Kali Pertama Bersua

Dengan segala kepanikannya, Ligar mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntungnya jalanan kota sedang tak begitu padat, membuatnya bisa dengan cepat melaju. Walaupun begitu, dirinya masih berulang kali merutuki dirinya yang membawa mobil alih-alih motornya. Dirinya sudah cukup panik oleh Arsen yang mengabari dirinya tengah mengikuti orang asing.

Mobil dia lajukan pelan ketika memasuki gang. Hazelnya dengan teliti memeriksa segala sisi mencari keberadaan putranya. Ketika menemukan sebuah lapangan kecil, dirinya lantas menepikan mobilnya di belakang sebuah motor besar yang ambruk. Hazelnya menangkap putranya yang melambaikan kedua tangannya yang berada di tepi lapangan menemani seseorang yang ambruk bersandar pada dinding.

Ligar berikan pelukan erat dengan cukup kecupan di kening dan pipi putra semata wayangnya. Lantas dirinya memeriksa seluruh tubuh Arsen memastikan keadaannya baik-baik saja. Putranya tak terluka sedikit pun.

Pandangan Ligar beralih menatap lelaki yang terkulai di sana. Alih-alih menanyakan segala pertanyaan yang ada dalam pikirannya, dirinya memilih membawa lelaki itu masuk ke dalam mobilnya dan melarikannya ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan. Lelaki itu sebenarnya menolak, tetapi dirinya tidak berdaya karena keadaannya yang sudah lemas dengan banyak lebam dan darah yang keluar di beberapa bagian wajah dan tubuhnya.

“Tadi tuh masnya dorong motor kayak zombie, Pap. Terus aku ikutin. Aku kan mau lihat itu zombie asli apa bukan. Papo lihat deh tadi aku rekam, mau aku kirim ke Papo kalo ini zombie beneran, tapi bukan. Soalnya waktu dia liat aku ikutin dia gak mau gigit aku. Dengerin aku, Pap. Tadi masnya bilang ke aku gini, 'ngapain lo bocil' dan mukanya kayak setan berdarah-darah gitu tapi kasian. Sekarang udah keliatan agak ganteng,” cerita Arsen dengan bersemangat dan begitu ekspresif menjelaskan rentetan kejadiannya.

Mendengar cerita Arsen, Ligar berusaha merespon sebaik mungkin walaupun dirinya tengah tidak habis pikir bahwa segala kepanikannya tadi hanya karena Arsen yang ingin memastikan keberadaan zombie. Arsen akhir-akhir ini suka menonton film zombie, karenanya dia memiliki keingintahuan akan keberadaannya itu nyata atau tidak.

Disaat Arsen fokus dengan permainannya, Ligar mengambil kesempatan itu untuk berbincang dengan lelaki yang terduduk di ranjang klinik memperhatikan keduanya sedari tadi. Ligar pandangi lelaki itu dari ujung kepala hingga kaki, menebak seperti apakah lelaki didepannya ini.

“Kamu anak motor?” Pertanyaannya hanya dibalas dehaman malas. “Gayanya jagoan kok berantem aja ambruk. Kamu gak ngelawan?” tanyanya lagi menebak.

“Balikin gue,” ujarnya singkat tanpa menjawab pertanyaan Ligar.

“Pertanyaan saya dijawab dulu ya, dek,” balas Ligar dengan nada candanya.

“Lo udah ngerti jawabannya pake ribet nanya,” balasnya ketus.

“Kenapa sampe digebukin? Keluar geng motor? Kalah balapan? Tawuran?” Ligar hanya mendapatkan diam dan raut malas lelaki itu. “Dijawab!” tegas Ligar yang geram.

“Kepo banget lo. Bawa gue balik,” sahutnya lebih ketus dari sebelumnya.

“Kamu pilih kasih tahu saya atau saya lapor polisi?” Ligar lemparkan penawaran itu.

Sejujurnya dari awal kedatangan lelaki itu, perawat sudah mengajukan diri untuk menghubungi pihak berwajib melihat keadaannya. Akan tetapi Ligar menahannya.

“Gue kalah balapan dan ini yang gue dapet,” terangnya singkat.

“Tanpa ngelawan?” Lelaki itu memberikan anggukannya.

“Ketua geng motornya sinting sih ini,” gumam Ligar yang terdengar jelas di telinga lelaki itu.

“Lo ngatain gue?” Ligar menatapnya penuh tanya. “Gue ketuanya.” Ligar seketika kembali menatap lelaki itu dari ujung ke ujung setelah mendengarnya.

Perawakannya sama sekali tak menunjukkan dirinya sebagai pemimpin sebuah geng. Tubuhnya kecil dan ramping, lebih seperti sebaya Arsen di mata Ligar.

“Anterin gue balik. Lo yang bawa gue ke sini,” pintanya sekali lagi.

Sebelum menyetujui permintaannya, Ligar menyodorkan ponsel miliknya untuk meminta nomor lelaki itu. Dia perlukan itu untuk menghubungi lelaki itu perihal motornya yang dia reparasikan. Entah kenapa dirinya begitu peduli pada lelaki asing itu. Sepertinya karena keduanya sama-sama anak motor. Bedanya, club motor milik Ligar anggotanya bapak-bapak dan menggunakan motor retro klasik.

“Nomer kamu beneran, jangan ngasal,” celetuk Ligar yang mengetahui gelagat lelaki itu. “Nama kamu siapa?” tanyanya untuk membubuhkan namanya.

“Raga,” balasnya.