Deeptalk
Enam bulan yang lalu, Lucas dan Renjun resmi menikah. Pernikahan keduanya tidak terbuka untuk media. Walaupun tertutup, mereka tidak menutupi kabar pernikahan mereka dari media karena masih membagikan beberapa momen pernikahan keduanya di akun sosial media masing-masing.
Kesibukan Renjun dan Lucas masih sama, Renjun dengan dunia bermain perannya dan Lucas dengan dunia dibalik layarnya. Satu hal yang mereka ubah tentang kesibukan keduanya, membuat hari sabtu dan minggu untuk family time dengan tidak bekerja pada hari itu. Walaupun terkadang salah satu dari mereka masih kecolongan mengambil waktu pada hari itu.
Enam bulan berarti setengah tahun sudah usia pernikahan keduanya. Tepat di hari ini, Renjun memberanikan diri mengajukan keinginannya kepada Lucas bahwa dia ingin mengadopsi seorang anak. Keduanya suka sekali dengan anak kecil dan semenjak berkencan dengan Lucas, Renjun sering mengikuti Lucas dalam kegiatan amal yang memang lelaki itu rajin lakukan. Ketika berada di panti asuhan, tidak jarang Renjun ingin membawa pulang salah satu dari mereka, meramaikan rumahnya dengan Lucas.
Dengan posisi bersantai di balkon kamar mereka, keduanya melanjutkan pembahasan mereka di pesan obrolan mereka sebelumnya. Berbincang di balkon pada malam hari seakan menjadi kebiasaan baru mereka, jujur saja keduanya sangat menyukai hal ini.
“Ge, apa ini terlalu cepet?” Lucas menggelengkan kepalanya.
“Nggak, justru lebih baik kamu bilang sekarang. Kita bisa persiapin dari sekarang. Kamu bukan mau besok sudah harus ada seseorang baru diantara kita kan?” balas Lucas.
“Aku nggak segila itu, Ge. Aku sadar ini perlu kesiapan penuh dari kita,” balas Renjun.
“Kamu kepikiran mau adopsi cewek atau cowok?” tanya Lucas.
Jujur, Renjun belum memikirkan hal itu. Gender apapun sebetulnya tak menjadi masalah bagi Renjun, namun dia tentu harus memilih karena dia hanya menginginkan seorang anak untuk diadopsi.
“Belom kepikiran. Gege pengennya bisa adopsi berapa anak?” tanya Renjun. Dia harus tahu keinginan Lucas juga untuk mempertimbangkan.
“Saat ini satu. Aku kurang yakin kalau sekaligus adopsi beberapa anak. Bukan masalah finansial, lebih ke aku sendiri,” balas Lucas.
Renjun setuju dengan pernyataan Lucas, mengadopsi sekaligus mungkin akan berat. Terlebih jika kurang yakin dengan diri sendiri, lebih baik jangan atau ditunda.
“Bapak sutradara emang finansialnya lancar terus ya, puji syukur,” balas Renjun dengan tawa kecilnya.
“Puji syukur lancar, buat ngehidupin lima anak pun mungkin bisa. Tapi semua kembali ke kita, siap atau enggak mentalnya,” ujar Lucas menanggapi.
Keduanya tertawa ringan atas ucapan Lucas baru saja.
“Gege punya cita-cita yang harus dicapai sama anak nggak? Maksudku kayak nanti dia harus ada di dunia entertaiment kayak kita atau jadi dokter gitu, ada?” tanya Renjun lagi.
“Enggak, cita-cita itu punya masing-masing orang, kenapa harus dipaksain. Kita sebagai orangtua udah seharusnya dukung apa yang dicita-citakan sama anak,” balas Lucas.
“Kalau cita-cita anak mau jadi rampok gitu gimana? Masih mau dukung?” Renjun membalas dengan pertanyaan baru.
“Aneh kalo aku dukung itu. Apalagi kalau dia rampok kamu dari aku, mana bisa aku dukung,” balas Lucas bercanda.
“Ini lagi serius!” tegas Renjun.
“Kalau sampe kejadian kayak gitu, harus dipertanyakan kembali gimana kita ngedidik dia. Beberapa orang terkadang buta kalau keburukan atau tindakan diluar batas seorang anak itu karena dirinya sendiri, padahal bisa aja dari orangtuanya sendiri. Kita nggak bisa menyimpulkan dengan cuma melihat satu pandangan. Kalau cita-cita itu salah ya nggak bisa dibenarkan,” jelas Lucas.
Renjun diam mendengarkan jawaban Lucas. Matanya memperhatikan pria yang selalu membuatnya kagum dengan tingkah dan perkataanya.
“Sayang, kesepakatan kita jadiin weekend buat family time harus diterapin lagi, kita sama-sama berusaha kurangin kecolongan waktunya, ya? Aku nggak mau kalau udah ada anak kita nanti, dia kurang waktu sama kita. Kita harus tanggung jawab sama dia, dia kita bawa ke rumah bukan buat terus ditinggalin,” tambah Lucas.
“Iya, aku rencana kurangin job juga nanti, biar punya lebih banyak waktu sama anak,” balas Renjun.
“Kalau kita nggak adopsi anak pun, kamu emang harusnya kurangin job. Over banget jadwalmu itu, kamu perlu waktu buat istirahat.” Renjun justru mendapat omelan dari suaminya itu.
“Iya, udah niat mau kurangin juga ini,” dengus Renjun. “Kalau kita ke panti tapi lagi nggak ada acara boleh nggak sih, Ge? Aku pengen ke sana,” tambah Renjun.
“Boleh banget. Kamu mau kapan ke sana? Aku temenin kamu,” balas Lucas.
“Kurang tau, mau lihat dulu longgarnya kapan.”
“Kamu kabarin aku aja kalau longgar, aku anterin,” ujar Lucas yang diangguki Renjun.
“Ge masuk yuk, dinginnya makin kerasa,” ajak Renjun.
Alih-alih menyetujui Renjun untuk masuk, Lucas justru mendekap Renjun. Mengeratkan pelukannya pada si kecil berusaha memberikan kehangatan.