Pertemuan Kembali
Hari ini, Lucas dan Renjun kembali berhadapan dengan Delilah setelah dua bulan lamanya. Melihat Delilah hari ini membuat keduanya teringat bagaimana nampak Delilah pada saat awal mereka bertemu. Pandangan yang letih, matanya sayu, juga senyum yang tak sedikitpun terukir di wajahnya.
“Gimana kabar lo?” tanya Renjun selepas menyapa.
“Baik.” Renjun menaikkan kedua alisnya karena dirinya tak melihat itu dari tampak Delilah.
Basa-basi yang dilemparkan Lucas dan Renjun enggan ditanggapi apik oleh Delilah, wanita itu hanya diam mendengarkan. Keduanya menceritakan perihal Sean pun tak ada sahutan darinya bahkan tak mengundang perubahan raut wajahnya, dirinya tetap tenang dengan raut datarnya.
Delilah meneguk minumannya. “Saya minta maaf tidak memberikan kabar sedikitpun pada kalian maupun Sean selama kurang lebih dua bulan ini,” ujarnya setelah meneguk sebagian minumannya.
“Saya memutuskan tetap berpisah dengan suami saya dan selama ini saya mengurus hal itu dan lainnya yang bersangkutan. Juga, dalam waktu yang saya sendiri tidak bisa tentukan, saya belum bisa bertemu Sean terlebih dahulu, tetapi saya berjanji pada diri saya sendiri itu tidak akan berlangsung lama,” ujarnya.
“Perpisahan kamu berkaitan dengan tidak bisanya kamu bertemu dengan Sean? Bahkan sekedar membalas pesannya?” sahut Lucas bertanya dengan bahasa yang lebih akrab.
“Mungkin ada kaitannya, tetapi dari saya sendiri bukan itu alasannya. Saya tidak bermaksud mengabaikannya juga meninggalkannya lagi. Saya saat ini mengambil waktu untuk menyembuhkan diri saya sendiri terlebih dahulu sebelum kembali bertemu dengan Sean karena luka bertemu luka hanya bisa memperparah,” balasnya menjelaskan.
“Kalau lo mau menyembuhkan diri, kenapa lo pilih tetep berpisah?” sahut Renjun yang bingung mendengar penjelasan Delilah. “Sorry gue terlalu jauh nanyanya. Lo gak perlu jawab pertanyaan itu,” tukas Renjun mengetahui Delilah yang hanya diam.
“Saya mengerti maksud kamu.” Delilah mengetapkan bibirnya dengan bawah matanya mulai memerah. “Lo gak perlu jawab itu,” ujar Renjun sekali lagi.
“Keinginan berpisah itu ada dari hari dimana kehadiran Sean ditolak seluruh keluarga, tetapi saat itu saya masih menyangkal dan tetap memiliki harapan mereka bisa menerima. Sekarang sudah cukup egois sayaㅡ”
“Menangis saja, sakit kalau kamu tahan,” tukas Lucas melihat Delilah enggan menurunkan setetes air matanya.
“Sekarang saatnya saya menerima hal yang seharusnya sudah bisa saya terima. Saya tidak bisa memaksakan mereka yang tidak bisa saya genggam, termasuk Sean.”
Lucas tertunduk dengan kedua tangannya yang menyatu menopang dahinya. Dirinya lakukan itu untuk menutupi tangisnya yang turun, lain dengan Renjun yang tak peduli dengan air matanya yang membasahi wajahnya. Renjun justru heran dengan Delilah yang mampu menahan tangisnya dan menjelaskan dengan suara tenang walaupun sangat nampak dia sedang mengusahakan tangisnya tidak turun.
“Delilah, kamu boleh tidak bertemu Sean selama kamu dalam masa penyembuhan, tetapi saya mohon dengan penuh untuk kamu tetap membalas pesannya. Setidaknya kalian tidak kembali jauh. Walaupun Sean memilih bersama kami, itu tidak berarti Sean tidak suka dengan kehadiran kamu. Sean ingin tahu kabar kamu,” ujar Lucas setelah berhasil menghentikan tangisnya.
“Kenapa kalian tetap bersedia dengan keberadaan saya di sekitar Sean?” tanyanya.
“Kamu ibu kandungnya. Sekarang ini kami sudah mengerti bagaimana kamu, keberadaan kamu bukan hal yang buruk bagi Sean. Kamu juga berusaha menerima kami sebagai orang tua Sean, kami pun juga melakukan yang sama sebaliknya,” terang Lucas.
“Maaf saya belum bisa berterima kasih secara utuh kepada kalian. Saya percaya kalian akan berikan semua yang terbaik untuk Sean. Saya percaya kalian bisa menutupi banyaknya kurang saya untuk Sean. Terima kasih. Terima kasih sudah menjadi rumah bagi Sean,” tutur Delilah.
“Kami pun juga berterima kasih sama lo yang mau berusaha tetap menjadi Mama buat Sean dan mau berdamai dengan diri sendiri. Sean berusaha terima lo, kami pun juga mengusahakan itu. Kami juga minta maaf atas segala sikap yang buat lo sakit hati atau apapun itu,” sahut Renjun.
“Delilah, boleh saya berharap kita bisa berteman untuk kedepannya?” Mereka berusaha berdamai atas semuanya juga untuk Sean, karenanya Lucas berharap dirinya, Renjun, dan Delilah bisa menjadi teman untuk bersama-sama menjadi orang tua Sean.
“Boleh saja, kenapa harus dipertanyakan?” Lucas mengangguk. “Terima kasih,” balasnya.
Delilah sejenak meninggalkan Lucas dan Renjun karena ada panggilan masuk untuknya. Sementara itu, Lucas dan Renjun saling melempar senyum kelegaan karena pertemuan ini memberikan banyak jawaban bagi mereka. Keterbukaan Delilah juga menjadi salah satu hal yang memberikan rasa lega bagi mereka.
“Sebelumnya terima kasih dan saya minta maaf tidak bisa lebih lama di sini karena saya perlu mengurus sesuatu,” pamitnya karena panggilan dari pengacaranya. Proses perceraiannya dengan Edwin masih belum mendapat ketok palu hakim.
“Tidak masalah, terima kasih sudah menyempatkan waktu bertemu dengan kami,” tukas Lucas.
Renjun menahan tangan Delilah ketika wanita itu bangkit dari duduknya. “Kalau lo butuh bantuan apapun itu, lo bisa minta ke kami, bahkan sekedar ruang bercerita,” tukanya yang mendapat anggukan Delilah.
“Terima kasih.”