Father's Day
Dini hari, Arsen terbangun dari tidurnya. Anak itu nampak mengumpulkan nyawanya dengan duduk di pinggiran ranjang. Setelah mulai merasa segar, Arsen beranjak mengobrak-abrik isi tasnya untuk mengambil kinder joy yang dirinya beli bersama Mas Tono kemarin, yang sempat membuat prahara antara Papo dan Piponya.
Arsen menata kinder joy pada piring yang kemarin dia ambil diam-diam dari dapur. Setelah siap, dirinya beranjak membawa piring itu juga selembar kertas yang berisi gambarannya menuju kamar Papo dan Piponya.
Arsen berjalan perlahan menuju ranjang tempat Papo dan Piponya tidur. Setelah sampai di tepi ranjang, Arsen berusaha membangunkan keduanya dengan mengguncang tubuh keduanya. Guncangan Arsen itu berhasil mengembalikan kesadaran Papo dan Piponya, keduanya kini tengah mengumpulkan nyawa untuk menyapa Arsen.
“Happy father's day, Papogar dan Pipoy,” ucap Arsen dengan mengangkat kertas gambarnya.
Ligar dan Raga perlahan bangkit dari tidur untuk duduk. Keduanya baru tidur sekitar tiga jam karena baru menyelesaikan pekerjaan masing-masing dan saat ini sudah dibangunkan oleh Arsen. Butuh waktu beberapa saat bagi keduanya untuk mengumpulkan kesadarannya.
“Bagus banget gambarnya, thank you, Bro.” Ligar menarik putranya berada diantara dirinya dan Raga lalu dia jatuhkan kecupan pada anak manisnya itu.
“Liat dong ini ada aku, Papogar, dan Pipoy,” terang Arsen dengan menunjukkan gambarnya.
“Thank you, Cil,” ucap Raga yang baru menyadari dirinya juga disebut dan digambar oleh Arsen. “Tapi itu kebalik deh Pipo sama Papo, masa gedhe Pipo daripada Papo,” lanjutnya.
“Pipo kan juga ayahnya aku. Itu cuma gambar aja, gapapa,” terang Arsen.
“Eh iya loh, Papogar kenapa menciut?” sadar Ligar tentang dirinya yang lebih kecil dari Raga dalam gambar tersebut.
“Dibaca tulisannya, Papogar. Itu cuma gambar aja, aku gak jago. Jagoku main drum!” balasnya menegaskan pada Ligar. “Aku punya kinder joy buat Papogar, Pipoy, sama aku. Ini aku beli kemaren sama Mas Tono,” lanjutnya seraya mengambil piring dengan tiga telur kinder joy dan beberapa coklat.
“Dimakan nanti aja, Bro. Masih pagi gini udah makan coklat,” peringat Ligar.
“Denger ya Papo, karena ini masih pagi, kita belom mandi semua, kita harus makan sekarang. Baru nanti habis makan coklat kita sikat gigi terus mandi, bersih deh giginya.” Ligar mendengarnya terheran, sedangkan Raga menertawakan ekspresi Ligar.
“Ngajarin Paponya anak iniㅡ” Ucapan Ligar terpotong karena Raga mengarahkan coklat yang disendok Arsen ke mulutnya.
Ligar menelan coklat itu dengan bergidik karena terlalu manis baginya. Walaupun begitu, dirinya tetap menghabiskan coklat yang tersisa pada bagian miliknya.
“Bro, thank you ya udah kasih kejutan yang manis banget. Maaf ya Papo belum bisa jadi yang terbaik, banyak buat kamu sedih,” tutur Ligar memeluk putra semata wayangnya dari belakang dengan kepala yang menyandar pada bahu kecil itu.
“Papogar itu yang terbaik! Aku nggak sedih sama Papogar, kan suka beli lego terus main-main ke tempat seru, banyak banget deh. Eh tapi pernah deh sedih waktu Papogar gak bolehin aku sama Pipoy, itu aku sedih soalnya waktu itu Pipoy sahabat aku dan aku sayang banget sama Pipoy,” balasnya.
Manik Raga menyorot Arsen dihadapannya. Hatinya tiba-tiba menghangat mendengar kalimat terakhir Arsen. Ucapannya terdengar tulus dan halus melewati indra pendengarnya.
“Kalo sekarang masih sayang banget gak sama Pipo?” Raga menatap Arsen bertannya. “Sekarang sayangnya banget banget banget,” balasnya seraya memeluk Raga di depannya membuat Ligar yang memeluknya ikut tertarik. “Eh.” Arsen tiba-tiba melepas pelukannya pada Raga yang baru sejenak menempel.
Arsen menarik tangan kiri Ligar yang melingkar pada pingganggnya juga tangan kiri Raga. Dirinya perhatikan cincin yang sama melingkar pada jari manis keduanya. “Punyaku mana? Kok gak dikasih? Aku juga mau pake cincin sama,” protesnya merasa tak adil. Raga hanya menatap Ligar meminta pria itu menjawab pertanyaan Arsen karena dirinya takut salah kata menjelaskan pada anak-anak.
“Nanti kita beli buat kamu,” balas Ligar. “Papo dan Pipoy pake cincin ini karena mau menikah, boleh gak Papo menikah sama Pipoy? Maksud Papo kayak Panjul dan Pipinya Lundra,” lanjut Ligar menjelaskan sekaligus meminta pendapat putranya.
“Kan udah, Papo. Pipoy udah di rumah sama kita kayak Pipinya Lundra.” Ligar disadarkan dengan perkataan Arsen itu. Dirinya membangun hubungan rumah tangga terlebih dahulu daripada menikahi Raga dahulu.
“Iya, tapi Pipoy belum jadi suaminya Papo dan itu harus menikah dulu. Nanti ada pesta kayak acara Panjul dan Pipinya Lundra dulu,” terangnya berusaha sebaik mungkin menata bahasanya.
“Gapapa, itu seru banget! Yang gak boleh itu Papogar gak bolehin aku sama Pipoy. Aku bakal serang Papogar pake jurus ninja, aku udah jadi murid Sensei Wu!” Arsen mengatakannya dengan berdiri di atas ranjang memperagakan jurus ninja yang dia pelajari dari menonton ninjago.
“Takut deh...” tutur Ligar dengan menarik tubuh Raga dan menyembunyikan sebagian badannya di balik tubuh Raga. Melihat hal itu, Arsen lantas duduk dipangkuan Raga dan memeluk lelaki itu. “Gak usah peluk-peluk Pipoy aku!!” protesnya dengan berusaha melepaskan tangan Ligar yang melingkar di pinggang Raga.
“Brutal bener pagi-pagi,” gumam Raga yang pasrah dengan Ayah dan anak yang sibuk memperebutkan dirinya.