Menjenguk Jidan

Sepulang sekolah, Cleo bersama supirnya mengitari perumahan mencari rumah Jidan. Bodohnya, Cleo tidak membaca dengan benar pesan Jidan, sehingga membuat dirinya salah memasuki perumahan. Beruntung saja dia tidak mengetuk pintu rumah orang yang memiliki nomor yang sama dengan nomor rumah Jidan di sana.

Kesalahannya itu tidak sepenuhnya dia sesali karena dia jadi sempat membeli sesuatu untuk menjenguk Jidan. Jika saja tidak salah alamat, dia akan datang menjenguk dengan tangan kosong.

Sesampainya di rumah Jidan, orang tua Jidan juga Jidan sendiri terkejut dengan Cleo yang membawa satu karton buah untuk Jidan. Cleo tadi membeli apa saja buah yang disarankan supirnya tanpa memilih diantaranya. Dia tidak mengerti Jidan bisa memakan semua buah atau tidak, sehingga Cleo memilih untuk membeli semua macamnya.

“Aku cuma demam aja, Cleo. Kamu kayak mau jualan buah ke sini,” celetuk Jidan melihat isi karton Cleo.

“Habisnya I don't know you sukanya buah apa,” balas Cleo.

“Kan bisa satu jenis satu biji aja, Cleo.”

“Udah lah, hitung-hitung ini buat you makan everyday. Om should know kalau Jidan at school itu sukanya jajan yang aneh-aneh padahal sudah i reccomended dia buat makan salad saus kacang,” adu Cleo pada orang tua Jidan.

“Salad saus kacang itu pecel.” Kedua orang tua Jidan tertawa setelah mendengar penjelasan Jidan.

“Memangnya apa aja yang dibeli Jidan di kantin?” tanya Papa Jidan.

It's like a meatball but chewy, kerupuk yang tidak matang, telur yang digoreng with much oil itu apa Jidan?” tutur Cleo yang jelas membingungkan orang tua Jidan.

“Itu telur gulung namanya,” jelas Jidan.

“Ya semacam itu and masih banyak yang lain-lain, i don't know the name.”

Jidan menjelaskan pada orangtuanya nama-nama dari istilah yang disebutkan Cleo. Jidan adalah jagonya bahasa Cleo. Jika sekolah memiliki mata pelajaran bahasa Cleo, dia akan mendapat nilai tertinggi.

God, dia your Adek yang waktu itu?” tanya Cleo melihat anak laki-laki yang muncul dari dalam. “Oh my God, dia setinggi I, you kelas berapa sih?” heran Cleo.

“Namanya Lando, dia baru masuk SMP tahun ini,” jelas Ayah Jidan. “Adek, kenalan dulu sama temennya Abang,” pinta Ayah.

“Halo, Lando! Nama I Cleo,” sapa Cleo. “Honestly, I itu bisa taller than you, Lando. Papo I itu tinggi, but unfortunately tinggi I itu ngikut Pipo I,” tutur Cleo yang mencurhkan kisahnya.

Lando hanya mengangguk-angguk saja karena bingung dengan penuturan Cleo. Dia mengerti bahasa Inggris dasar, namun mendadak lupa ingatan mendengar bahasa Inggris yang diucapkan dengan bercampur bahasa Indonesia.

“Ayah, Adek mau main layangan di lapangan, ya? Adek ditunggu Dio itu,” izin Lando.

“Sebelum gelap udah pulang ya.” Lando segera pergi setelah mendapat izin.

Disisi itu, Cleo sedang bertanya pada Jidan tentang bermain layang-layang itu seperti apa. Jidan sendiri tidak mengerti dengan ekspresi Cleo yang nampak kagum dengan cerita Jidan perihal adu layang-layang. Asiknya mereka berbincang sampai tak sadar orang tua Jidan sudah meninggalkan ruang tamu, menyisakan keduanya.

Next time kalau you udah sembuh kita main itu ya, Jidan,” pinta Cleo. “Jidan, you kenapa bisa keren banget sih sekarang?” tambah Cleo menyeletuk.

Jidan menatap Cleo bingung dengan sedikit rasa senang karena dipuji keren, “Emangnya dulu enggak?” tanya Jidan.

No, you dulu itu such a crybaby,” balas Cleo. “But it's fine, Jidan. semua orang punya perubahannya masing-masing,” tambahnya.

“Tapi kok kamu enggak sih, Cle? Pipi kamu masih gembul, kamu masih lucu, kamu masih banyak omong, suara kamu yang tinggi masih ngagetin telingaku, kamu cuma nambah lebih gede aja badannya, semuanya masih sama.” Jidan lepas begitu saja menuturkan perihal Cleo.

You lagi ngejek I?” Cleo melirik Jidan sinis.

“Enggak, Cleo. Kamu juga tetep jadi anak yang baik dan berani. Kamu masih sama kayak yang aku temui dulu,” terang Jidan.

Wait, I angkat call dari Pipo dulu,” izin Cleo.

Jidan mengamati Cleo yang tengah berbincang dengan Piponya itu. Dia tak begitu fokus dengan pembicaraan mereka, fokusnya berada pada Cleo yang tengah kesal dan muka kesalnya justru dianggap Jidan lucu. Jidan bahkan tak menyadari senyumnya tersungging semenjak tadi.

Oh my God, Jidan. I should go right now. Tutor I ngadu ke Pipo kalo I belom sampe di bimbel sekarang,” tutur Cleo dengan panik mengemasi tasnya.

Sorry ya, Jidan. I gak bisa jenguk you lama-lama. Take a rest well biar cepet sembuh and I ada temennya lagi at school,” tambah Cleo.

“Iya, gapapa. Lagian mau jenguk lama-lama juga ngapain, mau sekalian nginep apa kamu?” Jidan berkata dengan iringan tawanya.

Sounds good, I sleepover di rumah you, but next time aja ya, Jidan. Where's your Ayah and Papa? I perlu pamit.” Jidan lantas beranjak memanggil orangtuanya.

Cleo lantas berdiri dari posisinya yang duduk membenarkan sepatunya karena orang tua Jidan sudah muncul. Dirinya menjabat tangan keduanya untuk berpamitan.

“Kapan-kapan main ke sini lagi, ya, Cleo...” tutur Papa Jidan.

“Pasti,” balas Cleo semangat.

“Cleo semangat belajarnya ya,” timpal Ayah Jidan.

“Iya.” Cleo berlalu masuk ke mobilnya setelahnya.

Selepas kepergian Cleo, Jidan menjadi bulan-bulanan orang tuanya yang tadi mendengar pembicaraannya dengan Cleo.