Another Deeptalk
Setiap hari adopsi selalu menjadi pembahasan keduanya. Mereka sama-sama mematangkan kesiapan untuk menjadi orangtua. Malam ini keduanya duduk di mini bar dapur mereka membicarakan topik yang sama.
Lucas menunjukkan daftar sekolah yang dia buat untuk keduanya pertimbangkan mana yang bagus dan sesuai dengan finansial mereka. Keduanya memilih merencanakan ini lebih awal walaupun belum pasti siapa yang akan mereka adopsi.
“Ge, kalau aku mau anak kita homeschooling egois nggak sih?” tanya Renjun.
“Mungkin,” balas Lucas. “Aku nggak begitu paham sama sistem homeschooling. Itu mungkin fleksibel buat kita, tapi dengan anaknya? Dilihat dari kebiasaan di panti selalu bareng banyak temen, tiba-tiba homeschooling sendirian itu mungkin sulit buat anaknya,” tambah Lucas.
“Homeschooling masih bisa ketemu temen kok. Aku SMP dulu homeschooling, mereka ada sekolahnya kok, bisa kalau mau belajar di sekolah. Buat aku yang ketara banget perbedaan homeschooling sama sekolah formal tuh pembelajarannya. Homeschooling kita bisa belajar pelajaran yang kita mau aja, fokusnya memperdalam minat bakat anak. Pembelajarannya nggak monoton selalu duduk dengerin penjelasan guru, nyatat, dan ngerjain soal, anak kalau mau mempelajari sesuatu dengan bertemu langsung itu bisa. Aku dulu inget pernah sampe ke peternakan sapi, ayam, ke zoo juga, seru,” jelas Renjun.
“Homeschooling bisa menyesuaikan gaya belajar anak. Kita bisa customize di homeschooling, tentang pelajaran, tempat, waktu, bahkan kalau pengajarnya dirasa anak nggak cocok sama dia, itu bisa ganti juga. Masalah bersosialisasi tuh luas, kalau aku dulu banyak masuk club gitu disisi homeschooling, beneran banyak kegiatan seru karena semuanya aku suka,” tambah Renjun.
“Semua ada plus-minus ya, yang. Kalau sekolah formal kamu ada pilihan?” tanya Lucas.
“Apapun pasti ada plus-minusnya. Kalau sekolah formal, pilihanku sama kayak gege,” balas Renjun.
“Kita simpen dua pilihan kita ini, nanti kalau udah ada anaknya kita bicarain sama dia. Janji dulu kita harus netral nanti,” ujar Lucas mengacungkan kelingkingnya.
“Kayak anak kecil aja janjinya gini,” balas Renjun mencibir sembari mengaitkan kelingkingnya dengan Lucas.
Keduanya sungguh mengusahakan kesiapan mereka. Jujur saja, keduanya sama-sama sudah tidak sabar membawa seseorang baru diantara mereka.
“Aku baru inget mau tanya ini, kita belom persiapin kamar anak, mau di mana emang kamarnya?” celetuk Renjun bertanya.
“Bener juga, kita belom persiapin itu. Kayaknya kamu harus rela anabulmu pindah tempat. Itu kamarnya luas,” balas Lucas.
“Terus mau tidur di mana anabulku? Kalau mau ngusir harus ada solusi dipindah ke mana,” balas Renjun.
“Ruang gym itu aku bagi dua, sebelah dipake ruang anabul. Nanti aku minta temenku buat desain ruang anabulnya biar bisa muat semua dan comfy buat mereka, nggak penuh kandang gede kayak di ruang itu,” terang Lucas.
“Nggak kekecilan apa ngambil separo ruang gym?” tanya Renjun.
“Separuhnya itu luas sayangku. Kamu mikir kecil karena lihat kandang-kandang gede anabulmu, yang bikin penuh ya kandang itu. Nanti aku minta desain biar ada tempat main mereka juga di sana, cukup itu yang,” jelas Lucas.
“Kira-kira kalau kita renov ruang anabul dijadiin kamar anak lama nggak ya? Takutku nanti anaknya udah ada ruangannya belom selesai.”
Karena keduanya berencana mengadopsi anak dalam waktu dekat dan kamar belum tertata sama sekali, itu memunculkan pertanyaan Renjun tadi. Keduanya tentu mau menyambut penuh kedatangan anak mereka.
“Kalau misal nanti belom selesai dan anaknya udah ada ya gapapa, anaknya bisa tidur sama kita. Hitung-hitung sekalian bonding sama anak,” balas Lucas.
“Bener juga bonding. Masih bayangin aja udah seru ya ge, nanti kita tidur nggak lagi berdua, ada anak gemes di tengah kita,” ujar Renjun dengan senyumnya yang merekah.
“Nanti bukan kamu lagi yang aku peluk. Aku mau puas-puasin deh tidur sambil peluk kamu nanti.” Lucas menarik kursi Renjun mendekat dan memeluk anak itu dari samping.