Beruntun

Ligar yang baru kembali dari bekerja disambut dengan Raga yang masih berpakaian kerjannya bermain game konsol di ruang tengah bersama Arsen. Tanpa menyapa, Ligar mengambil duduk di sofa yang kosong. Dirinya perhatikan keduanya bermain hingga tertidur di sofa karena letihnya.

“Lawannya jelek banget bikin kalah!” gerutu Arsen.

“Kamu yang mainnya jelek malah nyalahin lawan,” sahut Raga. “Eh, liat Papomu ketiduran.” Sadar Raga dengan keberadaan Ligar.

Arsen berjalan perlahan menuju posisi Ligar. Dirinya bersiap mengganggu tidur paponya itu. Akan tetapi, Arsen dihentikan sebelum memulai oleh Raga. Lelaki itu memperingatkan Arsen untuk membiarkan Ligar tidur dan memintanya pergi mandi, begitu pun Raga sendiri yang belum membersihkan dirinya semenjak kembali ke rumah.

Selepas membershikan diri, Raga kembali ke ruang tengah untuk memeriksa Ligar. Pria itu nampak baru bangun dan bingung, mungkin karena keberadaan Raga dsn Arsen yang sudah tidak di sana.

“Arsen masih mandi,” celetuknya menginterupsi atensi Ligar. Raga lantas mengambil duduk di sebelah Ligar. Tangannya meraih telapak Ligar yang menengadah di atas paha, lalu dirinya letakkan kotak yang pernah diberikan Ligar padanya di atas sana.

Ligar menatap Raga penuh tanya. Pasalnya baru hari ini Raga menyatakan secara terang memiliki perasaan yang sama untuknya, namun tiba-tiba dihadapkan dengan hal seperti ini. “Kamu menolak?” tanyanya dengan menatap Raga dalam.

Tanpa membalas, Raga meraih tangan kiri Ligar. Dirinya mengambil satu cincin dengan lingkar lebih besar dari kotak tersebut. Raga meminta Ligar menyimpan cincinnya bersama dengan miliknya hari itu.

“Rasa takut aku sama sebuah hubungan bakal tetep ada kalo aku gak ambil langkah buat ngelawannya. Kamu mau gak kita nikah besok?” tutur Raga dengan tangannya yang siap memasangkan cincin pada jari manis Ligar.

“Gak usah ngada-ngada gitu,” balas Ligar yang mengundang senyum Raga karena ekspresi terkejutnya.

“Tapi nikahnya mau gak?” sahut Raga.

“Ya mau,” balas Ligar.

Raga lantas memasangkan cincin pada jemari Ligar setelah mendengar jawaban itu. Akan tetapi, Ligar menghentikan tangan Raga yang baru berhasil sampai setengah. “Pipoy, kenapa jadi kamu yang lamar aku?” herannya menyadari apa yang menjadi keanehannya.

“Lah emang ada aturannya harus kamu? Gak ada kali, Pap,” balasnya seraya menyelesaikan kegiatannya memasangkan cincin pada jari manis Ligar.

“Kamu panggil aku apa barusan?” kaget Ligar meminta Raga mengulangi panggilannya. Barangkali itu hanya salah dengar Ligar.

“Yang mana, Pap?” Ligar menyugar surainya mendengar panggilan 'Pap' yang disebutkan Raga.

“Bisa satu-satu aja gak ngagetinnya? Jantungku udah umur ini,” balas Ligar yang mengundang gelak Ligar.

“Punyaku gak mau dipakein?” sindir Raga.

Ligar mengambil cincin dari kotak tersebut dan memasangkannya pada jari manis Raga. Setelah selesai terpasang, Ligar tanpa aba-aba membawa Raga masuk dalam dekapannya. Dirinya masih tak menyangka hari ini terjadi.

Sesaat setelah Ligar melepaskan dirinya dari dekapannya, Raga memenuhi janjinya untuk menonjok Ligar. Akan tetapi tidak menggunakan bogem yang sesuai dengan janjinya, melainkan sesuai permintaan Ligar, dengan bibir. Niat Raga yang hanya memberikan kecupan, nyatanya dirinya melakukan lebih dengan menghadirkan lumatan.

Oh, no!” Spontan Ligar dan Raga melepas peraduan bibir keduanya dan menoleh pada sumber suara. “It's okay, aku gak tau,” tukas Arsen lalu berbalik arah entah ke ruang mana meninggalkan Papo dan Piponya yang panik.