Sean dan Media

Dengan rasa panik dan cemas, Renjun menunggu Lucas di pintu darurat gedung. Dia tidak menunggu di lobby karena ada beberapa media di sana. Berita di internet menyebar dengan cepat dan membuat media cepat mengusut berita yang tengah ramai.

Renjun dengan segera masuk ke dalam mobil Lucas ketika lelaki itu sampai. Dirinya lebih tenang bersama Lucas saat ini. Banyak ketakutan Renjun yang berkumpul menjadi satu saat ini.

“Aku diminta konfirmasi ke agensi sama Mr. Dong. Hari ini,” tukas Renjun.

“Aku temenin kamu konfirmasi ke agensi,” balas Lucas.

Mobil mereka berjalan ke pinggiran kota dan menepi di jalan yang tak begitu ramai orang berlalu-lalang. Lucas melihat Renjun yang bingung dan cemas. Berbicara kepada media itu mudah, tapi dampaknya tidak selalu mudah karena pada dasarnya setiap orang memiliki suara masing-masing.

Keduanya terlalu bersemangat atas hadirnya Sean hingga lupa bahwa keduanya itu bekerja di dunia hiburan yang banyak disorot publik. Publik akan merasa bahwa mereka perlu tahu apa yang terjadi pada mereka, rumor akan bersimpang siur jika tidak adanya konfirmasi dari yang bersangkutan, dan apapun bisa menjadi runyam.

“Sayang, nanti aku temenin kamu konfirmasi ke agensi. Kita bilang ke publik kalau kita punya Sean,” ujar Lucas mengelus puncak kepala Renjun.

“Kita cuma konfirmasi aja bahwa bener kita adopsi, gak perlu didetailkan nanti. Kita hindari pers ya, Ge? Konfirmasi keluar dari kita sendiri sama agensi aja, kita gak perlu wawancara langsung karena itu rawan dibumbui,” balas Renjun.

“Iya, cukup dari kita dan agensi.”

“Ge, kita jangan publikasi wajah Sean ya? Kita perlu persetujuan anaknya buat itu. Mau menunjukkan dirinya atau enggak, itu hak privasi Sean,” ujar Renjun yang diangguki setuju oleh Lucas. “Aku deg-degan banget,” tambah Renjun.

Lucas merentangkan tangannya meminta Renjun masuk dalam dekapannya. Tawa Lucas menguar tidak lama dari itu. “Dilepas dulu seatbeltnya, mana bisa peluk aku kalo gitu,” ujar Lucas yang terkekeh namun mendapat dengusan dari Renjun.

Renjun menggeser dirinya ke bangku kemudi dan duduk di paha Lucas mendapatkan posisi yang nyaman memeluk lelakinya. Bagi Renjun, pelukan itu dapat menenangkan, terlebih dari orang yang saat ini dia peluk. Dia mendapat kekehan dan kecupan singkat dari Lucas.

“Kapan mau konfirmasi ke agensi?” tanya Lucas.

“Sekarang. Bisa jadi masalah kalau gak buruan dikonfirmasi,” balas Renjun.

Tidak lama dari balasan Renjun, Lucas melajukan mobilnya dengan Renjun yang masih dalam pangkuannya. Atas tindakannya itu, Lucas mendapat cubitan perut dari Renjun.

“Berhenti dulu gak!” protes Renjun. “Kaget tau, malah ketawa,” tambah Renjun.

“Kamu kan bilang sekarang, yang,” balas Lucas yang masih terkekeh. Dia suka sekali melihat ekspresi kesal Renjun yang dia jahili.

“Ya tapi aku geser dulu ke sebelah. Main gas aja kamu! Bahaya tau nyetir kayak gitu,” omel Renjun.

Renjun beranjak dari pangkuan Lucas dan hendak bergeser ke bangkunya namun Lucas justru membuat Renjun duduk kembali dipangkuannya. Lucas mencium lelaki kecilnya itu, sejenak keduanya larut dalam ciuman yang dalam.

“Kenapa kamu makin gemesin sih,” ujar Lucas lalu mengecup singkat bibir Renjun sebelum lelaki itu kembali ke bangkunya.

Duk!

It's an intoxicating kiss effect bikin keleyengan.” Lagi-lagi Lucas menertawakan Renjun. Lelaki itu kepalanya terbentur atap mobil ketika bergeser ke bangkunya.

“Dangdut banget, but yea i agree that your kiss is intoxicating. Aku suka,” balas Renjun sembari membenarkan duduknya.

Okay, stop it there.” Lucas menutup pembicaraan tentang ciuman mereka.


Keduanya masuk ke kantor agensi melalui jalur khusus untuk menghindari media yang berkerumun di depan. Berita tentang mereka mengadopsi anak itu menduduki tren nomor satu saat ini, banyak sekali orang yang menanti konfirmasi mereka.

Mereka datang disambut oleh Winwin yang biasa Renjun sebut Mr. Dong, Doyoung, dan juga beberapa staf. Beberapa pertanyaan diajukan pada Renjun untuk konfirmasi. Sesuai yang telah dia bicarakan dengan Lucas, dia hanya akan mengonfirmasikan bahwa mereka benar mengadopsi seorang putra.

“Luke, kamu adopsi dari tempat Ibu?” Lucas mengangguk membalas pertanyaan Winwin.

“Aku sama Kak Yuta juga adopsi dari tempat Ibu, satu pasang cewek cowok,” ujar Winwin.

Mendengar kata 'Kak Yuta' yang terucap dari mulut Winwin mengingatkan bahwa dahulu Lucas begitu sebal mendengar nama itu. Yuta yang membuatnya tidak berani maju untuk Winwin dan membuat Lucas tidak pernah mengungkapkan rasa yang dia miliki kepada Winwin sampai rasa itu telah hilang dengan sendirinya.

“Kapan-kapan ajak anak kalian main bareng sama anak-anakku boleh dong?” Winwin bertanya lagi.

“Boleh lah, Ge,” jawab Lucas.

“Aku cari waktu deh nanti aku kabarin ke kalian,” balasnya. “Oh iya, siang ini kalian datengin pers, gimana?” tambah Winwin bertanya.

“Boleh ditiadakan aja nggak pers-nya?” jawab Renjun sedikit ragu bertanya pada Winwin.

“Kenapa minta ditiadakan? Ini buat konfirmasi lebih jelas aja,” balas Winwin.

Lucas menatap Renjun mengerti maksud lelaki itu. Di mobil tadi mereka juga telah memutuskan untuk tidak ada pers yang berbicara langsung dengan media.

“Maaf, Ge. Kita nggak bisa kalau dateng. Konfirmasi agensi udah cukup jelas dan juga nanti kita berdua konfirmasi sendiri lewat akun pribadi kita. Jadi, ditiadakan aja pers-nya,” ujar Lucas membantu Renjun menjelaskan.

“Okay, gapapa kalau maunya gitu,” balas Winwin paham.

“Terima kasih,” ujar Renjun pada Winwin.