Mencoba

Sepeninggalan Arsen dari ruangan Ligar, Raga menjadi bingung dan canggung berdua dengan Ligar. Papo dari Arsen itu sibuk dengan ponselnya sehingga dia putuskan keluar dari ruangan Ligar daripada merasakan kecanggungan di sana.

Batin Raga masih merutuki dirinya sendiri yang bersedia dipanggil Pipo oleh Arsen. Tentu ada penyesalan dalam dirinya akibat mengucapkan pernyataan spontan yang terlintas dalam pikirannya tadi.

Sebenarnya, Raga melihat Arsen seakan melihat dirinya sendiri. Orangtuanya juga bercerai, tetapi yang dialami Arsen lebih baik. Orangtua Arsen masih berhubungan baik dan mengurusnya, sedangkan dirinya alih-alih mendapatkan salah satunya, dia justru kehilangan keduanya. Orangtuanya tinggal dengan keluarga barunya menyisakan dirinya seorang diri dengan materi, padahal dirinya juga butuh yang namanya kasih sayang.

“Raga, saya perlu bicara dengan kamu,” panggil Ligar membuyarkan segala lamunannya. Dirinya kembali melangkah masuk mengikuti Ligar ke dalam ruangannya.

“Raga, saya minta maaf karena kamu harus terlibat hal ini, saya minta maaf.” Raga mengangguk. “Raga, kalo saya ajak kamu buat coba menuruti permintaan Arsen apa kamu mau?” Mata Raga seketika membulat menatap Ligar.

“Bapak-bapak gila lo. Kitanya nyoba, anak lo mikirnya beneran. Lo bapak-bapak ngerti gak sih maksud hubungan yang dimau anak lo itu?!” protes Raga.

“Saya ngerti itu, Ragaㅡ” “Nah kalo ngerti itu dan ngerti kita gak bisa punya hubungan kayak gitu, gak usah dicoba. Itu bakal makin nyakitin anak lo nanti,” potong Raga.

“Setidaknya kita nanti menolak Arsen dengan kita udah coba turutin permintaannya,” sahut Ligar.

Raga menyibak surainya frustasi. Dirinya kini masuk dalam situasi yang tak pernah dia banyangkan akan terjadi dalam hidupnya.

“Raga, boleh kita coba turuti permintaannya? Saya tanggung jawab kalo emang akhirnya nanti kita gak bisa,” tanyanya lagi.

“Coba buat si bocil?” gumam Raga yang masih terdengar oleh Ligar. “Sebulan kita coba dan kalo emang kita gak bisa dalam waktu itu, itu selesai,” tukasnya seraya menjulurkan tangannya.

“Satu bulan, dengan kamu tinggal di sini,” balas Ligar menjabat tangan Raga.

“O-ke.” Raga cukup terkejut dengan balasan Ligar.


Ligar dan Raga kini tepat berada di depan pintu ruangan Arsen yang tertutup. Keduanya berulang mengetuk pintu ruangan Arsen dan memanggilnya tetapi tak kunjung mendapat balasan.

“Arsen, kamu mau buka pintunya atau Papo minta Pipo pulang beneran?” Raga yang ikut memanggil Arsen tersentak mendengar Ligar mengatakan hal itu.

“Yaudah lah kayaknya kamu bohong mau punya Pipo. Piponya di sini malah kamu tinggal sembunyi,” timpal Raga mengikuti Ligar walaupun rasanya geli menyebut dirinya Pipo.

Tidak lama dari itu terdengar suara kunci dibuka dari dalam. Arsen membuka sedikit pintunya dan menampakkan kepalanya. “Beneran jadi piponya aku?” tanyanya.

Ligar turun menyejajarkan dirinya dengan Arsen, dirinya usap air mata yang membasahi wajah putranya itu. “Kamu boleh panggil Mas Raga Pipo. Keluar sini dong,” tukasnya.

“Mas Raga bakal usahakan jadi Pipomu,” timpal Raga yang juga ikut turun menyejajarkan dirinya dengan Arsen.

“Ini serius?” Keduanya mengangguk. “Aku punya Papo dan Pipo, ini seru banget,” lanjutnya lalu mengucapkan terima kasih pada Ligar dan Raga sembari memberikan kecupan pada pipi mereka.

“Jadi, nanti kita bobok bertiga?” Ligar dan Raga saling pandang sejenak lalu memberikan anggukannya pada Arsen.