Amatir
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, Raksa meminta Lingga untuk mengantarkannya pulang. Dia menyerah dengan aksi kaburnya karena takut akan orangtuanya dan juga dia gelisah keluar tanpa ijin.
“Gue kerasa ngantuk tapi, Ga. Lo masih melek gak buat bonceng? Kalo gue yang bonceng kayaknya kita bukan pulang ke rumah kita,” ujar Raksa.
“Rumah kita, kayak serumah aja lo sama gue,” balas Lingga.
“Bukan gitu maksudnya, Ga,” celetuk Raksa.
“Iya ngerti. Gue bonceng pulangnya, melek banget mata gue habis ngopi,” ujar Lingga.
Sepanjang perjalanan pulang, Raksa terus mengajak bicara Lingga. Entah bahasan tidak jelas apa yang dibicarakan, yang terpenting kesadaran Lingga harus tetap utuh. Raksa tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi karena hilangnya kesadaran Lingga, dia masih ingin pulang ke rumah.
Di depan gerbang perumahan, Lingga sudah mematikan motornya dan bersiap menuntun masuk motornya mengantar Raksa sampai dirumahnya. Raksa sudah meminta Lingga untuk langsung pulang saja mengingat ini sudah dini hari, namun Lingga tetap saja mengikuti Raksa sampai dia benar-benar sampai.
“Asa,” panggilan itu keluar ketika Raksa baru membuka sedikit pagar rumahnya. “Sama siapa kamu?” tambahnya bertanya.
Raksa beradu pandang sejenak dengan Lingga karena sama-sama terkejut. Matanya menyuruh Lingga untuk segera pergi menjauh namun Lingga tidak menangkap itu. Tidak berselang lama, mama Raksa membuka pintu gerbang lebih lebar dan melihat Lingga di sana.
“Kamu ikut saya masuk sebentar,” pinta wanita itu pada Lingga.
Demi Tuhan, Raksa ketir saat ini. Dia takut Lingga terkena amarah orangtuanya padahal dia yang berniat kabur. Papanya yang baru datang atas panggilan mamanya menatap Lingga dari ujung kepala hingga kaki.
“Darimana aja, Sa?” tanya sang Papa yang tak dijawab Raksa. “Raksa tidak pernah keluar malam dan kembali saat dini hari. Kamu yang mengajak anak saya keluar?” tanyanya berganti pada Lingga.
“Iya,” balas Lingga tak mengelak namun mendapat tendangan ringan dari Raksa.
“Apa menurutmu pantas anak dibawah umur berkeliaran sampai selarut ini?” Lingga menggeleng.
“Benar, tidak pantas. Apa kalian tidak berpikir kalau orangtua kalian khawatir atas tindakan kalian ini? Kamu sudah pergi tanpa ijin dan pulang selarut ini, ini melewati batasanmu, Asa,” tambah lelaki itu.
“Papa toleransi satu kali ini tapi tidak dengan selanjutnya jika kamu mengulangi lagi. Mama sama Papa panik kamu pergi sampai selarut ini dan tidak bisa dihubungi,” ujar lelaki itu pada Raksa.
“Dan kamu, jangan terbiasa seperti ini. Jangan buat orangtua kamu khawatir. Dunia luar tidak sebaik itu. Siapa nama kamu?” ujarnya pada Lingga.
“Lingga,” balasnya.
“Lingga, beri saya nomor orangtua kamu. Saya akan menghubunginya bahwa kamu menginap di sini hari ini,” pintanya.
“Terima kasih sudah menawarkan menginap, saya pulang saja,” balas Lingga.
“Saya tidak menawarkan itu. Ini sudah larut, bahaya kamu pulang sendiri pada jam seperti ini. Kamu menginap saja di sini dan berikan nomor orangtua kamu, saya ingin bicara,” tegasnya.
“Maaf, saya tidak bisa memberikan nomor orangtua saya begitu saja. Kalau mau saya sambungkan saja, boleh?” tawar Lingga.
“Iya, silahkan,” balasnya setuju.
Lingga memberikan ponselnya yang telah tehubung dengan papinya kepada papa Raksa. Lelaki itu pergi menjauh untuk berbincang.
“Asa, jangan kamu ulang lagi buat pergi tanpa pamit dan pulang selarut ini. Jadikan ini pelajaran, bukan buat diulang lagi.” Raksa hanya mengangguk mendengar ucapan sang mama.
Papa Raksa berbincang dalam panggilan cukup lama, entah apa saja yang dia bahas. Lingga sendiri juga tidak mau tahu lelaki itu membicarakan apa saja dengan papinya.
“Saya sudah selesai bicara dengan orangtua kamu. Kalian berdua pergi ke kamar untuk tidur, besok kalian masih masuk sekolah,” ujar Papa Raksa sembari memberikan ponsel Lingga kepada pemiliknya.
Kacau, itu pikir Raksa. Tindakan impulsifnya itu justru memperkeruh keadaan. Hal ini bisa jadi memperkuat keinginan orangtuanya memindahkannya ke SMA. Raksa sebegitu tidak maunya berpindah dan berpegang teguh pada keinginannya yang membuatnya terlihat egois.
“Kok lo gak ada gemeter-gemeternya jawab papa. Gue udah kelu banget,” celetuk Raksa.
“Gemeter ngapain coba. Lo masih amatir sama hal kayak gini sok banget kabur,” balas Lingga.
“Lo berarti sering dimarahin papi lo gara-gara kayak gini? Wah gila lo!”
“Papi gue paling cuma nasehatin aja. Lagian dia tau gue main buat cari hiburan,” balas Lingga.
“Lo sebebas itu?” Lingga menggeleng.
Dini hari itu dihabiskan dengan keingintahuan Raksa tentang Lingga, namun tentu saja Lingga tidak menjelaskan semuanya dengan sukarela dan gamblang, dia tahu batasannya. Keduanya berbincang panjang hingga sama-sama tertidur.
Tidur pukul berapapun, jam bangun Raksa tidak pernah berubah. Pukul lima lewat tiga puluh matanya sudah pasti terbuka. Tidak berselang lama darinya, Lingga juga terbangun.
Raksa membiarkan Lingga menyegarkan dirinya terlebih dahulu harena dia ingin segera pulang pagi ini. Ketika Lingga berpamitan dengannya dan hendak pergi berpamitan dengan orangtuanya, Raksa menahan Lingga.
“Tunggu gue mandi bentar, gue berangkat sama lo, hari ini aja,” pinta Raksa.
“Gue mau balik ke rumah dulu ini,” balas Lingga.
“Hari ini aja, Ga. Mandi gue cepet. Lo tunggu gue di sini.” Raksa mengunci pintu kamarnya dan membawa kuncinya ke dalam kamar mandi bersamanya agar Lingga tidak bisa keluar.
Raksa melakukan hal itu karena satu hal, mengindari omelan kedua orangtuanya. Dia tahu keduanya menahan omelan panjang semalam karena ada Lingga, maka dari itu dia harus menyelamatkan dirinya pagi ini.
Setelah Raksa selesai mandi dan bersiap, keduanya keluar menemui orangtua Raksa untuk berpamitan.
“Saya pamit pulang dulu. Terima kasih semalam diijinkan menginap,” ujar Lingga.
“Sarapan dulu, saya gak bolehin kamu pulang kalau belum sarapan,” ujar Mama Raksa sembari menarik Lingga ke ruang makan.
Jujur saja saat ini Lingga tengah mengejar waktu. Dia memiliki janji sarapan dengan papinya, dia tidak mau mengingkari ucapannya.