lostduskworld

Dini hari, Arsen terbangun dari tidurnya. Anak itu nampak mengumpulkan nyawanya dengan duduk di pinggiran ranjang. Setelah mulai merasa segar, Arsen beranjak mengobrak-abrik isi tasnya untuk mengambil kinder joy yang dirinya beli bersama Mas Tono kemarin, yang sempat membuat prahara antara Papo dan Piponya.

Arsen menata kinder joy pada piring yang kemarin dia ambil diam-diam dari dapur. Setelah siap, dirinya beranjak membawa piring itu juga selembar kertas yang berisi gambarannya menuju kamar Papo dan Piponya.

Arsen berjalan perlahan menuju ranjang tempat Papo dan Piponya tidur. Setelah sampai di tepi ranjang, Arsen berusaha membangunkan keduanya dengan mengguncang tubuh keduanya. Guncangan Arsen itu berhasil mengembalikan kesadaran Papo dan Piponya, keduanya kini tengah mengumpulkan nyawa untuk menyapa Arsen.

“Happy father's day, Papogar dan Pipoy,” ucap Arsen dengan mengangkat kertas gambarnya.

Ligar dan Raga perlahan bangkit dari tidur untuk duduk. Keduanya baru tidur sekitar tiga jam karena baru menyelesaikan pekerjaan masing-masing dan saat ini sudah dibangunkan oleh Arsen. Butuh waktu beberapa saat bagi keduanya untuk mengumpulkan kesadarannya.

“Bagus banget gambarnya, thank you, Bro.” Ligar menarik putranya berada diantara dirinya dan Raga lalu dia jatuhkan kecupan pada anak manisnya itu.

“Liat dong ini ada aku, Papogar, dan Pipoy,” terang Arsen dengan menunjukkan gambarnya.

“Thank you, Cil,” ucap Raga yang baru menyadari dirinya juga disebut dan digambar oleh Arsen. “Tapi itu kebalik deh Pipo sama Papo, masa gedhe Pipo daripada Papo,” lanjutnya.

“Pipo kan juga ayahnya aku. Itu cuma gambar aja, gapapa,” terang Arsen.

“Eh iya loh, Papogar kenapa menciut?” sadar Ligar tentang dirinya yang lebih kecil dari Raga dalam gambar tersebut.

“Dibaca tulisannya, Papogar. Itu cuma gambar aja, aku gak jago. Jagoku main drum!” balasnya menegaskan pada Ligar. “Aku punya kinder joy buat Papogar, Pipoy, sama aku. Ini aku beli kemaren sama Mas Tono,” lanjutnya seraya mengambil piring dengan tiga telur kinder joy dan beberapa coklat.

“Dimakan nanti aja, Bro. Masih pagi gini udah makan coklat,” peringat Ligar.

“Denger ya Papo, karena ini masih pagi, kita belom mandi semua, kita harus makan sekarang. Baru nanti habis makan coklat kita sikat gigi terus mandi, bersih deh giginya.” Ligar mendengarnya terheran, sedangkan Raga menertawakan ekspresi Ligar.

“Ngajarin Paponya anak iniㅡ” Ucapan Ligar terpotong karena Raga mengarahkan coklat yang disendok Arsen ke mulutnya.

Ligar menelan coklat itu dengan bergidik karena terlalu manis baginya. Walaupun begitu, dirinya tetap menghabiskan coklat yang tersisa pada bagian miliknya.

“Bro, thank you ya udah kasih kejutan yang manis banget. Maaf ya Papo belum bisa jadi yang terbaik, banyak buat kamu sedih,” tutur Ligar memeluk putra semata wayangnya dari belakang dengan kepala yang menyandar pada bahu kecil itu.

“Papogar itu yang terbaik! Aku nggak sedih sama Papogar, kan suka beli lego terus main-main ke tempat seru, banyak banget deh. Eh tapi pernah deh sedih waktu Papogar gak bolehin aku sama Pipoy, itu aku sedih soalnya waktu itu Pipoy sahabat aku dan aku sayang banget sama Pipoy,” balasnya.

Manik Raga menyorot Arsen dihadapannya. Hatinya tiba-tiba menghangat mendengar kalimat terakhir Arsen. Ucapannya terdengar tulus dan halus melewati indra pendengarnya.

“Kalo sekarang masih sayang banget gak sama Pipo?” Raga menatap Arsen bertannya. “Sekarang sayangnya banget banget banget,” balasnya seraya memeluk Raga di depannya membuat Ligar yang memeluknya ikut tertarik. “Eh.” Arsen tiba-tiba melepas pelukannya pada Raga yang baru sejenak menempel.

Arsen menarik tangan kiri Ligar yang melingkar pada pingganggnya juga tangan kiri Raga. Dirinya perhatikan cincin yang sama melingkar pada jari manis keduanya. “Punyaku mana? Kok gak dikasih? Aku juga mau pake cincin sama,” protesnya merasa tak adil. Raga hanya menatap Ligar meminta pria itu menjawab pertanyaan Arsen karena dirinya takut salah kata menjelaskan pada anak-anak.

“Nanti kita beli buat kamu,” balas Ligar. “Papo dan Pipoy pake cincin ini karena mau menikah, boleh gak Papo menikah sama Pipoy? Maksud Papo kayak Panjul dan Pipinya Lundra,” lanjut Ligar menjelaskan sekaligus meminta pendapat putranya.

“Kan udah, Papo. Pipoy udah di rumah sama kita kayak Pipinya Lundra.” Ligar disadarkan dengan perkataan Arsen itu. Dirinya membangun hubungan rumah tangga terlebih dahulu daripada menikahi Raga dahulu.

“Iya, tapi Pipoy belum jadi suaminya Papo dan itu harus menikah dulu. Nanti ada pesta kayak acara Panjul dan Pipinya Lundra dulu,” terangnya berusaha sebaik mungkin menata bahasanya.

“Gapapa, itu seru banget! Yang gak boleh itu Papogar gak bolehin aku sama Pipoy. Aku bakal serang Papogar pake jurus ninja, aku udah jadi murid Sensei Wu!” Arsen mengatakannya dengan berdiri di atas ranjang memperagakan jurus ninja yang dia pelajari dari menonton ninjago.

“Takut deh...” tutur Ligar dengan menarik tubuh Raga dan menyembunyikan sebagian badannya di balik tubuh Raga. Melihat hal itu, Arsen lantas duduk dipangkuan Raga dan memeluk lelaki itu. “Gak usah peluk-peluk Pipoy aku!!” protesnya dengan berusaha melepaskan tangan Ligar yang melingkar di pinggang Raga.

“Brutal bener pagi-pagi,” gumam Raga yang pasrah dengan Ayah dan anak yang sibuk memperebutkan dirinya.

Ligar yang baru kembali dari bekerja disambut dengan Raga yang masih berpakaian kerjannya bermain game konsol di ruang tengah bersama Arsen. Tanpa menyapa, Ligar mengambil duduk di sofa yang kosong. Dirinya perhatikan keduanya bermain hingga tertidur di sofa karena letihnya.

“Lawannya jelek banget bikin kalah!” gerutu Arsen.

“Kamu yang mainnya jelek malah nyalahin lawan,” sahut Raga. “Eh, liat Papomu ketiduran.” Sadar Raga dengan keberadaan Ligar.

Arsen berjalan perlahan menuju posisi Ligar. Dirinya bersiap mengganggu tidur paponya itu. Akan tetapi, Arsen dihentikan sebelum memulai oleh Raga. Lelaki itu memperingatkan Arsen untuk membiarkan Ligar tidur dan memintanya pergi mandi, begitu pun Raga sendiri yang belum membersihkan dirinya semenjak kembali ke rumah.

Selepas membershikan diri, Raga kembali ke ruang tengah untuk memeriksa Ligar. Pria itu nampak baru bangun dan bingung, mungkin karena keberadaan Raga dsn Arsen yang sudah tidak di sana.

“Arsen masih mandi,” celetuknya menginterupsi atensi Ligar. Raga lantas mengambil duduk di sebelah Ligar. Tangannya meraih telapak Ligar yang menengadah di atas paha, lalu dirinya letakkan kotak yang pernah diberikan Ligar padanya di atas sana.

Ligar menatap Raga penuh tanya. Pasalnya baru hari ini Raga menyatakan secara terang memiliki perasaan yang sama untuknya, namun tiba-tiba dihadapkan dengan hal seperti ini. “Kamu menolak?” tanyanya dengan menatap Raga dalam.

Tanpa membalas, Raga meraih tangan kiri Ligar. Dirinya mengambil satu cincin dengan lingkar lebih besar dari kotak tersebut. Raga meminta Ligar menyimpan cincinnya bersama dengan miliknya hari itu.

“Rasa takut aku sama sebuah hubungan bakal tetep ada kalo aku gak ambil langkah buat ngelawannya. Kamu mau gak kita nikah besok?” tutur Raga dengan tangannya yang siap memasangkan cincin pada jari manis Ligar.

“Gak usah ngada-ngada gitu,” balas Ligar yang mengundang senyum Raga karena ekspresi terkejutnya.

“Tapi nikahnya mau gak?” sahut Raga.

“Ya mau,” balas Ligar.

Raga lantas memasangkan cincin pada jemari Ligar setelah mendengar jawaban itu. Akan tetapi, Ligar menghentikan tangan Raga yang baru berhasil sampai setengah. “Pipoy, kenapa jadi kamu yang lamar aku?” herannya menyadari apa yang menjadi keanehannya.

“Lah emang ada aturannya harus kamu? Gak ada kali, Pap,” balasnya seraya menyelesaikan kegiatannya memasangkan cincin pada jari manis Ligar.

“Kamu panggil aku apa barusan?” kaget Ligar meminta Raga mengulangi panggilannya. Barangkali itu hanya salah dengar Ligar.

“Yang mana, Pap?” Ligar menyugar surainya mendengar panggilan 'Pap' yang disebutkan Raga.

“Bisa satu-satu aja gak ngagetinnya? Jantungku udah umur ini,” balas Ligar yang mengundang gelak Ligar.

“Punyaku gak mau dipakein?” sindir Raga.

Ligar mengambil cincin dari kotak tersebut dan memasangkannya pada jari manis Raga. Setelah selesai terpasang, Ligar tanpa aba-aba membawa Raga masuk dalam dekapannya. Dirinya masih tak menyangka hari ini terjadi.

Sesaat setelah Ligar melepaskan dirinya dari dekapannya, Raga memenuhi janjinya untuk menonjok Ligar. Akan tetapi tidak menggunakan bogem yang sesuai dengan janjinya, melainkan sesuai permintaan Ligar, dengan bibir. Niat Raga yang hanya memberikan kecupan, nyatanya dirinya melakukan lebih dengan menghadirkan lumatan.

“Oh, no!” Spontan Ligar dan Raga melepas peraduan bibir keduanya dan menoleh pada sumber suara. “It's okay, aku gak tau,” tukas Arsen lalu berbalik arah entah ke ruang mana meninggalkan Papo dan Piponya yang panik.

Tempat tidur Sean yang tidak begitu luas dipaksa menampung tiga orang. Sean yang ditempeli oleh Papo dan Piponya itu merasa terhimpit di antara keduanya. Semenjak hujan turun, keduanya sudah menempeli Sean yang telah bersiap untuk tidur.

“Ini tidak muat untuk bertiga, Kakak bisa jadi gepeng nanti,” protesnya kala Renjun justru mendusel dirinya menyamankan posisinya.

Alih-alih protes Sean di dengarkan, Lucas dan Renjun justru memejamkan matanya berlaga telah lelap dalam tidurnya. Sean menghela napasnya berat. Dua orang yang menghimpitnya menahan tawanya mendengar helaan napasnya.

“Sepuluh menit lagi, Kak. Setelah ini Papo dan Pipo kembali ke kamar,” tutur Lucas selepas hening menerpa ketiganya cukup lama.

“Kakak suka kalau disayang Papo dan Pipo, tapi kalau seperti ini menyebalkan,” celetuknya mengundang tawa Lucas dan Renjun.

Dalam mata terpejam, Lucas dan Renjun rasakan tangan kecil yang mereka genggam, tangan kecil yang keduanya pikir bisa lepas dari genggaman keduanya. Keduanyaㅡtidak, ketiganya berhasil menguatkan genggaman mereka, membangun hubungan keluarga antara mereka.

“Papo menangis?” celetuknya saat merasakan kepalanya terkena tetesan air karena tak mungkin itu berasal dari hujan di luar sana. “Kakak tidak marah pada Papo dan Pipo, Kakak minta maaf, Papo~” ucapnya dengan berusaha menoleh ke arah Lucas.

“Bukan seperti itu. Papo hanya merasa sangat bersyukur Kakak memilih di sini bersama Papo dan Pipo,” terang Lucas seraya menjatuhkan kecupan di puncak kepalanya.

“Papo masih suka berpikir Kakak akan pergi, ya?” tanyanya. “Kakak tidak akan pergi dari Papo dan Pipo. Rumah Kakak di sini. Rumah Mama itu rumahnya adik perempuan. Papo tidak boleh lagi berpikir seperti itu ya, Kakak melarang Papo. Pipo juga tidak boleh. Sayang Kakak pada Papo dan Pipo itu besar sekali,” tuturnya dengan menggambarkan betapa besar rasa sayangnya pada Lucas dan Renjun dengan kedua tangannya.

“Pipo mau ikut Papo menangis,” sahut Renjun.

“Tidak boleh, nanti basah semua,” balasnya melarang. “Papo dan Pipo kembali saja kalau ingin menangis bersama,” tambahnya.

“Kita diusir, Lovee,” adu Lucas pada Renjun.

Keduanya memberikan kecupan untuk berpamitan dengan Sean dan merapihkan selimutnya. Sebelum keluar dari kamar Sean, Renjun matikan lampu utama kamar Sean lalu berjalan cepat menyusul suaminya. Dengan sedikit meloncat, Renjun naik dalam gendongan punggung Lucas, mengejutkan suaminya itu.

“Bocil yang tadi gak mau diduselin, yang ini kok gak mau lepas.” Lucas menepuk paha Renjun yang enggan turun dari gendongannya. Renjun hanya terkekeh dan menyamankan dirinya dalam gendongan suaminya.

Lucas berjalan menuju tas yang dia taruh pada meja kecil di ruangan keduanya. Dalam gendongan Lucas, Renjun perhatikan apa yang tengah suaminya cari.

“Ini hadiah buat kamu,” tukas Lucas seraya mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sana. “Tadi Sean beli buat Mamanya, aku beli buat cintaku,” tambahnya yang mendapat kecupan dari Renjun.

Pria dengan rambut cepak itu lantas turun dari gendongan suaminya dan meraih kotak tersebut. Dirinya membuka kotak tersebut dan menampakkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk simbol infinity. Lucas meraih kalung itu dan memasangkan pada leher suaminya itu.

“My prettiest.” Sebuah kecupan singkat Renjun dapatkan di bibirnya.

“Thank you, Gege. Ini cantik banget,” balas Renjun dengan mengamati liontin pada kalungnya.

“Aku pilih liontin itu karena sesuai sama perasaanku buat kamu. I love you for infinity, to infinity and beyond, forever and ever,” tuturnya dengan sorot mata yang memandang tulus suaminya.

Renjun masuk dalam dekapan Lucas. Ungkapan cinta suaminya memang terdengar hiperbolis, namun dalam hatinya, dia harapkan nyatanya ungkapan hiperbolis itu. Dirinya juga akan berikan hal yang sama untuk suaminya itu, untuk selalu menjadi cintanya dan mencintainya.

“Ge, kedepannya, apapun yang kita hadapi, aku harap kita selalu seperti ini. Kita hadapin semuanya sama-sama,” tutur Renjun dalam dekapan Lucas.

“Iya, kita akan terus sama-sama. I love you, my yellow.” Lucas mengeratkan pelukannya pada Renjun. “I love you more, gantengku,” balasnya mengundang kekehan Lucas.

Yellow ; seseorang yang sangat penting dalam hidupmu, yang membuat kamu bahagia, orang yang telah memberikan banyak hal dalam hidupmu, the sunshine of your life.

Hari ini Sean akan kembali bersua dengan Mamanya. Selama perjalanan menuju tempan keempatnya bertemu, Sean bertanya banyak hal perihal nanti harus seperti apa dengan Delilah. Rasanya anak itu kembali bingung karena baru bersua kembali setelah berbulan-bulan tak jumpa.

Sebelum menemui Delilah, ketiganya mampir ke salah satu store untuk membeli hadiah untuk Delilah. Sean belum mengetahui lebih tentang Mamanya, namun dirinya berharap hadiah yang dipilihnya itu diterima dengan baik nantinya.

Karena ketiganya mampir terlebih dahulu, saat sampai di restoran, Delilah telah sampai dan duduk di sana. Wanita itu meyakinkan dirinya untuk merentangkan tangannya berharap Sean mendapatkan maksudnya. Rentangan tangannya perlahan turun ketika Sean hanya berdiri diam dihadapannya.

“Kakak rindu dengan Mama,” ujarnya selepas menatap lekat Delilah. Sean beranjak memeluk Delilah setelahnya. Dengan cepat Delilah membalas pelukan putranya itu dan mendekapnya erat.

Senyum merekah Delilah nampak ketika kembali mendengar cerita Sean yang seakan tanpa ujung, apa saja diceritakan oleh anak itu. Sesekali juga Lucas ataupun Renjun menimpali, menepis batas antara mereka yang masih tersisa. Pertemuan hari ini terasa lebih hangat daripada sebelumnya.

“Mama, kata Papo setelah ini kita mungkin lama tidak bertemu itu benar?” tanyanya dengan sorot mata menuntut jawaban Delilah.

“Mmm... Itu bisa jadi lama atau bisa jadi sebentar. Kalau Mama bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat, kita bisa kembali sering bertemu lagi,” terang Delilah dengan menggenggam tangan Sean di depannya. “Kamu suka sering bertemu dengan Mama?” lanjutnya bertanya.

“Kakak suka Mama masih ingat dengan Kakak. Kakak tahu orang besar suka bekerja, tidak apa-apa Mama tidak bisa sering bertemu Kakak. Kakak sudah tahu Mama ingat dan sayang pada Kakak, Kakak mengerti,” balasnya.

Dari penuturan panjang Sean itu, baik Delilah maupun Lucas dan Renjun, ketiganya baru menyadari bahwa Sean tak lagi menyebut 'Aku' ketika berbicara dengan Delilah. Anak itu menggunakan sebutan 'Kakak' yang biasa dirinya gunakan berbicara dengan Lucas dan Renjun.

“Terima kasih, Kakak Sean,” tutur Delilah dengan membelai kepala Sean.

Ketika Sean pergi ke toilet bersama Lucas, Delilah dan Renjun berbincang di sana. Renjun yang menanggapi dengan baik obrolan Delilah. Entah sadar atau tidak, Delilah mencurahkan beberapa kekhawatirannya perihal hal yang tengah dirinya jalani pada Renjun.

“Mama, Kakak punya hadiah untuk Mama,” ujar Sean sembari berlarian ke meja mereka. Anak itu baru teringat belum memberikan hadiahnya pada Delilah. “Pelan-pelan, Kak. Sakit tidak?” peringat Lucas ketika kaki Sean tersandung kursi. “Tidak, tadi pelan,” balasnya.

Sean mengambil paper bag kecil di kursinya dan memberikannya pada Delilah. Pelukan dan banyak ciuman diberikan Delilah pada putranya itu. Sean dibawanya dalam pangkuannya dan membuka isi hadiah dari Sean itu bersama.

“Ini cantik sekali,” pujinya ketika mendapati sebuah kalung dengan liontin yang begitu cantik. “Terima kasih, Kakak Sean.” Delilah kembali mencium putranya itu.

“Kakak membeli itu pakai kartu Papo karena kartu Kakak tidak bisa membeli itu, tetapi itu Kakak yang memilih untuk Mama. Nanti Mama pakai kalung dari Kakak supaya selalu ingat kalau ada Kakak di sini,” tuturnya menjelaskan.

“Tidak ingin pakaikan langsung pada Mama?” Sejenak Sean terdiam lalu memberikan anggukannya. Delilah membukakan kaitan kalung tersebut dan memberikannya pada Sean untuk dia pasangkan di lehernya.

“Sudah, cantik sekali,” pujinya setelah selesai memasangkan kalung di leher Delilah dengan sedikit bantuan Renjun untuk mengaitkannya.

“Terima kasih anak tampan Mama,” balasnya seraya memegang dagu Sean.

Saat berpamitan pulang, Sean memberikan ciuman manisnya pada pipi Delilah. Hal itu membuat Delilah seakan membeku beberapa saat karena mencerna apa yang baru saja didapatkannya.

“Del, wish all the best for you. Gue selalu open kalo lo butuh temen cerita,” pamit Renjun.

“Semoga semuanya cepat membaik dengan hasil yang terbaik,” timpal Lucas.

“Terima kasih banyak,” balasnya dengan menjabat tangan Renjun dengan membungkukkan sedikit badannya. Akan tetapi, Renjun justru menarik wanita itu dan memeluknya, begitupun Lucas yang juga memberikan peluknya untuk Delilah.

image

Malam ini merupakan hari piket Raga, sehingga lelaki itu meninggalkan café melewati jam biasanya. Selepas berpamitan dengan beberapa rekannya, Raga keluar untuk segera pergi ke markas. Dirinya rutin ke markas selepas bekerja karena Arsen tidak mencarinya karena sudah dalam lelapnya, juga Ligar yang memang tidak melarangnya.

Saat Raga berjalan menuju motornya, dirinya dikejutkan dengan seseorang yang bertengger di motornya. Orang tersebut nampak duduk dengan memeriksa motornya. Dengan langkah pasti, Raga berjalan cepat membekuk lengannya melingkari leher orang itu.

“Ra-ga... Ini aku, Ligar.” Sontak Raga merenggangkan tangannya dan memeriksa wajak orang tersebut dalam remang. Benar, itu adalah Ligar. Lelaki itu terbatuk selepas cengkeraman Raga lepas. Raga tenaganya tidak main-main.

“Sorry,” maaf Raga. “Lagian ngapain nangkring di motor orang gitu,” lanjutnya.

“Aku jemput kamu. Sini kunci kamu, aku yang bonceng,” tuturnya seraya bersiap mengendarai motor.

“Dih, naik motor situ sendiri,” sewot Raga.

“Aku gak bawa motor ataupun mobilku,” balasnya lalu menyahut kunci motor pada genggaman Raga.

Pada akhirnya, mau tidak mau Raga menuruti Ligar. Lelaki itu mengambil posisi di bangku belakang. Raga berpegang pada pundak Ligar ketika lelaki itu mulai menyalakan motornya. Merasakan itu, tangan Ligar membawa turun tangan Raga untuk melingkar di pinggangnya.

“Kalo aku bonceng tuh tangannya di sini,” tuturnya sebelum melajukan motor meninggalkan area café tempat Raga bekerja.

Setiap Raga hendak melepaskan atau memindahkan pegangannya, Ligar akan otomatis menaikkan kecepatan motor melaju. Raga berakhir membiarkan tangannya memeluk Ligar. Jujur saja, dirinya biasa menaiki motor dengan kecepatan tinggi, tetapi saat dirinya menjadi penumpang, rasanya berbeda dengan saat dirinya mengendarai. Dirinya seakan bisa terbang begitu saja dengan kecepatan motor yang tinggi.

Ligar membawa motor Raga masuk dalam garisnya. Sebelum Raga beranjak turun, Ligar menitah tangan kanan Raga merogoh saku di jaket yang dia kenakan. Ligar mencekal tangan Raga ketika akan mengeluarkan tangannya karena panik akan barang yang ada dalam saku Ligar.

“Itu hadiah buat kamu, ambil aja,” terangnya.

Raga mengambil barang di saku Ligar dengan was-was. Dirinya lantas turun dan membuka isi hadiah yang diberikan Ligar. Dari bentuk kotak yang muncul, sejujurnya dia telah curiga, namun dirinya mencoba berpikiran ke arah lain. Akan tetapi setelah dirinya buka, apa yang dia curigai itulah jawabannya.

“Raga, aku mau kita menikah di kemudian hari nanti. Aku tau kita belum lama mengenal bahkan berhubungan dekat seperti ini, tapi aku sadar kalau kamu di sini bukan cuma bisa mengambil hati Arsen, tapi juga aku. Kalau kamu tanya apa alasannya, aku gak tau. Aku gak tau perasaanku itu tumbuh disaat apa, itu semakin tumbuh begitu saja seiring berjalannya waktu,” tutur Ligar seraya meraih sebelah tangan Raga untuk digenggamnya.

“Aku gak meminta jawaban kamu saat ini juga. Aku nggak memberikan batas buat kamu jawab ajakan aku. Kalau kamu setuju sama ajakan aku, kamu bisa pakai cincinnya di jari kamu. Aku bakal simpan salah satunya.” Ligar mengambil salah satu cincin yang memiliki lingkar lebih besar.

Raga menutup kotak tersebut dan menyimpannya dalam saku jaketnya. Dirinya kehilangan kata-katanya untuk menanggapi Ligar. Lelaki itu benar-benar menghadirkan kejutan dalam hidupnya.

“Raga.” Surainya yang dibelai halus pun mendongak mendengar panggilan itu. “Makasih.” Raga mengangguk. “I love you.” Keningnya dikecup manis oleh Ligar.

Raga yang terkekeh setelah mendapat kecupan pun menghadirkan bingung bagi Ligar. “I love you kok di jidat.” Ligar mengerutkan keningnya mendengar penuturan Raga.

Perlu beberapa detik hingga akhirnya Ligar menangkap maksud Raga. Ligar menahan tubuh Raga yang berusaha melangkah mundur ketika dirinya mulai menundukkan kepalanya. Tangan kiri Ligar mengangkat dagu Raga dan mempertemukan belah bibir keduanya untuk beradu. Ligar memagut bibir kecil Raga menunjukkan rasa cinta yang dia miliki untuk lelaki yang lebih muda darinya itu. Ligar jatuhlan kecupan manis di bibir Raga untuk mengakhiri ciumannya. “I love you, Jiwa Raga Satria.“

Selepas bekerja, Raga berniat memberitahu kelulusannya kepada orang tuanya. Mamanya yang berada di luar kota dia beritahu melalui telepon dan satu kalimat pujian pun tak terucap, justru mengucap tuntutan baru dan kekecewaan atas nilainya. Papanya yang masih di kota yang sama dengannya pun dirinya hampiri ke kediamannya. Dirinya salah berharap reaksi yang berbeda, nyatanya sama dengan Mamanya.

Kedatangan Ligar yang langsung memeluk Raga yang tengah duduk di sofa itu mengundang tanya Papa Raga. Raga sendiri juga terkejut atas tindakan Ligar itu.

“Kamu siapa?” Ligar melepas pelukannya mendengar pertanyaan itu. “Saya Ligar,” balas Ligar dengan menglurkan tangannya yang sama sekali tak dijabat oleh Papa Raga.

“Kamu ada hubungan apa dengan Raga? Anak geng motornya?” tanyanya pada Ligar.

“Bukan, hubungan kami lebih dekat dari itu.” Papa Raga tertawa mendengar hal itu, sedangkan Raga terkejut karena Ligar mengucapkan itu di depan Papanya. “Seberapa dekat?” tanya pria itu. “Bisa terikat dalam pernikahan,” balas Ligar membuat Raga membulatkan matanya mendengar dirinya selantang itu mengatakannya.

“Kamu kelihatannya orang benar, tetapi mau-mau saja menjadi mainan anak saya. Dia tidak pernah serius dengan siapapun.”

Raga sungguh tak habis pikir dengan Papanya yang mengatakan hal itu tentangnya pada orang lain. Ketika banyak orang tua memuji anaknya dihadapan semua orang, orang tuanya justru dengan santai menjelekkan dirinya.

“Mungkin itu benar, tetapi yang selama ini saya lihat, Raga anak yang bertanggung jawab atas apapun yang sudah dia putuskan. Saya percaya dengan Raga,” ujar Ligar tegas.

“Saya sudah peringatkan kamu, mau mendengarkan atau tidak, itu tidak menjadi urusan saya. Kalau kalian menikah pun ya silahkan saja,” tuturnya yang tak peduli.

“Gak suka banget sama anak sendiri,” gumam Raga dengan kekehannya yang didengar baik oleh Papanya dan Ligar.

“Sikapmu persis sekali dengan Mama kamu itu. Anak kok tidak sopan sama orang tua, bisanya cuma bikin ribet, bodoh banget lagi, lulus IPK segitu aja kamu banggain depan Papa,” tutur sang Papa.

Raga hanya tersenyum mendengarnya sedangkan Ligar marah sekali mendengar hal itu. Dirinya tak terbayang bahwa orang tua seperti itu nyata adanya. Raga yang mendapatkan hal itu, dirinya ikut sakit hati.

“Pantas saja Raga bisa menjadikan orang lain sebagai mainannya, ada Bapak yang memberikan contoh,” sahut Ligar masih dalam intonasi tenang walaupun dirinya sudah mendidih. “Raga, ayo kita pulang,” lanjut Ligar mengajak Raga beranjak.

Selepas keluar dari komplek perumahan Papa Raga, Ligar membawa mobilnya menepi di jalanan yang telah menyepi. Dirinya tarik Raga dalam dekapannya. Raga hanya pasrah, dirinya juga tak ingin mendebat Ligar. Bahkan kecupan yang dijatuhkan Ligar pada puncak kepalanya dia terima begitu saja.

Ligar yang memeluk Raga telah menitihkan air matanya melepaskan rasa sakit hatinya atas perkataan Papa Raga pada Raga, sedangkan Raga tak sedikitpun mengeluarkan air matanya. Bahkan ketika Ligar datang melihat kepala Raga berulang kalo didorong dengan telunjuk Papanya dengan segala perkataan yang menyalahkan itu tak sedikitpun wajahnya basah. Raga hanya tersenyum getir setiap mendapatkan hal itu.

“Kamu punya aku dan Arsen di sini. Kamu hebat, hebat banget. IPK kamu itu bagus, kamu lulus dengan hasil terbaik kamu atas semua usaha kamu, iti bagus. Aku bangga sama kamu di sini,” tutur Ligar seraya berulang kali mengecup puncak kepala Raga dan membelai hangat punggungnya.

Mendengar segala ucapan Ligar, Raga hanya diam. Tangannya meremat ujung kaos Ligar. Air mata Raga perlahan turun, tetapi bukan karena mengingat segala perkataan dan sikap orang tuanya, melainkan atas sikap Ligar padanya. Dia lupa rasanya dipuji, dihargai, dan disayang, dan hari ini Ligar mengingatkan rasa itu padanya dengan jelas.

Raga menahan suara tangisnya, namun Ligar tahu Raga tengah menangis karena dirinya merasakan basah pada sebagian dadanya akibat air mata Raga. Ligar biarkan Raga memuaskan tangisannya dalam dekapannya.

Ketika Ligar datang tadi, Arsen langsung beranjak dan menatap Ligar dengan bibir yang sudah mencebik. Kini, putra semata wayang Ligar itu tengah menangis dalam dekapan sang Papo. Sedangkan Ligar berusaha sebaik mungkin untuk tak tertawa lepas.

“Kenapa?” tanya Raga ketika menghampiri keduanya.

Ligar dapat rasakan bahwa tangisan Arsen semakin kencang karena badan gemetarnya. Akan tetapi, putra semata wayangnya itu menahan suara tangisnya. Arsen tidak ingin tangisannya didengar oleh Raga.

Sebelah tangan Ligar terulur membelai kepala Raga, “Kamu ramah anak banget ya ternyata,” tuturnya.

“Lah selama ini Arsen sama aku?” balasnya seraya menurunkan tangan Ligar yang merangkul dirinya. “Tanganmu!” ungkapnya kesal tak bersuara.

“Kamu tau nggak kenapa dia daritadi diem aja?” Ligar seketika mendapat cubitan di pinggangnya dari Arsen. “Dia cemburu kamu main sama yang lain, sedih katanya kamuㅡBro, jangan nyubitin Papo gitu dong.” Cubitan Arsen yang sampai memutar kulitnya itu membuatnya melempar peringatan.

Ligar mengarahkan Raga untuk melihat ke belakang tubuhnya. Arsen seketika memindahkan kepalanya pada dada bidang Ligar karena Raga mengintipnya yang tengah menangis dengan menyembunyikan kepalanya di bawah ketiak Ligar.

“Heh, ada Pipoy tuh.” Arsen menggelengkan kepalanya pada dada Ligar. “Iya, udah. Kita pulang sekarang.” Ligar lantas beranjak menggendong Arsen.

Ketiganya berpamitan juga meminta maaf terhadap Aciel dan orang tuanya karena Arsen yang kehilangan suasana hatinya. Menuju ke tempat makan siang, ketiganya berpisah karena Raga harus membawa motornya dan Arsen masih menempel pada Ligar.

“Kamu kok lucu banget cemburu sama Pipoy.” Ligar mengecup Pipi Arsen dalam gendongannya lalu mendudukkan putranya itu pada bangku mobil.

“Pipoy ke mana?” tanyanya merengek.

“Pulang dong, kamunya gak mau sama Pipoy.” Balasan Ligar itu kembali mengundang cebikan dari Arsen.


Ketika sampai di tempat makan, Arsen spontan bersembunyi dibalik tubuh Ligar ketika melihat Raga duduk di salah satu bangku di sana. Ligar tak bisa menahan tawanya mengetahui aksi lucu putranya itu.

Ligar membawa Arsen duduk berhadapan dengan Raga dan dirinya bersebelahan dengan Raga. Sebelah tangan Ligar kembali merangkul Raga lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Raga, “Pipoy yang bikin anaknya cemburu, tolong dibujuk ya, Pipoy,” bisiknya pada Raga.

Demi seluruh bumi dan isinya, Raga merinding sekujur tubuh saat ini. Dirinya masih belum terbiasa dengan tindakan-tindakan Ligar yang menurutnya cukup berani. “Anaknya bakal aku bujuk, Papogar,” balasnya dengan senyum penuh arti seraya menurunkan rangkulan Ligar.

“Cil, MasㅡakuㅡPipo tadi gak maksud diemin kamu, maaf ya, Cil. Kamu bilang kan Mas Raga itu Piponya kamu dan kamu anaknya Pipo, jadi nomer satu Pipo tetep kamu. Tadi kamu asik sama Aciel, Pipo kan bingung sendirian, jadi main sama adiknya Aciel. Maaf yaaa...” bujuk Raga dengan kalimat yang dia rangkai selama perjalanan menuju tempat makan. Dia tidak begitu pandai merangkai kata untuk membujuk dan meminta maaf karena hal itu jarang dia lakukan.

Tangan Raga yang tengah menarik satu kantong berisikan dua buah hot wheels itu ditahan oleh Ligar di bawah meja. Dirinya menyempatkan waktu sebentar membeli hal itu untuk membujuk Arsen karena dulu dirinya juga mendapat perlakuan seperti itu.

“Pipoy sayang aku kan?” Raga memberikan anggukannya. “Aku maafin Pipoy, tapi aku juga mau disuapin Pipoy kayak adeknya Aciel,” lanjutnya.

“Makasih ya, Cil. Nanti Pipo suapin kamu,” ujar Raga dengan senyumannya. “,By the way,* Pipo punya hadiah buat kamu, Cil.” Raga memberikan hot wheels yang dirinya beli tadi pada Arsen.

“Thank you, Pipoy,” balasnya menerima dengan senang hati.

Raga menghampiri Ligar yang tengah duduk di bangku luar dengan memangku laptopnya. Dirinya beberapa kali memukul dadanya karena jantungnya yang masih berdegup kencang walaupun sidah telah usai dan dirinya sudah meninggalkan ruangan.

“Ngapain lo nungguin?” tanya Raga membuat lelaki itu menutup laptopnya segera.

“Ya gapapa. Saya mau semangatin kamu sebagai mahasiswa terakhir di angkatan kamu yang akhirnya sidang akhir,” balasnya diakhiri kekehan. “Kamu mau makan apa?” lanjutnya menawarkan.

“Gak ngantor lo?” Tatapnya penuh tanya.

“Saya ambil libur sehari penuh buat kamu sidang akhir,” balasnya membuat Raga seketika mengalihkan pandangan matanya dari Raga. Ada perasaan tersentuh dirinya mendapati perlakuan Ligar. “Kita jemput Arsen dulu buat makan sama kita,” lanjutnya mengajak beranjak dari tempat itu.


Di dalam mobil Ligar, Raga memikirkan perihal kesepakatan mereka yang masih belum dia dapatkan jawabannya. Dirinya dalam kebimbangkan karena jika dia memilih tinggal, dirinya bukan hanya menjadi Pipo untuk Arsen, melainkan juga menjadi pasangan Ligar. Ini menjadi pertama kalinya Raga memikirkan secara penuh untuk sebuah hubungan.

“Lo dulu kenapa cerai sama mantan lo?” tanyanya. Dia perlu memikirkan hal itu karena Ligar memiliki catatan gagal dalam hubungan. “Kalo gak mau jawab gapapa sih,” tambahnya.

“Mantan saya menemukan seseorang yang lebih baik untuk dirinya ditengah kita berdua masih terikat. Saya udah coba sebisa mungkin untuk tetep pertahanin itu, tapi saya tetep kalah,” balas Ligar dengan memperhalus bahasanya.

Raga mengangguk. Sebuah alasan perpisahan yang sama dengan yang terjadi pada orang tuanya. “Dari kapan lo pisah?” tambahnya bertanya. “Enam tahun lalu, mungkin.” Raga reflek menoleh pada Ligar karena tak menyangka sudah selama itu dan dirinya belum menikah lagi atau memiliki hubungan dengan orang lain. Mamanya saja baru beberapa bulan setelah resmi berpisah karena perselingkuhan Papanya saja sudah mencari yang baru.

“Raga, kalo kamu pilih tetep tinggal, saya akan tanggung jawab atas kamu. Saya emang punya kegagalan dalam hubungan, tapi dari situ saya terus belajar buat jadi lebih baik lagi dalam membangun sebuah hubungan,” tutur Ligar yang menangkap maksud Raga atas segala pertanyaannya.

Degupan kencang jantung Raga muncul kembali. Dirinya masih berusaha mengerti perasaannya untuk Ligar. Kalau perkara Arsen, dia sudah aku dalam hatinya perihal rasa sayangnya pada anak itu. Dirinya mungkin nampak judes pada Arsen, tetapi dia selalu senang setiap melihat anak itu senang, walaupun tak jarang ada rasa iri yang mengikuti.

“Kalo gue milih tinggal, otomatis gue juga terikat sama lo, tapi gue gak ngerti perasaan gue ke lo,” tukasnya jujur karena kepalanya sudah tak kuasa memikirkan jawaban atas banyaknya pertanyaan dan kebingungan yang dia buat sendiri.

Ligar membawa mobilnya menepi. Dirinya merasa perlu berbicara serius dengan tenang bersama Raga.

“Kamu mau tinggal atau lepas?” tanya Ligar. “Kesampingkan dulu yang lain dan jawab pertanyaan itu dulu,” tambahnya.

“Buat Arsen, gue mau tinggal. Kalo punya ikatan sama lo juga, gue gak tau. Bingung,” balasnya.

Raga tidak masalah sama sekali dengan Arsen. Saat dirinya mengetahui rasa senang Arsen ketika dirinya setuju tinggal di sana bersamanya, dia dapat ikut merasakan perasaan senang anak itu. Mengingat bahagianya Arsen, dia tidak memiliki ketegaan untuk meninggalkan anak itu. Perginya dirinya akan mengulang kehilangannya atas satu sosok yang selalu bersamanya setiap hari.

“Raga, kalau kamu milih tetap tinggal, kamu mau mulai jatuh cinta sama saya?” Pertanyaan itu tentu mengejutkan Raga. “Saya juga akan melakukan hal yang sama buat kamu,” tambahnya.

Tindakan dan ucapan Ligar selalu diluar tebakannya. Lelaki itu paling bisa membuatnya heran dan terkejut. Sialnya bertatapan dengan Ligar justru memutar ulang memori keduanya berciuman di pagi hari. Telinganya memerah akibat memori itu terlintas.

“Raga?” “Hah? EhhㅡOke,” gelagapnya mendengar panggilan Ligar.

“Oke? Kamu setuju?” Pertanyaan Ligar menyadarkan dirinya atas apa yang baru dia ucapkan.

“Ya, nyoba aja kan?” Ligar terkekeh.

“Satu bulan kita udah coba, saya ajak kamu itu ya buat dilakuin. Kamu pikir saya tester dicoba-coba terus?” balas Ligar dengan guyonannya.

“Ya... udah, ayo,” balasnya seraya menatap arah luar.

Ligar menarik dagu Raga untuk menolehnya, meminta anak itu mengulang ucapannya dengan menatap dirinya. “Ya udah, iya,” ujarnya membuat senyum Ligar terulas lebar.

Ketika kesadaran Raga telah kembali berkumpul, dirinya membuka ponselnya dan mendapati banyak pesan masuk dari grup pesan obrolan geng motornya. Dirinya memanggil Harry untuk meminta menjelaskan keramaian pada obrolan tersebut.

Raga dengan cepat membawa langkahnya ke ruang kerja Ligar selepas mengakhiri obrolannya dengan Harry. Gila saja Ligar mengunggah fotonya pada akun pribadinya. Dirinya datang menggubrak meja Ligar, mengejutkan sang pemilik yang tengah fokus dengan pekerjaannya.

“Lo ngapain post foto gue?!” Ligar nampak bingung mendengar itu. Dirinya mengerti bahwa beberapa kali memang mengunggah foto Raga, yang tidak dia mengerti adalah Raga tahu akan hal itu sedangkan dirinya mengunggah foto Raga dalam akun pribadinya yang dia kunci.

Ligar seketika memeriksa ponselnya ketika Raga menunjukkan gambar tangkapan layar akun biru Ligar. Dirinya pun terkejut karena tak sadar mengunggahnya pada akun pribadinya yang dapat dilihat banyak orang.

“Nah tuh lo liat udah rame tweet lo. Mampus lo gimana jawabnya,” tukas Raga ketika Ligar memeriksa unggahannya.

“Saya jawab aja itu kamu, biar semuanya tau ketua bumantara ini males banget,” balasnya mencoba tetap tenang menyembunyikan kepanikannya.

“Gue pukul lo!” sahut Raga. “Udah hapus aja sekarang,” pintanya agar tak semakin jauh dirinya disangka-sangka walaupun kebenarannya memang itu dirinya. Raga tak mau lebih pusing jika Ligar menjawab itu benar dirinya karena setelahnya dirinya pasti jadi sasaran pertanyaan mereka.

Ligar turuti permintaan Raga untuk menghapus unggahannya itu. Dirinya merutuki diri sendiri atas kecerobohannya itu. Ada sedikit rasa beruntung baginya karena Raga tak mempertanyakan pertanyaan yang dia duga akan keluar dari mulut Raga.

“Lo suka ngefotoin gue ya? Tertarik lo?” Baru saja Ligar merasa beruntung, nyatanya tidak, pertanyaan percaya dirinya itu keluar dilontarkan Raga. “Dih, gak punya mulut buat jawab lo?!” celetuk Raga yang hanya mendepat lirikan Ligar.

“Mungkin, sedikit.” Balasan Ligar itu membuat perubahan raut wajah Raga. “Raga, hari udah tepat satu bulan kesepakatan kita,” lanjutnya berkata dengan menatap Raga yang masih berdiri di sebelahnya.

Raga baru ingat perihal kesepakatan itu. Dirinya tak memikirkan apapun perihal kesepakatan itu selama ini. Benar bahwa Raga ingin terbebas, tapi kini bersama Ligar dan Arsen sudah menjadi hari-harinya. Bohong kalau Raga tidak merasakan nyaman berada di rumah ini, walaupun dirinya tidak suka dengan Ligar yang sering melarangnya untuk melakukan beberapa hal yang dia sukai, dia akui dirinya mendapat kenyamanan di sana.

“Apapun keputusan kamu, memilih tetap tinggal atau pergi, saya akan bertanggung jawab,” tutur Ligar.

“Gue baru inget kesepakatan kita, jangan tanya dulu bisa gak?!” ketusnya di tengah bingungnya.

“Iya, kasih tahu saya nanti aja, saya tunggu,” balas Ligar. Raga berbalik setelahnya untuk keluar dari ruangan Ligar. “Raga.” Dirinya yang baru beberapa langkah itu berhenti dan menoleh ke arah Ligar.

“Saya gak bohong sama ucapan saya kalo emang ada sedikit ketertarikan saya ke kamu,” tukasnya.

“Lo gantiin baju gue?” tebak Raga menyadari pakaiannya sudah berganti dari bajunya semalam. Anggukan kepala Ligar dibalas decakan Raga.

“Arsen suka ke sini pagi-pagi, saya gak mau anak saya cium bau alkohol dari kamu,” terangnya.

Raga menarik lengan Ligar yang hendak keluar dari ruangan. “Lo gak cari kesempatan kan waktu gantiin gue baju?” tanya Raga takut ada sesuatu diluar keinginannya karena dirinya dalam keadaan tidak sadar malam itu.

“Gak. Kamu apa menariknya coba?” Mulut Raga terbuka tak menyangka mendengar balasan Ligar itu. “Kamu lebih baik mandi sekarang, saya mau siapkan sarapan di bawah,” ujarnya lalu beranjak keluar dari ruangannya.

Mendengar ucapan Ligar tadi, Raga merasa dirinya tengah diejek oleh lelaki yang lebih tua dari dirinya itu. Dirinya sempatkan memukul foto Ligar yang terdapat di sana sebelum beranjak mandi. Beruntung saja dirinya tidak menggunakan tenaga penuh dan memecahkan kaca yang menyampul foto itu.

“PIPOYYY~” sebuah panggilan nyaring itu terdengar masuk ke ruangan Ligar. “Loh Pipoy ke mana?ㅡPIPOYY MANDI??” Arsen mengetuk pintu kamar mandi sembari bertanya.

“Bentar lagi selesai, Cil,” balas Raga dari dalam.

“Aku tunggu di bawah sama Papogar ya!” sahutnya lalu beranjak pergi.

Tak lama dari Arsen yang berpamitan turun, Raga telah menyelesaikan mandinya. Ketika keluar dari kamar mandi, dirinya dikejutkan dengan Ligar yang berada di walk-in closet. Lelaki itu entah tengah sibuk mencari apa. Raga segera menghilangkan raut terkejutnya dan beranjak mengambil bajunya.

“Apa lo liat-liat?!” sewot Raga ketika mengetahui Ligar menatapnya. “Lo diem di situ dulu, gue mau ganti baju,” perintah Raga pada Ligar untuk tetap berada pada walk-in closet.

“Ya tinggal ganti saja, saya gak tertarik nonton kamu ganti baju,” balasnya membuat Raga melempar tendangan angin di depan wajah Ligar yang tengah berjongkok mencari barang pada almari bawah.

Setelah menemukan barang yang dicarinya, Ligar berdiam menunggu Raga di walk-in closet. Beberapa menit dia menunggu, Raga akhirnya menghampiri dirinya, memberitahu bahwa dirinya telah selesai berpakaian. Akan tetapi, alih-alih keduanya beranjak turun, Raga justru menahan Ligar di sana.

“Lo tadi tanya apa yang menarik dari gue?” Ligar hanya diam tak mebalas. “Gue kasih tau lo salah satunya.” Setelah kalimatnya itu selesai, dirinya dengan sedikit berjinjit mempertemukan buah bibirnya dengan milik Ligar.

Ligar terdiam sesasat guna mencerna apa yang tengah dihadapinya. Gigitan yang diberikan Raga untuk membuka belah bibirnya itu menyadarkannya tentang apa yang tengah terjadi. Ligar tak membalas ketika Raga membuat basah bibirnya dengan lumatannya.

Ligar mendorong tubuh Raga menjauh dari dirinya. “Kamu menggoda saya?” tanyanya yang dibalas kekehan Raga. “Gue cuma mau kasih tau, pede banget gue godain lo. Lo bego cipokan ya ternyata,” balas Raga frontal.

Mendengar ejekan Raga, Ligar jadi terpancing. Jemarinya beranjak mengangkat dagu Raga, dirinya pertemukan buah bibir keduanya lagi. Lumatan dan sesapan Ligar menantang Raga untuk menunjukkan seberapa hebatnya dia dalam berciuman. Lidahnya menerobos masuk mengabsen deretan gigi lawannya, menantangnya untuk bergulat lidah di sana.

Ligar tarik tengkuk lawannya untuk memperdalam perbuatannya. Saliva keduanya yang telah bercampur menjadi pembuka sarapan keduanya. Raga yang nampak mulai terbuai tanpa sadar meloloskan lenguhannya. Keduanya seketika saling melepas mendengar itu. Dengan napas yang masih menderu, keduanya menyadari yang dilakukan pagi ini telah melewati batas yang mereka buat untuk diri mereka sendiri.


Ruang makan kini diselimuti suasana canggung. Keduanya masih terbayang apa yang baru keduanya lakukan tadi. Raga sudah meneguk dua gelas air mineral untuk menyadarkan pikirannya. Dirinya merutuki dirinya sendiri yang mengikuti pikiran spontannya untuk mencium Ligar tadi yang ternyata ditanggapi oleh sang lawan. Ligar pun sama hal nya dengan Raga, merutuki dirinya sendiri karena terpancing membalas ciuman Raga karena rasa tak terimanya diejek.

“Pipoy aku mau lagi corn-nya,” pinta Arsen.

“Pipoy?” Arsen mengangguk. Raga baru sadari panggilannya sudah berganti lagi. “Ganti-ganti mulu deh,” celetuknya.

“Itu Papogar yang kasih nama. Kemaren aku liat Papo ngetik di handphonenya pipo gemoy alias pipoy terus itu ada foto Pipoy,” terangnya mengejutkan Raga maupun Ligar. “Aku setuju sama Papogar buat panggil Pipo itu Pipoy. Pipo emang lucu soalnya cuma males senyum aja jadi kayak zombie,” lanjutnya.

Raga melirik Ligar dengan senyum seringainya. Yang katanya tidak tertarik dengan dirinya tetapi membuat sebutan semacam itu untuknya. Raga berusaha sebaik mungkin menahan tawanya di sana.

“Itu gak seperti yang kamu pikirkan, jangan terlalu pede,” ucap Ligar pada Raga sebelum beranjak pergi mengantar Arsen ke sekolah.