Hasil

Di bawah sinar rembulan, Lingga dan Raksa berbincang. Lingga mengharapkan semua yang terbaik untuk Raksa, namun dia tidak bisa menebak apa yang akan lelaki itu ucapkan dari raut yang dia tampakkan kini.

“Gue kalah,” ujar Raksa yang menunduk dengan menyibakkan kasar rambutnya ke belakang.

Lingga diam, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia mencoba memahami yang terjadi kepada lelaki didepannya itu.

“Hasilnya sesuai, as you said, bakat dan passion gue itu kelihatan. Itu disebutin di hasilnya, ada. Tapi yang baru gue sadari disitu satu,” Raksa menjeda kalimatnya.

“Yang tertera di sana cuma penjurusan SMA dan perguruan tinggi, dan hasilnya gue cocok masuk jurusan IPA atau bahasa di SMA, SMK nggak ada. Orangtua gue gak mention sama sekali kalo gue udah masuk di SMK dengan jurusan yang jelas sesuai dengan minat bakat gue. Bahkan gue gak ada kesempatan buat ngomong itu di depan pakar biometrinya,” tambah Raksa menjelaskan.

“Gue tau di perguruan tinggi nanti masih bisa gue kejar, tapi kalo bisa gue mulai dari sekarang bisa apa salahnya sih? Sama aja kan? justru lebih cepet fokusnya. Gue udah kehabisan cara buat debat orangtua gue,” keluh Raksa.

Masih tidak ada kata yang keluar dari mulut Lingga, namun tangannya terulur memeluk Raksa dan menenangkan lelaki itu yang menahan tangisnya. Tangis Raksa keluar bercampur tawanya ketika Lingga memeluknya.

“Lo aneh,” celetuk Raksa.

“Kenapa?” balas Lingga bertanya.

“Meluk cowok.” Lingga tertawa mendengarnya.

“Emang cowok gak boleh dipeluk? Pikiran lo yang aneh,” ujar Lingga.

“Bukan itu, maksud gue lo cowok dan meluk cowok, itu aneh,” jelas Raksa.

“Nggak ada yang aneh, Rak, nggak ada,” balas Lingga.

Raksa memukuli punggung Lingga karena lelaki itu justru menggodanya karena dia mengatakan bahwa berpelukan sesama lelaki itu aneh. Lingga mengeratkan pelukannya pada Raksa dan menggoyang-goyangkan tubuh anak itu seperti orangtua yang gemas dengan anaknya. Tawa Lingga pecah ketika melakukan hal itu pada Raksa. Reaksi Raksa yang ternyata mudah tersulut membuat dia semakin ingin mengerjai lelaki itu.

“Ga udah, badan lo gede anjing. Gue kegencet!” protes Raksa agar Lingga melepaskannya.

“Lo aja kekecilan,” ujar Lingga setelah melepas pelukannya pada Raksa.

Keduanya diterpa hening sejenak. Raksa masih terbawa kesal dengan sikap Lingga tadi.

“Lo gak mau balik, Ga?” tanya Raksa memecah hening.

“Ya lo mau balik gak? Gue ngikut lo,” balas Lingga.

“Nggak dicariin apa lo keluar sampe jam segini?” tanya Raksa lagi.

“Ya dicariin, tapi gue kan udah ijin main. Yang harusnya ditanya tuh lo, dicariin apa nggak?” balas Lingga.

“Kan niat gue kabur,” jawab Raksa singkat.

“Yaudah gak usah balik.” Raksa menendang paha sebelah Lingga mendengar jawaban lelaki itu.

“Mulut lo yang bener kalo ngomong,” protes Raksa.

“Ya kan niat lo kabur, ngapain balik? Nggak kabur namanya kalo balik lagi ke rumah, itu pergi main doang lo,” jelas Lingga.

“Ya iya sih,” lirih Raksa setuju. “Ga, ayo cari angkringan, gue laper,” tambah Raksa.

“Lo yang bonceng tapi,” pinta Lingga.

“Iya gue bonceng, tapi lo bayarin. Gue gak bawa duit soalnya,” balas Raksa cengengesan.

“Iya deh, gue lagi baik hati.”