Forever and Ever
Tempat tidur Sean yang tidak begitu luas dipaksa menampung tiga orang. Sean yang ditempeli oleh Papo dan Piponya itu merasa terhimpit di antara keduanya. Semenjak hujan turun, keduanya sudah menempeli Sean yang telah bersiap untuk tidur.
“Ini tidak muat untuk bertiga, Kakak bisa jadi gepeng nanti,” protesnya kala Renjun justru mendusel dirinya menyamankan posisinya.
Alih-alih protes Sean di dengarkan, Lucas dan Renjun justru memejamkan matanya berlaga telah lelap dalam tidurnya. Sean menghela napasnya berat. Dua orang yang menghimpitnya menahan tawanya mendengar helaan napasnya.
“Sepuluh menit lagi, Kak. Setelah ini Papo dan Pipo kembali ke kamar,” tutur Lucas selepas hening menerpa ketiganya cukup lama.
“Kakak suka kalau disayang Papo dan Pipo, tapi kalau seperti ini menyebalkan,” celetuknya mengundang tawa Lucas dan Renjun.
Dalam mata terpejam, Lucas dan Renjun rasakan tangan kecil yang mereka genggam, tangan kecil yang keduanya pikir bisa lepas dari genggaman keduanya. Keduanyaㅡtidak, ketiganya berhasil menguatkan genggaman mereka, membangun hubungan keluarga antara mereka.
“Papo menangis?” celetuknya saat merasakan kepalanya terkena tetesan air karena tak mungkin itu berasal dari hujan di luar sana. “Kakak tidak marah pada Papo dan Pipo, Kakak minta maaf, Papo~” ucapnya dengan berusaha menoleh ke arah Lucas.
“Bukan seperti itu. Papo hanya merasa sangat bersyukur Kakak memilih di sini bersama Papo dan Pipo,” terang Lucas seraya menjatuhkan kecupan di puncak kepalanya.
“Papo masih suka berpikir Kakak akan pergi, ya?” tanyanya. “Kakak tidak akan pergi dari Papo dan Pipo. Rumah Kakak di sini. Rumah Mama itu rumahnya adik perempuan. Papo tidak boleh lagi berpikir seperti itu ya, Kakak melarang Papo. Pipo juga tidak boleh. Sayang Kakak pada Papo dan Pipo itu besar sekali,” tuturnya dengan menggambarkan betapa besar rasa sayangnya pada Lucas dan Renjun dengan kedua tangannya.
“Pipo mau ikut Papo menangis,” sahut Renjun.
“Tidak boleh, nanti basah semua,” balasnya melarang. “Papo dan Pipo kembali saja kalau ingin menangis bersama,” tambahnya.
“Kita diusir, Lovee,” adu Lucas pada Renjun.
Keduanya memberikan kecupan untuk berpamitan dengan Sean dan merapihkan selimutnya. Sebelum keluar dari kamar Sean, Renjun matikan lampu utama kamar Sean lalu berjalan cepat menyusul suaminya. Dengan sedikit meloncat, Renjun naik dalam gendongan punggung Lucas, mengejutkan suaminya itu.
“Bocil yang tadi gak mau diduselin, yang ini kok gak mau lepas.” Lucas menepuk paha Renjun yang enggan turun dari gendongannya. Renjun hanya terkekeh dan menyamankan dirinya dalam gendongan suaminya.
Lucas berjalan menuju tas yang dia taruh pada meja kecil di ruangan keduanya. Dalam gendongan Lucas, Renjun perhatikan apa yang tengah suaminya cari.
“Ini hadiah buat kamu,” tukas Lucas seraya mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sana. “Tadi Sean beli buat Mamanya, aku beli buat cintaku,” tambahnya yang mendapat kecupan dari Renjun.
Pria dengan rambut cepak itu lantas turun dari gendongan suaminya dan meraih kotak tersebut. Dirinya membuka kotak tersebut dan menampakkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk simbol infinity. Lucas meraih kalung itu dan memasangkan pada leher suaminya itu.
“My prettiest.” Sebuah kecupan singkat Renjun dapatkan di bibirnya.
“Thank you, Gege. Ini cantik banget,” balas Renjun dengan mengamati liontin pada kalungnya.
“Aku pilih liontin itu karena sesuai sama perasaanku buat kamu. I love you for infinity, to infinity and beyond, forever and ever,” tuturnya dengan sorot mata yang memandang tulus suaminya.
Renjun masuk dalam dekapan Lucas. Ungkapan cinta suaminya memang terdengar hiperbolis, namun dalam hatinya, dia harapkan nyatanya ungkapan hiperbolis itu. Dirinya juga akan berikan hal yang sama untuk suaminya itu, untuk selalu menjadi cintanya dan mencintainya.
“Ge, kedepannya, apapun yang kita hadapi, aku harap kita selalu seperti ini. Kita hadapin semuanya sama-sama,” tutur Renjun dalam dekapan Lucas.
“Iya, kita akan terus sama-sama. I love you, my yellow.” Lucas mengeratkan pelukannya pada Renjun. “I love you more, gantengku,” balasnya mengundang kekehan Lucas.
Yellow ; seseorang yang sangat penting dalam hidupmu, yang membuat kamu bahagia, orang yang telah memberikan banyak hal dalam hidupmu, the sunshine of your life.