Sean dan Cerita Mama

Hazel Renjun terfokus pada interaksi ibu dan anak di seberang sana. Dia menepi memberikan ruang bagi mereka berbincang leluasa. Sejauh apapun dirinya menepi, dirinya tetap ada dalam pandangan Sean. Anak itu akan meninggalkan Delilah begitu saja jika dirinya tak ada dalam pandangannya.

Delilah pertanyakan hal-hal kecil kepada Sean perihal hari ini. Senyumannya terulas mengetahui Sean lebih banyak berbagi dengannya hari ini. Dari jauh nampaknya mereka mulai dekat, namun kenyataannya tembok diantara mereka itu masih ada.

“Kakak masih ingat kalau Mama pernah beritahu Kakak punya adik perempuan?” Sean memberikan anggukannya. “Mama sudah pernah beritahu namanya belum, ya? Namanya Elena. Kakak mau melihat fotonya?” Sean hanya diam mendengarkan, memperhatikan Delilah yang tengah menggulir isi galerinya mencari foto sang adik.

Ketika Delilah menunjukkan foto Elena pada Sean dan menceritakan tentang putrinya itu, manik Sean justru terfokus pada Delilah. Anak itu pandangi Delilah yang rapi bercerita tentang Elena dengan senyum yang tetap terpancar. Telinganya mendengarkan dengan baik segala cerita panjang Delilah tentang Elena.

“Menurut Kakak, Elena bagaimana?” pertanyaan Delilah membuat Sean gelagapan. Dirinya tak sedikitpun menaruh atensi pada foto sang Elena sedari tadi.

“Tidak tahu,” balasnya yang mengubah senyum Delilah.

“Kalau Kakak ada kesempatan bertemu Elena, Kakak mau?” Delilah kembali bertanya.

Sean tak bergeming. Dirinya nampak berpikir atas pertanyaan Delilah. Semuanya yang dia dengar tiba-tiba itu jelas membuatnya bingung dan tak tahu harus bereaksi seperti apa. Pikirannya sulit mencerna fakta yang bermunculan. Dia perlu banyak penjelasan, tetapi tidak tahu bagaimana caranya bertanya. Dirinya ingin mengerti situasi, tetapi pikiran dan mentalnya belum cukup mampu.

“Kakak perlu tanya Papo dan Pipo,” balasnya setelah diamnya yang cukup lama.

Delilah harusnya sudah mulai terbiasa dengan Sean yang bergantung dengan Papo dan Piponya. Akan tetapi dia sulit terbiasa dengan itu, Sean adalah putra yang dilahirkannya. Mengetahui Sean lebih bergantung pada orang lain daripada dirinya tentu rasa sakit hati itu ada. Terlebih kali ini ketika dirinya memberikan ajakan untuk Sean bertemu saudari kandungnya, anak itu tetap bergantung pada izin Papo dan Piponya.


Malam ini, Sean memilih tidur bersama Papo dan Piponya. Terhitung hampir dua jam Sean membaringkan dirinya di ranjang bersama piponya, namun dia tak kunjung dalam lelapnya. Renjun sudah berulang kali menguap, namun berusaha menahan kantuknya untuk menemani Sean.

Ketika Lucas kembali saat hari sudah berganti, Sean belum juga dalam lelapnya. Hal itu menjadi kejutan bagi Lucas yang baru saja kembali. Dirinya lantas menyegerakan membersihkan diri untuk bersiap tidur.

“Kakak belum mengantuk jam segini?” tanya Lucas sembari memposisikan dirinya di samping Sean.

“Aku sampe udah sempet tidur sebentar tapi anaknya masih melek pas aku bangun,” terang Renjun pada Lucas.

“Kakak sedang memikirkan sesuatu?” tanya Lucas pada Sean.

Delilah dan Elena, adik perempuannya, masih mencuri pikiran Sean. Ada rasa sedih dan sakit hati dalam dirinya. Ikatan darahnya dengan Delilah seakan menunjukkan keberadaannya ketika rasa cemburunya hadir pada Elena. Adik perempuannya yang hanya diceritakan melalui lisan, tak dia ketahui bagaimana rupanya, itu saja sudah berdampak baginya.

“Mama bisa selalu bersama adik perempuan, tetapi kenapa dengan Kakak tidak bisa?” Pertanyaan wajar itu keluar dari mulut Sean. Akan tetapi Sean salah melontarkan pertanyaan itu pada Lucas dan Renjun, karena keduanya tidak mengetahui jawabannya.

“Kenapa Mama tinggalkan Kakak dengan Bunda di panti? Kakak bukan anak yang baik?” tambahnya bertanya.

Lucas dan Renjun masih dalam diam. Keduanya masih memikirkan dan merangkai kata dalam pikirannya untuk menjelaskan pada Sean dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak semakin menyakiti hatinya. Pertanyaan itu sudah singgah lama dalam pikiran Sean, hanya saja anak itu baru bisa menyuarakannya hari ini.

“Tidak, Kakak anak yang baik. Walaupun Kakak tidak selalu bersama Mama, tetapi Mama selalu sayang dengan Kakak. Kakak bisa lihat sekarang Mama sering menemui Kakak.” Entah pernyataannya itu fakta atau bukan, yang Lucas mau hanya menenangkan Sean lepas dari gundahnya. “Apa Kakak ingin selalu bersama Mama seperti adik perempuan?” tambah Lucas bertanya dengan hati-hati.

“Tidak tahu, Kakak hanya bertanya tadi,” balasnya.

“Iya, sekarang Kakak tidur, ya? Atau masih ingin bertanya lagi?” Sean memberikan gelengan kepalanya.

Renjun berikan sapuan halus pada puncak kepala Sean dengan harap bisa mengantar anak itu pada lelapnya. Sepasang suami itu perhatikan putra mereka hingga dalam lelapnya sebelum akhirnya mereka ikut sang putra dalam lelap.