sering menemani itu lebih baik dari dirinya. Raven yang berprestasi, banyak pengalaman organisasi, mempunyai banyak relasi, dan banyak hal dari diri Raven yang berada diatas Haben itu menjadi titik Haben merasa benar-benar tidak pantas.
“Sorry, i ruined everything,” ujar Haben.
“Kenapa lo ngerasa gak pantes saat itu?” tanya Raven dengan nada rendah.
“Gue jauh dibawah lo dari segala aspek. Gak mungkin gue minta lo setara sama gue,” balas Haben.
“Sekarang kita setara?” tanya Raven lagi.
“No, you're still higher.” Raven tertawa mendengarnya.
“Kenapa lo tiba-tiba pengen balik sama gue? Kata lo kita gak setara?” Haben menunduk diam tanpa jawaban.
“Gue gak tau segala aspek yang lo maksud itu apa, tapi yang jelas alasan lo aneh buat gue. Hubungan kita bukan yang cuma satu-dua tahun, dari SMA kita pacaran dan putus cuma karena skripsi. Kalo lo merasa gak pantes, kenapa lo dari awal mau sama gue? Lo ngerasa gak pantes tiba-tiba itu gak mungkin, itu pasti ada dari awal.”
“Bener, itu ada dari awal. Gue pikir itu cuma kecemasan gue diawal, nyatanya sampai saat itu malah semakin tinggi. Gue juga seringkali mikir kenapa lo mau sama gue, apa lo gank malu punya pacar kayak gue, dan banyak lagi,” ujar Haben dengan manik yang tak berani menatap Raven.
“Banyak kalau alasannya dijabarin, you was my best sebelum gue tau lo mutusin gue karena ego lo. Kalau gue malu punya lo, daridulu juga gue gak akan terima lo. Pikiran-pikiran lo itu sebenernya bisa dibicarain dan lo memutuskan diam dan ambil keputusan sendiri,” balas Raven.
“Iya, gue seharusnya gak kepikiran buat balik sama lo. Itu cuma nunjukin gue beneran brengsek dan bajingan gak tau malu,” tukas Haben.
“Ben, lihat gue kalo ngomong.” Haben menegakkan duduknya dan menatap Raven didepannya.
“Maaf, terlalu banyak omongan gue hari ini yang nyakitin lo kayaknya.” Haben menggelengkan kepalanya. “Gak salah lo kepikiran mau balik sama gue, tapi lo harus pikirin bener-bener tentang itu. Kita bisa mulai lagi dari awal, tapi gue gak berharap akhir yang sama,” tambah Raven.
Haben terkejut mendengar ucapan Raven baru saja. Dia mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Raven. Batinnya bertanya nyata atau tidaknya ucapan anak itu.