Pillowtalk

Larut malam, Lucas dan Renjun masih belum pergi ke alam mimpi mereka. Sean telah tertidur dari beberapa jam yang lalu sehingga keduanya kini bersantai dengan waktu mereka berdua. Keduanya saling mengobati rasa lelah, memberikan afeksi satu sama lain. Renjun memeluk Lucas yang terlentang disebelahnya, menaruh kepalanya di atas dada lelakinya adalah posisi nyaman Renjun.

Jemari Lucas bermain surai Renjun yang menaruh kepalanya didadanya. Keduanya dalam tenang hampir satu jam, hanya saling menyalurkan afeksi, memberikan rasa tenang dan nyaman satu sama lain.

“Ge, kayaknya kita harus cepet obrolin ke Sean tentang sekolahnya. Sekarang publik udah tau kita adopsi, mereka pasti mau tau siapa anak kita sehingga ada kemungkinan privasi Sean diganggu. Sedia payung sebelum hujan itu perlu ya kan?” tukas Renjun membuka pembicaraan.

Renjun menengok ke arah Lucas karena mendengar tak ada sahutan dari lelaki itu. “Aku kira Gege udah tidur, diem aja,” tukasnya yang mendapat senyuman beserta gelengan kepala Lucas.

“Bukan maksud bilang sekolahnya Sean sekarang gak proper, cuma kalau ada yang lebih proper kenapa gak ditawarkan ke sana aja anaknya. Kita tawarin Sean ke sekolah dengan metode pembelajaran yang lebih bagus sekaligus keamanan siswa dan privasinya yang lebih terjamin,” tambah Renjun.

“Besok kita obrolin sama anaknya, ketunda terus kita mau ngobrolin itu. Tapi balik lagi buat kita netral sewaktu menawarkan. Kita harus jelasin juga kalau publik banyak mau tau tentang dia. Ngontrol orang banyak itu susah, kita bisa jadi gak mampu. Yang kita lakuin ya antisipasi dengan bekalin Sean dengan penjelasan yang cukup dan gimana cara dia atasinnya,” balas Lucas.

“Oh iya, tadi aku dikabarin Ibu kalau berkasnya udah turun dan kita bisa finalisasi. Aku lupa beneran mau bilang tadi sore dikabarin. Besok kamu ada waktu buat ke sana?” tukas Lucas yang baru saja mengingatnya.

“Harus ada waktu sih itu, aku bilang ke Kak Doy besok. Kita perlu ajak Sean kan ya itu?” tanya Renjun.

“Sebaiknya emang dia diajak.”

“Waktu Sean pulang sekolah aja, kita jemput bareng anaknya gimana? Aku obrolin sama Kak Doy buat kosongin jam itu, Gege bisa?” saran Renjun.

“Bisa, aku jemput kamu ya besok.” Renjun menganggukkan kepalanya yang masih berada di atas dada Lucas.

Lucas menyadari Renjun sudah beberapa kali menguap dan dia meminta lelaki itu segera tidur karena besok dia memiliki jadwal radio pagi. Jika Renjun sedang manja seperti ini, dia selalu meminta Lucas untuk menepuk-nepuk pundaknya hingga dia tertidur.


Pagi buta, Lucas terbangun karena suara ketukan pintu ruangannya. Dia kesulitan beranjak karena Renjun masih tidur memeluknya, dia takut lelaki itu terbangun. Ketika dia berusaha melepaskan pelukan Renjun untuk melihat siapa yang mengetuk pintu ruangannya, knop pintu kamarnya bergerak dan tidak lama terlihat kepala muncul dari balik pintu itu dan itu adalah Sean. Lucas melambikan tangannya meminta Sean masuk ke ruangannya.

Lucas bingung kenapa sepagi ini dia sudah bangun, jam masih menunjukkan pukul 3 pagi. Anak itu beranjak naik ke ranjang menempatkan dirinya di sisi Lucas yang lain.

“Pipo sudah berangkat?” tanyanya dengan suara bangun tidurnya.

Tangan Lucas membuka selimutnya menampakkan Renjun yang menjadikan dada Lucas sebagai bantalnya. “Masih tidur,” ujar Lucas. “Kakak bangun pagi sekali,” tambahnya.

“Kakak pikir sudah berangkat. Kakak mau antar Pipo berangkat pagi. Biasanya Pipo berangkat lebih dulu dari Kakak,” balasnya.

“Karena itu Kakak bangun sepagi ini?” Sean mengangguk. “Nanti kita antar Pipo sama-sama. Kakak bisa tidur lagi sebentar di sini, nanti Papo bangunkan. Masih pagi banget ini, Kak.” Sean menggelengkan kepalanya, menolak saran Lucas.

Sean memang menolak untuk tidur lagi, namun dia memposisikan dirinya tidur di sebelah Lucas. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sepagi ini sedangkan matanya sudah segar.

“Papo, boleh menonton TV?” tanyanya pada Lucas.

“Boleh, remotenya di laci sebelah Kakak,” balas Lucas.

Lucas yang semula ingin memejamkan matanya kembali menjadi segar karena dirinya terus menanggapi pertanyaan yang diajukan Sean saat menonton kartun. Keduanya menikmati menonton kartun bersama hingga tertawa lepas dan itu membuat Renjun terbangun dari tidurnya. Sean dan Lucas seketika diam ketika mengetahui mata Renjun telah terbuka. Renjun sendiri terkejut dengan Sean yang sudah berada di ruangannya.

“Jam berapa ini?” tanya Renjun.

“Baru jam empat. Kamu tidur lagi aja gapapa, biar aku sama Kakak nonton diluar,” balas Lucas.

“Gapapa nonton di sini aja. Kakak pagi banget hari ini bangunnya,” heran Renjun.

“Kakak mau antar Pipo hari ini, Papo juga ikut. Pipo selalu berangkat lebih pagi dari Kakak,” sahut Sean.

“Kakak sweet banget sih. Tadi bangun jam berapa?”

“Jam 3 tadi udah ketuk pintu ke sini.” Renjun menatap Sean terkejut mengetahui Sean bangun sepagi itu dengan sendirinya.

“Pagi banget Kak,” ujar Renjun.

“Kakak ke sini dan Pipo masih tidur seperti ini.” Sean memperagakan bagaimana Renjun tidur memeluk Lucas tadi, mengundang tawa renyah dari Lucas dan Renjun.