Sean Memilih
Setelah menjemput Renjun, mereka pergi ke groceries dan kini Renjun tengah memasak makan malam untuk mereka sesuai janjinya. Sean memilih menonton kartun sembari menunggu Renjun selesai memasak. Sedangkan Lucas memilih menonton Renjun yang tengah memasak menanti makanannya siap.
“How can you always look pretty?” gumam Lucas bertanya entah pada siapa.
Lucas tiba-tiba mendekat pada Renjun dan mengecup pipi lelakinya itu sekilas. “Mau cicip dong yang,” ujar Lucas setelahnya. Renjun menyuapkan masakannya sedikit pada Lucas.
“Udah pas belom?” tanya Renjun.
“Udah, enak kok,” balas Lucas.
Setelahnya, Renjun meminta Lucas membantunya menata piring di meja makan dan memanggil Sean untuk makan malam.
“Pake candle segala,” celetuk Renjun ketika mengetahui Lucas menata meja makan begitu cantik dengan lilin di sana.
“Biar berasa dinner di resto five star,” balas Lucas yang tengah mematik api untuk lilin.
Renjun mengecup pipi Lucas yang tengah membungkuk karena mematikkan api membalas kecupan yang lelaki itu berikan tadi. “Sweet banget sih ganteng,” ujar Renjun setelahnya dengan kekehannya.
“Yang sebelah juga dong, masa cuma pipi kanan yang dapet,” protes Lucas.
“Kamu kasih satu ya tadi,” balas Renjun.
“Kasih juga dong yang kiri, nanti aku tambah deh,” pinta Lucas.
Walaupun Renjun berdecih, namun lelaki itu tetap memberikan kecupannya pada Lucas. Lucas pun menepati perkataannya dengan mengecupi wajah manis lelakinya.
“Kakak, udahan yuk kartunnya. Kita makan dulu, kak,” ujar Renjun menghampiri Sean yang masih setia di depan televisi. “Yuk makan dulu sebelum dingin, nanti lagi nontonnya,” lanjut Renjun.
“Boleh di sini saja Kakak makan?” balas Sean bertanya.
“Makan seharusnya ya di ruang makan. Makan di sana ya, Kak. Udah ditunggu Papo di sana,” jelas Renjun.
“Kalau tidak bisa, tunggu sebentar. Kartunnya belum selesai,” balas Sean.
“Papo, Kakak gak mau makan di ruang makan,” lapor Renjun pada Lucas.
“Kak, ayo dong makan dulu,” ujar Lucas sembari berjalan menghampiri Sean dan Renjun.
Sean tak bergeming, dia masih tak mau lepas dengan kartunnya. Bukan masalah tidak boleh menonton kartun, namun karena setelah ini merupakan jam tidur Sean, mereka tidak mau Sean tidur dengan keadaan melewatkan makan malam.
“Kak, besok kita ada misi rahasia buat Pipo. Kalau Pipo kesal, besok sulit membujuk Pipo pergi. Kartunnya masih bisa ditonton ulang loh, Kak. Makan malam dulu ya, Kak?” bujuk Lucas berbisik pada Sean.
“Sungguh bisa?” Lucas menganggukkan kepalanya. “Pipo, ayo kita makan,” ujar Sean sembari mematikan televisi.
“Gege bilang apa?” tanya Renjun yang heran pada Lucas.
“Rahasia,” balas Lucas dengan raut tengilnya lalu pergi menyusul Sean.
Renjun sedikit kesal melihat Lucas dan Sean saling melempar tawa tanpa dia tahu apa yang membuat mereka tertawa. Dia berencana mengintrogasi Lucas nanti tentang rahasia itu.
“Pipo.” Sean mengacungkan jempolnya memberitahu Renjun bahwa masakannya enak.
“Telan dulu, baru bicara.” Renjun memperingatkan Sean.
“Ini enak. Terima kasih sudah membuatnya, Pipo,” tukas Sean setelah menelan makanannya.
“Buatan Pipo pasti enak,” balas Renjun percaya diri. “Oh iya, Kak. Papo sudah beritahu Kakak tentang sekolah baru?” tambah Renjun bertanya.
“Sudah, dua-duanya bagus. Kakak bingung memilih,” jawab Sean.
“Kakak suka belajar di rumah atau di sekolah?” Renjun berusaha menawarkan homeschooling kepada Sean.
“Di sekolah. Membosankan di rumah, tidak ada teman,” jawab Sean.
Tangan Renjun digenggam Lucas ketika dia ingin melanjutkan menawarkan Sean untuk homeschooling. Manik Renjun melirik Lucas yang menahannya dengan tajam.
“Papo ada dua pilihan untuk Kakak. Pertama belajar penuh di sekolah, kedua belajar sebagian di rumah dan sekolah. Kakak lebih suka mana?” tanya Lucas.
Sean tampak berpikir tentang penawaran Lucas. Anak itu jelas bingung untuk memutuskan pilihannya.
“Bagaimana belajar sebagian di rumah dan sekolah?” tanya Sean.
“Misalnya 3 hari Kakak belajar di rumah, lalu 2 hari Kakak belajar di sekolah. Jadi tidak sepenuhnya di sekolah, Kak,” jelas Renjun.
“Teman-teman juga ke rumah?” tanya Sean.
“Tidak, hanya Kakak dan guru,” jawab Renjun.
“Tidak seru kalau begitu. Kalau bersama teman Kakak mau, itu pasti seru,” tukas Sean.
“Kakak coba pikir lagi kalㅡ” genggaman Lucas pada tangan Renjun semakin erat. Keduanya beradu pandang sejenak dan Lucas memberikan gelengan kepalanya agar Renjun lepas kendali menyondongkan satu pilihan.
“Kalau Kakak belajar di rumah, Papo dan Pipo bersama Kakak?” tanya Sean lagi.
Renjun benar-benar terdiam setelah mendengarkan pertanyaan Sean baru saja. Dia sebelumnya sempat menghubungi Yangyang untuk meminta pendapat lelaki itu jika dia memasukkan Sean homeschooling. Jawaban Yangyang tidak berbeda dari Lucas, dia tidak setuju atas itu.
Renjun dan Lucas memiliki kesibukan mereka masing-masing. Tidak ada yang merelakan pekerjaan mereka, hanya mengurangi porsi saja sehingga dapat memiliki waktu senggang untuk bersama keluarga setiap harinya. Hal itu menjadi alasan Lucas memilih bahwa Sean tetap berada di sekolah formal, anak itu tidak akan menunggu keduanya pulang dengan bosan. Membawa Sean untuk bekerja terus-terusan juga bukan hal yang baik dari sisi mereka sebagai orangtua maupun Sean sendiri.
Sedangkan Renjun memilih homeschooling karena fleksibel mengingat mereka yang mungkin akan sering bepergian ke luar kota maupun negeri. Dengan homeschooling ketika mereka bepergian jauh, Sean tetap bisa ikut tanpa izin yang ribet.
“Pipo dan Papo harus bekerja di waktu itu, kemungkinan tidak bisa menemani Kakak belajar di rumah,” terang Renjun.
“Kakak memilih pilihan pertama kalau begitu. Belajar sendiri itu tidak asik,” balas Sean.
“Oke, Kakak habiskan makanannya sekarang lalu gosok gigi, cuci tangan dan kaki sebelum tidur,” ujar Renjun pada Sean.
Lucas mencuci semua piring dan peralatan dapur setelah semuanya selesai. Sedangkan Renjun masih tetap di tempat dia makan tadi. Pikiran dan hatinya masih mencoba menerima Sean untuk berada di sekolah formal.
“Yang, mau sampe kapan di situ?” Lucas mematikan lampu lalu menghampiri Renjun.
Tanpa menjawab pertanyaan Lucas, Renjun beranjak dan pergi ke kamar. Renjun pergi membersihkan wajahnya sebelum tidur dan Lucas menunggunya dengan membalas pesan-pesan masuk di ponselnya.
“Ge, kamu beneran gak mau masukin Sean homeschooling?” tanya Renjun.
“Kamu denger sendiri jawaban anaknya gimana tadi. Gapapa ya Sean masuk sekolah formal aja?” Lucas menaruh ponselnya di nakas dan fokus berbincang dengan Renjun.
“He will be okay?” tanya Renjun.
“Sure,” balas Lucas meyakinkan. “Karena Sean bingung mau pilih sekolah mana, i think he's fine in both, so i let you to pick the school,” tambah Lucas.
“I will think about it,” balas Renjun lalu menempatkan dirinya berbaring di sebelah Lucas.