SMK
Sudah hampir 30 menit Lingga menunggu dengan perasaan aneh yang campur aduk karena Papa Raksa memanggilnya tiba-tiba. Raksa pun juga tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh sang Papa. Keduanya bermain game untuk menngurangi kegugupan mereka.
“Asik banget mainnya sampe kedengeran suaranya dari luar,” celetuk Cakra, Papa Raksa yang baru saja datang.
Lingga dan Raksa seketika menyudahi permainan mereka dan duduk sigap. Tawa ringan Cakra muncul melihat tingkah mereka.
“Saya baru tahu kalau kamu anaknya Mas Wira, Ga. Nggak ngira juga sebelumnya yang saya telepon itu Mas Wira, waktu itu nggak tanya-tanya nama dan nama kontaknya nggak ada nama dia.”
Senyum tipis Lingga berikan. Dia sedikit malu mengingat nama kontak papinya yang diketahui orang. Pasalnya itu terlihat aneh bagi beberapa orang.
“Kenapa kamu pilih masuk SMK, Ga?” tanya Cakra.
“Papi yang minta tapi ya dijalanin aja selama mumpuni,” balasnya.
“Kamu nggak sayang apa dari SD di lab school terus malah ke SMK?” Raksa mengkerutkan dahinya heran dengan Cakra yang tahu hal itu.
Lingga menggelengkan kepalanya, “Saya tahu nanti bakal ambil jurusan arsitektur dan di SMK ada jurusan gambar bangunan, kalau bisa dimulai lebih awal kenapa enggak. Waktu kuliah nanti udah tahu dasarnya, tinggal lanjutin aja,” terang Lingga.
Jujur, Raksa tidak berekspektasi Lingga berkata seperti itu seolah dia benar-benar menginginkan masuk dalam arsitektur. Yang Raksa tahu, Lingga tidak benar-benar niat di SMK dan menginginkan berada di bangku SMA. Tugas jurusan saja meminta orang lain mengerjakannya.
“Dari SMK bukannya sulit nanti ke perguruan tinggi? Pelajaran umum cuma dasarnya kan yang diajarkan?” tanya Cakra lagi.
“Ada yang namanya bimbingan belajar, itu bisa jadi alternatif. Banyak bimbingan belajar dengan pemateri yang bagus dan mereka membantu murid untuk masuk ke perguruan tinggi,” balas Lingga.
“Jadi dua kali belajar ya,” ujar Cakra.
“Iya, dua kali belajar. Outputnya nanti pinter jurusan dan pengetahuan umum.”
Raksa mengakui Lingga pandai berbicara. Dia mungkin sudah kelu untuk membalas sang Papa yang menatap mengintrogasi.
Wanda, mama Raksa yang baru datang ikut bergabung dengan mereka. Dia menunjukkan berkas pada Raksa yang sudah dia tebak apa isinya dengan melihat map bertuliskan nama sebuah SMA.
Meleset. Tebakan Raksa meleset dan sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada didalamnya. Benar, surat pengunduran diri sebagai calon siswa SMA. Orangtua Raksa sebelumnya sudah membeli bangku di SMA dan mengurus surat pengunduran dari SMK.
“Serius ini?” Raksa memastikan.
“Serius, Asa. Kok nggak seneng gitu mukanya? Katanya mau di SMK aja,” balas Wanda.
Lingga yang berada di sebelah Raksa ikut terkejut mengetahui hal itu. Keinginan Raksa telah didukung orangtuanya.
“Aku nggak sekolah dong ini? Kan udah mengundurkan diri dari SMK,” bingung Raksa.
“Surat pengunduran diri kamu masih ada tuh di kamar Mama, belum dikirim ke sekolah,” ujar Wanda. “Lihat Lingga, Mama rasa pilihan kamu buat masuk SMK itu nggak salah. Kamu juga punya bakat di sana. Janji buat belajar yang rajin ya, Sa?” tambahnya.
“Asa, beruntung kamu di SMK ketemunya sama Lingga. Papa nggak bisa bayangin kalau kamu temenan sama berandalnya atau kena rundungan mereka. Lingga, kamu juga yang rajin belajarnya di sekolah, dikurangi mainnya sampai larut kayak sebelumnya. Nggak baik, Mas Wira itu khawatir loh,” sahut Cakra.
Akhirnya Raksa mendapatkan persetujuan masuk di SMK. Bualan-bualan Lingga membuahkan hasil meyakinkan orangtuanya. Dia berterima kasih banyak pada Lingga.
Manik Lingga kini tak lepas dari Raksa yang berguling kesana-kemari di ranjangnya dengan tertawa bahagia. Senyumnya tersungging melihat kebahagiaan Raksa.
“Seneng banget lo,” celetuk Lingga lalu memakan buah stroberi.
“Gue nunggu ini dari lama dan akhirnya mereka sah nerima keputusan gue di SMK. Omongan lo bagus banget jawab pertanyaan Papa tadi, udah kayak bocah niat,” balas Raksa.
“Gue niat.”
“Niat darimana? Kerjain tugas lo kalo niat,” balas Raksa. “Tapi nanti gue gak dapet duit kalo lo niat,” lanjutnya.
“Nah itu tau. Tapi gue beneran niat sih mulai satu jam yang lalu,” balas Lingga.
“Bentar lagi juga udah nggak niat lagi lo. Gue bantu protes Papi lo gimana? Biar lo bisa di SMA kayak yang lo mau.” Raksa memposisikan dirinya duduk ditepian ranjang menghadap Lingga yang duduk di kursi belajarnya.
“Gaya lo. Yakinin ortu lo aja gak bisa malah mau bantu gue. Gue niat beneran di SMK mulai satu jam yang lalu,” balas Lingga.
“Kocak lo.” “Bagi buahnya, enak banget lo abisin.”
Alih-alih mendapat storberi, Raksa hanya dilempari bintik hitam stroberi oleh Lingga. Raksa sudah menatap Lingga kesal.
“Pinter tapi buah aja gak ngerti, ini biji.” Raksa menunjukkan bintik hitam stroberi yang tadi dilempar Lingga dengan jarak yang dekat dari mata Lingga. “Ngapain lo ketawa? Lucu?”
“Ya itu buahnya, lo minta buah kan?” balas Lingga dengan tertawa.
“Buta mata lo? Ini biji,” protes Raksa.
“Stroberi itu buah semu. Yang biasa dimakan, merah-merahnya ini tuh mahkota bunga yang ngembang, buahnya ya bintiknya itu. Dibuka ya buku biologinya,” balas Lingga dengan menepuk-nepuk kepala Raksa pelan.
“SMK gak ada bio, gak punya buku gue.” Raksa menyahut stroberi dengan tangannya lalu melahapnya.