Car Camp

Sabtu petang, Haben dan Raven menepati janji mereka untuk car camp. Daripada pantai, mereka memilih di area campgrounds. Banyak hal keduanya perbincangkan dalam perjalanan menuju campgrounds. Mulai dari mengingat kelengkapan barang mereka, hal apa yang perlu dibeli sebelum sampai, pekerjaan mereka, dan bahkan sampai hal-hal tidak jelas di jalan mereka bincangkan.

Mereka memilih area yang tidak terlalu dekat dengan banyak orang karena niat mereka mencari ketenangan. Setelah mendapatkan tempat, keduanya segera mendirikan tenda. Raven baru tahu bahwa tenda untuk car camp itu ada. Haben yang mendirikan tenda dan Raven yang menata tempat mereka tidur.

I think I've seen this film before And I didn't like the ending I'm not your problem anymore So who am I offending now? You were my crown Now I'm in exile, seein' you out I think I've seen this film before So I'm leavin' out the side door

Exile – Taylor Swift

Raven melantunkan lagu tersebut sembari menata. Entah sengaja melantukan lagu itu atau tidak, lantunan lagu itu membuat Haben terhenti sejenak mencerna lirik yang baru dilantunkan Raven.

“Be,” panggilan Raven memecah lamunan Haben.

“Kenapa?” balas Haben gelagapan.

“Gantiin pompa bentar,” ujar Raven yang letih memompa bed.

“Sini, kamu istirahat aja.” Haben menggantikan Raven memompa.

Raven memilih duduk sembari minum melepas dahaga. Berada di alam seperti ini sungguh menenangkan, sekeliling terlihat segar, begitupun udaranya. Dia tidak mengira kalau Haben mengingat bahwa dia menginginkan hal ini.

“Be, mau makan nggak?” tawar Raven. Dia mencari kegiatan agar tidak diam saja dengan memasak.

“Mau lah,” balasnya.

Toast mau?” tawar Raven lagi.

Anything from you,” balas Haben.

Haben memandangi Raven yang tengah membuat toast dari samping. Memorinya tentang mereka sebelumnya terlintas dalam pikiran Haben. Dahulu, Haben suka sekali mengganggu Raven memasak, entah sekedar menggodanya atau menggelendoti Raven, terkadang dia juga membantu daripada menganggu.

“Be, gue lupa!” teriak Raven menoleh ke arah Haben.

“Apa?” tanya Haben yang langsung turun dari bed karena panik.

“Telurnya gue dadar, lo nggak terlalu suka ini,” ujar Raven setelahnya.

“Kirain apa. Gapapa, udah kamu bikin pasti aku makan. Didadar atau enggak itu tetep telur, rasanya sama.” Haben mengambil satu toast buatan Raven.

Sorry, gue baru inget,” maaf Raven.

“Ini bukan kesalahan dan kamu nggak perlu minta maaf. Aku juga nggak minta kamu buat bikin sunny side up, itu bukan kesalahan.” Haben mengelus surai Raven.


Mega mendung telah hilang digantikan langit yang gelap. Raven dan Haben tengah duduk dengan api unggun di depan mereka.

“Ven, mau aku peluk nggak?” celetuk Haben di tengah keheningan mereka.

“Lo beneran mau modus ya?” Raven merubah posisinya menatap Haben. “Ngaku lo ngerencanain aneh-aneh kan? Gue tidur di kursi kemudi nanti,” lanjutnya.

“Kan aku udah bilang mau modus. Aneh-aneh yang kamu maksud itu apa? Pikiranmu yang aneh-aneh,” balas Haben.

Raven mengiyakan balasan Haben dalam hati. Dia sudah mengatakan hal itu sebelumnya, pemikirannya saja yang yang terlalu negatif pada Haben.

“Aku nggak akan berhenti sampai kamu menutup harapan buat aku, Ven. Selama itu, permintaanku buat kamu kembali bakal terus berlaku,” tambah Haben.

“Kalau gue nggak pernah menutup harapan tapi nggak mau balik sama lo? Lo nggak capek nunggu terus?” Haben tersenyum tipis atas pertanyaan itu.

“Mungkin aku kecewa sama kamu. Dan mungkin nanti aku bisa capek karena terus kamu abaikan. Harapanku sampai hari ini masih tinggi,” jawab Haben.

Bagi Raven yang mengecawakan dari Haben adalah bagaimana cara dia melepaskannya, itu tidak pernah ada dalam bayangannya. Sadar atau tidak, dia melewati masa pendewasaan diri bersama Haben. Karena Haben mengecewakannya seperti itu, Raven menjadi sering memandang Haben negatif walau nyatanya tidak begitu. Terbukti beberapa dugaannya tentang Haben itu tidak benar, tentang memiliki hubungan dengan orang lain salah satunya. Haben tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan orang lain setelah melepaskan Raven. Raven menyita tempat besar dalam pikiran dan hatinya, bahkan sampai hari ini.

“Kalau kita kembali, aku juga nggak mau akhir yang sama. Itu kesalahanku yang nggak mau aku ulang lagi,” tambah Haben lagi.

“Gue perlu waktu buat jawab permintaan lo, tapi jangan ditunggu. Kalau lo mau lepas gue sebelum ada jawaban dari gue, silahkan,” balas Raven.

“Jangan kamu ambil beban, aku nggak nuntuk kamu harus kembali. Aku persiapin diri untuk sama kamu lagi dan melepas kamu kalau kamu nolak,” ujar Haben.

Rasa ragu Raven masih ada. Dia takut akan akhir yang sama ketika kembali bersama Haben, namun yang belum selesai harus diselesaikan bukan?

Raven enggan memejamkan matanya, dia sibuk memandang Haben yang tengah terlelap menghadapnya. Badannya tergerak maju mendekati Haben, tangannya menarik selimut untuk menghangatkan mereka, dan setelahnya Raven memeluk tubuh Haben dan menyusul lelaki itu untuk lelap dalam tidurnya.