lostduskworld

Setiap hari adopsi selalu menjadi pembahasan keduanya. Mereka sama-sama mematangkan kesiapan untuk menjadi orangtua. Malam ini keduanya duduk di mini bar dapur mereka membicarakan topik yang sama.

Lucas menunjukkan daftar sekolah yang dia buat untuk keduanya pertimbangkan mana yang bagus dan sesuai dengan finansial mereka. Keduanya memilih merencanakan ini lebih awal walaupun belum pasti siapa yang akan mereka adopsi.

“Ge, kalau aku mau anak kita homeschooling egois nggak sih?” tanya Renjun.

“Mungkin,” balas Lucas. “Aku nggak begitu paham sama sistem homeschooling. Itu mungkin fleksibel buat kita, tapi dengan anaknya? Dilihat dari kebiasaan di panti selalu bareng banyak temen, tiba-tiba homeschooling sendirian itu mungkin sulit buat anaknya,” tambah Lucas.

Homeschooling masih bisa ketemu temen kok. Aku SMP dulu homeschooling, mereka ada sekolahnya kok, bisa kalau mau belajar di sekolah. Buat aku yang ketara banget perbedaan homeschooling sama sekolah formal tuh pembelajarannya. Homeschooling kita bisa belajar pelajaran yang kita mau aja, fokusnya memperdalam minat bakat anak. Pembelajarannya nggak monoton selalu duduk dengerin penjelasan guru, nyatat, dan ngerjain soal, anak kalau mau mempelajari sesuatu dengan bertemu langsung itu bisa. Aku dulu inget pernah sampe ke peternakan sapi, ayam, ke zoo juga, seru,” jelas Renjun.

Homeschooling bisa menyesuaikan gaya belajar anak. Kita bisa customize di homeschooling, tentang pelajaran, tempat, waktu, bahkan kalau pengajarnya dirasa anak nggak cocok sama dia, itu bisa ganti juga. Masalah bersosialisasi tuh luas, kalau aku dulu banyak masuk club gitu disisi homeschooling, beneran banyak kegiatan seru karena semuanya aku suka,” tambah Renjun.

“Semua ada plus-minus ya, yang. Kalau sekolah formal kamu ada pilihan?” tanya Lucas.

“Apapun pasti ada plus-minusnya. Kalau sekolah formal, pilihanku sama kayak gege,” balas Renjun.

“Kita simpen dua pilihan kita ini, nanti kalau udah ada anaknya kita bicarain sama dia. Janji dulu kita harus netral nanti,” ujar Lucas mengacungkan kelingkingnya.

“Kayak anak kecil aja janjinya gini,” balas Renjun mencibir sembari mengaitkan kelingkingnya dengan Lucas.

Keduanya sungguh mengusahakan kesiapan mereka. Jujur saja, keduanya sama-sama sudah tidak sabar membawa seseorang baru diantara mereka.

“Aku baru inget mau tanya ini, kita belom persiapin kamar anak, mau di mana emang kamarnya?” celetuk Renjun bertanya.

“Bener juga, kita belom persiapin itu. Kayaknya kamu harus rela anabulmu pindah tempat. Itu kamarnya luas,” balas Lucas.

“Terus mau tidur di mana anabulku? Kalau mau ngusir harus ada solusi dipindah ke mana,” balas Renjun.

“Ruang gym itu aku bagi dua, sebelah dipake ruang anabul. Nanti aku minta temenku buat desain ruang anabulnya biar bisa muat semua dan comfy buat mereka, nggak penuh kandang gede kayak di ruang itu,” terang Lucas.

“Nggak kekecilan apa ngambil separo ruang gym?” tanya Renjun.

“Separuhnya itu luas sayangku. Kamu mikir kecil karena lihat kandang-kandang gede anabulmu, yang bikin penuh ya kandang itu. Nanti aku minta desain biar ada tempat main mereka juga di sana, cukup itu yang,” jelas Lucas.

“Kira-kira kalau kita renov ruang anabul dijadiin kamar anak lama nggak ya? Takutku nanti anaknya udah ada ruangannya belom selesai.”

Karena keduanya berencana mengadopsi anak dalam waktu dekat dan kamar belum tertata sama sekali, itu memunculkan pertanyaan Renjun tadi. Keduanya tentu mau menyambut penuh kedatangan anak mereka.

“Kalau misal nanti belom selesai dan anaknya udah ada ya gapapa, anaknya bisa tidur sama kita. Hitung-hitung sekalian bonding sama anak,” balas Lucas.

“Bener juga bonding. Masih bayangin aja udah seru ya ge, nanti kita tidur nggak lagi berdua, ada anak gemes di tengah kita,” ujar Renjun dengan senyumnya yang merekah.

“Nanti bukan kamu lagi yang aku peluk. Aku mau puas-puasin deh tidur sambil peluk kamu nanti.” Lucas menarik kursi Renjun mendekat dan memeluk anak itu dari samping.

Enam bulan yang lalu, Lucas dan Renjun resmi menikah. Pernikahan keduanya tidak terbuka untuk media. Walaupun tertutup, mereka tidak menutupi kabar pernikahan mereka dari media karena masih membagikan beberapa momen pernikahan keduanya di akun sosial media masing-masing.

Kesibukan Renjun dan Lucas masih sama, Renjun dengan dunia bermain perannya dan Lucas dengan dunia dibalik layarnya. Satu hal yang mereka ubah tentang kesibukan keduanya, membuat hari sabtu dan minggu untuk family time dengan tidak bekerja pada hari itu. Walaupun terkadang salah satu dari mereka masih kecolongan mengambil waktu pada hari itu.

Enam bulan berarti setengah tahun sudah usia pernikahan keduanya. Tepat di hari ini, Renjun memberanikan diri mengajukan keinginannya kepada Lucas bahwa dia ingin mengadopsi seorang anak. Keduanya suka sekali dengan anak kecil dan semenjak berkencan dengan Lucas, Renjun sering mengikuti Lucas dalam kegiatan amal yang memang lelaki itu rajin lakukan. Ketika berada di panti asuhan, tidak jarang Renjun ingin membawa pulang salah satu dari mereka, meramaikan rumahnya dengan Lucas.

Dengan posisi bersantai di balkon kamar mereka, keduanya melanjutkan pembahasan mereka di pesan obrolan mereka sebelumnya. Berbincang di balkon pada malam hari seakan menjadi kebiasaan baru mereka, jujur saja keduanya sangat menyukai hal ini.

“Ge, apa ini terlalu cepet?” Lucas menggelengkan kepalanya.

“Nggak, justru lebih baik kamu bilang sekarang. Kita bisa persiapin dari sekarang. Kamu bukan mau besok sudah harus ada seseorang baru diantara kita kan?” balas Lucas.

“Aku nggak segila itu, Ge. Aku sadar ini perlu kesiapan penuh dari kita,” balas Renjun.

“Kamu kepikiran mau adopsi cewek atau cowok?” tanya Lucas.

Jujur, Renjun belum memikirkan hal itu. Gender apapun sebetulnya tak menjadi masalah bagi Renjun, namun dia tentu harus memilih karena dia hanya menginginkan seorang anak untuk diadopsi.

“Belom kepikiran. Gege pengennya bisa adopsi berapa anak?” tanya Renjun. Dia harus tahu keinginan Lucas juga untuk mempertimbangkan.

“Saat ini satu. Aku kurang yakin kalau sekaligus adopsi beberapa anak. Bukan masalah finansial, lebih ke aku sendiri,” balas Lucas.

Renjun setuju dengan pernyataan Lucas, mengadopsi sekaligus mungkin akan berat. Terlebih jika kurang yakin dengan diri sendiri, lebih baik jangan atau ditunda.

“Bapak sutradara emang finansialnya lancar terus ya, puji syukur,” balas Renjun dengan tawa kecilnya.

“Puji syukur lancar, buat ngehidupin lima anak pun mungkin bisa. Tapi semua kembali ke kita, siap atau enggak mentalnya,” ujar Lucas menanggapi.

Keduanya tertawa ringan atas ucapan Lucas baru saja.

“Gege punya cita-cita yang harus dicapai sama anak nggak? Maksudku kayak nanti dia harus ada di dunia entertaiment kayak kita atau jadi dokter gitu, ada?” tanya Renjun lagi.

“Enggak, cita-cita itu punya masing-masing orang, kenapa harus dipaksain. Kita sebagai orangtua udah seharusnya dukung apa yang dicita-citakan sama anak,” balas Lucas.

“Kalau cita-cita anak mau jadi rampok gitu gimana? Masih mau dukung?” Renjun membalas dengan pertanyaan baru.

“Aneh kalo aku dukung itu. Apalagi kalau dia rampok kamu dari aku, mana bisa aku dukung,” balas Lucas bercanda.

“Ini lagi serius!” tegas Renjun.

“Kalau sampe kejadian kayak gitu, harus dipertanyakan kembali gimana kita ngedidik dia. Beberapa orang terkadang buta kalau keburukan atau tindakan diluar batas seorang anak itu karena dirinya sendiri, padahal bisa aja dari orangtuanya sendiri. Kita nggak bisa menyimpulkan dengan cuma melihat satu pandangan. Kalau cita-cita itu salah ya nggak bisa dibenarkan,” jelas Lucas.

Renjun diam mendengarkan jawaban Lucas. Matanya memperhatikan pria yang selalu membuatnya kagum dengan tingkah dan perkataanya.

“Sayang, kesepakatan kita jadiin weekend buat family time harus diterapin lagi, kita sama-sama berusaha kurangin kecolongan waktunya, ya? Aku nggak mau kalau udah ada anak kita nanti, dia kurang waktu sama kita. Kita harus tanggung jawab sama dia, dia kita bawa ke rumah bukan buat terus ditinggalin,” tambah Lucas.

“Iya, aku rencana kurangin job juga nanti, biar punya lebih banyak waktu sama anak,” balas Renjun.

“Kalau kita nggak adopsi anak pun, kamu emang harusnya kurangin job. Over banget jadwalmu itu, kamu perlu waktu buat istirahat.” Renjun justru mendapat omelan dari suaminya itu.

“Iya, udah niat mau kurangin juga ini,” dengus Renjun. “Kalau kita ke panti tapi lagi nggak ada acara boleh nggak sih, Ge? Aku pengen ke sana,” tambah Renjun.

“Boleh banget. Kamu mau kapan ke sana? Aku temenin kamu,” balas Lucas.

“Kurang tau, mau lihat dulu longgarnya kapan.”

“Kamu kabarin aku aja kalau longgar, aku anterin,” ujar Lucas yang diangguki Renjun.

“Ge masuk yuk, dinginnya makin kerasa,” ajak Renjun.

Alih-alih menyetujui Renjun untuk masuk, Lucas justru mendekap Renjun. Mengeratkan pelukannya pada si kecil berusaha memberikan kehangatan.

Jam menunjukkan pukul satu dini hari, Raksa meminta Lingga untuk mengantarkannya pulang. Dia menyerah dengan aksi kaburnya karena takut akan orangtuanya dan juga dia gelisah keluar tanpa ijin.

“Gue kerasa ngantuk tapi, Ga. Lo masih melek gak buat bonceng? Kalo gue yang bonceng kayaknya kita bukan pulang ke rumah kita,” ujar Raksa.

“Rumah kita, kayak serumah aja lo sama gue,” balas Lingga.

“Bukan gitu maksudnya, Ga,” celetuk Raksa.

“Iya ngerti. Gue bonceng pulangnya, melek banget mata gue habis ngopi,” ujar Lingga.

Sepanjang perjalanan pulang, Raksa terus mengajak bicara Lingga. Entah bahasan tidak jelas apa yang dibicarakan, yang terpenting kesadaran Lingga harus tetap utuh. Raksa tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi karena hilangnya kesadaran Lingga, dia masih ingin pulang ke rumah.

Di depan gerbang perumahan, Lingga sudah mematikan motornya dan bersiap menuntun masuk motornya mengantar Raksa sampai dirumahnya. Raksa sudah meminta Lingga untuk langsung pulang saja mengingat ini sudah dini hari, namun Lingga tetap saja mengikuti Raksa sampai dia benar-benar sampai.

“Asa,” panggilan itu keluar ketika Raksa baru membuka sedikit pagar rumahnya. “Sama siapa kamu?” tambahnya bertanya.

Raksa beradu pandang sejenak dengan Lingga karena sama-sama terkejut. Matanya menyuruh Lingga untuk segera pergi menjauh namun Lingga tidak menangkap itu. Tidak berselang lama, mama Raksa membuka pintu gerbang lebih lebar dan melihat Lingga di sana.

“Kamu ikut saya masuk sebentar,” pinta wanita itu pada Lingga.

Demi Tuhan, Raksa ketir saat ini. Dia takut Lingga terkena amarah orangtuanya padahal dia yang berniat kabur. Papanya yang baru datang atas panggilan mamanya menatap Lingga dari ujung kepala hingga kaki.

“Darimana aja, Sa?” tanya sang Papa yang tak dijawab Raksa. “Raksa tidak pernah keluar malam dan kembali saat dini hari. Kamu yang mengajak anak saya keluar?” tanyanya berganti pada Lingga.

“Iya,” balas Lingga tak mengelak namun mendapat tendangan ringan dari Raksa.

“Apa menurutmu pantas anak dibawah umur berkeliaran sampai selarut ini?” Lingga menggeleng.

“Benar, tidak pantas. Apa kalian tidak berpikir kalau orangtua kalian khawatir atas tindakan kalian ini? Kamu sudah pergi tanpa ijin dan pulang selarut ini, ini melewati batasanmu, Asa,” tambah lelaki itu.

“Papa toleransi satu kali ini tapi tidak dengan selanjutnya jika kamu mengulangi lagi. Mama sama Papa panik kamu pergi sampai selarut ini dan tidak bisa dihubungi,” ujar lelaki itu pada Raksa.

“Dan kamu, jangan terbiasa seperti ini. Jangan buat orangtua kamu khawatir. Dunia luar tidak sebaik itu. Siapa nama kamu?” ujarnya pada Lingga.

“Lingga,” balasnya.

“Lingga, beri saya nomor orangtua kamu. Saya akan menghubunginya bahwa kamu menginap di sini hari ini,” pintanya.

“Terima kasih sudah menawarkan menginap, saya pulang saja,” balas Lingga.

“Saya tidak menawarkan itu. Ini sudah larut, bahaya kamu pulang sendiri pada jam seperti ini. Kamu menginap saja di sini dan berikan nomor orangtua kamu, saya ingin bicara,” tegasnya.

“Maaf, saya tidak bisa memberikan nomor orangtua saya begitu saja. Kalau mau saya sambungkan saja, boleh?” tawar Lingga.

“Iya, silahkan,” balasnya setuju.

Lingga memberikan ponselnya yang telah tehubung dengan papinya kepada papa Raksa. Lelaki itu pergi menjauh untuk berbincang.

“Asa, jangan kamu ulang lagi buat pergi tanpa pamit dan pulang selarut ini. Jadikan ini pelajaran, bukan buat diulang lagi.” Raksa hanya mengangguk mendengar ucapan sang mama.

Papa Raksa berbincang dalam panggilan cukup lama, entah apa saja yang dia bahas. Lingga sendiri juga tidak mau tahu lelaki itu membicarakan apa saja dengan papinya.

“Saya sudah selesai bicara dengan orangtua kamu. Kalian berdua pergi ke kamar untuk tidur, besok kalian masih masuk sekolah,” ujar Papa Raksa sembari memberikan ponsel Lingga kepada pemiliknya.

Kacau, itu pikir Raksa. Tindakan impulsifnya itu justru memperkeruh keadaan. Hal ini bisa jadi memperkuat keinginan orangtuanya memindahkannya ke SMA. Raksa sebegitu tidak maunya berpindah dan berpegang teguh pada keinginannya yang membuatnya terlihat egois.

“Kok lo gak ada gemeter-gemeternya jawab papa. Gue udah kelu banget,” celetuk Raksa.

“Gemeter ngapain coba. Lo masih amatir sama hal kayak gini sok banget kabur,” balas Lingga.

“Lo berarti sering dimarahin papi lo gara-gara kayak gini? Wah gila lo!”

“Papi gue paling cuma nasehatin aja. Lagian dia tau gue main buat cari hiburan,” balas Lingga.

“Lo sebebas itu?” Lingga menggeleng.

Dini hari itu dihabiskan dengan keingintahuan Raksa tentang Lingga, namun tentu saja Lingga tidak menjelaskan semuanya dengan sukarela dan gamblang, dia tahu batasannya. Keduanya berbincang panjang hingga sama-sama tertidur.


Tidur pukul berapapun, jam bangun Raksa tidak pernah berubah. Pukul lima lewat tiga puluh matanya sudah pasti terbuka. Tidak berselang lama darinya, Lingga juga terbangun.

Raksa membiarkan Lingga menyegarkan dirinya terlebih dahulu harena dia ingin segera pulang pagi ini. Ketika Lingga berpamitan dengannya dan hendak pergi berpamitan dengan orangtuanya, Raksa menahan Lingga.

“Tunggu gue mandi bentar, gue berangkat sama lo, hari ini aja,” pinta Raksa.

“Gue mau balik ke rumah dulu ini,” balas Lingga.

“Hari ini aja, Ga. Mandi gue cepet. Lo tunggu gue di sini.” Raksa mengunci pintu kamarnya dan membawa kuncinya ke dalam kamar mandi bersamanya agar Lingga tidak bisa keluar.

Raksa melakukan hal itu karena satu hal, mengindari omelan kedua orangtuanya. Dia tahu keduanya menahan omelan panjang semalam karena ada Lingga, maka dari itu dia harus menyelamatkan dirinya pagi ini.

Setelah Raksa selesai mandi dan bersiap, keduanya keluar menemui orangtua Raksa untuk berpamitan.

“Saya pamit pulang dulu. Terima kasih semalam diijinkan menginap,” ujar Lingga.

“Sarapan dulu, saya gak bolehin kamu pulang kalau belum sarapan,” ujar Mama Raksa sembari menarik Lingga ke ruang makan.

Jujur saja saat ini Lingga tengah mengejar waktu. Dia memiliki janji sarapan dengan papinya, dia tidak mau mengingkari ucapannya.

Di bawah sinar rembulan, Lingga dan Raksa berbincang. Lingga mengharapkan semua yang terbaik untuk Raksa, namun dia tidak bisa menebak apa yang akan lelaki itu ucapkan dari raut yang dia tampakkan kini.

“Gue kalah,” ujar Raksa yang menunduk dengan menyibakkan kasar rambutnya ke belakang.

Lingga diam, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia mencoba memahami yang terjadi kepada lelaki didepannya itu.

“Hasilnya sesuai, as you said, bakat dan passion gue itu kelihatan. Itu disebutin di hasilnya, ada. Tapi yang baru gue sadari disitu satu,” Raksa menjeda kalimatnya.

“Yang tertera di sana cuma penjurusan SMA dan perguruan tinggi, dan hasilnya gue cocok masuk jurusan IPA atau bahasa di SMA, SMK nggak ada. Orangtua gue gak mention sama sekali kalo gue udah masuk di SMK dengan jurusan yang jelas sesuai dengan minat bakat gue. Bahkan gue gak ada kesempatan buat ngomong itu di depan pakar biometrinya,” tambah Raksa menjelaskan.

“Gue tau di perguruan tinggi nanti masih bisa gue kejar, tapi kalo bisa gue mulai dari sekarang bisa apa salahnya sih? Sama aja kan? justru lebih cepet fokusnya. Gue udah kehabisan cara buat debat orangtua gue,” keluh Raksa.

Masih tidak ada kata yang keluar dari mulut Lingga, namun tangannya terulur memeluk Raksa dan menenangkan lelaki itu yang menahan tangisnya. Tangis Raksa keluar bercampur tawanya ketika Lingga memeluknya.

“Lo aneh,” celetuk Raksa.

“Kenapa?” balas Lingga bertanya.

“Meluk cowok.” Lingga tertawa mendengarnya.

“Emang cowok gak boleh dipeluk? Pikiran lo yang aneh,” ujar Lingga.

“Bukan itu, maksud gue lo cowok dan meluk cowok, itu aneh,” jelas Raksa.

“Nggak ada yang aneh, Rak, nggak ada,” balas Lingga.

Raksa memukuli punggung Lingga karena lelaki itu justru menggodanya karena dia mengatakan bahwa berpelukan sesama lelaki itu aneh. Lingga mengeratkan pelukannya pada Raksa dan menggoyang-goyangkan tubuh anak itu seperti orangtua yang gemas dengan anaknya. Tawa Lingga pecah ketika melakukan hal itu pada Raksa. Reaksi Raksa yang ternyata mudah tersulut membuat dia semakin ingin mengerjai lelaki itu.

“Ga udah, badan lo gede anjing. Gue kegencet!” protes Raksa agar Lingga melepaskannya.

“Lo aja kekecilan,” ujar Lingga setelah melepas pelukannya pada Raksa.

Keduanya diterpa hening sejenak. Raksa masih terbawa kesal dengan sikap Lingga tadi.

“Lo gak mau balik, Ga?” tanya Raksa memecah hening.

“Ya lo mau balik gak? Gue ngikut lo,” balas Lingga.

“Nggak dicariin apa lo keluar sampe jam segini?” tanya Raksa lagi.

“Ya dicariin, tapi gue kan udah ijin main. Yang harusnya ditanya tuh lo, dicariin apa nggak?” balas Lingga.

“Kan niat gue kabur,” jawab Raksa singkat.

“Yaudah gak usah balik.” Raksa menendang paha sebelah Lingga mendengar jawaban lelaki itu.

“Mulut lo yang bener kalo ngomong,” protes Raksa.

“Ya kan niat lo kabur, ngapain balik? Nggak kabur namanya kalo balik lagi ke rumah, itu pergi main doang lo,” jelas Lingga.

“Ya iya sih,” lirih Raksa setuju. “Ga, ayo cari angkringan, gue laper,” tambah Raksa.

“Lo yang bonceng tapi,” pinta Lingga.

“Iya gue bonceng, tapi lo bayarin. Gue gak bawa duit soalnya,” balas Raksa cengengesan.

“Iya deh, gue lagi baik hati.”

Takdir seringkali tidak dapat ditebak, salah satunya dengan siapa nanti kita bersama. Renjun yang semula hanya mengidolakan Lucas dan berjanji bahwa dia tidak akan masuk atau menerima tawaran dalam dunia film sebelum dia masuk dalam film Lucas. Akan tetapi, Renjun bukan hanya mendapat impiannya bertemu dan bermain film garapan Lucas, dia bahkan berhasil masuk dalam dekapan sang sutradara sekaligus memiliki tempat tersendiri dihatinya.

We got our first, you got your first movie and I got my first boyfriend,” kata Lucas

Bersama Renjun, perlahan Lucas membuang ketakutannya tentang sebuah hubungan. Dia membenarkan ucapan sang ayah bahwa sebuah hubungan tidak semenakutkan itu, semua kembali pada masing-masing.

Jalan takdir mempertemukan keduanya begitu lucu, meninggalkan kesan dalam diri masing-masing. Terlebih ketika Lucas tiba-tiba menyatakan ingin lebih dekat kepada Renjun, disaat itu Renjun merasa takdir begitu sulit ditebak dan pada waktu yang sama, dia merasa itu juga lucu mengingat bagaimana Lucas meminta ijin padanya.

“Sebelum jadi premium kan trial dulu,” ujar Lucas kala itu.

Keduanya kini tengah mengingat-ingat dari saat awal mereka bertemu hingga akhirnya saling jatuh. Saling berpelukan dengan kepala bersandar pada dada Lucas menjadi posisi favorit Renjun. Ketika orang memperdebatkan lebih nyaman bersandar di bahu atau paha kekasihnya, Renjun justru nyaman bersandar di dada kekasihnya. Rasanya begitu nyaman dan jantungnya ikut berdebar ketika mendengar detak jantung kekasihnya.

Waktu bisa menjadi tidak terasa jika kita menjalaninya dengan penuh bahagia, seperti yang dirasakan Renjun dan Lucas kini. Keduanya menikmati menjadi premium.

Sempat Lucas berpikir tentang kenapa dia tidak bertemu dengan Renjun lebih awal. Namun setelah memikirkannya kembali, dia tidak ingin bertemu Renjun lebih awal karena mungkin jalannya akan berbeda, tidak seperti sekarang ini.

“Ren, terima kasih udah datang. You're the best for me and i'll do for you too. I love you,” ujar Lucas dalam posisinya memeluk kekasih kecilnya.

“Jangan sering manis-manis, nanti aku diabetes,” balas Renjun. “I love you too by the way,” lanjutnya.

Malam itu keduanya habiskan dengan berbincang yang semakin lama semakin jauh pembicaraannya. Keduanya mengakhiri pembicaraan mereka dengan ciuman sebelum tidur.

END.

All the things that one has ever imagined

Dipertemukan oleh project sebuah brand, dua model ternama dipasangkan menjadi satu di sana. Mengambil gambar sekaligus short clip dengan romantis membuat Renjun terbuai dengan pesona lelaki yang dipasangkan dengannya.

Ketika tangan Lucas melingkari pingganggnya, masuk kedalam pelukannya, bibir ranum mereka beradu, dan keduanya bertindak penuh romansa, Renjun menikmatinya. Terlepas dari sorotan kamera, Lucas tak jarang memberikan sentuhan-sentuhan perhatian kepada Renjun.

Pria tinggi dan berparas tampan itu cukup menarik dirinya, pesonanya begitu kuat ditambah hal-hal kecil yang Lucas berikan padanya. Renjun tahu bahwa tak seharusnya dia mengharapkan Lucas, namun dirinya sudah terlanjur berlarut didalamnya. Tindakan Lucas begitu halus padanya hingga dia tak berpikir bahwa lelaki itu hanya menggodanya, tidak mengambil serius terhadap apa yang keduanya lakukan.

Selama project berlangsung, keduanya bertindak seakan memiliki hubungan yang nyatanya tidak ada yang mengikat keduanya selain yang namanya pekerjaan. Keduanya bertindak seperti layaknya pasangan kekasih entah di depan maupun belakang kamera.

Berciuman satu sama lain dan bersatu dalam pelukan menjadi hal yang keduanya sering lakukan. Bahkan lebih dari itu, seperti yang tengah mereka lakukan malam ini. Mengungkapkan perasaan masing-masing di atas ranjang dengan melempar lenguhan-lenguhan penuh nikmat. Tubuh mereka menyatu antara penuh cinta dan nafsu. Menyentuh satu sama lain dengan melempar kalimat penuh kagum. Bibir mereka juga beberapa kali beradu ditengah kegiatan mereka. Malam penuh peluh itu keduanya habiskan bersama.

Setelah project berakhir, keduanya tidak lagi sering bertemu. Keduanya berada pada kesibukan masing-masing hingga bertukar pesan pun terkadang tak sempat. Renjun sudah mendunga semua ini akan terjadi, dia tahu dia tidak seharusnya berlarut dari awal, namun dia tetap meninggikan egonya yang menginginkan bersama Lucas.

Suatu hari keduanya dipertemukan kembali dan keduanya bertingkah tidak jauh beda dari sebelumnya. Keduanya saling melempar afeksi satu sama lain layaknya sepasang kekasih melepas rindu.

Setelah dari acara yang mempertemukan keduanya, mereka malam itu menghabiskan malam bersama. Bersama langit malam, tubuh mereka kembali menyatu malam itu. Malam itu keduanya lewati dengan cukup panas, terlebih saat Renjun mendominasi. Menempatkan dirinya di atas, bergerak dengan tempo cepat melemparkan rasa yang dia miliki pada lelaki dibawahnya sekaligus amarah atas kedekatan Lucas dengan orang lain. Lenguhan keduanya terdengar begitu panas, penuh nikmat dan rasa puas. Bahkan ciuman keduanya benar-benar kacau malam itu.

Renjun membuat malam itu lebih hidup dan panas dari yang biasa mereka lewati sebelumnya. Dia tahu bahwa Lucas tidak bisa dia miliki, maka dia akan membuat kenangan mereka terus mengikuti Lucas, setidaknya Renjun akan tetap berada dalam ingatan Lucas.

Sebelum mengakhiri kegiatan malam itu, Renjun memberikan ciuman yang mungkin saja menjadi ciuman terakhir mereka. Dia membiarkan Lucas memimpin ciuman itu. Bibir keduanya beradu begitu dalam bersama dengan lumatan-lumatan dan lidah yang ikut bermain di sana. Rasanya Renjun tidak ingin semuanya berakhir, namun dia tidak bisa berharap apapun.

Renjun hanya menyimpan perasaannya karena pikiran dia salah bahwa keduanya memiliki perasaan yang sama, hanya dia yang berlarut disana, cinta Lucas tidak hidup. Harapannya hanya sekedar harapan yang dia ketahui tidak akan menjadi nyata.

Fashion show musim panas menjadi kali pertama keduanya bertemu kembali setelah malam itu dan Renjun tidak lagi melempar afeksi, sekedar sapaan hangat saja tidak. Terlebih Lucas telah menggandeng seseorang bersamanya, dia hanya bisa diam menahan rasa yang tidak pernah bisa dia ucapkan dengan terang.

Dalam acara tersebut memunculkan short clip Lucas dan Renjun karena ini merupakan acara dari brand yang mereka bawa. Membuat keduanya kembali teringat tentang apa yang keduanya lakukan bersama. Renjun berharap Lucas mengucapkan 'sampai bertemu lagi' kepadanya walaupun sekedar pura-pura, dia akan menganggap bahwa Lucas tidaklah melupakannya.

Selepas dari acara tersebut, Renjun kembali dengan rasa yang sulit dia deskripsikan, senang, sakit, kecewa, sedih, semua bercampur menjadi satu. Tidak ada yang abadi bagi Renjun, termasuk cinta yang dikatakan orang-orang dapat abadi.

Disisi itu terdapat Lucas yang mengikuti Renjun dari dia keluar gedung hingga memasuki mobilnya. Dia melihat mobil Renjun menjauh sampai tak lagi terlihat oleh pandangannya, entah apa yang ada dalam pikirannya.

END.

Rasa tidak sabar memenuhi diri Renjun ketika dia mengetahui kekasihnya akan kembali dari China. Sayang sekali kekasih besarnya itu tidak mau memberitahu kapan tepatnya dia pulang, Renjun begitu kesal karena itu. Waktu justru terasa semakin lama ketika dia semakin menantinya, rasanya satu hari seperti satu bulan lamanya. Ketahuilah bahwa rasa rindunya kepada sang kekasih sudah memuncak, rindunya teramat dalam.

Pagi ini dia sudah di tinggal sendirian di dorm karena yang lain pulang ke rumah. Jeno yang biasanya menemaninya di dorm juga ikut pulang. Dia merasa semakin kesepian sekarang. Parahnya lagi dari semalam kekasihnya belum kunjung membalas pesannya.

Renjun hanya membuat green tea hangat pagi ini, dia belum ingin memasukkan makanan ke dalam perutnya. Dia masih menyanding ponselnya berharap kekasihnya membalas pesannya.

Bell dorm berbunyi membuat Renjun mengernyit menebak siapa yang datang. Dalam pikirannya kemungkinan itu manager karena para member baru pergi semalam dan pagi buta tadi, tidak mungkin mereka kembali secepat itu pikir Renjun. Tanpa melihat siapa yang datang melalui monitor, Renjun langsung membuka pintu dorm.

Kepalanya menyumbul keluar karena di depan pintu tidak terdapat siapapun di sana. Dia menengok ke kiri dan kanan mencari siapa yang datang. Dia menemukan sosok tinggi dengan perawakan yang tidak asing dan membawa koper disebelahnya.

“Maaf, dengan siapa di sana?” tanya Renjun pada sosok tersebut yang sudah dapat dia tebak siapa dia.

The most handsome guy, your boyfriend,” balasnya sembari membuka masker dan menunjukkan senyuman lebarnya.

Sorry, I no longer have a boyfriend since last night,” balas Renjun mengerjai kekasihnya, membuat raut lelaki tinggi itu berubah menjadi masam.

Babe...” rengek sang kekasih.

“Gege nggak usah ikutan ngambek, aku yang ngambek,” balas Renjun.

“Aku nggak disuruh masuk ini? Tamu adalah raja,” protes kekasihnya, Lucas, yang tak segera dipersilahkan masuk.

“Males, biasanya juga masuk sendiri.” Renjun mengatakannya sambil berjalan masuk diikuti Lucas.

Perasaan Renjun antara senang dan kesal saat ini. Walaupun Lucas sudah mengatakan kalau tidak akan memberitahu kapan dia pulang, namun Renjun tetap saja kesal. Lihat saja sekarang Lucas datang dan tidak ada apapun yang dapat dia berikan. Jika kekasihnya itu memberitahu sebelumnya, dia setidaknya akan menyediakan sarapan untuk dirinya dan Lucas pagi ini.

Babe, ini aku ditinggalin gitu aja? Kamu tuh pacarnya pulang malah nggak disambut, katanya kangen banget,” protes Lucas sekali lagi.

“Aku mau bikin sarapan, kamu pasti belom sarapan kan? Coba kalo kamu bilang dulu, kamu dateng ke sini udah bisa makan,” balas Renjun dari dapur.

“Kalo bilang dulu nggak jadi surprise dong. Kita bisa sarapan diluar biar kamu nggak repot,” ujar Lucas sembari berjalan menyusul Renjun di dapur.

“Kamu pulang ke sini harus makan masakanku,” balas Renjun. “Kamu duduk aja jangan ganggu aku dulu, kalo mau bantuin lebih bagus,” tambah Renjun mengomel pada Lucas datang memeluk dan memberikan ciuman kepadanya.

Sounds good, we have a cooking date,” balas Lucas semangat. “Where's the apron, babe?” tambahnya.

Renjun mengambilkan apron untuk Lucas dan memakaikannya dengan sedikit berjinjit. Lucas memang tidak begitu pandai memasak tapi dia bisa membantu. Dari kecil dia sering membantu ibunya memasak sehingga sedikit banyak tahu bagaimana cara memasak, terlebih jika memasak makanan kesukaannya.

Hampir tiga puluh menit mereka berkutan di dapur menyiapkan sarapan. Renjun hanya menggelengkan kepalanya melihat Lucas yang tidak sabar untuk makan, terhitung sudah hampir sepuluh kali dia meminta izin untuk mencicipi dan lelaki itu mencicipi dengan suapan besar ke dalam mulutnya.

You never dissapoint, my lil chef,” ujar Lucas setelah mencicipi hasil masakan Renjun.

Then give me a kiss for this,” pinta Renjun sebagai apresiasi karena masakannya.

Dengan senang hati Lucas memberikan ciuman kepada kekasihnya. Dia hanya memberikan kecupan-kecupan singkat kepada sang kekasih, namun Renjun justru memperdalam ciuman mereka. Tangannya meraih tengkuk Lucas untuk memperdalam ciuman mereka dan membuatnya sedikit menunduk karena perbedaan tinggi mereka. Lucas pun berakhir mengikuti permainan Renjun, dia sangat merindukan hal ini dari dari kekasihnya. Sampai akhirnya Lucas merasa Renjun mulai kehabisan pasokan udara dan dia menyudahi ciuman mereka.

“Sekarang kita makan dulu, nggak enak nanti kalau dingin,” ujar Lucas lalu mendudukkan Renjun di kursi.


Keduanya tengah bersantai di sofa depan TV dengan posisi Renjun yang tiduran di paha sang kekasih. Mata Renjun masih tidak lepas dari Lucas dihadapannya, dia masih antara percaya dan tidak bahwa kekasihnya itu telah pulang.

Babe, aku tahu pacarmu ini emang ganteng,” sindir Lucas pada Renjun yang terus memandanginya.

“Ya emang, siapa bilang pacarku jelek,” balasnya.

“Kamu udah mandi belum?” Renjun menggelengkan kepalanya. “Mandi sana, habis ini kita date sesuai proposal yang kamu ajuin ke aku.” Renjun seketika bangkit mendengarnya.

“Astaga, aku lupa itu. Semua gara-gara kamu yang nggak mau kasih tau kapan kamu pulang. Aku jadi lupa sama rencana itu,” ujar Renjun.

“Sekarang kan inget, mandi dulu sana, habis itu kita pergi,” balas Lucas terkekeh.

“Gege udah mandi emang?” Lucas menggelengkan kepalanya.

“Gantian nanti, kamu mandi aja dulu. Aku mau istirahatin badan bentar sambil nunggu kamu mandi. Dari airport langsung ke sini aku tadi,” terang Lucas.

My boyfie so sweet.” Renjun mencium pipi Lucas setelah mengucapkannya. “Kalau kamu masih capek kita pergi besok aja gapapa,” tambah Renjun yang mendapat gelengan kepala dari Lucas.

“Aku mau puas-puasin date sama kamu sebelum sibuk lagi, mumpung kita lagi sama-sama longgar,” jelas Lucas. “Pergi mandi sana,” usir Lucas.


Renjun di sebelah Lucas sibuk mencari tempat yang akan mereka tuju. Karena Renjun lupa akan rencana kencannya, dia tidak mempersiapkan apapun sehingga hari ini semua serba mendadak. Dia juga harus mencari tempat yang tidak begitu banyak orang.

Surfing aja gimana? Kita pernah janji mau surfing waktu aku pulang. Sekalian nanti aku ajarin kamu,” usul Lucas yang tengah mengemudi.

“Itu jangan sekarang, yang lain aja,” tolak Renjun.

Lucas mengemudikan mobil tanpa tujuan. Hanya berkeliling sembari melihat sekitar barangkali ada tempat yang bisa mereka datangi.

“Ke escape room mau nggak, babe?” tawar Lucas lagi.

“Males mikir, mainnya bikin mikir itu,” tolak Renjun lagi.

VR center?” tawar Lucas lagi.

Not bad,” balas Renjun.

“Kita ke sana ya?” tanya Lucas guna meyakinkan jawaban Renjun.

“Iya,” balas Renjun setuju.

Lucas kini melajukan mobil dengan tujuan. Sepanjang perjalanan keduanya berkaraoke, mereka sama-sama suka bernyanyi. Lucas memang kurang sempurna mencapai nada tinggi, namun suara berat khasnya terdengar bagus saat bernyanyi, vokal kekasihnya itu tidak buruk. Terkadang Renjun merekam mereka yang tengah bernyanyi dan nantinya akan dia dengarkan ketika sedang rindu, mendengarkan suara Lucas itu cukup menenangkan Renjun.

Fix, aku mau usul buat kita duet,” ujar Renjun di tengah sesi karaoke mereka.

“Jangan babe, bahaya nanti makin banyak yang suka sama aku,” balas sang kekasih percaya diri.

“Nggak masalah, yang suka kamu makin banyak tapi kamu sukanya sama aku,” balas Renjun.

“Iya juga sih, aku sukanya sama kamu.”


Ketika sampai di VR center mereka menuju tempat untuk bermain driving. Itu salah satu yang Renjun suka, beradu dengan Lucas dan dia tidak akan mau berhenti sebelum mengalahkan Lucas. Keduanya sama-sama berambisi.

“Yang kalah paling banyak yang bayar makan nanti,” tantang Renjun.

“Berapa round?” tanya Lucas.

“10, deal?” balas Renjun.

Deal,” ujar Lucas sembari menjabat tangan Renjun.

God, let me win. My boyfriend is rich, let him spend his money. Thanks in advance,” ujar Renjun sebelum memulai game.

God, he's also rich,” sahut Lucas.

Kebiasaan keduanya saat bermain adalah tenang dan fokus, namun juga mudah terkejut. Seperti saat ini contohnya, Renjun berteriak ketika hampir saja menabrak sisi jalan dan membuat Lucas ikut berteriak karena terkejut dengan teriakan Renjun.

XUXI GE! PLEASE STAY AWAY FROM ME!” protes Renjun yang mobilnya terus dihalangi Lucas untuk menyalip lelaki itu.

I won't. Pass me if you can,” balas Lucas sembari tertawa meledek.

Tangan sebelah Renjun mencoba meraba kemudi Lucas dan mencoba mengganggu lelaki itu agar permainannya kacau. Alih-alih terganggu, Lucas justru menahan tangan Renjun yang telah memegang kemudinya. Renjun semakin bingung mencoba mengacaukan Lucas sekaligus mengemudi miliknya. Lucas yang tenaganya lebih besar bisa melawan tenaga Renjun mengacau kemudi Lucas dan kini justru miliknya yang kacau, hampir menabrak sisi jalan beberapa kali hingga akhirnya dia menerima kekalahan kali ketiga melawan Lucas.

“Gege curang, ngehalangin jalanku terus!” protes Renjun.

“Nggak curang, itu masuk strategi melawan musuh. Yang curang itu kamu, ngerusuhin aku,” balas Lucas.

Pada babak selanjutnya, Lucas mulai mengalah pada Renjun. Dia membiarkan kekasih kecilnya itu memenangkan permainan. Ini bukan saatnya beradu tapi bersenang-senang. Dia ingin melihat senyum lebar sang kekasih yang hampir 4 bulan hanya dapat dia lihat melalui layar ponselnya.

Suara Renjun benar-benar girang ketika dia berhasil memimpin permainan. Lucas tersenyum mendengarnya, terbayang jelas bagaimana raut bahagia Renjun.

Thanks God, I win,” ujar Renjun setelah babak terakhir dia selesaikan dan poin kemenangannya lebih banyak dari Lucas.

RIP my card,” balas Lucas dengan raut pasrah.

Ketika Lucas hendak mengajak Renjun bermain VR game yang lain, anak itu justru mengajak duluan Lucas ke arcade game yang ternyata masih satu tempat. Lucas mengalah dan mengikuti Renjun ke sana.

Keduanya sudah tiga jam berada di sana, hampir semua permainan mereka coba. Mereka sepertinya sangat puas bermain di sini sampai betah begitu lama.

Renjun duduk terkapar di sebelah mesin permainan basket karena dia sudah merasa letih. Lucas justru menertawakan Renjun alih-alih menanyakan anak itu baik-baik saja atau tidak dan juga dia memotret kekasihnya yang terkapar karena letih itu.

“Cari makan aja yuk, babe,” ajak Lucas.

“Ayo, tapi bentar. Masih capek aku, kayak perform 5 lagu sekaligus waktu konser rasanya. Nggak capek apa kamu?” balas Renjun.

Tidak mengindahkan pertanyaan Renjun, Lucas berjongkok di depan sang Kekasih. “Naik sini, aku gendong,” ujarnya.

“Nggak mau, malu nanti diliatin,” balas Renjun.

“Malu pun orang-orang nggak tahu wajahmu. Wajahmu ketutup masker. Udah sini naik.” Lucas membawa Renjun kepundaknya dengan menarik kedua tangannya dari depan.


Rasanya seperti tidak lengkap jika keduanya pergi berkencan tanpa menyantap hotpot. Itu seperti menjadi makanan wajib mereka saat berkencan. Terlebih cuacanya sedang tepat sekali karena sudah masuk musim hujan dan kini mendung telah datang, tidak lama lagi hujan akan turun.

“Ge, besok surfing gimana? Tiba-tiba pengen,” ajak Renjun.

“Boleh,” balas Lucas. “Kamu harus lihat your sexy boyfriend surfing,” tambahnya.

“Ya emang niatku itu, aku males surfing,” balas Renjun terang-terangan.

“Tapi nggak males kalo liatin aku surfing,” timpal Lucas.

Yeah, I'm not. You gonna be sexy as fuck, that's my best view,” ujar Renjun santai.

Watch your mouth babe. Lancar banget mulutnya bilang kayak gitu,” sahut Lucas.

You teach me, ge.

Pesanan mereka telah dihidangkan dan siap disantap. Lucas yang pada dasarnya cepat lapar sudah tidak sabaran menyantapnya.

Keduanya menikmati makan mereka hingga tanpa sadar mereka telah menghabiskan seluruhnya. Keduanya setelah selesai tidak langsung beranjak pergi, namun bersantai sebentar melegakan perut mereka.

Sebelum kembali ke dorm, mereka pergi ke groceries store membeli bahan untuk makan malam. Karena hujan kemungkinan bertahan lama, Renjun memutuskan mereka akan makan malam di dorm saja.

Berbeda dengan Renjun yang sibuk mencari bahan makanan, Lucas justru memburu snack. Karena keduanya terpisah membuat saling mencari sebelum pergi ke kasir.

Babe, aku di deket kasir ya. Ke depan aja kamu,” ujar Lucas melalui panggilan suara kepada Renjun.

Tidak lama muncul sosok kecil yang tengah menatap kesal karena dia dibuat mencari kesana-kemari.

“Susah kalo ngajak kamu belanja itu, pasti misah gini,” omel Renjun.

“Kan biar cepet belanjanya jadi bagi tugas,” bela Lucas.

“Ya terserah. Tetep kamu ya yang bayar ini,” ujar Renjun.

“Iya sayangku, aku yang bayar,” balas Lucas.


Siapa sangka mereka sampai di dorm sudah malam. Setelah selesai mandi, Renjun mempersiapkan makan malam sementara Lucas tengah mandi. Hari ini keduanya menempati dorm seperti rumah pribadi mereka berdua, karena hanya mereka di sana. Bahkan Lucas belum ke dorm tempatnya sama sekali, kopernya masih berada di ruangan Renjun.

“Pake baju dulu, ge,” protes Renjun yang mendapati Lucas menghampirinya hanya memakai bawahan dengan mengusak rambutnya yang basah dengan handuk.

“Males, habis ini juga tidur,” balas Lucas. “You said it's your best view, then enjoy it. Udah sering lihat juga,” tambahnya.

“Nggak dingin apa kamu?” tanya Renjun.

“Tinggal peluk kamu, selesai.” Lucas duduk di depan Renjun dan menyampirkan handuknya di pundak.

“Emangnya aku mau?” balas Renjun.

“Pasti mau,” balas Lucas percaya diri.

“Aku cuma bikin dikit karena kita baru makan tadi dan masih kerasa kenyang juga,” ujar Renjun memberikan sepiring pasta kepada Lucas.

Setelah menyelesaikan makan malam, keduanya beranjak ke ruangan Renjun untuk menonton film. Renjun memposisikan dirinya dengan nyaman bersandar pada dada kekasihnya. Keduanya menonton film horror.

Renjun menontonnya dengan santai walaupun tetap dengan rasa takut. Dia suka menonton film horror. Ketika muncul jump scare dia akan berteriak dan itu tepat di telinga Lucas. Sedangkan Lucas hanya diam memeluk Renjun, sejujurnya daripada Renjun, Lucas lah yang takut, namun mencoba stay cool dengan tetap diam.

Babe, udahan aja lah nontonnya,” bisik Lucas. “Kamu sebelumnya juga udah nonton itu,” tambahnya.

“Gapapa, seru tau. Kamu takut ya?” tebak Renjun yang memang benar. “Cemen,” tambahnya.

Better we cuddling, Babe,” bujuk Lucas.

Renjun tidak mengindahkan ucapan Lucas dan tetap fokus pada film. Lucas yang merasa tidak dianggap akhirnya mengulurkan tangannya dan menarik wajah Renjun menoleh kearahnya. Lucas mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan Renjun. Tidak adanya penolakan dari Renjun membuatnya semakin memperdalam ciuman mereka. Semakin lama keduanya semakin terbawa suasana akan ciuman itu.

Sejenak keduanya melepaskan ciuman lalu keduanya kembali lagi melakukannya dengan Renjun yang memulai kali ini. Bukan sekedar lumatan-lumatan, namun lidah mereka juga ikut bermain-main. Di tengah ciuman panas mereka, tangan Lucas mulai menelusup dibalik kaos Renjun. Memberikan sentuhan-sentuhan di tubuh Renjun.

Ge, wait.” Renjun menghentikan aksi mereka sejenak. Dia meraih ponselnya dan menghubungkannya dengan speaker. Dia memutar musik untuk menemani kegiatan mereka dan menyisihkan laptop dari pangkuan mereka.

I wanna be with you till the sun rises In your eyes, in your eyes, in your eyes I wanna paint the moon with your eyelashes Paint the night, paint the night, paint the night Lights out

Lagu itu menemani kegiatan panas mereka. Malam itu keduanya habiskan di ranjang meluapkan segala kerinduan.


Ketika membuka mata di pagi hari, Lucas melihat kekasihnya yang masih terlelap dalam pelukannya. Lucas menarik selimut yang tersingkap dan menutupi punggung kekasihnya. Namun pergerakan Lucas sepertinya justru membangunkan Renjun.

Good morning, babe,” sapa Lucas pada kekasihnya.

Good morning,” balasnya dengan suara khas bangun tidurnya dan kembali memejamkan mata dengan memeluk tubuh Lucas seperti sebuah guling.

“Jadi surfing nggak nanti?” tanya Lucas sembari memainkan rambut kekasihnya itu. Renjun memberikan gelengan kepala sebagai jawaban.

“Aku mau peluk kamu aja seharian. Nanti anak-anak beberapa ada yang balik, aku mau puas-puasin sama kamu dengan tenang sekarang,” balas Renjun.

Okay, then where's my morning kiss?

Renjun mendongak ke atas dan memberikan ciuman singkat kepada kekasihnya itu.

END.

Rasa tidak sabar memenuhi diri Renjun ketika dia mengetahui kekasihnya akan kembali dari China. Sayang sekali kekasih besarnya itu tidak mau memberitahu kapan tepatnya dia pulang, Renjun begitu kesal karena itu. Waktu justru terasa semakin lama ketika dia semakin menantinya, rasanya satu hari seperti satu bulan lamanya. Ketahuilah bahwa rasa rindunya kepada sang kekasih sudah memuncak, rindunya teramat dalam.

Pagi ini dia sudah di tinggal sendirian di dorm karena yang lain pulang ke rumah. Jeno yang biasanya menemaninya di dorm juga ikut pulang. Dia merasa semakin kesepian sekarang. Parahnya lagi dari semalam kekasihnya belum kunjung membalas pesannya.

Renjun hanya membuat green tea hangat pagi ini, dia belum ingin memasukkan makanan ke dalam perutnya. Dia masih menyanding ponselnya berharap kekasihnya membalas pesannya.

Bell dorm berbunyi membuat Renjun mengernyit menebak siapa yang datang. Dalam pikirannya kemungkinan itu manager karena para member baru pergi semalam dan pagi buta tadi, tidak mungkin mereka kembali secepat itu pikir Renjun. Tanpa melihat siapa yang datang melalui monitor, Renjun langsung membuka pintu dorm.

Kepalanya menyumbul keluar karena di depan pintu tidak terdapat siapapun di sana. Dia menengok ke kiri dan kanan mencari siapa yang datang. Dia menemukan sosok tinggi dengan perawakan yang tidak asing dan masih dengan koper disebelahnya.

“Maaf, dengan siapa di sana?” tanya Renjun pada sosok tersebut yang sudah dapat dia tebak siapa dia.

The most handsome guy, your boyfriend,” balasnya sembari membuka masker dan menunjukkan senyuman lebarnya.

Sorry, I no longer have a boyfriend since last night,” balas Renjun mengerjai kekasihnya, membuat raut lelaki tinggi itu berubah menjadi masam.

Babe...” rengek sang kekasih.

“Gege nggak usah ikutan ngambek, aku yang ngambek,” balas Renjun.

“Aku nggak disuruh masuk ini? Tamu adalah raja,” protes kekasihnya, Lucas, yang tak segera dipersilahkan masuk.

“Males, biasanya juga masuk sendiri.” Renjun mengatakannya sambil berjalan masuk diikuti Lucas.

Perasaan Renjun antara senang dan kesal saat ini. Walaupun Lucas sudah mengatakan kalau tidak akan memberitahu kapan dia pulang, namun Renjun tetap saja kesal. Lihat saja sekarang Lucas datang dan tidak ada apapun yang dapat dia berikan. Jika kekasihnya itu memberitahu sebelumnya, dia setidaknya akan menyediakan sarapan untuk dirinya dan Lucas pagi ini.

Babe, ini aku ditinggalin gitu aja? Kamu tuh pacarnya pulang malah nggak disambut, katanya kangen banget,” protes Lucas sekali lagi.

“Aku mau bikin sarapan, kamu pasti belom sarapan kan? Coba kalo kamu bilang dulu, kamu dateng ke sini udah bisa makan,” balas Renjun dari dapur.

“Kalo bilang dulu nggak jadi surprise dong. Kita bisa sarapan diluar biar kamu nggak repot,” ujar Lucas sembari berjalan menyusul Renjun di dapur.

“Kamu pulang ke sini harus makan masakanku,” balas Renjun. “Kamu duduk aja jangan ganggu aku dulu, kalo mau bantuin lebih bagus,” tambah Renjun mengomel pada Lucas datang memeluk dan memberikan ciuman kepadanya.

Sounds good, we have a cooking date,” balas Lucas semangat. “Where's the apron, babe?” tambahnya.

Renjun mengambilkan apron untuk Lucas dan memakaikannya dengan sedikit berjinjit. Lucas memang tidak begitu pandai memasak tapi dia bisa membantu. Dari kecil dia sering membantu ibunya memasak sehingga sedikit banyak tahu bagaimana cara memasak, terlebih jika memasak makanan kesukaannya.

Hampir tiga puluh menit mereka berkutan di dapur menyiapkan sarapan. Renjun hanya menggelengkan kepalanya melihat Lucas yang tidak sabar untuk makan, terhitung sudah hampir sepuluh kali dia meminta izin untuk mencicipi dan lelaki itu mencicipi dengan suapan besar ke dalam mulutnya.

You never dissapoint, my lil chef,” ujar Lucas setelah mencicipi hasil masakan Renjun.

Then give me a kiss for this,” pinta Renjun sebagai apresiasi karena masakannya.

Dengan senang hati Lucas memberikan ciuman kepada kekasihnya. Dia hanya memberikan kecupan-kecupan singkat kepada sang kekasih, namun Renjun justru memperdalam ciuman mereka. Tangannya meraih tengkuk Lucas untuk memperdalam ciuman mereka dan membuatnya sedikit menunduk karena perbedaan tinggi mereka. Lucas pun berakhir mengikuti permainan Renjun, dia sangat merindukan hal ini dari dari kekasihnya. Sampai akhirnya Lucas merasa Renjun mulai kehabisan pasokan udara dan dia menyudahi ciuman mereka.

“Sekarang kita makan dulu, nggak enak nanti kalau dingin,” ujar Lucas lalu mendudukkan Renjun di kursi.


Keduanya tengah bersantai di sofa depan TV dengan posisi Renjun yang tiduran di paha sang kekasih. Mata Renjun masih tidak lepas dari Lucas dihadapannya, dia masih antara percaya dan tidak bahwa kekasihnya itu telah pulang.

Babe, aku tahu pacarmu ini emang ganteng,” sindir Lucas pada Renjun yang terus memandanginya.

“Ya emang, siapa bilang pacarku jelek,” balasnya.

“Kamu udah mandi belum?” Renjun menggelengkan kepalanya. “Mandi sana, habis ini kita date sesuai proposal yang kamu ajuin ke aku.” Renjun seketika bangkit mendengarnya.

“Astaga, aku lupa itu. Semua gara-gara kamu yang nggak mau kasih tau kapan kamu pulang. Aku jadi lupa sama rencana itu,” ujar Renjun.

“Sekarang kan inget, mandi dulu sana, habis itu kita pergi,” balas Lucas terkekeh.

“Gege udah mandi emang?” Lucas menggelengkan kepalanya.

“Gantian nanti, kamu mandi aja dulu. Aku mau istirahatin badan bentar sambil nunggu kamu mandi. Dari airport langsung ke sini aku tadi,” terang Lucas.

My boyfie so sweet.” Renjun mencium pipi Lucas setelah mengucapkannya. “Kalau kamu masih capek kita pergi besok aja gapapa,” tambah Renjun yang mendapat gelengan kepala dari Lucas.

“Aku mau puas-puasin date sama kamu sebelum sibuk lagi, mumpung kita lagi sama-sama longgar,” jelas Lucas. “Pergi mandi sana,” usir Lucas.


Renjun di sebelah Lucas sibuk mencari tempat yang akan mereka tuju. Karena Renjun lupa akan rencana kencannya, dia tidak mempersiapkan apapun sehingga hari ini semua serba mendadak. Dia juga harus mencari tempat yang tidak begitu banyak orang.

Surfing aja gimana? Kita pernah janji mau surfing waktu aku pulang. Sekalian nanti aku ajarin kamu,” usul Lucas yang tengah mengemudi.

“Itu jangan sekarang, yang lain aja,” tolak Renjun.

Lucas mengemudikan mobil tanpa tujuan. Hanya berkeliling sembari melihat sekitar barangkali ada tempat yang bisa mereka datangi.

“Ke escape room mau nggak, babe?” tawar Lucas lagi.

“Males mikir, mainnya bikin mikir itu,” tolak Renjun lagi.

VR center?” tawar Lucas lagi.

Not bad,” balas Renjun.

“Kita ke sana ya?” tanya Lucas guna meyakinkan jawaban Renjun.

“Iya,” balas Renjun setuju.

Lucas kini melajukan mobil dengan tujuan. Sepanjang perjalanan keduanya berkaraoke, mereka sama-sama suka bernyanyi. Lucas memang kurang sempurna mencapai nada tinggi, namun suara berat khasnya terdengar bagus saat bernyanyi, vokal kekasihnya itu tidak buruk. Terkadang Renjun merekam mereka yang tengah bernyanyi dan nantinya akan dia dengarkan ketika sedang rindu, mendengarkan suara Lucas itu cukup menenangkan Renjun.

Fix, aku mau usul buat kita duet,” ujar Renjun di tengah sesi karaoke mereka.

“Jangan babe, bahaya nanti makin banyak yang suka sama aku,” balas sang kekasih percaya diri.

“Nggak masalah, yang suka kamu makin banyak tapi kamu sukanya sama aku,” balas Renjun.

“Iya juga sih, aku sukanya sama kamu.”


Ketika sampai di VR center mereka menuju tempat untuk bermain driving. Itu salah satu yang Renjun suka, beradu dengan Lucas dan dia tidak akan mau berhenti sebelum mengalahkan Lucas. Keduanya sama-sama berambisi.

“Yang kalah paling banyak yang bayar makan nanti,” tantang Renjun.

“Berapa round?” tanya Lucas.

“10, deal?” balas Renjun.

Deal,” ujar Lucas sembari menjabat tangan Renjun.

God, let me win. My boyfriend is rich, let him spend his money. Thanks in advance,” ujar Renjun sebelum memulai game.

God, he's also rich,” sahut Lucas.

Kebiasaan keduanya saat bermain adalah tenang dan fokus, namun juga mudah terkejut. Seperti saat ini contohnya, Renjun berteriak ketika hampir saja menabrak sisi jalan dan membuat Lucas ikut berteriak karena terkejut dengan teriakan Renjun.

XUXI GE! PLEASE STAY AWAY FROM ME!” protes Renjun yang mobilnya terus dihalangi Lucas untuk menyalip lelaki itu.

I won't. Pass me if you can,” balas Lucas sembari tertawa meledek.

Tangan sebelah Renjun mencoba meraba kemudi Lucas dan mencoba mengganggu lelaki itu agar permainannya kacau. Alih-alih terganggu, Lucas justru menahan tangan Renjun yang telah memegang kemudinya. Renjun semakin bingung mencoba mengacaukan Lucas sekaligus mengemudi miliknya. Lucas yang tenaganya lebih besar bisa melawan tenaga Renjun mengacau kemudi Lucas dan kini justru miliknya yang kacau, hampir menabrak sisi jalan beberapa kali hingga akhirnya dia menerima kekalahan kali ketiga melawan Lucas.

“Gege curang, ngehalangin jalanku terus!” protes Renjun.

“Nggak curang, itu masuk strategi melawan musuh. Yang curang itu kamu, ngerusuhin aku,” balas Lucas.

Pada babak selanjutnya, Lucas mulai mengalah pada Renjun. Dia membiarkan kekasih kecilnya itu memenangkan permainan. Ini bukan saatnya beradu tapi bersenang-senang. Dia ingin melihat senyum lebar sang kekasih yang hampir 4 bulan hanya dapat dia lihat melalui layar ponselnya.

Suara Renjun benar-benar girang ketika dia berhasil memimpin permainan. Lucas tersenyum mendengarnya, terbayang jelas bagaimana raut bahagia Renjun.

Thanks God, I win,” ujar Renjun setelah babak terakhir dia selesaikan dan poin kemenangannya lebih banyak dari Lucas.

RIP my card,” balas Lucas dengan raut pasrah.

Ketika Lucas hendak mengajak Renjun bermain VR game yang lain, anak itu justru mengajak duluan Lucas ke arcade game yang ternyata masih satu tempat. Lucas mengalah dan mengikuti Renjun ke sana.

Keduanya sudah tiga jam berada di sana, hampir semua permainan mereka coba. Mereka sepertinya sangat puas bermain di sini sampai betah begitu lama.

Renjun duduk terkapar di sebelah mesin permainan basket karena dia sudah merasa letih. Lucas justru menertawakan Renjun alih-alih menanyakan anak itu baik-baik saja atau tidak dan juga dia memotret kekasihnya yang terkapar karena letih itu.

“Cari makan aja yuk, babe,” ajak Lucas.

“Ayo, tapi bentar. Masih capek aku, kayak perform 5 lagu sekaligus waktu konser rasanya. Nggak capek apa kamu?” balas Renjun.

Tidak mengindahkan pertanyaan Renjun, Lucas berjongkok di depan sang Kekasih. “Naik sini, aku gendong,” ujarnya.

“Nggak mau, malu nanti diliatin,” balas Renjun.

“Malu pun orang-orang nggak tahu wajahmu. Wajahmu ketutup masker. Udah sini naik.” Lucas membawa Renjun kepundaknya dengan menarik kedua tangannya dari depan.


Rasanya seperti tidak lengkap jika keduanya pergi berkencan tanpa menyantap hotpot. Itu seperti menjadi makanan wajib mereka saat berkencan. Terlebih cuacanya sedang tepat sekali karena sudah masuk musim hujan dan kini mendung telah datang, tidak lama lagi hujan akan turun.

“Ge, besok surfing gimana? Tiba-tiba pengen,” ajak Renjun.

“Boleh,” balas Lucas. “Kamu harus lihat your sexy boyfriend surfing,” tambahnya.

“Ya emang niatku itu, aku males surfing,” balas Renjun terang-terangan.

“Tapi nggak males kalo liatin aku surfing,” timpal Lucas.

Yeah, I'm not. You gonna be sexy as fuck, that's my best view,” ujar Renjun santai.

Watch your mouth babe. Lancar banget mulutnya bilang kayak gitu,” sahut Lucas.

You teach me, ge.

Pesanan mereka telah dihidangkan dan siap disantap. Lucas yang pada dasarnya cepat lapar sudah tidak sabaran menyantapnya.

Keduanya menikmati makan mereka hingga tanpa sadar mereka telah menghabiskan seluruhnya. Keduanya setelah selesai tidak langsung beranjak pergi, namun bersantai sebentar melegakan perut mereka.

Sebelum kembali ke dorm, mereka pergi ke groceries store membeli bahan untuk makan malam. Karena hujan kemungkinan bertahan lama, Renjun memutuskan mereka akan makan malam di dorm saja.

Berbeda dengan Renjun yang sibuk mencari bahan makanan, Lucas justru memburu snack. Karena keduanya terpisah membuat saling mencari sebelum pergi ke kasir.

Babe, aku di deket kasir ya. Ke depan aja kamu,” ujar Lucas melalui panggilan suara kepada Renjun.

Tidak lama muncul sosok kecil yang tengah menatap kesal karena dia dibuat mencari kesana-kemari.

“Susah kalo ngajak kamu belanja itu, pasti misah gini,” omel Renjun.

“Kan biar cepet belanjanya jadi bagi tugas,” bela Lucas.

“Ya terserah. Tetep kamu ya yang bayar ini,” ujar Renjun.

“Iya sayangku, aku yang bayar,” balas Lucas.


Siapa sangka mereka sampai di dorm sudah malam. Setelah selesai mandi, Renjun mempersiapkan makan malam sementara Lucas tengah mandi. Hari ini keduanya menempati dorm seperti rumah pribadi mereka berdua, karena hanya mereka di sana. Bahkan Lucas belum ke dorm tempatnya sama sekali, kopernya masih berada di ruangan Renjun.

“Pake baju dulu, ge,” protes Renjun yang mendapati Lucas menghampirinya hanya memakai bawahan dengan mengusak rambutnya yang basah dengan handuk.

“Males, habis ini juga tidur,” balas Lucas. “You said it's your best view, then enjoy it. Udah sering lihat juga,” tambahnya.

“Nggak dingin apa kamu?” tanya Renjun.

“Tinggal peluk kamu, selesai.” Lucas duduk di depan Renjun dan menyampirkan handuknya di pundak.

“Emangnya aku mau?” balas Renjun.

“Pasti mau,” balas Lucas percaya diri.

“Aku cuma bikin dikit karena kita baru makan tadi dan masih kerasa kenyang juga,” ujar Renjun memberikan sepiring pasta kepada Lucas.

Setelah menyelesaikan makan malam, keduanya beranjak ke ruangan Renjun untuk menonton film. Renjun memposisikan dirinya dengan nyaman bersandar pada dada kekasihnya. Keduanya menonton film horror.

Renjun menontonnya dengan santai walaupun tetap dengan rasa takut. Dia suka menonton film horror. Ketika muncul jump scare dia akan berteriak dan itu tepat di telinga Lucas. Sedangkan Lucas hanya diam memeluk Renjun, sejujurnya daripada Renjun, Lucas lah yang takut, namun mencoba stay cool dengan tetap diam.

Babe, udahan aja lah nontonnya,” bisik Lucas. “Kamu sebelumnya juga udah nonton itu,” tambahnya.

“Gapapa, seru tau. Kamu takut ya?” tebak Renjun yang memang benar. “Cemen,” tambahnya.

Better we cuddling, Babe,” bujuk Lucas.

Renjun tidak mengindahkan ucapan Lucas dan tetap fokus pada film. Lucas yang merasa tidak dianggap akhirnya mengulurkan tangannya dan menarik wajah Renjun menoleh kearahnya. Lucas mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan Renjun. Tidak adanya penolakan dari Renjun membuatnya semakin memperdalam ciuman mereka. Semakin lama keduanya semakin terbawa suasana akan ciuman itu.

Sejenak keduanya melepaskan ciuman lalu keduanya kembali lagi melakukannya dengan Renjun yang memulai kali ini. Bukan sekedar lumatan-lumatan, namun lidah mereka juga ikut bermain-main. Di tengah ciuman panas mereka, tangan Lucas mulai menelusup dibalik kaos Renjun. Memberikan sentuhan-sentuhan di tubuh Renjun.

Ge, wait.” Renjun menghentikan aksi mereka sejenak. Dia meraih ponselnya dan menghubungkannya dengan speaker. Dia memutar musik untuk menemani kegiatan mereka dan menyisihkan laptop dari pangkuan mereka.

I wanna be with you till the sun rises In your eyes, in your eyes, in your eyes I wanna paint the moon with your eyelashes Paint the night, paint the night, paint the night Lights out

Lagu itu menemani kegiatan panas mereka. Malam itu keduanya habiskan di ranjang meluapkan segala kerinduan.


Ketika membuka mata di pagi hari, Lucas melihat kekasihnya yang masih terlelap dalam pelukannya. Lucas menarik selimut yang tersingkap dan menutupi punggung kekasihnya. Namun pergerakan Lucas sepertinya justru membangunkan Renjun.

Good morning, babe,” sapa Lucas pada kekasihnya.

Good morning,” balasnya dengan suara khas bangun tidurnya dan kembali memejamkan mata dengan memeluk tubuh Lucas seperti sebuah guling.

“Jadi surfing nggak nanti?” tanya Lucas sembari memainkan rambut kekasihnya itu. Renjun memberikan gelengan kepala sebagai jawaban.

“Aku mau peluk kamu aja seharian. Nanti anak-anak beberapa ada yang balik, aku mau puas-puasin sama kamu dengan tenang,” balas Renjun.

Okay, then where's my morning kiss?

Renjun mendongak ke atas dan memberikan ciuman singkat kepada kekasihnya itu.

END.

Rasa tidak sabar memenuhi diri Renjun ketika dia mengetahui kekasihnya akan kembali dari China. Sayang sekali kekasih besarnya itu tidak mau memberitahu kapan tepatnya dia pulang, Renjun begitu kesal karena itu. Waktu justru terasa semakin lama ketika dia semakin menantinya, rasanya satu hari seperti satu bulan lamanya. Ketahuilah bahwa rasa rindunya kepada sang kekasih sudah memuncak, rindunya teramat dalam.

Pagi ini dia sudah di tinggal sendirian di dorm karena yang lain pulang ke rumah. Jeno yang biasanya menemaninya di dorm juga ikut pulang. Dia merasa semakin kesepian sekarang. Parahnya lagi dari semalam kekasihnya belum kunjung membalas pesannya.

Renjun hanya membuat green tea hangat pagi ini, dia belum ingin memasukkan makanan ke dalam perutnya. Dia masih menyanding ponselnya berharap kekasihnya membalas pesannya.

Bell dorm berbunyi membuat Renjun mengernyit menebak siapa yang datang. Dalam pikirannya kemungkinan itu manager karena para member baru pergi semalam dan pagi buta tadi, tidak mungkin mereka kembali secepat itu pikir Renjun. Tanpa melihat siapa yang datang melalui monitor, Renjun langsung membuka pintu dorm.

Kepalanya menyumbul keluar karena di depan pintu tidak terdapat siapapun di sana. Dia menengok ke kiri dan kanan mencari siapa yang datang. Dia menemukan sosok tinggi dengan perawakan yang tidak asing dan masih dengan koper disebelahnya.

“Maaf, dengan siapa di sana?” tanya Renjun pada sosok tersebut yang sudah dapat dia tebak siapa dia.

The most handsome guy, your boyfriend,” balasnya sembari membuka masker dan menunjukkan senyuman lebarnya.

Sorry, I no longer have a boyfriend since last night,” balas Renjun mengerjai kekasihnya, membuat raut lelaki tinggi itu berubah menjadi masam.

Babe...” rengek sang kekasih.

“Gege nggak usah ikutan ngambek, aku yang ngambek,” balas Renjun.

“Aku nggak disuruh masuk ini? Tamu adalah raja,” protes kekasihnya, Lucas, yang tak segera dipersilahkan masuk.

“Males, biasanya juga masuk sendiri.” Renjun mengatakannya sambil berjalan masuk diikuti Lucas.

Perasaan Renjun antara senang dan kesal saat ini. Walaupun Lucas sudah mengatakan kalau tidak akan memberitahu kapan dia pulang, namun Renjun tetap saja kesal. Lihat saja sekarang Lucas datang dan tidak ada apapun yang dapat dia berikan. Jika kekasihnya itu memberitahu sebelumnya, dia setidaknya akan menyediakan sarapan untuk dirinya dan Lucas pagi ini.

Babe, ini aku ditinggalin gitu aja? Kamu tuh pacarnya pulang malah nggak disambut, katanya kangen banget,” protes Lucas sekali lagi.

“Aku mau bikin sarapan, kamu pasti belom sarapan kan? Coba kalo kamu bilang dulu, kamu dateng ke sini udah bisa makan,” balas Renjun dari dapur.

“Kalo bilang dulu nggak jadi surprise dong. Kita bisa sarapan diluar biar kamu nggak repot,” ujar Lucas sembari berjalan menyusul Renjun di dapur.

“Kamu pulang ke sini harus makan masakanku,” balas Renjun. “Kamu duduk aja jangan ganggu aku dulu, kalo mau bantuin lebih bagus,” tambah Renjun mengomel pada Lucas datang memeluk dan memberikan ciuman kepadanya.

Sounds good, we have a cooking date,” balas Lucas semangat. “Where's the apron, babe?” tambahnya.

Renjun mengambilkan apron untuk Lucas dan memakaikannya dengan sedikit berjinjit. Lucas memang tidak begitu pandai memasak tapi dia bisa membantu. Dari kecil dia sering membantu ibunya memasak sehingga sedikit banyak tahu bagaimana cara memasak, terlebih jika memasak makanan kesukaannya.

Hampir tiga puluh menit mereka berkutan di dapur menyiapkan sarapan. Renjun hanya menggelengkan kepalanya melihat Lucas yang tidak sabar untuk makan, terhitung sudah hampir sepuluh kali dia meminta izin untuk mencicipi dan lelaki itu mencicipi dengan suapan besar ke dalam mulutnya.

You never dissapoint, my lil chef,” ujar Lucas setelah mencicipi hasil masakan Renjun.

Then give me a kiss for this,” pinta Renjun sebagai apresiasi karena masakannya.

Dengan senang hati Lucas memberikan ciuman kepada kekasihnya. Dia hanya memberikan kecupan-kecupan singkat kepada sang kekasih, namun Renjun justru memperdalam ciuman mereka. Tangannya meraih tengkuk Lucas untuk memperdalam ciuman mereka dan membuatnya sedikit menunduk karena perbedaan tinggi mereka. Lucas pun berakhir mengikuti permainan Renjun, dia sangat merindukan hal ini dari dari kekasihnya. Sampai akhirnya Lucas merasa Renjun mulai kehabisan pasokan udara dan dia menyudahi ciuman mereka.

“Sekarang kita makan dulu, nggak enak nanti kalau dingin,” ujar Lucas lalu mendudukkan Renjun di kursi.


Keduanya tengah bersantai di sofa depan TV dengan posisi Renjun yang tiduran di paha sang kekasih. Mata Renjun masih tidak lepas dari Lucas dihadapannya, dia masih antara percaya dan tidak bahwa kekasihnya itu telah pulang.

Babe, aku tahu pacarmu ini emang ganteng,” sindir Lucas pada Renjun yang terus memandanginya.

“Ya emang, siapa bilang pacarku jelek,” balasnya.

“Kamu udah mandi belum?” Renjun menggelengkan kepalanya. “Mandi sana, habis ini kita date sesuai proposal yang kamu ajuin ke aku.” Renjun seketika bangkit mendengarnya.

“Astaga, aku lupa itu. Semua gara-gara kamu yang nggak mau kasih tau kapan kamu pulang. Aku jadi lupa sama rencana itu,” ujar Renjun.

“Sekarang kan inget, mandi dulu sana, habis itu kita pergi,” balas Lucas terkekeh.

“Gege udah mandi emang?” Lucas menggelengkan kepalanya.

“Gantian nanti, kamu mandi aja dulu. Aku mau istirahatin badan bentar sambil nunggu kamu mandi. Dari airport langsung ke sini aku tadi,” terang Lucas.

My boyfie so sweet.” Renjun mencium pipi Lucas setelah mengucapkannya. “Kalau kamu masih capek kita pergi besok aja gapapa,” tambah Renjun yang mendapat gelengan kepala dari Lucas.

“Aku mau puas-puasin date sama kamu sebelum sibuk lagi, mumpung kita lagi sama-sama longgar,” jelas Lucas. “Pergi mandi sana,” usir Lucas.


Renjun di sebelah Lucas sibuk mencari tempat yang akan mereka tuju. Karena Renjun lupa akan rencana kencannya, dia tidak mempersiapkan apapun sehingga hari ini semua serba mendadak. Dia juga harus mencari tempat yang tidak begitu banyak orang.

Surfing aja gimana? Kita pernah janji mau surfing waktu aku pulang. Sekalian nanti aku ajarin kamu,” usul Lucas yang tengah mengemudi.

“Itu jangan sekarang, yang lain aja,” tolak Renjun.

Lucas mengemudikan mobil tanpa tujuan. Hanya berkeliling sembari melihat sekitar barangkali ada tempat yang bisa mereka datangi.

“Ke escape room mau nggak, babe?” tawar Lucas lagi.

“Males mikir, mainnya bikin mikir itu,” tolak Renjun lagi.

VR center?” tawar Lucas lagi.

Not bad,” balas Renjun.

“Kita ke sana ya?” tanya Lucas guna meyakinkan jawaban Renjun.

“Iya,” balas Renjun setuju.

Lucas kini melajukan mobil dengan tujuan. Sepanjang perjalanan keduanya berkaraoke, mereka sama-sama suka bernyanyi. Lucas memang kurang sempurna mencapai nada tinggi, namun suara berat khasnya terdengar bagus saat bernyanyi, vokal kekasihnya itu tidak buruk. Terkadang Renjun merekam mereka yang tengah bernyanyi dan nantinya akan dia dengarkan ketika sedang rindu, mendengarkan suara Lucas itu cukup menenangkan Renjun.

Fix, aku mau usul buat kita duet,” ujar Renjun di tengah sesi karaoke mereka.

“Jangan babe, bahaya nanti makin banyak yang suka sama aku,” balas sang kekasih percaya diri.

“Nggak masalah, yang suka kamu makin banyak tapi kamu sukanya sama aku,” balas Renjun.

“Iya juga sih, aku sukanya sama kamu.”


Ketika sampai di VR center mereka menuju tempat untuk bermain driving. Itu salah satu yang Renjun suka, beradu dengan Lucas dan dia tidak akan mau berhenti sebelum mengalahkan Lucas. Keduanya sama-sama berambisi.

“Yang kalah paling banyak yang bayar makan nanti,” tantang Renjun.

“Berapa round?” tanya Lucas.

“10, deal?” balas Renjun.

Deal,” ujar Lucas sembari menjabat tangan Renjun.

God, let me win. My boyfriend is rich, let him spend his money. Thanks in advance,” ujar Renjun sebelum memulai game.

God, he's also rich,” sahut Lucas.

Kebiasaan keduanya saat bermain adalah tenang dan fokus, namun juga mudah terkejut. Seperti saat ini contohnya, Renjun berteriak ketika hampir saja menabrak sisi jalan dan membuat Lucas ikut berteriak karena terkejut dengan teriakan Renjun.

XUXI GE! PLEASE STAY AWAY FROM ME!” protes Renjun yang mobilnya terus dihalangi Lucas untuk menyalip lelaki itu.

I won't. Pass me if you can,” balas Lucas sembari tertawa meledek.

Tangan sebelah Renjun mencoba meraba kemudi Lucas dan mencoba mengganggu lelaki itu agar permainannya kacau. Alih-alih terganggu, Lucas justru menahan tangan Renjun yang telah memegang kemudinya. Renjun semakin bingung mencoba mengacaukan Lucas sekaligus mengemudi miliknya. Lucas yang tenaganya lebih besar bisa melawan tenaga Renjun mengacau kemudi Lucas dan kini justru miliknya yang kacau, hampir menabrak sisi jalan beberapa kali hingga akhirnya dia menerima kekalahan kali ketiga melawan Lucas.

“Gege curang, ngehalangin jalanku terus!” protes Renjun.

“Nggak curang, itu masuk strategi melawan musuh. Yang curang itu kamu, ngerusuhin aku,” balas Lucas.

Pada babak selanjutnya, Lucas mulai mengalah pada Renjun. Dia membiarkan kekasih kecilnya itu memenangkan permainan. Ini bukan saatnya beradu tapi bersenang-senang. Dia ingin melihat senyum lebar sang kekasih yang hampir 4 bulan hanya dapat dia lihat melalui layar ponselnya.

Suara Renjun benar-benar girang ketika dia berhasil memimpin permainan. Lucas tersenyum mendengarnya, terbayang jelas bagaimana raut bahagia Renjun.

Thanks God, I win,” ujar Renjun setelah babak terakhir dia selesaikan dan poin kemenangannya lebih banyak dari Lucas.

RIP my card,” balas Lucas dengan raut pasrah.

Ketika Lucas hendak mengajak Renjun bermain VR game yang lain, anak itu justru mengajak duluan Lucas ke arcade game yang ternyata masih satu tempat. Lucas mengalah dan mengikuti Renjun ke sana.

Keduanya sudah tiga jam berada di sana, hampir semua permainan mereka coba. Mereka sepertinya sangat puas bermain di sini sampai betah begitu lama.

Renjun duduk terkapar di sebelah mesin permainan basket karena dia sudah merasa letih. Lucas justru menertawakan Renjun alih-alih menanyakan anak itu baik-baik saja atau tidak dan juga dia memotret kekasihnya yang terkapar karena letih itu.

“Cari makan aja yuk, babe,” ajak Lucas.

“Ayo, tapi bentar. Masih capek aku, kayak perform 5 lagu sekaligus waktu konser rasanya. Nggak capek apa kamu?” balas Renjun.

Tidak mengindahkan pertanyaan Renjun, Lucas berjongkok di depan sang Kekasih. “Naik sini, aku gendong,” ujarnya.

“Nggak mau, malu nanti diliatin,” balas Renjun.

“Malu pun orang-orang nggak tahu wajahmu. Wajahmu ketutup masker. Udah sini naik.” Lucas membawa Renjun kepundaknya dengan menarik kedua tangannya dari depan.


Rasanya seperti tidak lengkap jika keduanya pergi berkencan tanpa menyantap hotpot. Itu seperti menjadi makanan wajib mereka saat berkencan. Terlebih cuacanya sedang tepat sekali karena sudah masuk musim hujan dan kini mendung telah datang, tidak lama lagi hujan akan turun.

“Ge, besok surfing gimana? Tiba-tiba pengen,” ajak Renjun.

“Boleh,” balas Lucas. “Kamu harus lihat your sexy boyfriend surfing,” tambahnya.

“Ya emang niatku itu, aku males surfing,” balas Renjun terang-terangan.

“Tapi nggak males kalo liatin aku surfing,” timpal Lucas.

Yeah, I'm not. You gonna be sexy as fuck, that's my best view,” ujar Renjun santai.

Watch your mouth babe. Lancar banget mulutnya bilang kayak gitu,” sahut Lucas.

You teach me, ge.

Pesanan mereka telah dihidangkan dan siap disantap. Lucas yang pada dasarnya cepat lapar sudah tidak sabaran menyantapnya.

Keduanya menikmati makan mereka hingga tanpa sadar mereka telah menghabiskan seluruhnya. Keduanya setelah selesai tidak langsung beranjak pergi, namun bersantai sebentar melegakan perut mereka.

Sebelum kembali ke dorm, mereka pergi ke groceries store membeli bahan untuk makan malam. Karena hujan kemungkinan bertahan lama, Renjun memutuskan mereka akan makan malam di dorm saja.

Berbeda dengan Renjun yang sibuk mencari bahan makanan, Lucas justru memburu snack. Karena keduanya terpisah membuat saling mencari sebelum pergi ke kasir.

Babe, aku di deket kasir ya. Ke depan aja kamu,” ujar Lucas melalui panggilan suara kepada Renjun.

Tidak lama muncul sosok kecil yang tengah menatap kesal karena dia dibuat mencari kesana-kemari.

“Susah kalo ngajak kamu belanja itu, pasti misah gini,” omel Renjun.

“Kan biar cepet belanjanya jadi bagi tugas,” bela Lucas.

“Ya terserah. Tetep kamu ya yang bayar ini,” ujar Renjun.

“Iya sayangku, aku yang bayar,” balas Lucas.


Siapa sangka mereka sampai di dorm sudah malam. Setelah selesai mandi, Renjun mempersiapkan makan malam sementara Lucas tengah mandi. Hari ini keduanya menempati dorm seperti rumah pribadi mereka berdua, karena hanya mereka di sana. Bahkan Lucas belum ke dorm tempatnya sama sekali, kopernya masih berada di ruangan Renjun.

“Pake baju dulu, ge,” protes Renjun yang mendapati Lucas menghampirinya hanya memakai bawahan dengan mengusak rambutnya yang basah dengan handuk.

“Males, habis ini juga tidur,” balas Lucas. “You said it's your best view, then enjoy it. Udah sering lihat juga,” tambahnya.

“Nggak dingin apa kamu?” tanya Renjun.

“Tinggal peluk kamu, selesai.” Lucas duduk di depan Renjun dan menyampirkan handuknya di pundak.

“Emangnya aku mau?” balas Renjun.

“Pasti mau,” balas Lucas percaya diri.

“Aku cuma bikin dikit karena kita baru makan tadi dan masih kerasa kenyang juga,” ujar Renjun memberikan sepiring pasta kepada Lucas.

Setelah menyelesaikan makan malam, keduanya beranjak ke ruangan Renjun untuk menonton film. Renjun memposisikan dirinya dengan nyaman bersandar pada dada kekasihnya. Keduanya menonton film horror.

Renjun menontonnya dengan santai walaupun tetap dengan rasa takut. Dia suka menonton film horror. Ketika muncul jump scare dia akan berteriak dan itu tepat di telinga Lucas. Sedangkan Lucas hanya diam memeluk Renjun, sejujurnya daripada Renjun, Lucas lah yang takut, namun mencoba stay cool dengan tetap diam.

Babe, udahan aja lah nontonnya,” bisik Lucas. “Kamu sebelumnya juga udah nonton itu,” tambahnya.

“Gapapa, seru tau. Kamu takut ya?” tebak Renjun yang memang benar. “Cemen,” tambahnya.

Better we cuddling, Babe,” bujuk Lucas.

Renjun tidak mengindahkan ucapan Lucas dan tetap fokus pada film. Lucas yang merasa tidak dianggap akhirnya mengulurkan tangannya dan menarik wajah Renjun menoleh kearahnya. Lucas mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan Renjun. Tidak adanya penolakan dari Renjun membuatnya semakin memperdalam ciuman mereka. Semakin lama keduanya semakin terbawa suasana akan ciuman itu.

Sejenak keduanya melepaskan ciuman lalu keduanya kembali lagi melakukannya dengan Renjun yang memulai kali ini. Bukan sekedar lumatan-lumatan, namun lidah mereka juga ikut bermain-main. Di tengah ciuman panas mereka, tangan Lucas mulai menelusup dibalik kaos Renjun. Memberikan sentuhan-sentuhan di tubuh Renjun.

Ge, wait.” Renjun menghentikan aksi mereka sejenak. Dia meraih ponselnya dan menghubungkannya dengan speaker. Dia memutar musik untuk menemani kegiatan mereka dan menyisihkan laptop dari pangkuan mereka.

I wanna be with you till the sun rises In your eyes, in your eyes, in your eyes I wanna paint the moon with your eyelashes Paint the night, paint the night, paint the night Lights out

Lagu itu menemani kegiatan panas mereka. Malam itu keduanya habiskan di ranjang meluapkan segala kerinduan.


Ketika membuka mata di pagi hari, Lucas melihat kekasihnya yang masih terlelap dalam pelukannya. Lucas menarik selimut yang tersingkap dan menutupi punggung kekasihnya. Namun pergerakan Lucas sepertinya justru membangunkan Renjun.

Good morning, babe,” sapa Lucas pada kekasihnya.

Good morning,” balasnya dengan suara khas bangun tidurnya dan kembali memejamkan mata dengan memeluk tubuh Lucas seperti sebuah guling.

“Jadi surfing nggak nanti?” tanya Lucas sembari memainkan rambut kekasihnya itu. Renjun memberikan gelengan kepala sebagai jawaban.

“Aku mau peluk kamu aja seharian. Nanti anak-anak beberapa ada yang balik, aku mau puas-puasin sama kamu dengan tenang,” balas Renjun.

Okay, then where's my morning kiss?

Renjun mendongak ke atas dan memberikan ciuman singkat kepada kekasihnya itu.

END.