Day 02

Liburan mereka di pantai berjalan dengan nyaman, orang-orang memahami pesan yang kemarin Lucas sampaikan. Mereka juga tak lagi meminta Sean merundukkan kepalanya ketika ada kamera mengarah padanya. Orang-orang yang mengambil gambar mereka tentu masih ada, tetapi tidak berlaku mengacau seperti di danau sebelumnya.

Ketika mereka bertanya pada Sean apakah boleh mereka mempublikasi fotonya pada media sosial mereka dan membuat publik tahu bagaimana dirinya, mereka mendapat jawaban yang lucu dari anak itu. Anak itu berkata bahwa jika dia dikenal banyak orang, itu akan memudahkan spiderman mengetahui dirinya.

Mereka benar-benar puas berlibur di pantai, terlebih Sean yang terkabulkan bermain jet ski. Lucas dan Renjun merasa weekend kali ini adalah pertama kalinya mereka nikmati tanpa memikirkan pekerjaan.

“Pipo, itu sakit?” tanya Sean pada Renjun yang kakinya baru terbentur ketika turun dari perahu.

“Tidak apa-apa, Kak,” balas Renjun.

“Kenapa, yang?” tanya Lucas yang turun paling akhir.

“Kebentur aja, gapapa,” jawab Renjun.

Mereka mengambil barang-barang mereka dan berganti pakaian sejenak lalu kembali ke mobil untuk pergi mencari makan. Tangan Renjun tidak lepas berpegangan pada Lucas untuk menyeimbangkan jalannya. Benturan pada kakinya tadi cukup keras dan nyerinya cukup terasa.

“Yang, naik aja sini. Kasian nanti makin nyeri kakimu.” Lucas meminta Renjun naik ke punggungnya untuk dia gendong.

“Gini aja masa sampe digendong, gak usah. Udah deket ke mobil juga,” tolak Renjun.

“Beneran?” Renjun mengangguk yakin.

Ketika sampai di mobil mereka, Lucas membantu Renjun untuk masuk ke dalam mobil. “Kakak di depan bersama Papo, ya. Pipo biar bisa meluruskan kakinya di belakang,” tukas Lucas pada Sean.

“Pipo tidak apa-apa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa, papomu saja yang berlebihan,” balas Renjun.

Mereka berlanjut pergi mencari lesehan untuk makan. Mencari hal itu bukan hal yang sulit bagi Lucas yang menyukai wisata kuliner.

Duduk makan bersama dengan menikmati sore memiliki kepuasan tersendiri bagi mereka. Ditambah alunan musik klasik yang terputar membuat suasana semakin nyaman dan tenang.

“Kak, Pipo sudah bantu Kakak memilih sekolah baru loh,” celetuk Lucas.

“Benar Pipo? Di mana? Kakak bingung memilih, semuanya bagus,” tanya Sean pada Renjun.

“Di sekolah Papo dulu, Horizon Education. Di situ bagus sekali club sepak bolanya, Kakak suka sepak bola, bukan?” balas Renjun.

“Suka. Kakak bisa ikut club sepak bola?” tanyanya.

“Tentu. Kakak tahu pesepak bola terkenal Sungchan?” Sean mengangguk. “Dia lulus dari sana dan setiap satu atau dua kali dalam satu bulan, dia akan hadir bermain sepak bola bersama anggota club,” tambah Renjun.

“Kakak sering menontonnya bertanding, dia keren sekali. Kakak akan bertemu dia jika bersekolah di sana.” Renjun dan Lucas tersenyum hangat melihat antusias Sean. “Kakak kapan bersekolah di sana?” tanyanya.

“Papo dan Pipo harus mengurusnya dahulu supaya Kakak bisa pindah. Akan diusahakan minggu depan Kakak sudah berada di sekolah itu,” terang Lucas.

“Lama sekali, Papo,” ujar Sean dengan nada kecewa.

“Bersabar dulu, Kak. Ada aturan yang harus diikuti, jadi tidak bisa langsung begitu saja. Oh iya, Kak, ini rahasia kita yah kalau Kakak berpindah sekolah,” tukas Renjun.

Sean tampak heran kenapa itu menjadi sebuah rahasia. Renjun mengatakan hal itu bukan semata-mata karena jika Sean membocorkan maka media akan tahu, bukan itu yang ditakutkan, namun ketakutan jika ibu kandung Sean mengetahuinya.

“Betul, ini rahasia kita. Kakak simpan dengan baik seperti kita merahasiakan liburan ini untuk Pipo,” tambah Lucas.

“Tentu, akan Kakak simpan dengan baik. Kalau teman Kakak tahu sekolah baru Kakak sangat bagus, mereka akan merasa iri, jadi akan Kakak simpan sebagai rahasia,” jawab Sean.

Good job!” Lucas melakukan high-five dengan Sean.


Sesampainya di vila, mereka semua terburu-buru membereskan barang mereka. Selain mereka harus segera check-out, mereka juga mengejar waktu untuk kembali ke kota karena besok mereka harus bekerja dan Sean sekolah. Akan tetapi dengan kepanikan itu, Renjun tidak bisa membantu banyak. Walaupun nyerinya sudah mulai berkurang karena diberi salep, Lucas tidak membiarkan dia melakukan banyak hal, Sean pun juga sama melarangnya.

Setelah satu jam akhirnya mereka keluar dari vila dan berpulang ke kota. Baru 15 menit perjalanan, Sean sudah tertidur. Renjun di belakang hanya tiduran dengan menonton film sambil sesekali mengajak Lucas berbicara.