Tidak Tahu Malu
Rumah Haben hari ini sepi, hanya terdapat pekerja harian di rumah Haben yang tadi menyambut kehadiran Raven dan rekannya. Mereka mengosongkan terlebih dahulu ruangan Haben dan memindahkannya ke ruangan kosong disebelahnya sesuai petunjuk dari Haben.
Beruntung hari ini Raven dapat membawa lebih banyak anggota daripada biasanya. Dia mengetahui pekerja yang longgar segera mengangkutnya. Selain agar pekerja tetap memiliki pekerjaannya, Raven juga ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dengan Haben.
Raven sempat tertegun melihat meja di ruangan Haben yang hendak dia pindahkan ke ruangan sebelah. Foto stiker yang dia dan Haben ambil saat masih berkencan tertempel apik pada meja tersebut dengan goresan tinta dari Haben yang membuat bentuk hati diatas kepala Raven. Hal itu memunculkan pertanyaan di kepala Raven.
Hari ini Raven dan sebagian pekerja mengecat ulang ruangan dan sebagian merombak rak menjadi laci ranjang. Mereka mengerjakan hingga pukul lima sore, namun Haben belum kunjung datang. Raven pada akhirnya meminta pekerja untuk pulang terlebih dahulu dan dia menunggu Haben untuk penandatanganan surat perjanjian kerja serta laporan pekerjaan hari ini.
Sekitar pukul setengah tujuh, Haben pulang dan menemukan Raven yang terduduk di sofa rumahnya dengan mata terpejam. Raven beberapa kali menghubunginya tadi, namun dia sibuk dengan bimbingannya dan tidak bisa menjawab panggilan Raven.
Jemari Haben menyibakkan rambut Raven yang menutupi sebagian wajahnya. Matanya lamat-lamat memperhatikan lelaki yang tengah tertidur itu. Pergerakan tubuh Raven membuat Haben menegakkan duduk dan mengubah rautnya.
“Sorry, lo nunggu gue lama,” tukas Haben ketika Raven telah kembali dengan kesadarannya.
“Saya yang perlu meminta maaf karena tertidur di sini,” balas Raven mengherankan Haben. “Ini surat perjanjian kerjanya, dan pekerjaan hari ini sudah sampai 65%, besok bisa dipastikan selesai,” tambah Raven.
Haben tak memberi balasan dan membaca surat perjanjian kerja dan membubuhkan tanda tangannya di sana. Raven memberikan satu surat perjanjian kerja pada Haben yang dia cetak dua rangkap.
“Habis ini lo ke mana?” tanya Haben.
“Tentu saja pulang.” Raven seakan tak mengindahkan permintaan Haben sebelumnya yang meminta dirinya berbicara santai.
“Gue ikut.” Mata Raven menatap heran dan penuh tanya pada Haben. “Kamar gue gak bisa dipake, boleh kan gue nginep di tempat lo hari ini?” terang Haben.
“Apa anda tidak tahu malu meminta hal itu?” balas Raven dengan pertanyaan baru. “Banyak ruang di rumah anda, tidak perlu mengungsi ke rumah orang lain. Terlebih lagi ke rumah orang yang baru kamu kenal.” Haben tersentak dengan kalimat terakhir Raven.
“Kita gak seasing itu, Raven. Perlu gue ucapin lebih kenceng biar lo denger?” Raven tertawa remeh mendengarnya.
Bagi Raven, Haben sungguh lucu mengatakan hal itu padanya. Haben seakan lupa apa yang dia lakukan sebelumnya.
“Saya dengar, tidak perlu diulang. Anda tetaplah beristirahat di rumah. Kalau sungguh tidak ada tempat di rumah, menginap saja di tempat lain asalkan bukan tempat saya. Terima kasih atas waktunya hari ini, selamat malam,” balas Raven sekaligus berpamitan.
Haben seakan tak ada kuasa untuk menahan Raven meninggalkan rumahnya. Dia hanya memperhatikan punggung kecil itu perlahan hilang dari pandangannya.
“Raven, apa sejelek itu cara kita berpisah?” monolog Haben ketika Raven tak lagi dalam pandangannya.