Pada Akhirnya
Jarak dari camp Raven dan Haben dengan kamar mandi terbilang cukup jauh, memakan waktu 15 menit. Raven menunggu Haben datang dengan bosan. Dia mengalami kesulitan bermain ponselnya karena sinyal yang datang dan pegi, itu membuatnya semakin bosan.
“Halo ganteng.” Haben datang dari arah belakang dan langsung mengelus puncak kepala Raven membuat surai anak itu berantakan.
“Sampe udah dingin makanannya,” ketus Raven sembari memberikan makan siang milik Haben.
“Ven.” Yang bersangkutan hanya berdeham. “Kamu semalem tidur meluk aku ya?” lanjut Haben bertanya.
“Halu lo.” Tawa Haben pecah mendengarnya.
“Kalau aku halu nggak mungkin kerasa sebegitu nyata,” tukas Haben. “Ven, masih sesulit itu ya buat terima aku lagi?” tambah Haben bertanya.
“Makan tuh makanan lo udah dingin,” balas Raven mengalihkan pertanyaan Haben.
“Kamu terus ngehindar waktu aku ajak bicarain itu,” keluh Haben.
“Makan dulu habis itu ngobrol,” ketus Raven.
“Janji ya?” Raven berdeham.
Haben menghabiskan makanan miliknya sebelum kembali berbincang dengan Raven. Raven merasa gugup menunggu Haben makan karena sepertinya hari ini Haben meminta kepastian darinya.
“Kamu dari kemarin nyindir aku ya waktu nyanyi lagu Taylor Swift,” ceplos Haben lalu meneguk minumannya.
“Jauh banget kepikirannya, she's my faves. Buat apa gue nyindir lo kalau lo sendiri udah sadar atas semuanya. Kurang kerjaan banget nyindir lo,” balas Raven.
“Abe, gue mau tau kenapa lo ngerasa nggak pantes buat gue. Kayaknya lo belum pernah jelasin ini clearly atau gue yang lupa?” tambah Raven bertanya.
“Aku lihat banyak orang di sekitar kamu yang lebih dari aku. Aku nggak lebih baik, lebih pinter, dan lebih bisa jagain kamu daripada mereka. Aku terus ngerasa kurang buat kamu. Sering aku usaha untuk lengkapin kurangnya aku, tapi waktu itu aku malah semakin ciut dan merasa nggak pantes buat lanjutin hubungan kita dengan aku yang seperti itu,” terang Haben.
Raven mendengarkan penjelasan Haben dengan saksama. Dari pernyataan Haben dapat Raven simpulkan bahwa Haben meninggalkan dirinya karena dia tidak percaya diri dengan apa yang dia mampu.
“Sekarang udah ngerasa nggak kurang?” tanya Raven.
“Setiap orang punya kurangnya masing-masing, kurangku nggak akan pernah hilang semuanya, pasti tetep ada sisa. Selama kita pisah, aku pikir ulang tentang semua itu. Dengan aku yang merasa banyak kurang buat kamu aja kamu masih mau sama aku, kenapa aku malah memilih rela berpisah sama kamu karena semua kurangku yang nggak pernah kamu keluhin itu? Aku bodoh banget.”
“Abe, kalau kamu terus lihat ke atas itu akan terus ada yang lebih tinggi dari kamu. Kamu bisa jatuh kalau terus lihat ke atas. Lihat ke depan, kamu itu baik, kamu pinter, kamu bisa apapun, dan kamu pantas, itu Abe yang aku tau,” sahut Raven dengan intonasi yang berbeda dari sebelumnya.
Manik Haben menatap seseorang didepannya. Maniknya menatap Raven seakan memastikan bahwa benar laki-laki itu yang baru saja berbicara.
“Abe, nggak ada kenangan kita yang hilang, semua masih tetep sama. Be, kamu berhasil buat mengembalikan apa yang sempat hilang. Kamu mau kita mulai lagi? Bukan memulai dari awal, tapi kita mulai lagi melanjutkan cerita kita.” Haben melambaikan tangannya tepat di depan Raven barangkali lelaki itu sedang tidak sadar saat berbicara.
“Ven...”
“Pertanyaannya dijawab dong, Be.”
“Itu jobdesc aku kenapa kamu ambil sih,” ujar Haben dengan wajah kesalnya.
“Lebay deh tinggal jawab aja.” Raven kembali dengan ketusnya.
Haben memutar kursi Raven untuk menghadap dirinya. “Sebelum aku jawab pertanyaan itu, kamu jawab dulu pertanyaanku sebelumnya yang belum kamu jawab,” ujar Haben setelahnya.
Raven menaikkan kedua alisnya seolah bertanya pertanyaan manakah yang dimaksud oleh Haben. “Kamu semalem tidur meluk aku kan?” Haben mengulangi pertanyaan yang dia ucapkan sebelumnya.
“Ya,” jawab Raven cuek dan menghindarkan pandangannya dari Haben.
“Gemes banget sih kamu. Mana bisa aku tolak kamu buat kita kembali lagi. Pertanyaanmu tadi udah terlalu jelas jawabannya. Kamu serius kan mau kembali?” Haben menatap Raven dengan tanda tanya. “Kalau serius, coba peluk aku sini,” tambah Haben dengan merentangkan tangannya.
Manik Raven menatap Haben sejenak, memperhatikan lelaki yang tengah tersenyum lebar dangan merentangkan tangannya itu. Raven mencondongkan badannya dan masuk dalam pelukan Haben.
“Aku nggak akan buat akhir yang sama buat kita karena kita nggak akan mengulang buku yang sama, tapi kita melanjutkan buku yang sama untuk akhir yang berbeda,” ujar Haben yang tengah memeluk erat Raven.
“I love you, Abe. Aku mau akhir kita bersama, bukan berpisah,” ujar Raven dalam pelukan Haben.
“Kita wujudkan sama-sama. I love you more, my lil“