Bromo
Selepas premiere film mereka, Haechan langsung membawa Mark menuju bandara untuk melakukan perjalanan ke Malang. Mark tak tahu Haechan sudah mempersiapkan barang-barang mereka dalam koper di mobilnya.
“Milk, thank you,” ujar Haechan. “Kamu keren banget prepare hadiah sebesar itu. Aku beneran gak tau harus bilang gimana buat ucapin terima kasih dan rasa syukur aku ke kamu. Kamu selalu bisa buat aku semakin jatuh cinta sama kamu, aku kena pelet kamu seumur hidup,” lanjutnya dengan kekehan diakhir.
“Kamu juga lakuin hal yang sama buat aku, selalu bisa bikin aku semakin jatuh cinta sama kamu dengan cara apapun, bahkan sekedar senyum manis kamu buat aku. Kamu suka sama hadiah yang aku siapkan itu udah lebih dari cukup.” Mark jatuhkan kecupan pada punggung tangan Haechan. “By the way, kita mau ke mana? Ini bukan arah ke rumah Papi,” lanjut Mark yang menyadari arah mobil keduanya melaju.
“Ke bandara. Aku mau ajak kamu wisata kenangan kita di bromo. I know itu gak sebesar apa yang kamu siapkan, tapi aku mau kita buat kenangan baru di sana,” tutur Haechan.
“Babe, jangan bicara gitu, ini bukan tentang siapa yang memberi lebih besar. Bromo itu saksi perjuangan aku dapetin kamu dan kepercayaan abangmu buat relain adik kesayangannya sama aku. Sekarang kita akan ke sana lagi dengan kamu yang udah sepenuhnya jadi milikku, bahkan pernikahan kita udah berjalan lima tahun.”
Haechan kembali masuk dalam pelukan suaminya. Dirinya menjadi begitu manja mendapat banyak pujian dan ungkapan cinta dari suaminya hari ini. Batinnya berulang kali mengucap rasa syukur atas hadirnya Mark dalam kehidupannya.
Keduanya sampai di Malang pada larut malam. Dari bandara, keduanya pergi mencari makan malam sebelum beristirahat di hotel. Haechan sungguh tak ingin lepas dari Mark. Dirinya terus menempel pada suaminya itu.
Keduanya hanya sejenak di hotel karena pada dini hari keduanya akan melakukan perjalanan ke bromo untuk menjemput matahari terbit. Di malam yang dingin keduanya paksakan untuk mandi karena merasa lengket dan agar tak perlu mandi lagi untuk besok berangkat ke bromo.
Niat mereka untuk mandi sepertinya mulai tersisihkan. Kedua anak adam itu kini tengah asik bercumbu dengan badan yang terendam dalam bath up. Euforia semakin terasa ketika keduanya bercumbu dengan Haechan yang berada di atas pangkuan Mark.
“Mmmhhㅡ” Sebuah lenguhan lepas ketika Mark mulai menjamah bagian suaminya. Haechan seakan mendapat sengatan ketika menerima perlakuan Mark. Ketika saling bertemu pandang, keduanya saling dapati tatapan ingin yang membangkitkan buncahan rasa dalam diri keduanya untuk melakukan lebih dari itu.
Persetan dengan mandi, keduanya kini justru asik dengan kegiatan menghangatkan malam. Mereka nikmati sejenak waktu mereka dengan melakukan tarian indah dalam bath up dengan senandung lenguhan merdu yang bersahutan. Keduanya nikmati kegiatan panas itu hingga hari resmi berganti.
Belum genap satu jam keduanya memejamkan mata, waktu sudah mengharuskan keduanya berangkat. Keduanya sempat berdebat untuk tak jadi menjemput matahari terbit di bromo karena masih dalam letih, namun Haechan tak bisa ditolak. Pada akhirnya Mark membawa Haechan yang nyawanya masih belum sepenuhnya terkumpul itu dalam gendongannya untuk turun menuju jeep yang telah menunggu keduanya.
Dalam perjalanan menuju bromo, keduanya terlelap dengan saling bersandar. Haechan bersandar pada bahu Mark dan Mark menyandar pada kepala Haechan.
Ketika sampai, keduanya dibangunkan oleh sopir. Sebelumnya Mark sudah berpesan untuk membangunkan keduanya pada sopir. Mark rapihkan jaket yang dikenakan Haechan ketika lelaki itu tengah berusaha membuka matanya.
“Babe, bentar lagi mataharinya muncul, ini matahariku malah mau tidur lagi,” tutur Mark seraya sedikit menggoyangkan tubuh Haechan. Sejujurnya dirinya tak tega memaksa Haechan bangun, tetapi lelaki itu akan mengomelinya jika tidak melakukannya dan membuatnya melewatkan matahari terbit.
“Babe, sini pelan-pelan. Aku gendong aja,” titah Mark yang sudah turun dari jeep dan meminta Haechan naik di punggungnya.
“Milk dingin banget,” keluhnya dalam gendongan Mark.
“Ini masih pagi buta. Nanti kalau udah naik mataharinya bakal anget,” terangnya. “Mau beli minuman anget?” tawarnya ketika melihat penjual minuman hangat. Haechan mengangguk dalam gendongan suaminya.
Keduanya menikmati kopi hangat dengan duduk dihadapan tungku api yang tengah digunakan untuk merebus air. Udara pagi di sana begitu menyejukkan walaupun merasa begitu dingin.
Kamera ponsel keduanya berulang kali mengambil gambar ketika matahari mulai mennjukkan kehadirannya. Disaat Haechan fokus mengambil gambar matahari, Mark mengambil kesempatan mencium pipi memerah suaminya itu.
“Milk aku siram kopi panas mau?” ujarnya menatap tajam Mark. “Ini lagi rame main cium-cium aja,” gerutunya.
“Kemaren ciuman sampe disorakin kok gak marah?” goda Mark mengingatkan perihal ciuman keduanya pada acara premiere film Beautiful Time.
“Itu kebawa suasana gara-gara kamu. Gak usah sembarang cium-cium, kita nikmati bromo aja,” ketus Haechan.
Larangan seperti perintah bagi Mark. Lelaki itu justru dengan sengaja meraih dagu suaminya dan menjatuhkan banyak kecupan di wajah Haechan. Selepasnya dirinya dibuat mengaduh karena cubitan Haechan di perutnya.
Setelah puas menikmati matahari terbit, keduanya melanjutkan perjalanan untuk menikmati sisi bromo yang lain. Keduanya lukiskan kenangan baru di bromo dengan suasana yang jauh berbeda dengan sebelumnya.
Dahulu keduanya datang ke bromo diikuti rasa takut akibat pergi tanpa sepengetahuan Hendery, abang Haechan. Terlebih ternyata Hendery tahu dan menyusul keduanya dan memarahi keduanya saat itu juga di bromo. Karenanya, rasa takut keduanya bertambah dengan perasaan sedih, kacau, dan kecewa.
“Babe, karena ini, aku bakal punya kenangan indah dengan bromo. Terima kasih. Terima kasih udah ajak aku untuk tunjukin rasa bahagia dan senyuman indah kita ke bromo,” ujar Mark.
“Kak, terima kasih ya udah berjuang sebesar itu buat bisa sama aku. Banyak banget hal yang kamu lalui buat bisa sama aku. Aku beruntung banget dapetin kamu. Kamu berharga banget buat aku. I love you so, Milk,” balasnya memeluk lengan suaminya.
“Bukan cuma aku, kita berjuang sama-sama. Kita juga sama-sama beruntung. Dalam pernikahan itu bukan salah satu yang beruntung, Babe.”
Bromo, terima kasih telah menjadi saksi singkat perjalanan cinta keduanya. Hari ini keduanya buktikan cintanya tidak hancur pada hari itu, namun justru semakin kuat hingga akhirnya terikat dalam pernikahan.