Sebelum Pindah Satu Bulan

Haechan yang baru kembali dari acara radionya dihebohkan dengan Mark dan Gaby yang tengah berdebat di ruang tengah. Suami dan putrinya itu tengah berdebat perihal barang apa saja yang akan mereka bawa untuk tinggal sementara di rumah lokasi syuting. Dirinya memang meminta Mark untuk mengajak Gaby mempersiapkan barangnya yang akan dibawa supaya mempermudah dan mempercepat dirinya mengemas barangnya saat pulang nanti, tetapi tidak dia ekspektasikan bahwa keduanya akan berdebat seperti ini.

Babe, look at her! Dia mau bawa itu go-kart, sepatu roda, segala perintilan berenang, terus itu tiga boneka gede mau dia bawa juga, kita bukan mau pindah rumah astaga,” adu Mark pada Haechan. “Gaby, hear me out. Kamu bawa mainan seperlunya saja dan peralatan berenangnya cukup baju renang, kacamata, dan satu pelampung, unicorn dan nanas besar itu tidak perlu dibawa. Kamu pilih-pilih lagi mana yang harus dibawa, kita tidak lama tinggal di sana,” lanjut Mark kembali menjelaskan pada Gaby.

Dad, i have a plan with Sean. Aku perlu semuanya untuk bermain, kita akan bersenang-senang,” jelasnya pada Mark.

“Iya, tapi tidak semuanya dibawa, cantik. Di sana dekat taman bermain juga, kamu tidak perlu membawa mainan sebanyak ini. Koper kamu sudah kamu penuhi dengan mainan sedangkan kamu juga perlu membawa baju,” terang Mark membujuk Gaby agar mengurangi bawaannya.

Ditengah perdebatan keduanya, Haechan dengan cepat menghubungi Renjun untuk memastikan pernyataan Gaby. Rencana bermain anak-anak terkadang tidak bisa diganggu gugat dan hanya membuat rugi berdebat.

“Gaby, dengarkan Piponya Sean berbicara.” Haechan menekan pengeras suara pada ponselnya agar bisa didengar jelas oleh Gaby. “Ren, Sean bawa apa aja buat tinggal di sana?” tanya Haechan.

Baju-baju, mainan, sama buku sekolahya sih,” sahut Renjun di seberang.

“Berapa koper itu dia bawa?”

Satu koper gede doang kalo itu, cuma ketambahan bawa go-kart sama sepatu roda buat dia main di sana. Heboh sih bawa gituan cuma ya biar anaknya seneng, enjoy juga di sana, daripada ada acara ngambek di sana ya bawain aja.” Penjelasan Renjun seketika menghadirkan senyuman kemenangan Gaby.

“Emang beneran janjian ini dua anak,” gumam Haechan.

“Dengar, Sean bawa itu tetapi dia cukup satu koper. Kamu perlu pilih lagi mainan di koper kamu, tidak semua itu kamu bawa. Dikurangi mainannya biar bajunya bisa masuk,” omel Mark.

Gaby, jangan bawa banyak mainan, nanti minta beli baru saja sama Daddy atau Papi,“  sahut Renjun dari seberang.

“Itu ide bagus,” sahut Gaby bersemangat.

“Gak usah ngomporin anak gue, lo. Gue komporin Sean juga besok biar lo tekor sama Kak Lucas,” ucap Haechan pada Renjun seraya menjauh dari Mark dan Gaby.


Setelah menghabiskan waktu 3 jam, mereka akhirnya rampung mengemas barang mereka dengan melewati segala perdebatan. Lain dengan Gaby yang langsung ke kamarnya untuk tidur, Mark dan Haechan mengistirahatkan tubuh mereka sejenak di sofa ruang tengah mereka.

“Kak, besok marahin Kak Lucas dong.” Mark menoleh dengan raut bingung. “Sebel banget bikin film kayak dikejar anjing, pasti tiap hari syutingnya sampe malem banget,” lanjutnya membuat mark tersenyum kikuk karena menyadari dirinya mengajukan naskah diwaktu yang mepet.

“Disisi itu kita libur setiap sabtu-minggu,” balas Mark melontarkan keuntungannya.

“Mending kita sabtu-minggu tetep syuting aja kalo emang mepet jadwal rilisnya, daripada lemburan lima hari kerja,” saran Haechan.

Mark sempat terpikirkan saran yang disebutkan Haechan ketika diskusi perihal filmnya dengan Lucas dan team. Akan tetapi, dia mengurungkan diri untuk mengusulkan hal itu karena dirinya mengerti alasan dibalik Lucas menerapkan 5 hari kerja. Jika dirinya usulkan 7 hari kerja, itu memungkinkan terjadinya perdebatan internal Lucas dan Renjun karena Lucas pasti mengusahakan menyetujui permintaannya. Dirinya tidak mau sudah merepotkan masih membuat ribut rumah tangga orang.

Babe, besok aku bakal coba ngobrol sama Lucas buat keefektifan proses syuting kita biar dengan waktu yang mepet ini kita tetep bisa memberikan yang maksimal. It's better than kita marahin Lucas, we need solutions, not problems.” Haechan lantas memeluk suaminya itu dan mengangguk dalam pelukannya.

“Kak, semakin aku lihat how mature you are, i'm falling in love with you more, more, and more,” ujarnya dengan kepala mendongak menatap suaminya itu.

Entah dorongan darimana, Haechan tergerak mempertemukan buah bibirnya dengan Mark. Dirinya sematkan ciuman manis pada suaminya. Sikap Mark yang semakin menumbuhkan rasa cintanya mengundangnya memberikan ciuman tersebut. Yang mendapat perlakuan spontan pun tergerak setelah sejenak terdiam karena keterkejutannya.

Lengan yang semula melingkari pinggang Mark, kini telah beralih pada lehernya. Ciuman yang membuainya itu menghadirkan reflek tubuhnya menarik Haechan di sebelahnya naik dalam pangkuannya. Lenguhan Haechan lepas ditengah peraduan bibir mereka karena Mark yang mulai memberikan sentuhan ditubuhnya. Nafsu yang mulai menyelimuti pun menggerakkan mereka menghangatkan malam yang dingin hingga menjemput pagi.