The First Meet
Akhir pekan adalah hari yang sangat dinanti oleh anak-anak, salah satunya Jidan. Setiap akhir pekan, orangtuanya akan mengajaknya jalan-jalan. Hari ini mereka mengajak Jidan untuk bermain di salah satu indoor playground yang cukup terkenal. Jidan terhitung jarang mendatangi tempat itu, karenanya dia cukup bersemangat ketika diajak pergi ke sana.
“Papa, aku bisa bermain semuanya?” tanya Jidan.
“Tentu, Abang bisa.” Jidan tersenyum girang mendengarnya. “Ayah, temani Abang ya... Papa sama Adek di sini,” tambah sang Papa berpesan pada suaminya.
Jidan mengeksplorasi segala yang ada dalam playground. Ayahnya selalu siap menjawab segala pertanyaan perihal keingintahuan Jidan. Putra sulungnya itu selalu ingin tahu tentang segala hal. Daripada memainkan permainan, Jidan cenderung banyak bertanya pada ayahnya.
“Abang, Ayah berikan mainan karet Adek sebentar, boleh? Abang bermain di sini dulu,” izinnya setelah mendapatkan panggilan suara dari suaminya karena mainan karet bungsunya berada dalam tas yang dia bawa.
“Boleh, Ayah. Abang main perosotan ya, Ayah,” ujarnya dan berlalu menuju perosotan yang dia inginkan.
Jidan begitu bersemangat hingga berlarian menuju perosotan. Dia harus sejenak menunggu karena ada anak lain yang tengah menggunakannya. Jidan lantas segera menaiki tangga ketika anak itu telah selesai.
“Minggir.” Seorang anak mendorong dirinya yang tengah menaiki tangga dan membuatnya terjatuh pada bola-bola.
“Hey! You should say sorry to him! You push him!” Seorang anak dengan pipi bulat yang memiliki kulit seputih susu itu menarik anak yang tadi mendorong Jidan untuk meminta maaf pada Jidan yang masih terduduk di tempat dia tersungkur. “Say sorry!” Suara melengkingnya itu menyentak telinga Jidan.
“Sorry, anak cengeng,” ujar anak itu dan berlalu pergi.
“Hey!” teriak anak berpipi bulat itu tak terima anak itu meminta maaf seperti itu.
“Aku gak apa-apa. Terima kasih, ya,” ujar Jidan dengan bulir air matanya yang turun.
Jidan lantas berdiri dan berlari kembali pada orangtuanya setelah mengucapkan hal itu pada anak berpipi bulat. Dia menangis kencang dalam pelukan Ayahnya. Jidan mengadu pada sang ayah tentang yang terjadi padanya baru saja.
“Hey, you should not cry. You should, berani, lawan dia. You want ice cream?” Anak berpipi bulat itu kembali menghampiri Jidan dengan membawakannya eskrim.
Jidan melepaskan dirinya dari pelukan sang ayah dan menoleh pada anak berpipi bulat itu. Maniknya menatap eskrim di tangan anak itu, itu terlihat menggiurkan baginya.
“Take it,” ujarnya memberikan salah satu eskrimnya pada Jidan.
“Terima kasih.” Jidan meraih eskrim itu.
“Namaku Cleo,” ujarnya memperkenalkan diri.
“Terima kasih, Cleo. Namaku Jidan,” balas Jidan memperkenalkan diri.
Keduanya berbincang banyak, lebih tepatnya Cleo memprotes Jidan yang tidak melawan anak itu ketika didorong. Jidan lebih banyak mendengarkan dengan sesekali menutup telinganya karena suara Cleo yang meninggi.
“Cleo, Papo dan Pipo cari-cari daritadi,” panggil seseorang yang merupakan orang tua Cleo. “You have new friend ya?“
“He is Jidan and this cutie is his Adek,” jelas Cleo pada orangtuanya.
“Hello, Jidan,” sapa kedua orang tua Cleo pada Jidan, juga keduanya menundukkan kepala menyapa orang tua Jidan.
“But sorry, kita harus ke rumah Grandpa sekarang. Let's say goodbye to Jidan,” ujar Papo Cleo.
“Jidan, we should meet again next time. You main ke sini lagi aja, I sering datang ke sini,” pamitnya pada Jidan. “Kalau you diganggu lagi, marahin aja anaknya and said you temennya Cleo,” nasihatnya pada Jidan.
“Apa mereka gak akan ganggu aku lagi?”
“I don't know. Tapi kalau mereka masih ganggu, you bisa titip pesan ke orang di sana buat I. Nanti I bakal minta Papo tidak bolehkan anak itu di sini,” balasnya.
“Memang bisa seperti itu?” bingung Jidan.
“Bisa, satu mall ini punya Papo I,” ujarnya percaya diri.
“Hey, be kind,” peringat Paponya.
“C'mon Cleo. You can't stop talking.” Piponya meraih tangan Cleo untuk bangkit dari duduknya. Jika tidak segera dihentikan, Cleo akan terus mengobrol.
“Okay, see you, Jidan!” Cleo beranjak pergi setelah berpamitan bersama kedua orangtuanya.
Sejujurnya Jidan senang sekali bertemu Cleo walaupun harus berteman dengan suara melengkingnya. Dia suka dengan Cleo, anak itu menyenangkan dan pemberani, menarik anak yang mendorongnya jatuh saja bisa sedangkan dirinya takut. Dirinya ingin suatu saat akan bertemu Cleo kembali dengan dirinya yang lebih pemberani.