Mengantar Barang

Sebetulnya, Rafel tidak pernah ikut mengantar barang seperti hari ini. Akan tetapi karena sang penerima adalah Levian, orang yang mencuri perhatiannya akhir-akhir ini, dirinya menjadi ikut andil dalam pengantaran barang.

Satu hal yang Rafel sesali saat ini adalah kelupaannya untuk menggunakan sunblock sebelum pergi. Matahari diluar terik sekali. Dia tidak berpikir bahwa sinar matahari pagi akan semenyengat ini.

“Oalah iki mau melu ngeterno soale onok anake Ko Artha tah?” tebak salah satu pekerjanya yang cukup akrab dengannya. (Oalah ini tadi mau ikut ngantar karena ada anaknya Ko Artha kan?)

“Kerjao sana loh, Gus. Aku mau liat kerjamu sama yang laine iku bener opo ogak. Bantuen iku arek-arekmu turunno semen,” balas Rafel mengelak. (Kerja sana loh, Gus. Aku mau lihat kerjamu sama yang lain itu bener atau enggak. Bantu itu anak-anakmu turunin semen)

Daripada berlama-lama menanggapi Agus, pekerjanya, Rafel memilih segera menghampiri Levian. Dirinya menjabat beberapa rekan dan klien Levian juga. Sejujurnya, saat menjabat tangan Levian, Rafel rasanya ingin meninggalkan tangannya dalam genggamannya. Telapak kecilnya itu tenggelam dalam jabatan Levian.

“Sek ta, aku kayak gak asing sama mukamu,” celetuk klien Levian menunjuk Rafel.

“Dia anaknya Ko Pram, yang punya bangun graha,” terang Levian.

“Prambudi Wiyono?” Rafel mengangguk. “Loh Pram iku biyen plek banget sama aku, setel temen wes. Kamu lanjutin usahane Papamu ta?” tambahnya. (Loh Pram itu dulu deket banget sama aku, gandeng banget deh. Kamu lanjutin usahanya Papamu ya?)

“Oalah. Iya, lanjutin usahanya Papi,” balas Rafel.

“Good luck wes buat kamu, bakal ngalahin punyae Papimu wes. Tak tinggal angkat telepon dulu ya,” balasnya sebelum menepi dari mereka.

Rafel berikan nota kepada Levian selepas klien yang ternyata teman dekat Papinya dahulu itu menepi. Dirinya sungguh tak ingin menyia-nyiakan hari ini, maka itu dia terus pandangi Levian yang tengah membaca nota. Tanpa dirinya sadari, tindakannya itu diketahui oleh asisten Levian.

“Sini loh, Fel. Panas di situ,” panggil Levian memintanya berpindah ke sebelahnya yang tak terkena terik matahari.

“Oh, iya, Ko,” balasnya gelagapan. “Loh Ko, ini yang mau dibangun sebelah mana seh?” bingung Rafel karena didepannya telah berdiri bangunan bernomor F4.

“Ini taman sebelah kanannya mau dibangun buat studio. Itu mereka lagi gali buat pondasinya,” terang Levian.

“Puanjang juga ya ko kebelakange. Gak kurang ta semen segitu nanti?” tanya Rafel.

“Pasti kurang, tapi kan bahannya gak langsung dibeli keseluruhan sesuai butuhnya bangunan sampe jadi, beli sebutuhnya dulu. Kalo butuh lagi kan tinggal kontak kamu, Fel,” balas Levian. “Hen, kamu cek barangnya,” pinta Levian pada Hendra dengan memberikan nota yang diberikan Rafel tadi.

Selepas kepergian Hendra yang menyisakan Rafel dan Levian membuat Rafel terpacu untuk memanfaatkan kesempatan itu. Dirinya bertanya banyak kepada Levian perihal bangunan yang dijelaskan dengan sabar oleh lelaki itu. Rafel tak sadar dirinya bertanya sebanyak itu karena pembicaraan mereka mengalir begitu saja.

“Lengkap semua,” lapor Hendra dengan mengembalikan notanya pada Levian.

“Ini tanda tangan surat jalannya dulu, Ko.” Rafel memberikan kertas kepada Levian.

“Hen, bawa bolpoin gak?” tanya Levian yang tak mengantongi bolpoin sama sekali.

“Ini, aku ada, Ko.” Rafel berikan bolpoinnya untuk dipakai Levian membubuhkan tanda tangan.

Setelahnya, Levian memberikan kembali surat jalan yang diberikan Rafel. “Ini, Ko.” Rafel berikan satu dari dua lembar surat jalan kepada Levian. “Aku duluan ya, Ko. Mau ke B3 dulu,” pamit Rafel.

“Oh iya, thank you ya, Fel,” ucapnya pada Rafel.

“Iya, thank you juga, Ko,” balasnya lalu pergi dengan perasaan senang karena bertemu Levian, walaupun rasanya dia masih ingin berlama-lama dengan Levian.