Menyambut
CW // Dark joke
Halaman rumah Lingga telah rapi dengan sebagian barang untuk berkemah nanti, tinggal menunggu teman-temannya datang. Wira, Papi Lingga, begitu antusias atas acara Lingga. Sebetulnya daripada Lingga, Wira lah yang lebih mengurusi persiapan acara itu dibantu Mas Galih dan yang lainnya. Bahkan Wira merelakan terlambat ke kantor demi menyambut teman-teman Lingga.
“Mas Galih, tolong di depan ya. Nanti temannya Mas Lingga yang dateng langsung diarahkan ke sini aja. Yang bawa kendaraan nanti dimasukno garasi sekalian. Kamu bawa golf cart buat bawa mereka ke sini,” tukas Wira.
Lingga hanya memperhatikan Wira yang sibuk sendiri. Jarang sekali dia melihat Wira dengan pakaian santainya turun tangan sibuk mempersiapkan acara anaknya. Pemandangan seperti ini lama tidak dia dapatkan, entah sudah berapa tahun.
Senyum Wira terpancar melihat tiga golf cart yang membawa teman-teman Lingga berjalan menuju halaman. Mereka satu persatu menjabat tangan Wira setelah turun dari golf cart.
“Loh ini yang biasa futsal sama Mas Lingga kan ya?” tanya Wira yang mendapat anggukan dari Maheswara, Handaru, Jagat, dan Sagara. “Di situ keliatan kan ada bagian lapangan golf yang dibongkar. Itu nanti bakal jadi lapangan futsal, kalian kalau main ke sini aja daripada sewa tempat,” tambahnya.
“Yang ini Papi tahu, Raksa. Yang lain siapa?” Satu persatu dari mereka mengenalkan diri pada Wira.
Lingga diam karena tiba-tiba dia merasa curiga dengan Wira. Dia tidak pernah memberitahu siapa yang bermain futsal dengannya, namun lelaki itu tahu.
“Mas Galih, tolong foto saya sama anak-anak,” pinta Wira.
“Ngapain foto segala?” sahut Lingga.
“Papi harus mengabadikan ini, jarang loh kamu bawa temen ke rumah sebanyak ini bahkan sampe nginep. Biar kenang-kenangannya nggak cuma dalam pikiran aja,” jelasnya.
Semua berbaris untuk foto bersama menuruti permintaan Wira. “Mas Galih, satu lagi foto saya sama Raksa dan Mas Lingga. Pakai handphone saya aja, mau saya kirim ke papanya Raksa,” ujar Wira setelahnya dan memberikan ponselnya.
Raksa merasa canggung foto bertiga dan untuk apa berfoto untuk dikirimkan ke papanya, dia merasa foto itu tidak berguna. Sedangkan Lingga hanya pasrah mengikuti apa yang diminta Wira.
“Mas, nanti bilang loh kalau ada apa-apa. Mas Galih stay di rumah, nanti kalau butuh mendadak minta bantu Mas Galih,” lanjut Wira pada Lingga.
“Iya,” balas Lingga.
“Kalian have fun ya di sini. Nanti kalau butuh apapun, bilang Mas Lingga. Saya tinggal dulu ya,” pamit Wira.
Setelah kepergian Wira, seluruh pandangan tertuju pada Lingga dan Raksa mentap curiga pada keduanya.
“Fotoin Mahes sama Heksa dong, mau gue kirim ke mamanya Heksa,” celetuk Yaksa menyindir kejadian sebelumnya.
“Apa lo liatin gue? Mau banget lo foto sama gue? Gak usah ngarep. Sawan ntar mama gue liat muka lo,” ujar Heksa ketus pada Mahes.
“Pede lo gue ngarep,” sahut Mahes.
“Mami lo nggak di rumah, Ga? Gue pikir bakal ketemu.” tanya Raksa tak memedulikan keributan Mahes dan Heksa.
“Nggak. Jangan sampe ketemu,” balas Lingga.
“Beneran serem kayaknya mami lo,” ujar Raksa.
“Iya, serem. Udah tak kasat mata soalnya, kalo lo sampe ketemu patut dipertanyakan sih antara lo bisa lihat atau loㅡamit-amit deh jangan dulu lah lo.”
Raksa terdiam sejenak mendengar balasan Lingga. Lelaki itu mengucapkan dengan wajah cengengesan, berbanding terbalik dengan arti ucapannya.
“Sorry, gue gak seharusnya nanya. Duh, mulut gue.” Raksa menampar mulutnya sendiri.
“Gapapa, ngapain lo minta maaf. Lo dari kemaren masih kepikiran aja sama omongan mereka yang bilang serem. Ngapain coba lo pikir banget,” balas Lingga.
“Ya lo bayangin aja main ke rumah temen tapi ortunya galak. Yang ada bukan main, tapi tertekan,” terang Raksa.
“Asik amat ngobrol berdua, bantu bangun tenda anjing,” tukas Handaru. “Lo juga Hes sama Heksa, gue timpuk stick tenda berantem gak kelar-kelar,” tambah Handaru.
“Anjing, gue lupa bawa bantal,” celetuk Nares.
“Ada bantal di rumah ini, lo ambil aja dari sana gapapa,” sahut Lingga menunjukkan Nares untuk mengambil bantak di rumah yang sebelumnya dipakai mbak di rumah Lingga.