Kepanikan Ligar
cw // mention of violence
Mengetahui pesannya tak dibalas oleh Raga, Ligar memutuskan melacak lokasi Raga dan segera meluncur untuk menjemput putranya. Dirinya tak habis pikir dengan Raga yang membawa putranya menemani dirinya balapan. Arsen mengerti tentang club motor, tapi dia tidak mengerti adanya sisi gelap sebuah club motor. Selama ini yang Arsen tahu adalah club motor Ligar yang seringkali riding dan melakukan kegiatan amal, tidak dengan club motor seperti milik Raga.
Disisi Ligar yang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk menjemput Arsen, Haris, teman Raga yang mengunggah foto Arsen, kini tengah dilanda panik. Akunnya menjadi ramai akibat cuitannya itu. Dirinya baru mengetahui fakta bahwa Arsen merupakan putra dari seorang ketua club motor bernama 'The Sangar' yang cukup terkenal.
Kedatangan Ligar mencuri atensi seluruh anak di sana. Dirinya turun dari motornya dan berjalan menghampiri lawan Raga. Raga terheran kenapa Ligar justru menghampiri lawannya itu.
“Kamu turun, saya yang akan lawan Raga. Berapa taruhan kalian?” ujar Ligar pada lawan Raga.
“10 juta,” balasnya.
“Saya beri kalian 25 juta kalau saya menang.” Ligar menjulurkan tangannya meminta kesepakatan dan tangannya dijabat oleh lawan Raga.
Raga tersenyum miring melihat apa yang dilakukan Ligar, “Yakin lo bapak-bapak mau lawan gue?” ejeknya.
Tanpa membalas ejekan Raga, Ligar meminta mereka segera memulai balapannya. Dirinya sudah siap di atas motor milik lawan Raga. Dilihatnya Arsen yang menyemangatinya tanpa mengerti maksud semua ini.
Raga langsung melaju kencang ketika dimulai. Ligar tampak lebih pelan di belakang Raga. Di pertengahan jalan, Ligar menyejajarkan posisinya dengan Raga untuk menyampaikan sesuatu.
“Kamu harus menuruti permintaan saya kalo kamu kalah!” ucapnya berteriak melawan berisiknya suara motor.
Diluar dugaan Raga, selepas memberitahukan hal itu, Ligar melaju kencang menyalip dirinya. Dirinya menambah kecepatannya mengejar Ligar yang melaju kencang. Makian yang keluar dari mulutnya semakin tak terkendali ketika dia hampir bisa menyalip Ligar, namun lelaki itu justru melesat cepat sampai ke garis finish ketika menyadari dirinya hendak menyalip.
Seluruhnya tercengang dengan Ligar yang mereka ketahui adalah bapak-bapak itu berhasil mengalahkan Raga. Arsen mengetahui kemenangan Paponya itu lantas berlari menghampiri lelaki itu dengan bersorak dan tepukan tangan.
“Papo keren banget,” ujarnya dengan mengacungkan dua jempolnya.
Saat itu juga, Ligar langsung memenuhi janjinya kepada lawan Raga dengan mentransfer sejumlah uang yang telah dia sebutkan tadi. Mereka bersorak menang karena berhasil mengalahkan Raga dan mendapat hasil pertandingan tiga kali lipat dari kesepakatan awal, karena mereka juga masih mendapatkan uang kesepakatan awal mereka.
“Ikut saya ke rumah, kita perlu bicara,” tukas Ligar dingin pada Raga. “Arsen, ayo pulang sama Papo,” ajaknya pada putranya.
Pada awalnya Raga berpikir bahwa ketadangan Ligar tadi karena panggilan Arsen, namun dugaannya itu salah. Ligar memang datang karena Arsen, tetapi tidak atas panggilan Arsen, melainkan cuitan salah satu temannya. Dirinya menunda melayangkan tonjokan pada Haris untuk berhadapan dengan Ligar terlebih dahulu.
“Arsen, kamu pergi dulu ke kamar dan istirahat,” pinta Ligar pada Arsen yang mengikutinya duduk.
Ligar perhatikan Arsen sampai tak lagi dalam pandangannya dan merasa anak itu sudah sampai di kamarnya untuk berbicara dengan Raga. “Kasih tahu saya maksud kamu bawa Arsen nonton balapan kamu? Gila kamu ajak anak saya ke sana,” ucapnya lepas setelah kepergian Arsen.
“Saya udah bilang ke kamu kalo gak bisa temenin Arsen, anter ke proyek saya, bukan kamu bawa nonton acara balapan kamu. Kamu tau gak kalo balapan kamu itu sama sekali gak pantas ditunjukin ke anak-anak? Kamu tau gak kalo balapan liar itu salah? Kamu tau gak kalo hal itu bisa jadi contoh buruk buat Arsen?” Ligar melempar segala amarah dalam dirinya pada Raga.
Raga hanya diam alih-alih menjawab. Dia mengerti hal itu sama sekali tidak baik, tapi itu kesenangan dia menikmati masa remajanya. Dirinya juga sadar bahwa Arsen tak seharusnya mengetahui hal itu, dia wajarkan kemarahan Ligar padanya.
“Papo jangan marah marah ke Mas Raga.” Kedua pria di sofa ruang tamu itu sontak mencari pemilik suara yang ternyata muncul dari balik tembok sekat. “Tadi Mas Raga mau perginya nunggu Papogar pulang, tapi aku mau ikut Mas Raga. Marah marah ke aku aja, Pap,” lanjutnya.
“Papo tadi bilang buat kamu pergi ke kamar. Ini urusan Papo dengan Mas Raga, kamu pergi istirahat ke kamar,” tegas Ligar.
Arsen jujur dengan perkataannya, faktanya memang Arsen yang meminta ikut Raga. Tadi dia sempat bertanya pada Raga yang sibuk membalas pesan daripada membantunya merakit lego. Raga memberitahunya bahwa dia akan pergi bermotor bersama temannya dan Arsen tertarik mendengar kalimat pergi bermotor. Dia membujuk Raga agar mau mengajaknya karena dia pikir itu adalah riding sebagaimana biasa dia lakukan dengan club motor Ligar.
“Benar Arsen yang meminta?” Raga berdeham. “Kenapa kamu turuti? Kamu sadar kan geng motor kamu itu bisa memberikan pengaruh buruk untuk Arsen?” lanjutnya bertanya.
“Udah gue tolak, dia tetep ngotot,” jelasnya seraya mengingat kejadian dimana Arsen memintanya hingga memohon-mohon. Dirinya tidak bisa dihadapkan dengan anak kecil yang merajuk seperti itu.
“Kalo kamu habis ini balik ke sana, mereka pukulin kamu kayak hari itu?” Ligar seketika teringat kejadian pertama kali mereka bertemu. “Ya.” Balasan singkat itu membuat keheningan antara keduanya.
“Kamu gak perlu balik ke sana, saya yang kasih gantinya pukulan mereka buat kamu,” tukas Ligar memecah keheningan. “Saya gak ganti dengan pukulan, tapi kamu stop balapan liar,” tambahnya.
“Mending lo pukulin gue aja, kelar. Suka bener lo bikin ribet,” sahut Raga.
“Seenggaknya sampai kamu penuhi janji kamu buat antar-jemput Arsen selama sebulan, setelahnya balik ke kamu sendiri kalo mau balik balapan lagi,” terang Ligar.
Raga memberikan anggukannya. Dia yang menyanggupi untuk mengantar-jemput Arsen, maka dari itu dirinya juga akan bertanggung jawab atas hal ini. Raga bukan tipikal orang yang mengingkari ucapannya. Dirinya ketua yang membuat peraturan saja tetap meminta dipukuli ketika kalah.