Selamat Datang
Arsen menetap di ruang tamu selepas diberitahu Ligar bahwa Raga akan datang untuk menginap. Dirinya menanti Raga sembari menggambar. Anak itu sungguh tidak sabar menanti kedatangan Raga, terlebih selepas bertukar pesan dengan Lundra.
Ketika mendengar suara motor memasuki halaman rumah, Arsen dengan secepat kilat keluar menuju teras. Anak itu lambaikam tangannya ketika Raga membukan helm yang dikenakannya.
“Berhenti dulu di situ.” Arsen lantas masuk mengambil kertas gambarnya di meja ruang tamu untuk dia tunjukkan pada Raga. “Selamat datang di rumah aku, Pipo,” ucapnya sesuai dengan tulisan dalam kertas gambarnya.
Raga dan Ligar yang berjalan mendekat ke arah mereka dibuat mematung mendengarnya. Raga pandangi lekat gambaran Arsen yang menggambarkan tiga orang laki-laki dengan keterangan Papogar, Arsen, dan Pipo Raga. Dirinya seketika kehilangan kata-kata dalam pikirannya, begitu pun Ligar.
“Ayo masuk, Pipo.” Arsen menarik tangan Raga membawanya masuk. Lelaki itu hanya diam dan langkahnya menurut pada yang lebih kecil. Dirinya masih terdiam mencerna sambutan Arsen.
Ligar ikuti langkah keduanya dan dirinya justru mendapat kejutan. Raga dibawa ke ruangannya alih-alih ruangan Arsen sendiri. Arsen sungguh tidak bisa dia tebak.
“Kenapa diajak ke kamar Papo? Kamar kamu di sebelah, Bro,” bingung Ligar.
“Papo bilang kan Pipo boboknya sama Papo, jadi Pipo aku ajak ke sini,” balasnya.
“Gak begitu, Arsen. Kamu gak bisa seenaknya panggil orang lain Pipo dan minta dia buat di sini sama Papo. Kamu panggil Mas Raga Pipo emangnya Mas Raga bersedia?” tanya Ligar.
Arsen menatap Raga dengan raut cemberut. “Aku mau Pipo,” gerutunya seraya menjatuhkan dirinya duduk pada tepian ranjang Ligar.
Ligar menyejajarkan tubuhnya dengan Arsen. Dirinya pandangi wajah cemberut putra semata wayangnya itu. Jujur, tak ada jawaban apapun yang tersirat dalam pikirannya. Mungkin ada, namun dirinya kesulitan menemukan bahasa yang mudah dimengerti untuk anak-anak.
“Kamu mau Pipo?” Ligar spontan menoleh pada Raga dan Arsen mengangguk yakin mendengar pertanyaan Raga. “Kamu boleh panggil Mas Raga Pipo, tapi gak dengan Mas Raga di sini sama Papomu,” jelas Raga.
“Nanti di sini kita bertiga, ada aku, Papo, dan Pipo,” rajuknya yang masih berlanjut.
“Pilih Mas Raga tidur di kamar kamu atau Mas Raga gak nginep di sini?” tegas Ligar bertanya pada Arsen. Dirinya rasa Arsen perlu ketegasan yang nyata melihat putranya itu terus meminta Pipo.
“Aku kan cuma mau punya Pipo,” ucapnya dengan tangis yang mulai datang lalu bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruangannya.