Date Proposal

Rasa tidak sabar memenuhi diri Renjun ketika dia mengetahui kekasihnya akan kembali dari China. Sayang sekali kekasih besarnya itu tidak mau memberitahu kapan tepatnya dia pulang, Renjun begitu kesal karena itu. Waktu justru terasa semakin lama ketika dia semakin menantinya, rasanya satu hari seperti satu bulan lamanya. Ketahuilah bahwa rasa rindunya kepada sang kekasih sudah memuncak, rindunya teramat dalam.

Pagi ini dia sudah di tinggal sendirian di dorm karena yang lain pulang ke rumah. Jeno yang biasanya menemaninya di dorm juga ikut pulang. Dia merasa semakin kesepian sekarang. Parahnya lagi dari semalam kekasihnya belum kunjung membalas pesannya.

Renjun hanya membuat green tea hangat pagi ini, dia belum ingin memasukkan makanan ke dalam perutnya. Dia masih menyanding ponselnya berharap kekasihnya membalas pesannya.

Bell dorm berbunyi membuat Renjun mengernyit menebak siapa yang datang. Dalam pikirannya kemungkinan itu manager karena para member baru pergi semalam dan pagi buta tadi, tidak mungkin mereka kembali secepat itu pikir Renjun. Tanpa melihat siapa yang datang melalui monitor, Renjun langsung membuka pintu dorm.

Kepalanya menyumbul keluar karena di depan pintu tidak terdapat siapapun di sana. Dia menengok ke kiri dan kanan mencari siapa yang datang. Dia menemukan sosok tinggi dengan perawakan yang tidak asing dan masih dengan koper disebelahnya.

“Maaf, dengan siapa di sana?” tanya Renjun pada sosok tersebut yang sudah dapat dia tebak siapa dia.

The most handsome guy, your boyfriend,” balasnya sembari membuka masker dan menunjukkan senyuman lebarnya.

Sorry, I no longer have a boyfriend since last night,” balas Renjun mengerjai kekasihnya, membuat raut lelaki tinggi itu berubah menjadi masam.

Babe...” rengek sang kekasih.

“Gege nggak usah ikutan ngambek, aku yang ngambek,” balas Renjun.

“Aku nggak disuruh masuk ini? Tamu adalah raja,” protes kekasihnya, Lucas, yang tak segera dipersilahkan masuk.

“Males, biasanya juga masuk sendiri.” Renjun mengatakannya sambil berjalan masuk diikuti Lucas.

Perasaan Renjun antara senang dan kesal saat ini. Walaupun Lucas sudah mengatakan kalau tidak akan memberitahu kapan dia pulang, namun Renjun tetap saja kesal. Lihat saja sekarang Lucas datang dan tidak ada apapun yang dapat dia berikan. Jika kekasihnya itu memberitahu sebelumnya, dia setidaknya akan menyediakan sarapan untuk dirinya dan Lucas pagi ini.

Babe, ini aku ditinggalin gitu aja? Kamu tuh pacarnya pulang malah nggak disambut, katanya kangen banget,” protes Lucas sekali lagi.

“Aku mau bikin sarapan, kamu pasti belom sarapan kan? Coba kalo kamu bilang dulu, kamu dateng ke sini udah bisa makan,” balas Renjun dari dapur.

“Kalo bilang dulu nggak jadi surprise dong. Kita bisa sarapan diluar biar kamu nggak repot,” ujar Lucas sembari berjalan menyusul Renjun di dapur.

“Kamu pulang ke sini harus makan masakanku,” balas Renjun. “Kamu duduk aja jangan ganggu aku dulu, kalo mau bantuin lebih bagus,” tambah Renjun mengomel pada Lucas datang memeluk dan memberikan ciuman kepadanya.

Sounds good, we have a cooking date,” balas Lucas semangat. “Where's the apron, babe?” tambahnya.

Renjun mengambilkan apron untuk Lucas dan memakaikannya dengan sedikit berjinjit. Lucas memang tidak begitu pandai memasak tapi dia bisa membantu. Dari kecil dia sering membantu ibunya memasak sehingga sedikit banyak tahu bagaimana cara memasak, terlebih jika memasak makanan kesukaannya.

Hampir tiga puluh menit mereka berkutan di dapur menyiapkan sarapan. Renjun hanya menggelengkan kepalanya melihat Lucas yang tidak sabar untuk makan, terhitung sudah hampir sepuluh kali dia meminta izin untuk mencicipi dan lelaki itu mencicipi dengan suapan besar ke dalam mulutnya.

You never dissapoint, my lil chef,” ujar Lucas setelah mencicipi hasil masakan Renjun.

Then give me a kiss for this,” pinta Renjun sebagai apresiasi karena masakannya.

Dengan senang hati Lucas memberikan ciuman kepada kekasihnya. Dia hanya memberikan kecupan-kecupan singkat kepada sang kekasih, namun Renjun justru memperdalam ciuman mereka. Tangannya meraih tengkuk Lucas untuk memperdalam ciuman mereka dan membuatnya sedikit menunduk karena perbedaan tinggi mereka. Lucas pun berakhir mengikuti permainan Renjun, dia sangat merindukan hal ini dari dari kekasihnya. Sampai akhirnya Lucas merasa Renjun mulai kehabisan pasokan udara dan dia menyudahi ciuman mereka.

“Sekarang kita makan dulu, nggak enak nanti kalau dingin,” ujar Lucas lalu mendudukkan Renjun di kursi.


Keduanya tengah bersantai di sofa depan TV dengan posisi Renjun yang tiduran di paha sang kekasih. Mata Renjun masih tidak lepas dari Lucas dihadapannya, dia masih antara percaya dan tidak bahwa kekasihnya itu telah pulang.

Babe, aku tahu pacarmu ini emang ganteng,” sindir Lucas pada Renjun yang terus memandanginya.

“Ya emang, siapa bilang pacarku jelek,” balasnya.

“Kamu udah mandi belum?” Renjun menggelengkan kepalanya. “Mandi sana, habis ini kita date sesuai proposal yang kamu ajuin ke aku.” Renjun seketika bangkit mendengarnya.

“Astaga, aku lupa itu. Semua gara-gara kamu yang nggak mau kasih tau kapan kamu pulang. Aku jadi lupa sama rencana itu,” ujar Renjun.

“Sekarang kan inget, mandi dulu sana, habis itu kita pergi,” balas Lucas terkekeh.

“Gege udah mandi emang?” Lucas menggelengkan kepalanya.

“Gantian nanti, kamu mandi aja dulu. Aku mau istirahatin badan bentar sambil nunggu kamu mandi. Dari airport langsung ke sini aku tadi,” terang Lucas.

My boyfie so sweet.” Renjun mencium pipi Lucas setelah mengucapkannya. “Kalau kamu masih capek kita pergi besok aja gapapa,” tambah Renjun yang mendapat gelengan kepala dari Lucas.

“Aku mau puas-puasin date sama kamu sebelum sibuk lagi, mumpung kita lagi sama-sama longgar,” jelas Lucas. “Pergi mandi sana,” usir Lucas.


Renjun di sebelah Lucas sibuk mencari tempat yang akan mereka tuju. Karena Renjun lupa akan rencana kencannya, dia tidak mempersiapkan apapun sehingga hari ini semua serba mendadak. Dia juga harus mencari tempat yang tidak begitu banyak orang.

Surfing aja gimana? Kita pernah janji mau surfing waktu aku pulang. Sekalian nanti aku ajarin kamu,” usul Lucas yang tengah mengemudi.

“Itu jangan sekarang, yang lain aja,” tolak Renjun.

Lucas mengemudikan mobil tanpa tujuan. Hanya berkeliling sembari melihat sekitar barangkali ada tempat yang bisa mereka datangi.

“Ke escape room mau nggak, babe?” tawar Lucas lagi.

“Males mikir, mainnya bikin mikir itu,” tolak Renjun lagi.

VR center?” tawar Lucas lagi.

Not bad,” balas Renjun.

“Kita ke sana ya?” tanya Lucas guna meyakinkan jawaban Renjun.

“Iya,” balas Renjun setuju.

Lucas kini melajukan mobil dengan tujuan. Sepanjang perjalanan keduanya berkaraoke, mereka sama-sama suka bernyanyi. Lucas memang kurang sempurna mencapai nada tinggi, namun suara berat khasnya terdengar bagus saat bernyanyi, vokal kekasihnya itu tidak buruk. Terkadang Renjun merekam mereka yang tengah bernyanyi dan nantinya akan dia dengarkan ketika sedang rindu, mendengarkan suara Lucas itu cukup menenangkan Renjun.

Fix, aku mau usul buat kita duet,” ujar Renjun di tengah sesi karaoke mereka.

“Jangan babe, bahaya nanti makin banyak yang suka sama aku,” balas sang kekasih percaya diri.

“Nggak masalah, yang suka kamu makin banyak tapi kamu sukanya sama aku,” balas Renjun.

“Iya juga sih, aku sukanya sama kamu.”


Ketika sampai di VR center mereka menuju tempat untuk bermain driving. Itu salah satu yang Renjun suka, beradu dengan Lucas dan dia tidak akan mau berhenti sebelum mengalahkan Lucas. Keduanya sama-sama berambisi.

“Yang kalah paling banyak yang bayar makan nanti,” tantang Renjun.

“Berapa round?” tanya Lucas.

“10, deal?” balas Renjun.

Deal,” ujar Lucas sembari menjabat tangan Renjun.

God, let me win. My boyfriend is rich, let him spend his money. Thanks in advance,” ujar Renjun sebelum memulai game.

God, he's also rich,” sahut Lucas.

Kebiasaan keduanya saat bermain adalah tenang dan fokus, namun juga mudah terkejut. Seperti saat ini contohnya, Renjun berteriak ketika hampir saja menabrak sisi jalan dan membuat Lucas ikut berteriak karena terkejut dengan teriakan Renjun.

XUXI GE! PLEASE STAY AWAY FROM ME!” protes Renjun yang mobilnya terus dihalangi Lucas untuk menyalip lelaki itu.

I won't. Pass me if you can,” balas Lucas sembari tertawa meledek.

Tangan sebelah Renjun mencoba meraba kemudi Lucas dan mencoba mengganggu lelaki itu agar permainannya kacau. Alih-alih terganggu, Lucas justru menahan tangan Renjun yang telah memegang kemudinya. Renjun semakin bingung mencoba mengacaukan Lucas sekaligus mengemudi miliknya. Lucas yang tenaganya lebih besar bisa melawan tenaga Renjun mengacau kemudi Lucas dan kini justru miliknya yang kacau, hampir menabrak sisi jalan beberapa kali hingga akhirnya dia menerima kekalahan kali ketiga melawan Lucas.

“Gege curang, ngehalangin jalanku terus!” protes Renjun.

“Nggak curang, itu masuk strategi melawan musuh. Yang curang itu kamu, ngerusuhin aku,” balas Lucas.

Pada babak selanjutnya, Lucas mulai mengalah pada Renjun. Dia membiarkan kekasih kecilnya itu memenangkan permainan. Ini bukan saatnya beradu tapi bersenang-senang. Dia ingin melihat senyum lebar sang kekasih yang hampir 4 bulan hanya dapat dia lihat melalui layar ponselnya.

Suara Renjun benar-benar girang ketika dia berhasil memimpin permainan. Lucas tersenyum mendengarnya, terbayang jelas bagaimana raut bahagia Renjun.

Thanks God, I win,” ujar Renjun setelah babak terakhir dia selesaikan dan poin kemenangannya lebih banyak dari Lucas.

RIP my card,” balas Lucas dengan raut pasrah.

Ketika Lucas hendak mengajak Renjun bermain VR game yang lain, anak itu justru mengajak duluan Lucas ke arcade game yang ternyata masih satu tempat. Lucas mengalah dan mengikuti Renjun ke sana.

Keduanya sudah tiga jam berada di sana, hampir semua permainan mereka coba. Mereka sepertinya sangat puas bermain di sini sampai betah begitu lama.

Renjun duduk terkapar di sebelah mesin permainan basket karena dia sudah merasa letih. Lucas justru menertawakan Renjun alih-alih menanyakan anak itu baik-baik saja atau tidak dan juga dia memotret kekasihnya yang terkapar karena letih itu.

“Cari makan aja yuk, babe,” ajak Lucas.

“Ayo, tapi bentar. Masih capek aku, kayak perform 5 lagu sekaligus waktu konser rasanya. Nggak capek apa kamu?” balas Renjun.

Tidak mengindahkan pertanyaan Renjun, Lucas berjongkok di depan sang Kekasih. “Naik sini, aku gendong,” ujarnya.

“Nggak mau, malu nanti diliatin,” balas Renjun.

“Malu pun orang-orang nggak tahu wajahmu. Wajahmu ketutup masker. Udah sini naik.” Lucas membawa Renjun kepundaknya dengan menarik kedua tangannya dari depan.


Rasanya seperti tidak lengkap jika keduanya pergi berkencan tanpa menyantap hotpot. Itu seperti menjadi makanan wajib mereka saat berkencan. Terlebih cuacanya sedang tepat sekali karena sudah masuk musim hujan dan kini mendung telah datang, tidak lama lagi hujan akan turun.

“Ge, besok surfing gimana? Tiba-tiba pengen,” ajak Renjun.

“Boleh,” balas Lucas. “Kamu harus lihat your sexy boyfriend surfing,” tambahnya.

“Ya emang niatku itu, aku males surfing,” balas Renjun terang-terangan.

“Tapi nggak males kalo liatin aku surfing,” timpal Lucas.

Yeah, I'm not. You gonna be sexy as fuck, that's my best view,” ujar Renjun santai.

Watch your mouth babe. Lancar banget mulutnya bilang kayak gitu,” sahut Lucas.

You teach me, ge.

Pesanan mereka telah dihidangkan dan siap disantap. Lucas yang pada dasarnya cepat lapar sudah tidak sabaran menyantapnya.

Keduanya menikmati makan mereka hingga tanpa sadar mereka telah menghabiskan seluruhnya. Keduanya setelah selesai tidak langsung beranjak pergi, namun bersantai sebentar melegakan perut mereka.

Sebelum kembali ke dorm, mereka pergi ke groceries store membeli bahan untuk makan malam. Karena hujan kemungkinan bertahan lama, Renjun memutuskan mereka akan makan malam di dorm saja.

Berbeda dengan Renjun yang sibuk mencari bahan makanan, Lucas justru memburu snack. Karena keduanya terpisah membuat saling mencari sebelum pergi ke kasir.

Babe, aku di deket kasir ya. Ke depan aja kamu,” ujar Lucas melalui panggilan suara kepada Renjun.

Tidak lama muncul sosok kecil yang tengah menatap kesal karena dia dibuat mencari kesana-kemari.

“Susah kalo ngajak kamu belanja itu, pasti misah gini,” omel Renjun.

“Kan biar cepet belanjanya jadi bagi tugas,” bela Lucas.

“Ya terserah. Tetep kamu ya yang bayar ini,” ujar Renjun.

“Iya sayangku, aku yang bayar,” balas Lucas.


Siapa sangka mereka sampai di dorm sudah malam. Setelah selesai mandi, Renjun mempersiapkan makan malam sementara Lucas tengah mandi. Hari ini keduanya menempati dorm seperti rumah pribadi mereka berdua, karena hanya mereka di sana. Bahkan Lucas belum ke dorm tempatnya sama sekali, kopernya masih berada di ruangan Renjun.

“Pake baju dulu, ge,” protes Renjun yang mendapati Lucas menghampirinya hanya memakai bawahan dengan mengusak rambutnya yang basah dengan handuk.

“Males, habis ini juga tidur,” balas Lucas. “You said it's your best view, then enjoy it. Udah sering lihat juga,” tambahnya.

“Nggak dingin apa kamu?” tanya Renjun.

“Tinggal peluk kamu, selesai.” Lucas duduk di depan Renjun dan menyampirkan handuknya di pundak.

“Emangnya aku mau?” balas Renjun.

“Pasti mau,” balas Lucas percaya diri.

“Aku cuma bikin dikit karena kita baru makan tadi dan masih kerasa kenyang juga,” ujar Renjun memberikan sepiring pasta kepada Lucas.

Setelah menyelesaikan makan malam, keduanya beranjak ke ruangan Renjun untuk menonton film. Renjun memposisikan dirinya dengan nyaman bersandar pada dada kekasihnya. Keduanya menonton film horror.

Renjun menontonnya dengan santai walaupun tetap dengan rasa takut. Dia suka menonton film horror. Ketika muncul jump scare dia akan berteriak dan itu tepat di telinga Lucas. Sedangkan Lucas hanya diam memeluk Renjun, sejujurnya daripada Renjun, Lucas lah yang takut, namun mencoba stay cool dengan tetap diam.

Babe, udahan aja lah nontonnya,” bisik Lucas. “Kamu sebelumnya juga udah nonton itu,” tambahnya.

“Gapapa, seru tau. Kamu takut ya?” tebak Renjun yang memang benar. “Cemen,” tambahnya.

Better we cuddling, Babe,” bujuk Lucas.

Renjun tidak mengindahkan ucapan Lucas dan tetap fokus pada film. Lucas yang merasa tidak dianggap akhirnya mengulurkan tangannya dan menarik wajah Renjun menoleh kearahnya. Lucas mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan Renjun. Tidak adanya penolakan dari Renjun membuatnya semakin memperdalam ciuman mereka. Semakin lama keduanya semakin terbawa suasana akan ciuman itu.

Sejenak keduanya melepaskan ciuman lalu keduanya kembali lagi melakukannya dengan Renjun yang memulai kali ini. Bukan sekedar lumatan-lumatan, namun lidah mereka juga ikut bermain-main. Di tengah ciuman panas mereka, tangan Lucas mulai menelusup dibalik kaos Renjun. Memberikan sentuhan-sentuhan di tubuh Renjun.

Ge, wait.” Renjun menghentikan aksi mereka sejenak. Dia meraih ponselnya dan menghubungkannya dengan speaker. Dia memutar musik untuk menemani kegiatan mereka dan menyisihkan laptop dari pangkuan mereka.

I wanna be with you till the sun rises In your eyes, in your eyes, in your eyes I wanna paint the moon with your eyelashes Paint the night, paint the night, paint the night Lights out

Lagu itu menemani kegiatan panas mereka. Malam itu keduanya habiskan di ranjang meluapkan segala kerinduan.


Ketika membuka mata di pagi hari, Lucas melihat kekasihnya yang masih terlelap dalam pelukannya. Lucas menarik selimut yang tersingkap dan menutupi punggung kekasihnya. Namun pergerakan Lucas sepertinya justru membangunkan Renjun.

Good morning, babe,” sapa Lucas pada kekasihnya.

Good morning,” balasnya dengan suara khas bangun tidurnya dan kembali memejamkan mata dengan memeluk tubuh Lucas seperti sebuah guling.

“Jadi surfing nggak nanti?” tanya Lucas sembari memainkan rambut kekasihnya itu. Renjun memberikan gelengan kepala sebagai jawaban.

“Aku mau peluk kamu aja seharian. Nanti anak-anak beberapa ada yang balik, aku mau puas-puasin sama kamu dengan tenang,” balas Renjun.

Okay, then where's my morning kiss?

Renjun mendongak ke atas dan memberikan ciuman singkat kepada kekasihnya itu.

END.