Kita dan Matematika
Tidak berselang lama dari mereka bertukar pesan, Raksa telah sampai di markas menghampiri Lingga yang tengah berkumpul dengan teman-temannya. Setelahnya, keduanya segera meluncur ke rumah Raksa untuk mengejar waktu mengerjakan tugas matematika miliknya.
Ketika sampai di rumah, Raksa tak berharap ditanya oleh orangtuanya. Alasannya jelas karena dia menggunakan nama Lingga hanya sebagai alasan agar bisa keluar di jam malam. Akan tetapi, Raksa tidak seharusnya berharap hal itu dari orangtuanya, mereka selalu ingin tahu tentang Raksa dan sekitarnya.
Pertanyaan pertama yang ditanyakan adalah darimana saja keduanya pergi. Ketika Lingga hendak menjawab, hal itu sudah didahului Raksa. Mendengar jawaban Raksa yang jelas mengarang membuat Lingga mulai paham situasi dan mengikuti alur yang dimainkan Raksa.
“Raksa suka bohong ya ternyata,” celetuk Lingga dengan nada yang dibuat-buat ketika berjalan masuk ke ruangan Raksa. “Ngapain sih lo bohong-bohong segala?” tambah Lingga bertanya.
“Sorry banget gue pake nama lo buat alasan. Tapi serius deh, gue gak aneh-aneh. Gue cuma pergi sama temen-temen gue aja,” balas Raksa. “Emang lo gak pernah bohong gitu ke Papi lo?” tambahnya.
“Ngapain coba pake bohong, bahaya lo suka bohong. Awas bikin celaka waktu lo main kalo lo bohong izinnya,” balas Lingga menakuti Raksa.
“Ya lo gak usah doain gue celaka,” dengus Raksa.
“Kalo keluarnya sama temen-temen lo kenapa gak bilang nama mereka? Kayaknya temen lo lebih bener kelakuannya daripada gue. Lo ngerti kan maksud gue? Kenapa lo malah pake nama gue yang kemungkinan bisa bawa lo dalam kesesatan dunia?” Tawa Lingga menguar setelahnya.
“Karena orangtua gue ngijininnya kalo gue keluar sama lo. Kalo sama mereka, paling jam 8 udah di spam telepon gue sama mereka. Tau deh, aneh emang,” tukas Raksa sembari memberikan buku matematika miliknya.
Lingga membuka buku catatan tugas milik Raksa dan melihat sebagian besar nilainya tak sampai angka 8, paling tinggi sepertinya mendapat nilai kkm sekolah mereka, alias 7,6. Membaca jawaban tugas Raksa itu mengundang tawa Lingga, jawabannya terlihat sudah frustasi dan pasrah.
“Soal tuh dikerjain, bukan ditulis lagi, Rak,” tukas Lingga sembari tertawa.
“Dih ketawa lo. Ya lo pikir aja itu yang diketahui persamaan kuadratnya x sama y, pertanyaannya berapa nilai a ditambah b, mana gue tau a sama b nilainya berapa,” balas Raksa dengan nada menyulut. “Tugas gue cuma lima nomer, per nomer cabang tiga, sama ada tuh satu cabangnya empat. Gue mau muntah duluan lihat soalnya doang. Gue percaya lo pasti bisa, Ga. Semangat! Gue dukung lo dengan doa.” Raksa menepuk pundak Lingga.
Raksa yang hendak pergi ke ranjangnya untuk mengistirahatkan dirinya justru ditahan oleh Lingga. Jujur saja, Raksa tidak ingin bermalam dengan matematika terlebih dipusingkan mencari nilai dari sebuah huruf.
“Ga, gue bayar lo nemenin lo basket ya besok. Please gue males banget liat mtk,” tolak Raksa sekaligus mengingatkan Lingga.
“Lo besok ulangan kalo lo lupa,” balas Lingga mengingatkan Raksa.
“Besok gue sebangku sama temen gue yang pinter. Tenang, dia murah contekan,” sahut Raksa.
“Yaudah habis ini gue bilang ke mama atau papa lo kalo lo selama ini bohong ke mereka kalㅡ”
“Kita belajar apa hari ini, Mas Lingga?” Raksa menarik kursi game miliknya dan menempatkan diri di sebelah Lingga.
Raksa menatap Lingga dengan mata berbinar dan senyumannya yang dibuat-buat, namun berbeda dengan Lingga yang terbius sepersekian detik karena itu. Bukan hanya karena tatapan dan senyuman dari Raksa, namun juga panggilan 'Mas Lingga' yang baru saja dilontarkan Raksa untuknya. Papinya memang sering menggunakan panggilan itu, bahkan orang-orang dirumahnya juga memanggilnya dengan sebutan itu, namun entah kenapa jika Raksa yang melontarkannya rasanya menjadi berbeda.
Satu jam lebih Lingga mengajari Raksa dan dia entah berapa kali dibuat tidak fokus oleh Raksa yang begitu dekat dengan dirinya. Beberapa menit lalu Raksa tertidur dengan kepalanya bertumpu pada buku di meja. Lingga mencuri kesempatan mengambil gambar Raksa sebelum dia menjahili anak itu dengan mengagetkannya.
“ANJING!!” Raksa reflek teriak dan menendang kursi yang diduduki Lingga setelah dikagetkan oleh anak itu.
“Lo balik sana deh, Ga. Anjing emang lo ngagetin gue,” kesal Raksa.
Raksa membereskan barang Lingga di meja miliknya dan memberikan kepada sang pemilik lalu meminta anak itu pulang.
“Giliran udah kelar aja lo ngusir gue,” celetuk Lingga ketika Raksa mendorongnya keluar.
“Besok gue temenin lo basket, sekarang lo balik. Gue mau tidur,” sahut Raksa.
“Selamat tidur, Asa,” ujar Lingga sebelum pergi.