Persetujuan
Suara pintu apartment berbunyi menandakan pulangnya Renjun. Lucas seketika bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar dengan penuh harap Sean ikut bersama mereka.
“Sean nggak ikut, yang?” tanya Lucas sembari celingukan mencari Sean.
“Surprise!” teriak Sean muncul dibalik pintu.
Senyuman Lucas merekah ketika Sean muncul di sana. Dia merentangkan tangannya membiarkan Sean datang masuk dalam pelukannya. Dengan posisi masih merangkul Sean, Lucas membawa anak itu masuk.
“Kangen banget deh sama kamu,” ujar Lucas sembari memeluk kembali Sean.
“Jangan sampai sakit makanya, nanti bisa main lagi,” ujar Sean dalam pelukan Lucas.
“Dengerin tuh, jangan sampe sakit. Nyuruh aku jaga badan sampe reschedule, malah yang nyuruh gak karuan.” Yang dimaksud Renjun hanya senyum tidak jelas.
“Kalian ngapain aja hari ini?” tanya Lucas.
“Main bola, kak Renjun mulai jago main bola. Tadi aku kalah dua kali lawan kakak. Kita juga gambar mural tadi. Gambar kak Renjun bagus banget, kak Lu kalau ke panti harus liat gambarnya, ada di tembok belakang. Paling serunya waktu Bunda ijinin kak Renjun buat ajak aku jenguk kak Lu. Kita tadi beli makanan banyak, aku bantu pilih tadi,” cerita Sean panjang.
“Kamu seneng main ke sini?” Sean mengangguk semangat. “Aku juga lebih seneng kalau kamu ke sini,” balas Lucas dengan kembali memeluk anak itu erat.
Renjun menyiapkan makanan yang dia beli bersama Sean tadi lalu mengajak kedua orang yang sibuk berpelukan itu berpindah ke ruang makan.
Mata Lucas dan Renjun seakan terbius oleh Sean. Keduanya terus memperhatikan bagaimana anak itu makan. Sean terlihat begitu bahagia ditengah keduanya.
Sean melihat Lucas tak kunjung makan pun berinisiatif menyuapi lelaki itu makan. Renjun melihatnya merasa cemburu karena dia tak mendapatkannya.
“Ada yang pengen disuapin juga. Lihat mukanya bete banget,” bisik Lucas pada Sean.
Lucas dan Sean tertawa kecil, membuat Renjun menatap keduanya bergantian.
“Ini buat kak Renjun.” Sean mengambil satu sendok makannya untuk diberikan pada Renjun.
Senyuman pun muncul dari wajah Renjun. Dia menerima suapan Sean dengan senang hati.
Ketiganya menghabiskan banyak waktu bersama hari ini. Makan bersama, bermain game, menonton film, dan bermain dengan peliharaan Lucas dan Renjun. Mereka tanpa sadar bersenang-senang hingga matahari telah berpulang dari beberapa jam lalu.
“Hari ini tidur di sini, ya?” tanya Renjun pada Sean.
“Boleh?” balas Sean dengan pertanyaan.
“Boleh,” jawab Renjun dengan menganggukkan kepala yakin. “Kakak udah ijin kok, kamu seharian di sini sama kita,” tambah Renjun membuat Sean merekahkan senyumnya.
Malam ini keduanya tidur dengan Sean berada diantara mereka. Awalnya Sean merasa canggung dan meminta tidur sendiri saja, namun keduanya meyakinkan bahwa tidak apa-apa dia ikut bersama mereka.
“Hari ini seneng nggak main di sini?” tanya Lucas.
“Senang, hari ini paling menyenangkan,” balasnya.
“Kamu suka di sini?” tanya Renjun yang mendapat anggukan bersemangat dari Sean.
“Kalau setelah ini kamu di sini sama kita, mau?” tanya Renjun lagi.
“Kakak mau bawa aku?” Lucas dan Renjun seketika saling bertatapan mendengar pertanyaan Sean.
“Kalau iya, kamu mau di sini sama kita?” ujar Lucas bertanya.
Sean diam tak menjawab pertanyaan Lucas. Namun tak lama dari itu, genangan air menutupi matanya dan hidungnya memerah. Dia mendongakkan kepalanya beberapa kali mengusahakan air matanya tidak turun.
“Gapapa, biarin air matanya turun,” ujar Renjun sembari tangannya mengusap puncak kepala anak itu.
“Dari dulu tidak ada yang mau bawa aku. Setiap ada yang datang ke panti, aku selalu ingin ikut mereka. Kalian tidak bohong kan ini?” ujar Sean dengan nada menahan tangisnya.
“Tidak bohong,” balas Lucas penuh yakin.
“Sungguh ingin aku?” tanyanya.
“Iya, kamu. Kamu mau di sini?” Lucas mengucapkannya dengan air mata yang ikut turun.
Sean tiba-tiba menampar pipinya dengan keras. Lucas dan Renjun jelas terkejut dengan tindakan anak itu.
“Jangan ditampar pipinya, sakit itu.” Renjun mengusap bagian pipi yang baru saja ditampar oleh anak itu.
“Ini bukan mimpi ya?” tanya Sean.
“Bukan, sakit kan pipinya kamu tampar sendiri,” balas Renjun.
“Aku suka di sini, aku senang kalau ternyata kakak yang bawa aku. Kalian baik, sayang sama aku dan teman-teman,” ujarnya dengan nada merendah di akhir. “Apa Bunda bilang boleh?” tambahnya bertanya.
Kini ganti Lucas dan Renjun yang terdiam. Keduanya sedang mencerna kata demi kata yang Sean lontarkan. Yang awalnya hanya Lucas yang menitiskan air mata, kini Renjun pun ikut menitiskan air matanya. Keduanya antara senang dan tidak menyangka.
“Boleh, kita sudah ijin dari lama, dia setuju,” jelas Lucas.
Mata Sean berbinar mendengar hal itu. Lucas dan Renjun berusaha mengendalikan air matanya agar tak mengacau.
“Kalau Bunda sudah setuju, aku tidak menolak. Aku juga suka dengan kalian, aku senang di sini,” ujar Sean.
Renjun seketika menciumi anak itu setelah mendengar ucapannya. Bahagianya membuncah hingga air mata bahagianya terus turun. Ucapan persetujuan Sean lebih membahagiakan daripada saat keduanya mendapat persetujuan adopsi.
“Terima kasih,” ujar Sean lagi.
“Kita yang berterima kasih karena kamu sudah setuju,” ujar Lucas mencium punggung tangan Sean.
“Sean, boleh kita minta sesuatu?” Sean menatap Lucas penuh tanya. “Jangan panggil kita kakak lagi, boleh?” Sean terlihat berpikir.
“Panggil apa?” tanyanya.
“Aku punya panggilan lucu, lebih bagus dari kakak. Panggil kak Lu papo dan kak Ren pipo, gimana?” Sean tertawa mendengar panggilan itu.
“Panggilannya aneh, ya?” tanya Renjun.
“Itu lucu,” balasnya. “Kalian juga tidak boleh panggil Sean, panggil aku kakak,” tambah Sean.
“Adek aja deh,” balas Lucas.
“Aku tidak menolak panggilan papo dan pipo. Aku sudah besar, aku itu kakak,” protesnya.
“Oke, kakak,” ujar Renjun.
Sean mendelik ke arah Lucas yang belum memberikan jawaban.
“Iya, kakak. Serem banget diliatin gitu,” ujar Lucas.
Malam itu ketiganya tidur dengan penuh rasa bahagia dan hangat.